Tanggapan atas artikel “Pendidikan doktor basa-basi”

 Selamat pagi Pak Supriadi yth
Salam kenal, saya Erwin, dosen Geologi ITB, masih Lektor sedang menyusun PAK untuk ke LK.
Saya membaca blog post Bapak, senang rasanya bisa melihat pejabat senior seperti Bapak masih menyempatkan waktu untuk blogging dan menggunakan media blog untuk menyebarluaskan pemikiran, selain tentunya makalah ilmiah.
Selain semangat optimis yang tersirat dan tersurat dalam blog bapak, perkenankan saya memberikan beberapa  komentar yang mungkin dapat memperkaya artikel bapak.
Maaf bila masih banyak typo, akan saya perbaiki pelan-pelan.
Maaf juga masih banyak yang sifatnya dugaan belum teruji, seperti juga beberapa hal yang bapak sampaikan dalam blog.

Mengenai istilah “pendidikan S3 basa basi” vs riset berbiaya rendah

Mohon tidak dihubung-hubungkan dengan pendidikan S3 yang memerlukan riset berbiaya rendah, karena ada dan banyak bidang ilmu yang memang bisa dikerjakan dengan biaya rendah.

Mengenai Webometrics

Terus terang buat saya menarik karena bapak masih membahas peringkat Webometrics di tengah pandangan umum yang kembali ke pemeringkatan berdasarkan indeks-indeks literasi, seperti jumlah publikasi terindeks lembaga xxx, jumlah publikasi pada jurnal berimpact factor, dan yang sejenisnya.
Mengenai Webometrics, ya saya setuju bahwa ada komponen excellence yang belum dapat dimunculkan secara proporsional, khususnya yang berkaitan dengan publikasi.
Seperti halnya indeks atau peringkat yang lain, tidak ada sistem pengindeksan dan pemeringkatan yang sempurna, masing-masing memiliki plus dan minus. Webometrics digunakan salah satunya karena kita punya kans/peluang untuk dapat mencapai skor yang relatif tinggi, karena ada komponen online visibility. Penduduk kita yang menurut BPS tahun 2016 mencapai 260 juta (kurang lebih) harus dimanfaatkan, apalagi dengan aktivitas mereka di media sosial di dunia yang konon signifikan, menurut data konon 40% cuitan (tweet) per hari berasal dari Indonesia.
Perbanyak media ilmiah yang mengulas hal-hal teknis tapi dalam bahasa awam. Blog adalah salah satunya. Bila lebih banyak lagi mahasiswa S1/S2/S3 sudah terlatih untuk blogging, maka membuat mereka menulis makalah ilmiah akan sangat mungkin.

Mengenai publikasi

Terkait dengan pemeringkatan, saya sangat setuju dengan pendapat bapak bahwa karya ilmiah apapun bentuknya, bisa makalah ilmiah, karya seni, prototip dll adalah menyatu (embedded) di dalam tugas Tri Darma Perguruan Tinggi yang dianut para dosen di Indonesia.
Yang saya tidak setuju ada membuat patronisasi bahwa indeks yang dibuat oleh lembaga tertentu, khususnya lembaga komersial, lebih baik dari indeks yang dikeluarkan oleh lembaga lainnya. Patronisasi ini sudah menjadi mitos di kalangan dosen.

Mitos yang pertama adalah bahwa publikasi harus Scopus, harus ber Impact Factor dll. 

Inilah yang membuat kombinasi pertanyaan yang paling diajukan (FAQ) dari para dosen kepada pengelola jurnal adalah “jurnal anda bisa terbit cepat dan terindeks Scopus?”
Sudahkah bapak mencoba menganalisis jumlah makalah dosen dari Indonesia yang dari sisi kualitas sebenarnya baik tapi diterbitkan di jurnal internasional yang “meragukan”? Saya menggunakan kata “meragukan” bukan karena ingin memperhalus tapi memang kalau dari Bahasa Inggrisnya sering digunakan istilah “questionable” journal.
Konon kabarnya banyak makalah dosen kita di jurnal yang meragukan itu. Saya belum pernah meneliti secara komprehensif. Tapi kalau bercermin kepada dialog dengan para dosen yang belum GB dan juga dosen yang GB, mayoritas dari mereka saat mencari jurnal, maka yang ditanyakan adalah, “mana yang cepat”. Saya jadi berpikir, karena itulah sangat mungkin jumlah publikasi kita di jurnal meragukan cukup tinggi. Karena mereka hanya mementingkan menarik uang sebanyak-banyaknya dari penulis, dengan kedok sebagai open access journal.
Sebagai catatan, saya sudah beberapa kali menemukan publikasi hasil riset S3 yang dimuat di jurnal yang meragukan. Rata-rata kalau saya cross cek ke penulis dan pembimbingnya, penyebabnya adalah
  1. ketidaktahuan bagaimana cara memilih jurnal yang baik (tidak meragukan),
  2. apa definisi open access dan apakah ada alternatif yang lain selain open access, dan
  3. kesabaran, karena selalu inginnya cepat terbit.
Jadi menurut saya ada korelasi antara keinginan dosen untuk cepat mempublikasikan makalah dengan kemungkinan tingginya jumlah publikasi kita di jurnal yang meragukan.

Mitos berikutnya adalah bahwa publikasi harus berupa full report dari awal sampai akhir.

Mitos ini membuat para dosen sering berkelit, bila Bapak tanya, sudah berapa publikasi yang dihasilkan. Mereka akan beralasan, riset belum selesai, riset perlu biaya dan biaya belum turun.
Saya yakin Bapak pasti paham juga bahwa jenis publikasi yang selama ini kita kenal sebagai full report atau istilah bakunya full original research hanyalah salah satu saja jenis makalah ilmiah.
Elsevier, Bapak pasti tahu penerbit ini, bahkan membolehkan penulis mengirimkan makalah berjenis literature review, data paper, research notes, atau early research outcome. Jadi pada saat riset belum mulai pun, publikasi boleh disusun.
Publikasi dapat dihasilkan bahkan sejak riset belum dimulai, sejak tahap proposal…

Mitos yang ketiga adalah bahwa publikasi selalu memerlukan biaya publikasi

Untuk jelasnya yang dimaksud adalah article processing cost atau biaya pemrosesan artikel setelah dinyatakan lolos peer review. Yang dimaksud pula adalah biaya yang harus dibayarkan ke media jurnal berjenis  open access. Saya membuat blog post di DasaptaErwin.net tentang ini: di sini, di sini, dan di sini.
Mitos ini sudah sangat menyebar akut padahal model bisnis open access ini justru model bisnis yang baru. Mungkin sejak awal 2000 an. Model bisnis yang lama, non open access atau konvensional, sudah dipakai sejak jurnal ilmiah pertama kali terbit, mungkin di abad ke-16 atau ke-17. Yakni model bisnis yang memebebankan biaya publikasi kepada pelanggan jurnal atau pambaca makalah. Model bisnis inilah yang digunakan oleh penerbit besar seperti Elsevier, Springer Nature, yang kemudian banyak ditentang peneliti karena tidak berpihak kepada masyarakat di negara berkembang yang tidak melanggan jurnal tersebut. Karena sebab inilah kemudian lahir model open access, beberapa jurnal besar malah mengembangkan hybrid mode. Penulis bisa memilih mode open access atau non open access saat makalah dinyatakan diterima untuk diterbitkan (accepted). Karena inilah pula lahir portal pembajak makalah Sci-Hub yang dibuat oleh Alexandra Elbakyan seorang wanita peneliti bidang komputer dari Kazakhstan.
Bahwa open access bukanlah satu-satunya model bisnis pengelolaan jurnal.
Bahwa tidak semua jurnal open access menarik article processing cost.
Bahwa open access tidak membuat lantas makalah cepat terbit.
Sebenarnya masih banyak mitos lain yang harus diluruskan tetapi tiga besar, menurut saya, adalah tiga mitos di atas. Mitos yang lain dapat dibaca di sini.
Mengenai “mesin publikasi”
Kelompok penelitian demikian ini diharapkan menjadi “mesin” publikasi artikel hasil penelitian sehingga bisa terdaftar di lembaga perangkingan baik nasional maupun internasional.  Jika suatu pendidikan doktor tidak mampu berkontribusi pada jumlah artikel yang berkualitas, maka “mesin” publikasi perguruan tinggi yang bersangkutan dapat dikatakan telah berada pada “sakaratul maut”.
Saya setuju dengan pernyataan di atas bahwa program S2 dan S3 dapat menjadi sumber makalah ilmiah, tetapi saya kurang setuju bahwa perlu diistilahkan sebagai â€œmesin publikasi”. “Mesin riset” iya, tapi “mesin publikasi” rasanya bukan itu tujuan pendidikan S2 atau S3. Menjawab masalah masyarakat itulah yang utama, kemudian dari situ lahirlah berbagai cara untuk menyebarkan informasinya (makalah ilmiah adalah salah produknya). Masalah outputnya adalah makalah internasional, yang saya artikan sebagai, makalah yang isinya dapat dibaca dan dimengerti oleh orang selain Indonesia, akan sangat bergantung kepada pembinaan. Kita tidak lahir dan tinggal di “English speaking country”.
Untuk itu, saya usulkan untuk lebih memberdayakan prodi-prodi yang berkaitan dengan literasi bahasa asing (Bahasa PBB), seperti Sastra Inggris, Sastra Cina, Sastra Rusia. Buat mereka paham bahwa salah satu lahan kerja mereka adalah bekerjasama dengan institusi lain untuk membahasakan makalah ilmiah berbahasa asing menjadi lebih baik.
Ada dua hal yang saya usulkan:
  1. Mengubah istilah “jurnal internasional” menjadi “jurnal berbahasa XXX”. “Xxx” dapat diganti dengan salah satu Bahasa PBB.
  2. Jurnal internasional tidak identik dengan jurnal yang terbit di LN, dikelola oleh warga asing, direview oleh warga asing.
  3. Jurnal internasional bisa saja diterbitkan di Indonesia, menggunakan salah satu dari Bahasa PBB, dikelola oleh WNI, direview oleh jejaring peer-reviewers kompeten dari berbagai negara, terindeks oleh berbagai lembaga internasional (independen/non-publisher), serta tampil secara daring agar mudah dicari oleh mesin pencari.
Mengenai kelompok riset
Ciri berikutnya adalah  tidak memiliki kelompok dan juga proyek  penelitian sebagai isu bersama yang hendak dicarikan solusinya…
Baik ini masalah SDM, bapak menangkap bahwa ada kecenderungan para dosen tidak mampu membentuk kelompok riset dan merumuskan isu bersama. Pernahkah dipikirkan bahwa ini mungkin karena konsep linearitas yang sering disampaikan oleh Dikti dan kemudian disalahartikan oleh dosen sebagai kesamaan riwayat pendidikan dosen sejak S1 hingga S3.
Saya beri contoh di suatu prodi, ambil saja Teknik Geologi, berisi beberapa dosen yang riwayat pendidikannya sejak S1 hingga S3 adalah Teknik Geologi, dari perguruan tinggi (PT) di dalam dan luar negeri. Walaupun bidang risetnya akan berbeda-beda, misal ada yang mempelajari gempa, gunung api, air tanah, dll, tetapi sudut pandangnya akan sama. Mereka akan gamang saat diminta menjawab masalah bagaimana memitigasi korban gempa akibat gunung meletus.
Para dosen tidak terbiasa untuk bekerjasama dengan dosen dari prodi lain, karena hambatan pola sebagai akibat riwayat pendidikan yang linear (saya pakai istilah) ini.
Masalah berikutnya adalah, taksonomi prodi di tingkat nasional, juga tidak mengenai adanya prodi-prodi yang merupakan kombinasi antara berbagai bidang ilmu, misal Prodi Teknik Air Tanah, sebagai gabungan antara bidang ilmu Teknik Geologi, Teknik Pertambangan, Teknik Sipil, dan Teknik Lingkungan, bahkan biologi.
Di beberapa perguruan-perguruan tinggi bagus bisa membentuk Pusat Penelitian. Tapi kemudian kegiatan mereka tidak bisa dikaitkan langsung dengan riset multidisiplin karena mereka tidak bisa memiliki mahasiswa sendiri. Mahasiswa harus memilih di prodi mana mereka harus dicatat.
Jadi sekali lagi, ini masalah pola pikir yang terlalu terbiasa dengan konsep linearitas. Salah satu sebab saja ini pastinya.

Mengenai “isu basi dari sebuah basa basi”

Perdebatan dan wacana yang berkembang di seputar tema disertasi, baik oleh promotor, promovendus, maupun khalayak di komunitas ini dapat dikatagorikan sebagai isu basi dari  sebuah basa-basi yang sejatinya tidak perlu ada. Nyaris tidak dijumpai saling kutip pada karya lulusannya.
Saya sangat ingin mengetahui contoh yang bisa bapak sampaikan mengenai istilah “isu basi dari sebuah basa basi”, karena bisa jadi itu isu di bidang saya, sumber daya air.
Menurut saya dan mayoritas dosen yang lain adalah, bahwa riset tidak mungkin menjawab suatu isu yang sama dari A sampai Z, utamanya karena batasan waktu dan biaya. Dan bila suatu isu didekati dengan cara yang berbeda walaupun bedanya hanya satu komponen saja, maka nilai originalitasnya akan tetap terpenuhi.
Bahkan karena keterbatasan dana misalnya, suatu penelitian dapat mengulang penelitian sebelumnya untuk menguji validitasnya dengan data baru. Apakah yang seperti ini dikategorikan sebagai riset dalam lingkup “isu basi”.
Jadi saya masih ingin mengetahui contoh yang bapak punya mengenai hal ini.

Mengenai point Nyaris tidak dijumpai saling kutip pada karya lulusannya.

Saya yakin ini lebih banyak kepada masalah ketidaktahuan cara mencari informasi di internet. Dan kalaupun seseorang sudah mahir memainkan kata kunci di mesin pencari, belum tentu juga ia menemukan semua penelitian yang senada dengan penelitiannya, bahkan dari universitas yang sama.
Kenapa?
Mungkin karena pengunggahan materi skripsi/tesis/disertasi masih  dilakukan secara sentral oleh universitas, dalam hal ini perpustakaan pusat. Jadi pastinya perlu waktu.
Bagaimana bila himbauan untuk mengunggah tugas akhir secara daring adalah salah satu tugas personal mahasiswa? Saat ini banyak repositori terbuka yang gratis dan dapat dimanfaatkan oleh mahasiswa dan dosen pembimbingnya untuk hal tersebut.
Dampaknya tugas akhir dapat lebih mudah ditemukan oleh mesin pencari dan pada setiap dokumen dapat “ditempeli” kode DOI. Berikut contohnya, tautan repositori OSF.

Mengenai waktu studi

… Umumnya para doktor ini lulus dalam waktu sekira 2 tahun, suatu selang waktu yang di perguruan tinggi di Amerika hanya khusus untuk menempuh mata kuliah inti sebelum kandidasi. Saya sendiri menghabiskan waktu 7 tahun di ITB sebelum dinyatakan lulus doktor Fisika Institut Teknologi Bandung (ITB) pada tahun 2003.
Ini masalah sensitif, karena di Indonesia, pasti terjadi kombinasi antara kendala non teknis dan kendala teknis. Anggaplah kita hanya melihat kendala teknis, rasanya lama atau tidaknya waktu studi tidak bisa jadi barometer kualitas pendidikan, apalagi sampai tujuh tahun.
Waktu studi antara 3 – 5 tahun menurut saya wajar dengan pertimbangan kombinasi berbagai masalah yang mungkin dialami mahasiswa dan promotornya. Tentunya, lulus tepat waktu adalah indikator utama mahasiswa yang didukung oleh beasiswa penuh. Mahasiswa dan promotor tidak bisa berkelit dari indikator tersebut.
Penyamaan persepsi antara promotor kepada topik riset yang feasible dan doable dalam waktu 3 – 4 tahun perlu dilakukan. Sudahkah?
Sekian beberapa masukan saya, mohon maaf bila ada yang tidak berkenan. Saya sangat senang bisa berkomunikasi lanjut tentang hal ini.

Kita terlalu sering menghindar …

Masih tentang #Permenristekdikti2017

Banyak yg pesimis, tidak sedikit yang optimis.
Menurut saya, kita lebih banyak menghindar daripada berusaha. Berikut sedikit analoginya, seandainya hiruk pikuk #Permenristekdikti2017 diilustrasikan sebagai percakapan antara ayah dan anak.

Continue reading Kita terlalu sering menghindar …

Hati-hati memberi label “abal-abal” dan “asal riset”

Terbangun malam hari untuk membaca pernyataan “seseorang” tentang “jurnal abal-abal” dan “asal riset”. Konteksnya pasti Permenristekdikti itu.

Ini pendapat saya.

Maaf suntingan masih kurang rapih. (sudah saya rapihkan)

Continue reading Hati-hati memberi label “abal-abal” dan “asal riset”

Pengelolaan jurnal ilmiah: konvensional vs open access bagian 3

Jadi bagaimana sikap kita as a living breathing and proud Indonesian scientists?

FYI, justru bagian ini yang jadi lebih dulu dalam artikel ini. Jadi bagaimana sikap kita?

Asumsi yang saya gunakan:

Istilah “kita” adalah dosen atau peneliti Indonesia yang tinggal dan berkarir di Indonesia yang hanya mendapatkan dukungan dana dari Pemerintah Republik Indonesia.

Dengan pertimbangan bahwa:

  1. Hasil riset harus segera dipublikasikan dan sebanyak mungkin masyarakat dapat membacanya tanpa dibatas akses paywall yang mahal. Karena alasan itu, media OA akan lebih baik dibanding media non-OA. Ditambah lagi fakta bahwa mayoritas jurnal di Indonesia (point ke-2) mayoritas adalah OA yang dibiayai dengan anggaran lembaga.
  2. Mayoritas jurnal tersebut (point ke-2) telah terbit juga secara online, maka aksesnya bisa dilakukan oleh siapapun (tanpa memandang ras, kewarganegaraan, dan batas negara).
  3. Karena telah tersedia secara online, maka makalah yang diterbitkannya dapat dengan mudah ditemukan dengan mesin pencari yang telah banyak digunakan saat ini, misal: Google, Google Scholar, Microsoft Academic.
  4. Mayoritas makalah dalam jurnal tersebut telah dilengkapi dengan kode doi (digital object identifier), sehingga identitas makalah dan tautannya bersifat pasti (persistent ID).
  5. Saat ini telah banyak saluran-saluran terbuka dan gratis untuk memaksimalkan diseminasi hasil riset. Jurnal dalam makalah peer-review hanyalah bagian kecil saja.

maka saya mengusulkan agar (saya susun dari tingkatan paling rendah, yakni diri sendiri sebagai dosen):

    1. Dosen dan peneliti Indonesia harus memanfaatkan semaksimal mungkin jurnal yang terbit dan dikelola di dalam negeri.
    2. Dosen dan peneliti Indonesia harus memaksimalkan penggunaan Bahasa Inggris dalam penulisan makalah tersebut (point ke-1).
    3. Dosen dan peneliti Indonesia harus memaksimalkan jejaring dengan peneliti luar negeri untuk memaksimalkan penyebaran informasi hasil riset, diantaranya dengan menggunakan media sosial (saya merekomendasikan Twitter, catatan: saya bukan pegawai Twitter).
    4. Penyelenggara seminar atau konferensi tidak perlu mendaftarkan kegiatannya untuk terindeks lembaga bisnis (anda tahu sendirilah contohnya), karena kunci dari diseminasi hasil seminar bersumber pada aktivitas diseminasi yang kita lakukan.
    5. Pengelola jurnal harus memastikan kualitas jurnal yang baik dengan standar dunia internasional yang terbuka, bukan standar internasional yang dibuat oleh entitas komersial seperti Scopus dan Web of Science (sengaja saya tidak sisipkan tautannya, cari sendiri ya).
    6. Pengelola jurnal harus memastikan agar waktu proses makalah cepat (maksimal 6 bulan — ada usulan?) atau makalah ditolak pada kesempatan pertama dengan berbagai catatan dari editor bila dirasa terlalu banyak perbaikan yang diperlukan.
    7. Pengelola jurnal dapat menggunakan mekanisme open peer-review dan post publication peer-review serta format layout makalah yang paling mudah agar target penerbitan makalah kurang dari enam bulan tercapai.
    8. Pengelola jurnal harus membantu diseminasi makalah terbitannya melalui penggunaan media sosial untuk menjamin penyebaran informasi seluas mungkin untuk masyarakat akademia di Indonesia dan di luar negeri (karena makalah telah ber-Bahasa Inggris).
    9. Pemerintah melalui kementerian terkait harus menghapus standar-standar internasional terbitan entitas bisnis (seperti Scopus dan Web of Science — tautannya cari sendiri) dan sebagai gantinya menggunakan standar internasional yang terbuka (seperti DOAJ, Sherpa Romeo, dan COPE, kalau yang ini saya sisipkan tautannya).
    10. Pemerintah melalui Kementerian terkait harus menghapus persepsi bahwa kualitas kepakaran dan kualitas makalah ditentukan oleh standar-standar internasional terbitan entitas bisnis (tahu sendirilah anda).

Limitasi:

Walaupun saya serius menyampaikan hal ini, tapi saya sadar bahwa saya hanyalah seorang dosen berpangkat “Lektor” yang gemar “nge-blog”. Jadi siapalah saya ini.

Tapi bila pendapat di atas dirasa benar dan akan bermanfaat jangka panjang, saya mendonasikan pendapat saya tersebut di atas untuk digunakan oleh pihak lain tanpa menyebut nama saya. Dengan kata lain, saya memasang lisensi public domain atau CC-zero untuk artikel saya ini.

Karena begitulah seharusnya “kita” bersikap.

“Kita” = all living, breathing and proud Indonesian scientists

Baca juga:

Pengelolaan jurnal ilmiah: konvensional vs open access bagian 2

Article Processing Cost (APC)

Sebelum saya membahas hal ini secara ringkas, saya akan copy paste kan beberapa cuitan (tweet) dari kawan Twitter saya Prof. Erin Mckiernan yang berkerja di National Autonomous University of Mexico. Cuitannya tentang keprihatinan seorang peneliti dari negara maju yang sedang bekerja di institusi pendidikan di Mexico, sebuah negara yang menurutnya memiliki akses terbatas terhadap material ilmiah.

Continue reading Pengelolaan jurnal ilmiah: konvensional vs open access bagian 2

Pengelolaan jurnal ilmiah: konvensional vs open access bagian 1

Bahwa mengelola jurnal ilmiah adalah sebuah bisnis.

Tulisan ini dilatarbelakangi masih banyaknya pertanyaan dari akademia tentang jurnal open access (OA). Sebenarnya apa jurnal OA itu dan bagaimana model bisnisnya, mengapa kita dianjurkan untuk OA, dst. Selain itu dengan terbitnya Permenristekdikti No. 20 Tahun 2017 tentang Pemberian Tunjangan Profesi Dosen dan Tunjangan Kehormatan Profesor terjadi gelombang “keresahan” yang mestinya sudah diantisipasi oleh Si Pembuat Kebijakan. Keresahan ini yang kemudian diharapkan bertransformasi menjadi energi positif untuk menghasilkan karya, yang tidak hanya sebatas kepada artikel di jurnal internasional.

Berikut sedikit yang bisa saya sampaikan. Tentunya pendek-pendek dan bersambung ya.

Continue reading Pengelolaan jurnal ilmiah: konvensional vs open access bagian 1

Dissertation vs journal article

Pertanyaan yang sering diajukan (FAQ), termasuk saat sesi “Science communication for graduate students” kemarin, dan jawaban dari penerbit favorit banyak orang (Elsevier):

Dalam hal, seseorang menulis makalah ilmiah yang bersumber dari kegiatan penelitian S3 setelah tesis/disertasi disampaikan (submitted) ke universitas. Apakah tesis/disertasi dianggap sebagai publikasi (prior publication)?

Continue reading Dissertation vs journal article

Membaca dan membaca

Bagian ini adalah potongan Bab Memulai Riset dalam Buku STPDN (Sukses sTudi Pascasarjana di Dalam Negeri). Ilustrasi akan kami tambahkan untuk memperjelas bagaimana kita merumuskan orisinalitas atau novelty dari riset.

Saat anda membuat proposal, maka pada intinya anda akan menulis sesuatu. Bila anda merasa sulit memulai tulisan, maka mungkin anda tidak akan percaya jawabannya. Banyaklah membaca dan membaca.

Mungkin anda bertanya, “Tujuannya kan menulis sesuatu, bila terus membaca, kapan menulisnya?”

Percayalah dulu kami juga berpikir begitu.

Intinya adalah dengan membaca, anda memandu pikiran menuju ke satu arah. Mari kita buat analogi perjalanan anda dari lokasi A ke B. Membaca kami analogikan dengan melihat peta. Coba anda perhatikan kisah kami ini.

Makin banyak membaca, arah itu makin terlihat. Makin banyak lagi membaca, maka arah itu akan dapat ditebak. Dan membaca lebih banyak lagi, maka anda akan melihat berbagai “lubang kecil” untuk diisi. “Lubang” saking kecilnya hanya dapat dilihat oleh para “pengendara” (anda) yang telah sering melalui jalan tersebut. Anda telah tahu, kapan harus belok, ada berapa lampu jalan di kanan dan kirinya, bahkan berapa juga tempat sampah yang anda lihat sepanjang perjalanan.

Pada akhirnya, saat melakukan perjalanan anda sendiri, maka anda dapat menyelesaikan dengan baik dan selamat dengan nilai tambah. Nilai tambah itu adalah originalitas. Dan originalitas itu bukanlah selalu berarti membuat “jalan pintas” baru, tapi bisa berupa “lubang-lubang” kecil yang telah anda tambal tadi.

Tentu saja, dengan dana yang lebih besar anda bisa merintis jalan baru dengan terbang misalnya. Jelas orisinal karena anda mengusulkan cara baru untuk pindah dari lokasi A ke B.

Orisinalitas juga dapat dicapai bila anda punya lebih banyak waktu. Anda bisa mengusulkan perjalanan tetap via darat, tapi anda memotong arah melalui gunung, laut, dan hutan.