Category Archives: Research and Teaching

JGAP dan JAT Presubmission

INArxiv bersama Tim ITB (KK Geologi Terapan dan Prodi S2 Teknik Air Tanah) dan PAAI (Perhimpunan Ahli Airtanah Indonesia) menginisiasi Jurnal Geoaplika (JGAP) and Jurnal Air Tanah (JAT). Kami membuka Pre-Submission. Unggah draft makalah (multidisiplin) Anda tentang ilmu kebumian dan air tanah ke INArxiv. Caranya mudah.

Continue reading JGAP dan JAT Presubmission

Diskusi tentang akreditasi dan indexing akhir tahun 2017

Berikut ini adalah beberapa point penting tentang akreditasi dan indexing di akhir tahun 2017. Ternyata perhatian dan kontribusinya luar biasa, walaupun menjelang akhir tahun. Berikut beberapa postingnya.

Hasil pencarian Google Trends untuk kata kunci “Scopus-indexed journal” (selama 12 bulan terakhir)

Continue reading Diskusi tentang akreditasi dan indexing akhir tahun 2017

Meet Tushar

Melanjutkan analogi menjual rumah dan perlu atau tidaknya agen properti. Ini contoh iklan agen properti di Sydney. Namanya Tushar, dia menawarkan properti untuk disewakan atau dijual, atas nama pemilik properti, kepada orang yang mencari. Sebagai agen, dia pasti ingin punya pelanggan (orang yang mempercayakan propertinya untuk ditawarkan) dan para pembeli yang luas.

Continue reading Meet Tushar

Tanggapan untuk artikel Ali-Wallace

Kemarin secara masal dibagikan artikel berjudul Ilmuwan Indonesia akankah selamanya menjadi Ali oleh Dyna Rochmyaningsih

Dalam artikel tersebut diceritakan mengenail ilmuwan Indonesia yang sering tidak terekspos perannya dalam suatu riset. Terutama bila riset dilakukan bersama pakar dari luar negeri (LN). Terima kasih untuk Mbak Dyna yang telah mengutip peran serta INArxiv dalam menyemangati ilmuwan Indonesia.

Berikut ini adalah tanggapan saya.

Continue reading Tanggapan untuk artikel Ali-Wallace

Strategi “bertahan hidup” saat s3

Strategies to survive your PhD

link to my google drive: https://drive.google.com/open?id=1Iv1PSu63eNd-KX8195e8pRUOqmhMfTeN

Saya menerima pranala ini dari salah satu grupWA yang saya ikuti. Terima kasih Prof. Hasanuddin Z. Abidin yang telah membagikannya. Judulnya “Simple strategies to survive your PhD”. Barangkali ada yg tertarik. Disusun oleh penulis lain Julio Peironcely pendiri blog Next Scientist.

Suasana malam Natal (foto ada di flickr/dasaptaerwin)

Continue reading Strategi “bertahan hidup” saat s3

Selamat untuk Jurnal berkala Ilmu Perpustakaan

Setelah IJAIN, berikut kabar gembira selanjutnya.

Selamat kepada Jurnal Berkala Ilmu Perpustakaan UGM (Jurnal BIP UGM) yang telah terakreditasi. Berikut makalah kami tentang SainsTerbuka yg telah terbit di jurnal tsb.

https://jurnal.ugm.ac.id/bip/article/view/17054

Oya. Saya tidak pernah hapal tautan setiap makalah yang pernah saya tulis. Seringkali saya harus googling tulisan saya sendiri. Seperti juga saat mencari tautan makalah ini. Toh keluar juga dengan menggunakan Google web.

Kurang apa lagi dengan jurnal DN, gratis, OpenAccess, mudah dicari dengan mesin pencari standar. Kenapa harus repot daftar-daftar indeks yang lain lagi?

Menjadi internasional tidak perlu tergantung indeksasi LN 😉. Mesin Pencari adalah sobat anda terdekat.

Jurnal OpenAccess: Kualitas vs prestise (2)

Posting ini saya copy paste dari pesan saya ke salah satu Telegram Group yang saya ikuti. Jadi mohon maklum kalau masih perlu banyak penyuntingan. Kalau anda melihat banyak bagian seperti diulang-ulang, maka benar memang saya ulang-ulang dalam berbagai kesempatan. Kenapa? Karena pertanyaannya memang TIDAK pernah berkembangan dan TIDAK pernah bergeser. Diulang-ulang setiap hari, setiap minggu.

See hires image at flickr/dasaptaerwin

Continue reading Jurnal OpenAccess: Kualitas vs prestise (2)

Mengenai bahasa dan indexing

Di bawah ini adalah dua post di FB yang mendapatkan perhatian menarik dari rekan-rekan saya. Berikut rangkumannya.

American Pixabay CC-0

Apakah benar menulis ilmiah harus dalam Bahasa Inggris?

Tidak masalah bila kita ingin belajar dengan banyak membaca artikel yang relevan dengan riset kita dalam Bahasa Inggris (karena mungkin tekniknya atau hasilnya sudah sangat maju). Sebaliknya kita juga harus mulai menumbuhkan kepercayaan diri, bahwa orang “non-Indonesia” pun akan berpikir hal yang sama kalau memerlukan artikel yang relevan dengan riset mereka. Artinya dalam bahasa apapun, akan dikejar, termasuk Bahasa Indonesia.

Pak Agah Garnadi dari IPB menanggapi bahwa ia teringat salah seorang matematikawan senior sewaktu di ANU. Matematikawan itu memerlukan hasil penelitian sekelompok peneliti di China. Merasa tidak cukup dengan hanya membaca abstraknya saja, dengan bantuan dosen bahasa China, dia mengumpulkan terminologi khusus di bidang ilmu dia agar dia bisa membaca artikelnya langsung. Bagi ilmuwan sains, gambar, grafik dan formula sudah merupakan informasi, sehingga banyak membantu.

Kemudian Surya Darma, yang selalu muncul dengan informasi menarik, menampilkan pranala tentang How did English become the language of science?

Yang tidak kalah menarik adalah komentar dari Pak Suharto. Beliau menyatakan bahwa Scopus tidak pernah menyatakan keharusan artikel dalam Bahasa Inggris sebagai syarat registrasi indeksasi.

Bernarkah hanya makalah/jurnal dalam Bahasa Inggris yang diindeks oleh Scopus?

Sepertinya tidak. Bila disimak pesan saya di bawah ini, makalah yang ada dalam jurnal-jurnal tersebut ditulis dalam Bahasa Melayu dengan tambahan judul dan abstrak dalam Bahasa Inggris.

Format tersebut mengingatkan saya kepada format artikel kami yang dimuat di Jurnal GEA UPI ini. Lihat juga artikel lainnya dalam terbitan terbarunya. Mirip bukan?

Selanjutnya komentar dari Pak Agah Garnadi malah memunculkan fakta ada jurnal di IPB yang telah diindeks Scopus dengan makalahnya ditulis dalam Bahasa Inggris tapi menyisipkan abstrak dalam Bahasa Indonesia, Jurnal Media Peternakan.

Rekan yang lain, Surya Darma, menyampaikan cita-cita Sutan Takdir Alisjahbana (STA) yang bercita-cita menjadikan Bahasa Indonesia sebagai bahasa pengatar Asia Tenggara. Yang tidak tercapai hingga akhir hayatnya.

Ardian Muhammad menyampaikan pertanyaan, apakah jurnal-jurnal DN (Dalam Negeri) yang diindeks Scopus sengaja menggunakan Bahasa Inggris untuk menarik penulis dari luar Indonesia? Saya jawab mungkin saja, karena jurnal-jurnal tersebut menayangkan  artikel dari penulis asing di setiap terbitannya.

Ia berharap juga bahwa semoga pengelola jurnal kita berani memilih nomor dua jika penentu kebijakan masih memosisikan S sbg pengindeks utama karena dosen (terlepas dari idealisme mereka terhadap publikasi) seperti pion yang hanya bisa mengikuti aturan saja ketika kebijakan sudah dibuat.

Harapan di atas ditimpali oleh Surya Darma, bahwa memang kebijakan setelah dibuat harus dipatuhi. Jadi tantangannya adalah merevisi kebijakan atau memberikan tawaran kebijakan baru lewat inisiatif-inisiatif seperti ini. Mungkin kita dapat merumuskan draf naskah kebijakan yang dapat ditawarkan ke publik, terutama para pemangku kepentingan terkait seperti dosen dan birokrat agar menjadi dorongan revisi kebijakan yang ada atau kebijakan yang baru sama sekali.

<< akan berlanjut >>