Kami tidak perlu Scopus 2

Artikel ini merupakan bagian kedua (hopefully the last part) dari serial “Kami tidak perlu Scopus”.  Dalam artikel tersebut, saya mengkopikan cuitan saya dari akun @openscience_ID.

Kalau memang tujuan dari mendaftarkan seminar/konferensi adalah agar makalah lebih mudah dicari, maka apakah tidak ada layanan lain yang lebih ekonomis? Dan bila memang itu tujuannya, mengapa tulisan “indexed by Scopus” lebih sering dipertanyakan dibandingkan substansi seminarnya?

Continue reading Kami tidak perlu Scopus 2

Kami tidak perlu Scopus 1

Saya tahu judul memang provokatif. Tapi saya berusaha untuk tidak vulgar. Di Indonesia, Scopus dan WoS telah diposisikan melebihi porsi layanan yang mereka berikan. Kalau memang tujuan dari mendaftarkan seminar/konferensi adalah agar makalah lebih mudah dicari, maka apakah tidak ada layanan lain yang lebih ekonomis? Dan bila memang itu tujuannya, mengapa tulisan “indexed by Scopus” lebih sering dipertanyakan dibandingkan substansi seminarnya?

Karena itu saya menulis blog post ini yang merupakan bagian pertama dari serial “Kami tidak perlu Scopus”. Blog post ini berawal dari tweet saya dari akun @openscience_ID. :). Akun pribadi saya sendiri @dasaptaerwin.

Saya paham juga kalau buah pikiran manusia tidak akan sempurna. Karena itu, mohon masukan dari ibu dan bapak sekalian. Kalau setuju beri tahu kawan, kalau tidak setuju, silahkan anda membuat blog post tandingan atau tuliskan pendapat anda di kolom komentar. Mari kita budayakan saling me-review untuk bidang sains, bukan hanya bidang sospol saja.

Continue reading Kami tidak perlu Scopus 1

My trials on Google Scholar R package

Background

This is the good thing about open database. Although Google Scholar (GS) is not a completely open database, but people at Google let us to do the following things using R and Scholar. The following post was my first trial to the scholar package to harvest GS data.

Jump Hasbi, jump… (Credit: flickr/d_erwin_irawan, CC-BY)

 

Installing packages

In this trial, I used the following packages:

  1. scholar
  2. tidyverse
# Ommit the '#' sign if you haven't installed the packages
#install.packages("scholar")
library(scholar)
#install.packages("tidyverse")
library(tidyverse)
#install.packages("gridExtra")

Getting your GS ID

Your GS ID will be written in the url of your profile, for instance:

  1. Erwin: url https://scholar.google.co.id/citations?user=Myvc78MAAAAJ&hl=en&authuser=1; GS ID “Myvc78MAAAAJ&hl””
  2. Prof. Edy Soewono: url https://scholar.google.co.id/citations?user=6U_YtvMAAAAJ&hl=en&authuser=1; GS ID “6U_YtvMAAAAJ&hl”
  3. Prof. Khairurrijal: url https://scholar.google.co.id/citations?user=4_asJ0MAAAAJ&hl=en&authuser=1; GS ID “4_asJ0MAAAAJ&hl”
  4. Dr. Jon Tennant: url https://scholar.google.co.id/citations?user=P7FvGMEAAAAJ&hl=en; GS ID “P7FvGMEAAAAJ&hl”

Storing GS ID

Here we saved the GS ID of each author.

E <- "Myvc78MAAAAJ&hl"  #hydrogeology
ES <- "6U_YtvMAAAAJ&hl" #math
Kh <- "4_asJ0MAAAAJ&hl" #physics
JT <- "P7FvGMEAAAAJ&hl" #paleontology

Getting GS profiles information

We can show the profile information using the following function.

E.profile <- get_profile(E)
ES.profile <- get_profile(ES)
Kh.profile <- get_profile(Kh)
JT.profile <- get_profile(JT)

E.profile
ES.profile
Kh.profile
JT.profile

How many papers have they published?

Function get_num_articles() gathers total number of articles.

E.num <- get_num_articles(E)
ES.num <- get_num_articles(ES)
Kh.num <- get_num_articles(Kh)
JT.num <- get_num_articles(JT)

num <- c(E.num, ES.num, Kh.num, JT.num)
barplot(num, names.arg=c("E", "ES", "Kh", "JT")) 

Comparing career

This is an interesting function in scholar. This function calculates the number of years since the first publication (assuming this as the starting year of the career).

IDs <- c(ES, Kh, JT)
compare_scholar_careers(IDs, career = TRUE)

Getting citation history

This is a bit strange, E.cite.year failed to run.

ES.cite.year <- get_citation_history(ES)  # success
Kh.cite.year <- get_citation_history(Kh)  # success
JT.cite.year <- get_citation_history(JT)  # success
# E.cite.year <- get_citation_history(E)   # hmm, error, strange

Plotting citation history

This functions use ggplot2, but you can always use base function to plot.

ES.hist <- ggplot(ES.cite.year, aes(year,cites)) + 
  geom_bar(stat='identity',fill=colors()[128]) +
  scale_x_continuous(
    breaks = c(2009, 2010, 2011, 2012, 2013, 2014, 2015, 2016, 2017))

Kh.hist <- ggplot(Kh.cite.year, 
       aes(year,cites)) + 
  geom_bar(stat='identity',fill=colors()[120]) +
  scale_x_continuous(
    breaks = c(2009, 2010, 2011, 2012, 2013, 2014, 2015, 2016, 2017))

JT.hist <- ggplot(JT.cite.year, 
                aes(year,cites)) + 
  geom_bar(stat='identity',fill=colors()[118]) +
  scale_x_continuous(
    breaks = c(2009, 2010, 2011, 2012, 2013, 2014, 2015, 2016, 2017))

ES.hist
Kh.hist
JT.hist

## My work around
E.cite.year <- get_publications(E)
E.cite.year <- as.data.frame(lapply(E.cite.year,
                                 function(x) if (is.factor(x)) as.character(x) else x))
w <-grep("Ultrafast", E.cite.year$title) 
E.cite.year$title[w]
E.cite.year$pubid[w] 
E.cite.year <- get_article_cite_history(E, E.cite.year$pubid[w])

E.hist <- ggplot(E.cite.year, aes(year, cites)) +
  geom_bar(stat='identity',fill=colors()[110]) +
  scale_x_continuous(
    breaks = c(2000, 2001, 2002, 2003, 2004, 2005, 2006, 2007, 2008, 2009, 2010, 2011, 2012, 2013, 2014, 2015, 2016, 2017))+
  theme(axis.text.x = element_text(angle = 45, hjust = 1))

Getting number of unique journals

get_num_distinct_journals(E)
get_num_distinct_journals(ES)
get_num_distinct_journals(Kh)
get_num_distinct_journals(JT)

Getting number of top journals

get_num_top_journals(E)
get_num_top_journals(ES)
get_num_top_journals(Kh)
get_num_top_journals(JT)

When did they become scientists?

get_oldest_article(E)
get_oldest_article(ES)
get_oldest_article(Kh)
get_oldest_article(JT)

Getting publications and write to a csv file

E.pubs <- get_publications(E)
write.csv(pubs, file = "citations.csv")

Predict their h-index

E.x <- predict_h_index(E)
ES.x <- predict_h_index(ES)
Kh.x <- predict_h_index(Kh)
JT.x <- predict_h_index(JT)

Nantikan kaos “Impact Factor is a myth” 🙂

Dari @openscience_ID dan @itb_press

Mulailah membaca makalahnya bukan nilai Impact Factornya

Post ini awalnya merupakan surel saya ke milis dosen ITB. Karena isinya bersifat umum, maka ada baiknya saya bagikan di blog ini.

Artikel ini sebagaimana sural aslinya terdiri dari dua bagian:

  • bagian pertama: sosialiasi hasil riset di Cikapundung dan
  • bagian kedua: menempatkan Impact Factor secara proporsional.

 

Silahkan.


Yth ibu dan bapak,

Berikut abstrak terbaru dari Proyek Riset Eko-Hidrologi Cikapundung (Dana: Riset ITB 2017; Tim dari SITH dan FITB, Ketua Tim: Dr. Endah Sulistyawati): https://medium.com/eco-hydrology-of-cikapundung/surface-and-groundwater-interactions-cikapundung-bandung-cisadane-tangerang-dan-kanal-banjir-86c2fe0177b1 .

Blog ini dibuat khusus untuk memuat berita riset kami sebagai bagian dari diseminasi hasil riset (tanpa harus menunggu riset selesai).

Kali ini kami membandingkan interaksi antara air tanah dan air sungai (Cikapundung Bandung, Cisadane Tangerang dan Kanal Banjir Timur Semarang). Abstrak telah dikirimkan ke 12th Joint Conference on Chemistry (Sep 2017). Bila diterima, versi “abstrak panjang” nya (extended abstract) kabarnya akan diindeks oleh Scopus.

Mohon jangan dilihat Scopusnya, karena itu “kebetulan” saja :), karena jelas ada banyak cara lain untuk berkontribusi ke institusi selain menulis makalah ke jurnal ber-Impact Factor tinggi atau terindeks Scopus/WoS.

Juga mulailah membaca makalah dan tidak berhenti hanya sampai di kulit muka jurnal yang menayangkan angka Impact Factor. Substansi saintifik ada di dalam makalah, bukan di angka Impact Factor :). Setelah membaca makalah, silahkan dinilai sendiri isinya. Kemudian baru bandingkan antara isi makalah dengan angka Impact Factornya? apakah selalu berhubungan. :). Mengenai hal itu ada blog postnya sendiri, di sini http://dasaptaerwin.net/wp/2017/06/eksperimen-jif-vs-jumlah-sitasi.html#more-3344 . Blog post tersebut walaupun sudah dalam Bahasa Inggris, tapi pastinya hanya akan terindeks Google. Tapi kalau sudah jadi makalah pun, saya dan beberapa rekan, akan mengirimkannya ke jurnal yang biasa-biasa saja. Bila perlu akan kami translate kembali ke Bahasa Indonesia. :).

Silahkan mampir ke tautan-tautan blog di atas (bila ada waktu senggang saja).

Salam,
Erwin
“Is Impact Factor a myth?”
Kaosnya sedang dipesan 🙂

Mengapa perguruan tinggi Indonesia (terkesan) susah menembus peringkat intl?

Post ini awalnya merupakan kumpulan twit saya saat merespon twit di bawah ini dari Bapak Nadirsyah Hosen.

Continue reading Mengapa perguruan tinggi Indonesia (terkesan) susah menembus peringkat intl?

Saatnya melakukan review terhadap peer review

Karena peer review adalah juga obyek untuk direview.

Beberapa tahun lalu, saya mengikuti ceramah umum dari Prof. Djoko T. Iskandar, yang salah satunya menceritakan makalah beliau yang ditulis oleh lebih dari 40 orang. Tahun ini saya mengalaminya juga :).

Continue reading Saatnya melakukan review terhadap peer review

Calling out an open public peer review: a social experiment

Calling out an open-public-peer review!
(mohon maaf bila sudah membaca posting ini via saluran lain)

Berikut ini adalah tautan draft makalah saya bersama beberapa kolega yang akan dikirimkan ke Jurnal Sostek ITB (terakreditasi Dikti).

Mohon dapat dilakukan review bersama secara terbuka untuk kemudian menjadi bahan kami merevisi versi finalnya sebelum dikirimkan ke jurnal.

Tautan: https://goo.gl/6X1eb2 .

Mengapa saya melakukan ini?

1) Karena terus terang saja, ada alasan administrasi bahwa untuk pengusulan jabatan ke LK diwajibkan untuk menerbitkan makalah pada jurnal nasional terakreditasi. Saya bisa paham alasannya dan akan saya tulis sebagai blog post kapan-kapan.

2) Saya ingin bereksperimen sosial, apakah publik masih berkenan memberikan komentar konstruktif pada karya ilmiah, selain berkomentar tentang situasi politik.

Apa syarat untuk memberikan review?

Satu-satunya syarat adalah anda harus membaca makalah terlebih dahulu. Selebihnya bebas! Selama bersifat konstruktif dan semua pertanyaan wajib diisi.

Di mana anda bisa mengirimkan review?

Agar saya dapat mentrack review dengan mudah, mohon agar tidak menuliskannya sebagai komentar di media sosial. Sebisa mungkin anda dapat memasukkan review ke tautan Google Forms ini https://goo.gl/qaQSKB . Karena sifatnya terbuka, maka anda dihimbau untuk memberikan identitas juga.

Sampai kapan durasinya?

Saya memberikan waktu s/d 23 Juni 2017.

Review rekan-rekan semua akan dikirimkan ke redaksi sebagai lampiran dari makalah.

Semoga berkenan dan terimakasih sebelumnya.

PS: agar review anda mendapatkan DOI, saya menghimbau juga agar file review dapat diunggah ke Figshare.

every point on earth holds a piece of originality | CC-BY


Warning: Illegal string offset 'update_browscap' in /home/dasaptae/public_html/wp/wp-content/plugins/wp-statistics/includes/classes/statistics.class.php on line 144