Saatnya melakukan review terhadap peer review

Karena peer review adalah juga obyek untuk direview.

Beberapa tahun lalu, saya mengikuti ceramah umum dari Prof. Djoko T. Iskandar, yang salah satunya menceritakan makalah beliau yang ditulis oleh lebih dari 40 orang. Tahun ini saya mengalaminya juga :).

Anzac Day 2017 Sydney

Suasana Anzac Day 2017 Sydney (koleksi penulis CC-BY, flickr/d_erwin_irawan)

Berikut tautan draft makalah kami ber-31: A multi-disciplinary perspective on emergent and future innovations in peer review (unduh pdfnya).

Saya pertama kali bercerita tentang dokumen ini di sini (Menulis ramai-ramai melalui medsos). Setelah berproses kurang lebih enam bulan, kemudian versi final makin terbentuk. Makalah ini akan segera dikirimkan ke jurnal F1000Research, sebuah jurnal bereputasi tapi mereka dengan sengaja tidak mendaftar ke indeks-indeks yang kita anut, apalagi untuk mendapatkan Impact Factor. Bagi sebagian kita yang bekerja di luar ilmu hayati, akan asing dengan Jurnal F1000Research ini (Browse subject).

F1000scopes

Kumpulan subyek ilmu dalam lingkup Jurnal F1000Research (Browse subject).

Diawali idenya setahun lalu. Saat itu terbit beberapa artikel tentang peer review dan ramai dibicarakan di Twitter:

  1. The cost of knowledge)
  2. Academics ara resilient to peer review), serta
  3. The 4th reviewer: What problem is open peer review trying to solve?

Kemudian dilanjutkan dalam kegiatan OpenCon 2017 (The future of peer-review: OpenCon 2017 session), dan kemudian bergulir intensif empat bulan terakhir . Pertanyaan yang digulirkan saat itu adalah:

  • apakah peer review yang saat ini berjalan sudah obyektif dan berkualitas?
  • apakah ada aspek tertentu yang menyebabkan bias dalam proses peer review, misal: gender, kewarganegaraan, bahasa, dll?
  • apa bedanya peer review dan copy editing? Apakah sebagian besar hasil peer review sebenarnya adalah proses copy editing?
  • bagaimanakah agar hasil peer review mendapatkan pengakuan (credit/acknowledgement)?
  • dll

Makalah ini membahas tentang berbagai jenis peer review (yang kita kenal di Indonesia hanya satu, yakni double blind peer review) serta mengusulkan beberapa mekanisme yang menurut kami lebih sesuai di era digital ini.

Kami ber-31, tim penulis, berasal hampir dari seluruh benua. Yang terbanyak memang berasal dari Eropa. Tapi mungkin dalam proyek penulisan berikutnya akan lebih banyak penulis dari Asia, Asia Tenggara, bahkan mungkin dipimpin oleh penulis dari Indonesia. 🙂

Dalam proses penulisan dan penyelesaiannya, kami berdiskusi via Twitter dan app “Slack” (bisa dicoba). Untuk penulisannya, alih-alih menggunakan Ms Word secara offline, kami menggunakan Overleaf.com dengan LaTeX secara online. Sejak awal proses penulisan bersifat terbuka. Semua pihak yang ingin kontribusi dapat langsung mendaftar dan akan langsung diundang oleh koordinator (Penulis pertama: Jon Tennant, seorang peneliti paleontologi lulusan Imperial College London).

Dalam makalah tersebut, saya memasukkan ide kesetaraan dalam peer review pada saat menerima makalah yang ditulis oleh penulis dari negara-negara yang tidak bercakap dengan Bahasa Inggris (non English-speaking countries). Mengembalikan makalah dengan saran “Please resubmit the article after consulting with English native speaker”, tidaklah menolong.

Kenapa?

Karena makalah dari negara-negara di Asia, Africa, atau biasa disebut global south seringkali mengandung isi yang orisinal dan tidak dijumpai di belahan dunia yang lebih maju. Namun pesan orisinal ini tidak mampu dimunculkan karena kendala bahasa.

Demikian kurang lebihnya. Kabarnya skor kreditnya kecil, tapi biarlah. Oh by the way, wakil dari ITB ada di no 23 :).

@dasaptaerwin / @openscience_ID

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *