Preprints, Arxiv and INARxiv (a view from Prof. Bryan Gaensler)

For some of you who are still skeptical or still having doubts about preprint and how it supports science, you might want to watch this video.

I found it while researching on research data management. It was posted under University of Sydney Library channel.

Some strong sentences about preprints were mentioned by this speaker, Prof. Bryan Gaensler, an astronomer now with University of Toronto.

Here are some of his strong points (some of which perhaps are applicable limited to the science of astronomy, physics and math):

  • Preprints support citation (in some field). Nobody bother to read journals anymore if they can read it on Arxiv three months earlier,
  • One step to promote your science is by putting your paper on Arxiv,
  • Posting preprints can lead to collaboration. So it’s not a paper before it went to Arxiv previously.

Here are some links on Prof. Bryan Gaensler:

You know what I like about persons like this one I’m presenting?

I like how he/she spends a lot of time to setup an outreach mechanism for his/her research. They look at impact way further than just a number listed as Impact Factor and citations.

But yeah, you don’t always agree with me. You could always go back to your Scopus indexing and IF hunts as you earn your way as famous academia.

@dasaptaerwin

And yes we run INARxiv the preprint server of Indonesia and read related articles on preprint and post print here Open Science Indonesia.

HOW TO MAKE YOUR RESEARCH OA FOR FREE AND LEGALLY

Dua bulan lalu, rekan saya Jon Tennant dan Lisa Matthias dalam blog Fossilsandshit telah membuat infografik yang menggambarkan alur pikir tentang bagaimana membuat riset (hasil riset) anda open access secara gratis dan legal. Kemudian infografik yang sama diunggah ke Figshare untuk mendapatkan DOI 10.6084/m9.figshare.5285512.v2.

Continue reading HOW TO MAKE YOUR RESEARCH OA FOR FREE AND LEGALLY

Terindeks Scopus bagus, tapi …

Pendahuluan

Beberapa waktu lalu saya dan Sdr Achmad Zulfikar menginisiasi tabel database berisi International Conference (IC) yang terindeks Scopus, WoS atau Thomson Reuters. Semua even dilaksanakan di Indonesia. Tabel tersebut dapat diakses dan disunting oleh siapapun. Artinya semua orang dapat menambahkan IC yang belum masuk dalam daftar.

Saat ini telah ada sebanyak 60 IC terindeks S/W/TR Periode Mar-Dec.

Continue reading Terindeks Scopus bagus, tapi …

Review dokumen Pedoman Publikasi Ilmiah (Kemristekdikti, 2017)

Blog post ini awalnya adalah review terhadap Review dokumen Pedoman Publikasi Ilmiah (Kemristekdikti, 2017) yang kemudian akan kami kembangkan sebagai makalah berjenis literature review.

Dokumen ini disusun secara bersama dengan koordinator Dasapta Erwin Irawan (ITB). Review singkat ini blm dilengkapi  konteks lengkap.

Kontributor: …., …., …. (silahkan tambahkan nama anda dan afiliasinya)

Silahkan baca versi lengkapnya di tautan Authorea berikut https://www.authorea.com/189560/wtaxIsuraB7KuyE0FKzbDA. Kirimkan kontribusi anda melalui surel ke

dasaptaerwin (@) gmail (.) com.

Terimakasih.

Umum

Panduan tapi isinya dr awal sampai akhir menggunakan Elsevier. Namun demikian saya melihat ada maksud baik utk meluaskan wawasan dgn disebutnya beberapa lembaga, misal ORCID dalam dokumen ini.

Khusus

Hal 24: Kalau ada atau tidaknya DOI (digital object identifier) menjadi kriteria kejelasan sumber, maka akan muncul masalah karena akan adanya banyak makalah yang secara substansi bagus, tersedia daring, tapi belum punya DOI. Konteks: DOI saat ini penting karena menyediakan persisten link atau tautan tetap terhadap segala obyek digital, tidak hanya makalah ilmiah. Datapun yang diunggah secara daring di repositori yang bekerjasama dengan Crossref, akan dapat menerbitkan DOI.

Tentang peer-review: sebuah makalah di F1000Research

Setelah berinteraksi b eberapa waktu di medsos Twitter, kami ber 30 dari berbagai belahan dunia menulis makalah review literatur tentang peer review. Dikoordinir oleh Dr. Jon Tennant yang bekerja di ScienceOpen, makalah ini dimuat di jurnal inovatif dengan sistem open peer review F1000research.

Secara tidak sengaja belakangan saya baru tahu kalau jurnal ini terindeks karib kita Scopus dan masuk kategori Q1-Q2 (bergantung bidangnya). Untuk diketahui kategori QQ dapat berbeda kalau jurnalnya masuk ke dalam lebih dari satu kategori.

Sebuah kontribusi untuk Indonesia yang kebetulan.

Jurnal-jurnal openscience ini punya strategi masuk ke mainstream indexing agar pola peer-review terbuka, open data, kolaborasi jadi makin kuat.

Kawan-kawan saya yang 29 lainnya memang kebanyakan dari Eropa atau sedang belajar di Eropa. Mereka sendiri menyadari trend penilaian kinerja sains saat ini sangat tidak inklusif terutama bagi negara berkembang. Mereka juga sepakat untuk tidak mendukung sistem penilaian reputasi dari “barat”  ini.

Mereka juga sadar menulis dalam bahasa selain “bahasa ibu” akan sangat berat. Jadi mereka menyarankan agar akademia di negara berkembang berpartner dengan akademia barat yang berpikiran terbuka. Memang jarang, tapi kalau anda maksimumkan media sosial, maka akan ketemu satu dua orang baik yang akan membantu anda. Tapi kalau anda beruntung seperti saya, maka akan ketemu ekaligus dengan 29 orang.

So if you can’t fight them, join them.

every point on earth holds a piece of originality | CC-BY


Warning: Illegal string offset 'update_browscap' in /home/dasaptae/public_html/wp/wp-content/plugins/wp-statistics/includes/classes/statistics.class.php on line 144