Category Archives: STPDN

[stpdn] Perlukah inisiatif

Pendahuluan

Pendidikan magister dan doktor bersifat mandiri. Tercapai atau tidaknya tujuan akan bergantung kepada mahasiswa masing-masing. Riset yang akan anda lakukan pada dasarnya adalah riset anda. Jadi berhasil atau tidak, sepenuhnya ada di tangan anda.

Lego character (legocityu.nintendo.com, CC-BY)

Insiatif yang terkendali

Inisiatif jelas perlu. Tapi kalau tidak terkendali, maka anda bisa dianggap “jalan sendiri” oleh Pembimbing. Ini akan berhubungan dengan karakter pembimbing. Ada yang control freak (dalam konotasi yang baik), ada pula yang bergaya lebih demokratis. Agar tidak terjadi salah tafsir dan berujung kepada hubungan yang memburuk, maka pastikan anda melaporkan setiap kegiatan yang akan Anda lakukan, misal: akan mengirimkan makalah ke jurnal mana, atau akan mempresentasikan makalah di seminar mana, atau akankah data dipublikasikan, dll. Komunikasi penting!

Bersambung

[stpdn] Dokumentasi yang sistematis dan teliti

Dokumentasi yang sistematis dan teliti

Ciri berikutnya adalah kemampuan untuk mendokumentasikan kegiatan. Dokumentasi hasil kegiatan yang sistematis dan teliti adalah salah satu modal. Dengan mendokumentasikan kegiatan secara sistematis dan teliti, maka anda akan menghemat waktu saat mencarinya di kemudian hari.

Kunci yang lainnya adalah jangan pernah percaya dengan piranti keras. Walaupun komputer anda yang paling mahal dan menggunakan sistem operasi yang diklaim paling stabil, anda tetap harus melakukan backup secara rutin.

Lego brick table (Wikimedia.org, CC-BY)

Struktur folder HDD

Di saat semua dokumen sudah dalam bentuk digital, maka semua berawal dari struktur folder hard disk drive (HDD). Sebagai contoh saja, biasanya kami membuat struktur folder diawali dengan folder tahun (2017) yang diikuti dengan subfolder:

  • teaching
  • research
  • grant
  • publication
  • assignments
  • planed
  • misc

Kalau dalam lingkup riset, maka bisa menjadi seperti ini:

  • data
  • analysis
  • report
  • presentation

Piranti penyimpanan backup yang diperlukan

Selain laptop atau komputer desktop, maka piranti keras yang sangat diperlukan adalah:

  • HDD min 500 GB, walaupun ukuran 1 TB atau 1000 GB sudah mulai turun harga.
  • Flash disc drive (USB stick) min 16 GB.
  • HDD eksternal atau HDD backup yang berukuran minimum sama dengan HDD yang terinstalasi di dalam laptop atau PC.

Spesifikasi piranti keras di atas adalah yang direkomendasikan dengan melihat kondisi stoknya yang cukup banyak di pasar. Adapun pertimbangan lain, misalnya harganya yang masih cukup mahal, sangat diterima. Jadi silahkan manfaatkan secara optimal dana yang diterima. Tapi setidaknya anda harus punya HDD eksternal dan USB stick.

FYI: Penulis pertama lulus S2 dengan laptop Toshiba bekas yang engsel layarnya sudah patah. Jadi agar layar berdiri tegak, harus disambung dengan tali kenur. Toh saya lulus juga dengan tepat waktu.

HDD eksternal didedikasikan untuk backup mingguan, sedangkan USB stick untuk backup harian atau untuk keperluan penggandaan berkas (file) dengan komputer lain atau komputer rekan. Walaupun di era koneksi internet saat ini, sebenarnya kirim-kirim file sangat disarankan melalui media penyimpanan daring (online/cloud storage), tapi USB stick terkadang masih diperlukan. Tapi perlu hati-hati saat memasukkan file dari luar ke dalam laptop atau PC kita.

Cerita S3 lain lagi, penulis pertama menggunakan laptop jenis netbook layar 10,3" dengan prosesor intel celeron. Toh lulus juga tepat waktu. Jadi sekali lagi ini bukan masalah spesifikasi piranti lunak atau piranti keras, tapi kemauan keras.

Piranti lunak backup yang diperlukan

Untuk keperluan dokumentasi piranti lunak (P/L) yang perlu dimiliki diantaranya:

  • P/L backup untuk melakukan pengarsipan data dari laptop/PC ke HDD eksternal. Tapi hati-hati saat melakukan auto sync, agar versi berkas tidak saling menindih. Berkas yang paling baru harus menindih yang lama, dan bukan sebaliknya. Kami biasa menggunakan aplikasi backup orisinal milik MacOSX atau aplikasi gratis FreeFileSync yang tersedia untuk sistem operasi Linux, Mac, dan Windows.
  • P/L cloud drive seperti Google Drive, Dropbox. Dengan aplikasi ini, anda akan selalu dapat memantau atau bekerja di mana saja, karena versi berkas yang ada di laptop akan selalu sama dengan versi di HDD virtual tersebut.
  • Gunakan fasilitas version control. Dengan fasilitas ini berbagai versi berkas akan dapat disimpan dalam satu berkas, tanpa harus banyak melakukan proses save as ke nama file yang berbeda. Dengan fasilitas ini, berkas akan tidak terlalu banyak. Saat ini P/L pengolah kata yang menggunakan fasilitas ini adalah LibreOffice untuk jenis aplikasi desktop dan Google Docs untuk jenis cloud app. Anda juga dapat menggunakan fasilitas version control dari repositori khusus seperti Github dan Bitbucket. Bila anda menggunakan repositori gratis ini, maka anda dapat mensinkronkan (synchronize) berkas luring (offline) yang ada di laptop/PC ke kedua repositori daring tersebut. Hebatnya repositori Github dan Bitbucket memberikan fungsi berjejaring dengan pengguna lainnya. Jadi anda dapat bertukar berkas dengan para rekan mahasiswa, pembimbing, dan pihak lain, begitu pula sebaliknya.

Durasi back up

Durasi backup ini akan sangat bervariasi, bergantung kepada kebiasaan. Kami biasanya melakukan backup total sebulan sekali dari laptop ke HDD. Selain itu, kami juga mencoba membiasakan diri melakukan backup proyek yang sedang dilakukan seminggu sekali dari laptop ke USB flash drive (USB).

Menamai file

Saat kami belum menggunakan fasilitas version control, maka nama file diupayakan informatif tapi ringkas, dengan template <namaproyek> <editor> <tanggal editing>. Contoh: untuk file tesis maka nama filenya: tesis erwin 07042017. Terkadang bila penyutingan dilakukan secara intensif pada hari yang sama, kami menambahkan jam, menjadi: tesis erwin 07042017 0300.

Beberapa rekan juga kami dapati menggunakan penamaan file dengan cara yang unik untuk memudahkan sortasi file berdasarkan tanggal, <tanggal> <namaproyek> <editor>, misal: 20170407 tesis erwin. Tahun ditulis bagian awal sangat membantu dalam pengurutan (sortasi) file.

Mengatasi duplikasi file

Untuk hal ini, anda dapat mengatur setting P/L Freefilesync dengan replace with newer files atau keep both. Lihat panduan masing-masing P/L yang anda gunakan.

[stpdn] Beberapa kebiasaan yang disarankan

Beberapa kegiatan yang disarankan

Materi ini dan beberapa materi lainnya akan saya masukkan ke Buku STPDN (Sukses sTudi Pascasarjana di Dalam Negeri) yang akan saya terbitkan dengan pola hybrid. Edisi digital akan terbit di platform Leanpub.com dengan sistem “donasi” dan edisi tercetak akan diterbitkan oleh Penerbit ITB.

:)

Konon kabarnya, para mahasiswa pasca sarjana yang bersekolah di LN dipaksa atau terpaksa untuk memiliki beberapa kelebihan berikut ini, diantaranya adalah: keteraturan tingkat tinggi, dokumentasi yang teliti, kemampuan untuk mengkomunikasikan hasil risetnya, kepercayaan diri untuk memperluas pergaulan, dan tentunya kesungguhan dalam berdoa yang utama.

Keteraturan tingkat tinggi

Keteraturan tingkat tinggi, konon adalah salah satu kelebihan mahasiswa pasca sarjana di LN. Tapi kami tidak akan memperpanjang masalah keteraturan itu. Dalam bab ini kami akan mencoba membandingkan sudut pandang. Dari sudut pandang kita di DN, mahasiswa pasca sarjana LN selalu dipersepsikan seperti ini:

 

Tanda aturan parkir di Sydney. Walaupun terlihat membingungkan, tapi melatih sekaligus menegakkan kedisiplinan (Koleksi pribadi: CC-BY)
  • Uang biaya hidup cukup dari beasiswa, bahkan dengan tunjangan keluarga.
  • Uang penelitian dan publikasi selalu tersedia.
  • Pembimbing yang perhatian.
  • Fasilitas laboratorium yang sangat lengkap, hingga tinggal kedip saja langsung bisa digunakan.
  • Urusan asuransi kesehatan dan sebagainya sudah lengkap.

Dengan berbagai fasilitas di atas, maka sudah sepantasnyalah bila mereka dapat bekerja dan meneliti dengan baik, serta lulus tepat waktu, dengan menghasilkan publikasi kelas dunia.

Pandangan di atas tidak sepenuhnya salah, tapi tidak semuanya benar juga. Yang akan kami sampaikan di sini adalah berbagai testimoni dari mahasiswa pasca sarjana LN tentang mahasiswa DN:

  • Biaya hidup murah, biaya akomodasi masih bisa mengandalkan saudara, jadi uang beasiswa masih bisa diatur-atur. Lha di LN, mana ada yang murah. Semua harus jelas dibayar oleh siapa, berapa, dan kapan bayarnya, tidak bisa dinanti-nanti.
  • Penelitian bisa mengambil topik yang unik dan hanya ada di Indonesia, daerah surveynyapun bisa memilih yang dekat jadi biaya lebih ringan. Apalagi masih memungkinkan untuk mengajukan dan penelitian dari Dikti. Untuk publikasi, jurnal-jurnal di Indonesia kan biaya penerbitannya (APC/Article Processing Charge) murah, bahkan banyak yang cuma-cuma. Jadi biaya publikasi bisa diarahkan untuk membayar biaya konferensi, biaya menginap, dll. Kalau di sini, jurnal OA bisa dikisaran USD 1000 an minimal. Kalau mau mengejar yang IF (Impact Factor) tinggi bisa sampai USD 2000 an, kadang kami masih harus dibantu oleh dana pribadi pembimbing.
  • Ya betul pembimbing kami memang sangat perhatian, tapi perhatiannya sangat formal dalam kaitan riset. Kami di sini harus ngantor seperti orang kerja kantoran. Jadi mana sempat mengerjakan yang lain. Semuanya harus dihemat. Kalau bawa keluarga lebih berat lagi mengaturnya. Sementara kalau sekolah di DN kan masih bisa “nyambi-nyambi”. Walaupun dampaknya bisa molor masa studinya, tapi asal kita bisa atur waktu, mestinya bisa.
  • Fasilitas laboratorium memang lengkap, tapi juga bukan berarti bisa sembarangan pakai. Ada proses administrasi yang ketat yang harus dipenuhi, kalau analisis kita lancar, maka tidak masalah. Tapi kalau ada kendala dan harus diulang, wah repot sekali juga mengurusnya. Intinya semua harus dilakukan sendiri di sini. Kalau di DN, beberapa bidang ilmu, kan masih bisa membayar analisis kepada petugas laboratorium dan biarlah mereka yang melakukan pengujian. Kita tinggal terima hasilnya untuk kemudian diinterpretasi. Jadi masih bisa waktunya digunakan untuk yang lain.
  • Asuransi ok memang bagus di LN. Tapi mahalnya minta ampun, kalau bawa keluarga, biasanya asuransinya tidak ditanggung oleh pemberi beasiswa. Akibatnya bisa sampai harus menjual mobil pribadi. Fasilitas kesehatan memang bagus, tapi untuk keperluan tertentu bisa sulit lho. Misal, kalau di Australia membawa istri hamil, tidak bisa sembarangan tiap kontrol di USG. Kalau di Indonesia, kan bisa saja minta USG sewaktu-waktu. Kalau terjadi kontraksi bisa langsung minta dicek dll. Kalau di LN, belum tentu bisa. Jadi jangan dikira masalah kesehatan bisa dibandingkan kepraktisannya dengan di Indonesia.

Beberapa hal di atas saya kumpulkan dari pengalaman pribadi, rekan-rekan sejawat, dan rekan-rekan di media sosial.

Apakah benar adanya? Mari kita renungkan bersama.