Preprints on “Indonesia”

Apparently, so many preprints have been written using Indonesia as a subject, topic, or title. If you go to OSF Preprints then search with key word “Indonesia”, you can get 2 million + of docs. Here’s the plot and here’s the data.

And if you filter “OSF Preprints”, here’s one of the article, written by Baskoro Lokahita.

Read also this Medium article on preprint vs post print (in Indonesian language).

Publish or Perish app

Good morning readers

After doing some research using Scopus and WoS, now it’s my turn to show you some world of wonder using free indexing services like Google Scholar (GS) and Microsoft Academic (MSA). We know both index long a go, but perhaps some of us still asking the same question, “is there an client app to extract data from GS or MSA?”

Yes there is. Thanks to Anne-Wil Harzing that initiate the effort to write Publish or Perish software 10 years a go. It’s now in version 5.

Read more on my Medium page here.

https://s3.amazonaws.com/lowres.cartoonstock.com/education-teaching-publish-published-professors-publishing-academia-tmcn3799_low.jpg
Didn’t publish so perished (image credit: CartoonStock.com)

[stpdn] Perlukah inisiatif

Pendahuluan

Pendidikan magister dan doktor bersifat mandiri. Tercapai atau tidaknya tujuan akan bergantung kepada mahasiswa masing-masing. Riset yang akan anda lakukan pada dasarnya adalah riset anda. Jadi berhasil atau tidak, sepenuhnya ada di tangan anda.

Lego character (legocityu.nintendo.com, CC-BY)

Insiatif yang terkendali

Inisiatif jelas perlu. Tapi kalau tidak terkendali, maka anda bisa dianggap “jalan sendiri” oleh Pembimbing. Ini akan berhubungan dengan karakter pembimbing. Ada yang control freak (dalam konotasi yang baik), ada pula yang bergaya lebih demokratis. Agar tidak terjadi salah tafsir dan berujung kepada hubungan yang memburuk, maka pastikan anda melaporkan setiap kegiatan yang akan Anda lakukan, misal: akan mengirimkan makalah ke jurnal mana, atau akan mempresentasikan makalah di seminar mana, atau akankah data dipublikasikan, dll. Komunikasi penting!

Bersambung

[stpdn] Dokumentasi yang sistematis dan teliti

Dokumentasi yang sistematis dan teliti

Ciri berikutnya adalah kemampuan untuk mendokumentasikan kegiatan. Dokumentasi hasil kegiatan yang sistematis dan teliti adalah salah satu modal. Dengan mendokumentasikan kegiatan secara sistematis dan teliti, maka anda akan menghemat waktu saat mencarinya di kemudian hari.

Kunci yang lainnya adalah jangan pernah percaya dengan piranti keras. Walaupun komputer anda yang paling mahal dan menggunakan sistem operasi yang diklaim paling stabil, anda tetap harus melakukan backup secara rutin.

Lego brick table (Wikimedia.org, CC-BY)

Struktur folder HDD

Di saat semua dokumen sudah dalam bentuk digital, maka semua berawal dari struktur folder hard disk drive (HDD). Sebagai contoh saja, biasanya kami membuat struktur folder diawali dengan folder tahun (2017) yang diikuti dengan subfolder:

  • teaching
  • research
  • grant
  • publication
  • assignments
  • planed
  • misc

Kalau dalam lingkup riset, maka bisa menjadi seperti ini:

  • data
  • analysis
  • report
  • presentation

Piranti penyimpanan backup yang diperlukan

Selain laptop atau komputer desktop, maka piranti keras yang sangat diperlukan adalah:

  • HDD min 500 GB, walaupun ukuran 1 TB atau 1000 GB sudah mulai turun harga.
  • Flash disc drive (USB stick) min 16 GB.
  • HDD eksternal atau HDD backup yang berukuran minimum sama dengan HDD yang terinstalasi di dalam laptop atau PC.

Spesifikasi piranti keras di atas adalah yang direkomendasikan dengan melihat kondisi stoknya yang cukup banyak di pasar. Adapun pertimbangan lain, misalnya harganya yang masih cukup mahal, sangat diterima. Jadi silahkan manfaatkan secara optimal dana yang diterima. Tapi setidaknya anda harus punya HDD eksternal dan USB stick.

FYI: Penulis pertama lulus S2 dengan laptop Toshiba bekas yang engsel layarnya sudah patah. Jadi agar layar berdiri tegak, harus disambung dengan tali kenur. Toh saya lulus juga dengan tepat waktu.

HDD eksternal didedikasikan untuk backup mingguan, sedangkan USB stick untuk backup harian atau untuk keperluan penggandaan berkas (file) dengan komputer lain atau komputer rekan. Walaupun di era koneksi internet saat ini, sebenarnya kirim-kirim file sangat disarankan melalui media penyimpanan daring (online/cloud storage), tapi USB stick terkadang masih diperlukan. Tapi perlu hati-hati saat memasukkan file dari luar ke dalam laptop atau PC kita.

Cerita S3 lain lagi, penulis pertama menggunakan laptop jenis netbook layar 10,3" dengan prosesor intel celeron. Toh lulus juga tepat waktu. Jadi sekali lagi ini bukan masalah spesifikasi piranti lunak atau piranti keras, tapi kemauan keras.

Piranti lunak backup yang diperlukan

Untuk keperluan dokumentasi piranti lunak (P/L) yang perlu dimiliki diantaranya:

  • P/L backup untuk melakukan pengarsipan data dari laptop/PC ke HDD eksternal. Tapi hati-hati saat melakukan auto sync, agar versi berkas tidak saling menindih. Berkas yang paling baru harus menindih yang lama, dan bukan sebaliknya. Kami biasa menggunakan aplikasi backup orisinal milik MacOSX atau aplikasi gratis FreeFileSync yang tersedia untuk sistem operasi Linux, Mac, dan Windows.
  • P/L cloud drive seperti Google Drive, Dropbox. Dengan aplikasi ini, anda akan selalu dapat memantau atau bekerja di mana saja, karena versi berkas yang ada di laptop akan selalu sama dengan versi di HDD virtual tersebut.
  • Gunakan fasilitas version control. Dengan fasilitas ini berbagai versi berkas akan dapat disimpan dalam satu berkas, tanpa harus banyak melakukan proses save as ke nama file yang berbeda. Dengan fasilitas ini, berkas akan tidak terlalu banyak. Saat ini P/L pengolah kata yang menggunakan fasilitas ini adalah LibreOffice untuk jenis aplikasi desktop dan Google Docs untuk jenis cloud app. Anda juga dapat menggunakan fasilitas version control dari repositori khusus seperti Github dan Bitbucket. Bila anda menggunakan repositori gratis ini, maka anda dapat mensinkronkan (synchronize) berkas luring (offline) yang ada di laptop/PC ke kedua repositori daring tersebut. Hebatnya repositori Github dan Bitbucket memberikan fungsi berjejaring dengan pengguna lainnya. Jadi anda dapat bertukar berkas dengan para rekan mahasiswa, pembimbing, dan pihak lain, begitu pula sebaliknya.

Durasi back up

Durasi backup ini akan sangat bervariasi, bergantung kepada kebiasaan. Kami biasanya melakukan backup total sebulan sekali dari laptop ke HDD. Selain itu, kami juga mencoba membiasakan diri melakukan backup proyek yang sedang dilakukan seminggu sekali dari laptop ke USB flash drive (USB).

Menamai file

Saat kami belum menggunakan fasilitas version control, maka nama file diupayakan informatif tapi ringkas, dengan template <namaproyek> <editor> <tanggal editing>. Contoh: untuk file tesis maka nama filenya: tesis erwin 07042017. Terkadang bila penyutingan dilakukan secara intensif pada hari yang sama, kami menambahkan jam, menjadi: tesis erwin 07042017 0300.

Beberapa rekan juga kami dapati menggunakan penamaan file dengan cara yang unik untuk memudahkan sortasi file berdasarkan tanggal, <tanggal> <namaproyek> <editor>, misal: 20170407 tesis erwin. Tahun ditulis bagian awal sangat membantu dalam pengurutan (sortasi) file.

Mengatasi duplikasi file

Untuk hal ini, anda dapat mengatur setting P/L Freefilesync dengan replace with newer files atau keep both. Lihat panduan masing-masing P/L yang anda gunakan.

[stpdn] Beberapa kebiasaan yang disarankan

Beberapa kegiatan yang disarankan

Materi ini dan beberapa materi lainnya akan saya masukkan ke Buku STPDN (Sukses sTudi Pascasarjana di Dalam Negeri) yang akan saya terbitkan dengan pola hybrid. Edisi digital akan terbit di platform Leanpub.com dengan sistem “donasi” dan edisi tercetak akan diterbitkan oleh Penerbit ITB.

:)

Konon kabarnya, para mahasiswa pasca sarjana yang bersekolah di LN dipaksa atau terpaksa untuk memiliki beberapa kelebihan berikut ini, diantaranya adalah: keteraturan tingkat tinggi, dokumentasi yang teliti, kemampuan untuk mengkomunikasikan hasil risetnya, kepercayaan diri untuk memperluas pergaulan, dan tentunya kesungguhan dalam berdoa yang utama.

Keteraturan tingkat tinggi

Keteraturan tingkat tinggi, konon adalah salah satu kelebihan mahasiswa pasca sarjana di LN. Tapi kami tidak akan memperpanjang masalah keteraturan itu. Dalam bab ini kami akan mencoba membandingkan sudut pandang. Dari sudut pandang kita di DN, mahasiswa pasca sarjana LN selalu dipersepsikan seperti ini:

 

Tanda aturan parkir di Sydney. Walaupun terlihat membingungkan, tapi melatih sekaligus menegakkan kedisiplinan (Koleksi pribadi: CC-BY)
  • Uang biaya hidup cukup dari beasiswa, bahkan dengan tunjangan keluarga.
  • Uang penelitian dan publikasi selalu tersedia.
  • Pembimbing yang perhatian.
  • Fasilitas laboratorium yang sangat lengkap, hingga tinggal kedip saja langsung bisa digunakan.
  • Urusan asuransi kesehatan dan sebagainya sudah lengkap.

Dengan berbagai fasilitas di atas, maka sudah sepantasnyalah bila mereka dapat bekerja dan meneliti dengan baik, serta lulus tepat waktu, dengan menghasilkan publikasi kelas dunia.

Pandangan di atas tidak sepenuhnya salah, tapi tidak semuanya benar juga. Yang akan kami sampaikan di sini adalah berbagai testimoni dari mahasiswa pasca sarjana LN tentang mahasiswa DN:

  • Biaya hidup murah, biaya akomodasi masih bisa mengandalkan saudara, jadi uang beasiswa masih bisa diatur-atur. Lha di LN, mana ada yang murah. Semua harus jelas dibayar oleh siapa, berapa, dan kapan bayarnya, tidak bisa dinanti-nanti.
  • Penelitian bisa mengambil topik yang unik dan hanya ada di Indonesia, daerah surveynyapun bisa memilih yang dekat jadi biaya lebih ringan. Apalagi masih memungkinkan untuk mengajukan dan penelitian dari Dikti. Untuk publikasi, jurnal-jurnal di Indonesia kan biaya penerbitannya (APC/Article Processing Charge) murah, bahkan banyak yang cuma-cuma. Jadi biaya publikasi bisa diarahkan untuk membayar biaya konferensi, biaya menginap, dll. Kalau di sini, jurnal OA bisa dikisaran USD 1000 an minimal. Kalau mau mengejar yang IF (Impact Factor) tinggi bisa sampai USD 2000 an, kadang kami masih harus dibantu oleh dana pribadi pembimbing.
  • Ya betul pembimbing kami memang sangat perhatian, tapi perhatiannya sangat formal dalam kaitan riset. Kami di sini harus ngantor seperti orang kerja kantoran. Jadi mana sempat mengerjakan yang lain. Semuanya harus dihemat. Kalau bawa keluarga lebih berat lagi mengaturnya. Sementara kalau sekolah di DN kan masih bisa “nyambi-nyambi”. Walaupun dampaknya bisa molor masa studinya, tapi asal kita bisa atur waktu, mestinya bisa.
  • Fasilitas laboratorium memang lengkap, tapi juga bukan berarti bisa sembarangan pakai. Ada proses administrasi yang ketat yang harus dipenuhi, kalau analisis kita lancar, maka tidak masalah. Tapi kalau ada kendala dan harus diulang, wah repot sekali juga mengurusnya. Intinya semua harus dilakukan sendiri di sini. Kalau di DN, beberapa bidang ilmu, kan masih bisa membayar analisis kepada petugas laboratorium dan biarlah mereka yang melakukan pengujian. Kita tinggal terima hasilnya untuk kemudian diinterpretasi. Jadi masih bisa waktunya digunakan untuk yang lain.
  • Asuransi ok memang bagus di LN. Tapi mahalnya minta ampun, kalau bawa keluarga, biasanya asuransinya tidak ditanggung oleh pemberi beasiswa. Akibatnya bisa sampai harus menjual mobil pribadi. Fasilitas kesehatan memang bagus, tapi untuk keperluan tertentu bisa sulit lho. Misal, kalau di Australia membawa istri hamil, tidak bisa sembarangan tiap kontrol di USG. Kalau di Indonesia, kan bisa saja minta USG sewaktu-waktu. Kalau terjadi kontraksi bisa langsung minta dicek dll. Kalau di LN, belum tentu bisa. Jadi jangan dikira masalah kesehatan bisa dibandingkan kepraktisannya dengan di Indonesia.

Beberapa hal di atas saya kumpulkan dari pengalaman pribadi, rekan-rekan sejawat, dan rekan-rekan di media sosial.

Apakah benar adanya? Mari kita renungkan bersama.

Mengorek jumlah makalah berbahasa Indonesia dalam basis data DOAJ dan Bank Dunia

Berawal dari “Negara penghasil ilmu pengetahuan”

Saya sangat tertarik dengan blog post Prof. Hendra Gunawan tentang “Negara penghasil ilmu pengetahuan”. Di dalamnya mentor saya ini menyampaikan data yang diambil dari basis data ScimagoJR.

Continue reading Mengorek jumlah makalah berbahasa Indonesia dalam basis data DOAJ dan Bank Dunia

Tanggapan atas artikel “Pendidikan doktor basa-basi”

 Selamat pagi Pak Supriadi yth
Salam kenal, saya Erwin, dosen Geologi ITB, masih Lektor sedang menyusun PAK untuk ke LK.
Saya membaca blog post Bapak, senang rasanya bisa melihat pejabat senior seperti Bapak masih menyempatkan waktu untuk blogging dan menggunakan media blog untuk menyebarluaskan pemikiran, selain tentunya makalah ilmiah.
Selain semangat optimis yang tersirat dan tersurat dalam blog bapak, perkenankan saya memberikan beberapa  komentar yang mungkin dapat memperkaya artikel bapak.
Maaf bila masih banyak typo, akan saya perbaiki pelan-pelan.
Maaf juga masih banyak yang sifatnya dugaan belum teruji, seperti juga beberapa hal yang bapak sampaikan dalam blog.

Mengenai istilah “pendidikan S3 basa basi” vs riset berbiaya rendah

Mohon tidak dihubung-hubungkan dengan pendidikan S3 yang memerlukan riset berbiaya rendah, karena ada dan banyak bidang ilmu yang memang bisa dikerjakan dengan biaya rendah.

Mengenai Webometrics

Terus terang buat saya menarik karena bapak masih membahas peringkat Webometrics di tengah pandangan umum yang kembali ke pemeringkatan berdasarkan indeks-indeks literasi, seperti jumlah publikasi terindeks lembaga xxx, jumlah publikasi pada jurnal berimpact factor, dan yang sejenisnya.
Mengenai Webometrics, ya saya setuju bahwa ada komponen excellence yang belum dapat dimunculkan secara proporsional, khususnya yang berkaitan dengan publikasi.
Seperti halnya indeks atau peringkat yang lain, tidak ada sistem pengindeksan dan pemeringkatan yang sempurna, masing-masing memiliki plus dan minus. Webometrics digunakan salah satunya karena kita punya kans/peluang untuk dapat mencapai skor yang relatif tinggi, karena ada komponen online visibility. Penduduk kita yang menurut BPS tahun 2016 mencapai 260 juta (kurang lebih) harus dimanfaatkan, apalagi dengan aktivitas mereka di media sosial di dunia yang konon signifikan, menurut data konon 40% cuitan (tweet) per hari berasal dari Indonesia.
Perbanyak media ilmiah yang mengulas hal-hal teknis tapi dalam bahasa awam. Blog adalah salah satunya. Bila lebih banyak lagi mahasiswa S1/S2/S3 sudah terlatih untuk blogging, maka membuat mereka menulis makalah ilmiah akan sangat mungkin.

Mengenai publikasi

Terkait dengan pemeringkatan, saya sangat setuju dengan pendapat bapak bahwa karya ilmiah apapun bentuknya, bisa makalah ilmiah, karya seni, prototip dll adalah menyatu (embedded) di dalam tugas Tri Darma Perguruan Tinggi yang dianut para dosen di Indonesia.
Yang saya tidak setuju ada membuat patronisasi bahwa indeks yang dibuat oleh lembaga tertentu, khususnya lembaga komersial, lebih baik dari indeks yang dikeluarkan oleh lembaga lainnya. Patronisasi ini sudah menjadi mitos di kalangan dosen.

Mitos yang pertama adalah bahwa publikasi harus Scopus, harus ber Impact Factor dll. 

Inilah yang membuat kombinasi pertanyaan yang paling diajukan (FAQ) dari para dosen kepada pengelola jurnal adalah “jurnal anda bisa terbit cepat dan terindeks Scopus?”
Sudahkah bapak mencoba menganalisis jumlah makalah dosen dari Indonesia yang dari sisi kualitas sebenarnya baik tapi diterbitkan di jurnal internasional yang “meragukan”? Saya menggunakan kata “meragukan” bukan karena ingin memperhalus tapi memang kalau dari Bahasa Inggrisnya sering digunakan istilah “questionable” journal.
Konon kabarnya banyak makalah dosen kita di jurnal yang meragukan itu. Saya belum pernah meneliti secara komprehensif. Tapi kalau bercermin kepada dialog dengan para dosen yang belum GB dan juga dosen yang GB, mayoritas dari mereka saat mencari jurnal, maka yang ditanyakan adalah, “mana yang cepat”. Saya jadi berpikir, karena itulah sangat mungkin jumlah publikasi kita di jurnal meragukan cukup tinggi. Karena mereka hanya mementingkan menarik uang sebanyak-banyaknya dari penulis, dengan kedok sebagai open access journal.
Sebagai catatan, saya sudah beberapa kali menemukan publikasi hasil riset S3 yang dimuat di jurnal yang meragukan. Rata-rata kalau saya cross cek ke penulis dan pembimbingnya, penyebabnya adalah
  1. ketidaktahuan bagaimana cara memilih jurnal yang baik (tidak meragukan),
  2. apa definisi open access dan apakah ada alternatif yang lain selain open access, dan
  3. kesabaran, karena selalu inginnya cepat terbit.
Jadi menurut saya ada korelasi antara keinginan dosen untuk cepat mempublikasikan makalah dengan kemungkinan tingginya jumlah publikasi kita di jurnal yang meragukan.

Mitos berikutnya adalah bahwa publikasi harus berupa full report dari awal sampai akhir.

Mitos ini membuat para dosen sering berkelit, bila Bapak tanya, sudah berapa publikasi yang dihasilkan. Mereka akan beralasan, riset belum selesai, riset perlu biaya dan biaya belum turun.
Saya yakin Bapak pasti paham juga bahwa jenis publikasi yang selama ini kita kenal sebagai full report atau istilah bakunya full original research hanyalah salah satu saja jenis makalah ilmiah.
Elsevier, Bapak pasti tahu penerbit ini, bahkan membolehkan penulis mengirimkan makalah berjenis literature review, data paper, research notes, atau early research outcome. Jadi pada saat riset belum mulai pun, publikasi boleh disusun.
Publikasi dapat dihasilkan bahkan sejak riset belum dimulai, sejak tahap proposal…

Mitos yang ketiga adalah bahwa publikasi selalu memerlukan biaya publikasi

Untuk jelasnya yang dimaksud adalah article processing cost atau biaya pemrosesan artikel setelah dinyatakan lolos peer review. Yang dimaksud pula adalah biaya yang harus dibayarkan ke media jurnal berjenis  open access. Saya membuat blog post di DasaptaErwin.net tentang ini: di sini, di sini, dan di sini.
Mitos ini sudah sangat menyebar akut padahal model bisnis open access ini justru model bisnis yang baru. Mungkin sejak awal 2000 an. Model bisnis yang lama, non open access atau konvensional, sudah dipakai sejak jurnal ilmiah pertama kali terbit, mungkin di abad ke-16 atau ke-17. Yakni model bisnis yang memebebankan biaya publikasi kepada pelanggan jurnal atau pambaca makalah. Model bisnis inilah yang digunakan oleh penerbit besar seperti Elsevier, Springer Nature, yang kemudian banyak ditentang peneliti karena tidak berpihak kepada masyarakat di negara berkembang yang tidak melanggan jurnal tersebut. Karena sebab inilah kemudian lahir model open access, beberapa jurnal besar malah mengembangkan hybrid mode. Penulis bisa memilih mode open access atau non open access saat makalah dinyatakan diterima untuk diterbitkan (accepted). Karena inilah pula lahir portal pembajak makalah Sci-Hub yang dibuat oleh Alexandra Elbakyan seorang wanita peneliti bidang komputer dari Kazakhstan.
Bahwa open access bukanlah satu-satunya model bisnis pengelolaan jurnal.
Bahwa tidak semua jurnal open access menarik article processing cost.
Bahwa open access tidak membuat lantas makalah cepat terbit.
Sebenarnya masih banyak mitos lain yang harus diluruskan tetapi tiga besar, menurut saya, adalah tiga mitos di atas. Mitos yang lain dapat dibaca di sini.
Mengenai “mesin publikasi”
Kelompok penelitian demikian ini diharapkan menjadi “mesin” publikasi artikel hasil penelitian sehingga bisa terdaftar di lembaga perangkingan baik nasional maupun internasional.  Jika suatu pendidikan doktor tidak mampu berkontribusi pada jumlah artikel yang berkualitas, maka “mesin” publikasi perguruan tinggi yang bersangkutan dapat dikatakan telah berada pada “sakaratul maut”.
Saya setuju dengan pernyataan di atas bahwa program S2 dan S3 dapat menjadi sumber makalah ilmiah, tetapi saya kurang setuju bahwa perlu diistilahkan sebagai â€œmesin publikasi”. “Mesin riset” iya, tapi “mesin publikasi” rasanya bukan itu tujuan pendidikan S2 atau S3. Menjawab masalah masyarakat itulah yang utama, kemudian dari situ lahirlah berbagai cara untuk menyebarkan informasinya (makalah ilmiah adalah salah produknya). Masalah outputnya adalah makalah internasional, yang saya artikan sebagai, makalah yang isinya dapat dibaca dan dimengerti oleh orang selain Indonesia, akan sangat bergantung kepada pembinaan. Kita tidak lahir dan tinggal di “English speaking country”.
Untuk itu, saya usulkan untuk lebih memberdayakan prodi-prodi yang berkaitan dengan literasi bahasa asing (Bahasa PBB), seperti Sastra Inggris, Sastra Cina, Sastra Rusia. Buat mereka paham bahwa salah satu lahan kerja mereka adalah bekerjasama dengan institusi lain untuk membahasakan makalah ilmiah berbahasa asing menjadi lebih baik.
Ada dua hal yang saya usulkan:
  1. Mengubah istilah “jurnal internasional” menjadi “jurnal berbahasa XXX”. “Xxx” dapat diganti dengan salah satu Bahasa PBB.
  2. Jurnal internasional tidak identik dengan jurnal yang terbit di LN, dikelola oleh warga asing, direview oleh warga asing.
  3. Jurnal internasional bisa saja diterbitkan di Indonesia, menggunakan salah satu dari Bahasa PBB, dikelola oleh WNI, direview oleh jejaring peer-reviewers kompeten dari berbagai negara, terindeks oleh berbagai lembaga internasional (independen/non-publisher), serta tampil secara daring agar mudah dicari oleh mesin pencari.
Mengenai kelompok riset
Ciri berikutnya adalah  tidak memiliki kelompok dan juga proyek  penelitian sebagai isu bersama yang hendak dicarikan solusinya…
Baik ini masalah SDM, bapak menangkap bahwa ada kecenderungan para dosen tidak mampu membentuk kelompok riset dan merumuskan isu bersama. Pernahkah dipikirkan bahwa ini mungkin karena konsep linearitas yang sering disampaikan oleh Dikti dan kemudian disalahartikan oleh dosen sebagai kesamaan riwayat pendidikan dosen sejak S1 hingga S3.
Saya beri contoh di suatu prodi, ambil saja Teknik Geologi, berisi beberapa dosen yang riwayat pendidikannya sejak S1 hingga S3 adalah Teknik Geologi, dari perguruan tinggi (PT) di dalam dan luar negeri. Walaupun bidang risetnya akan berbeda-beda, misal ada yang mempelajari gempa, gunung api, air tanah, dll, tetapi sudut pandangnya akan sama. Mereka akan gamang saat diminta menjawab masalah bagaimana memitigasi korban gempa akibat gunung meletus.
Para dosen tidak terbiasa untuk bekerjasama dengan dosen dari prodi lain, karena hambatan pola sebagai akibat riwayat pendidikan yang linear (saya pakai istilah) ini.
Masalah berikutnya adalah, taksonomi prodi di tingkat nasional, juga tidak mengenai adanya prodi-prodi yang merupakan kombinasi antara berbagai bidang ilmu, misal Prodi Teknik Air Tanah, sebagai gabungan antara bidang ilmu Teknik Geologi, Teknik Pertambangan, Teknik Sipil, dan Teknik Lingkungan, bahkan biologi.
Di beberapa perguruan-perguruan tinggi bagus bisa membentuk Pusat Penelitian. Tapi kemudian kegiatan mereka tidak bisa dikaitkan langsung dengan riset multidisiplin karena mereka tidak bisa memiliki mahasiswa sendiri. Mahasiswa harus memilih di prodi mana mereka harus dicatat.
Jadi sekali lagi, ini masalah pola pikir yang terlalu terbiasa dengan konsep linearitas. Salah satu sebab saja ini pastinya.

Mengenai “isu basi dari sebuah basa basi”

Perdebatan dan wacana yang berkembang di seputar tema disertasi, baik oleh promotor, promovendus, maupun khalayak di komunitas ini dapat dikatagorikan sebagai isu basi dari  sebuah basa-basi yang sejatinya tidak perlu ada. Nyaris tidak dijumpai saling kutip pada karya lulusannya.
Saya sangat ingin mengetahui contoh yang bisa bapak sampaikan mengenai istilah “isu basi dari sebuah basa basi”, karena bisa jadi itu isu di bidang saya, sumber daya air.
Menurut saya dan mayoritas dosen yang lain adalah, bahwa riset tidak mungkin menjawab suatu isu yang sama dari A sampai Z, utamanya karena batasan waktu dan biaya. Dan bila suatu isu didekati dengan cara yang berbeda walaupun bedanya hanya satu komponen saja, maka nilai originalitasnya akan tetap terpenuhi.
Bahkan karena keterbatasan dana misalnya, suatu penelitian dapat mengulang penelitian sebelumnya untuk menguji validitasnya dengan data baru. Apakah yang seperti ini dikategorikan sebagai riset dalam lingkup “isu basi”.
Jadi saya masih ingin mengetahui contoh yang bapak punya mengenai hal ini.

Mengenai point Nyaris tidak dijumpai saling kutip pada karya lulusannya.

Saya yakin ini lebih banyak kepada masalah ketidaktahuan cara mencari informasi di internet. Dan kalaupun seseorang sudah mahir memainkan kata kunci di mesin pencari, belum tentu juga ia menemukan semua penelitian yang senada dengan penelitiannya, bahkan dari universitas yang sama.
Kenapa?
Mungkin karena pengunggahan materi skripsi/tesis/disertasi masih  dilakukan secara sentral oleh universitas, dalam hal ini perpustakaan pusat. Jadi pastinya perlu waktu.
Bagaimana bila himbauan untuk mengunggah tugas akhir secara daring adalah salah satu tugas personal mahasiswa? Saat ini banyak repositori terbuka yang gratis dan dapat dimanfaatkan oleh mahasiswa dan dosen pembimbingnya untuk hal tersebut.
Dampaknya tugas akhir dapat lebih mudah ditemukan oleh mesin pencari dan pada setiap dokumen dapat “ditempeli” kode DOI. Berikut contohnya, tautan repositori OSF.

Mengenai waktu studi

… Umumnya para doktor ini lulus dalam waktu sekira 2 tahun, suatu selang waktu yang di perguruan tinggi di Amerika hanya khusus untuk menempuh mata kuliah inti sebelum kandidasi. Saya sendiri menghabiskan waktu 7 tahun di ITB sebelum dinyatakan lulus doktor Fisika Institut Teknologi Bandung (ITB) pada tahun 2003.
Ini masalah sensitif, karena di Indonesia, pasti terjadi kombinasi antara kendala non teknis dan kendala teknis. Anggaplah kita hanya melihat kendala teknis, rasanya lama atau tidaknya waktu studi tidak bisa jadi barometer kualitas pendidikan, apalagi sampai tujuh tahun.
Waktu studi antara 3 – 5 tahun menurut saya wajar dengan pertimbangan kombinasi berbagai masalah yang mungkin dialami mahasiswa dan promotornya. Tentunya, lulus tepat waktu adalah indikator utama mahasiswa yang didukung oleh beasiswa penuh. Mahasiswa dan promotor tidak bisa berkelit dari indikator tersebut.
Penyamaan persepsi antara promotor kepada topik riset yang feasible dan doable dalam waktu 3 – 4 tahun perlu dilakukan. Sudahkah?
Sekian beberapa masukan saya, mohon maaf bila ada yang tidak berkenan. Saya sangat senang bisa berkomunikasi lanjut tentang hal ini.

Beban ganda (double burden) regulasi air tanah di Indonesia

Saat ini saya sedang mengusulkan kenaikan jabatan dari Lektor ke Lektor Kepala. Beberapa waktu lalu saya menerima informasi bahwa dokumen usulan saya memiliki kekurangan makalah yang dimuat dalam jurnal nasional terakreditasi.

Kebetulan saya bersama beberapa rekan pernah diminta melakukan telaah akademik mengenai perda pengelolaan air (khususnya air tanah), kemudian jadilah makalah berikut ini (lihat citation info di bawah).

Paper sedang dalam proses peer-review pada Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora dan kami unggah sebagai Preprint di Zenodo (tautan ada di bawah).

Kami memberi judul “double burden” karena memang regulasi yang mengatur pengelolaan air (dan air tanah) terganggu oleh dua hal:

  1. Pembatalan UU No. 7 Tahun 2004 tentang Pengelolaan Sumber Daya Air oleh Mahkamah Institusi
  2. Perubahan kewenangan pemerintah daerah dalam UU No. 23 Tahun 2014.

Belum sempat UU yang baru terbit, ada UU berikutnya yang menarik kembali kewenangan pengelolaan air dari kabupaten/kota ke provinsi (lihat gambar di bawah ini).

diagram

Baca juga: Quo vadis pengelolaan air tanah yang diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Airtanah Indonesia (PAAI).

Cite as: Irawan, Dasapta Erwin, Darul, Achmad, Sumadi, Hendy, Argo, Teti Armiati, & Nurhayati, Yunie. (2017, March 3). BEBAN GANDA (DOUBLE BURDEN) PENGELOLAAN AIR TANAH DI KABUPATEN/KOTA PASCA PEMBATALAN UU NO 7/2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR: ILUSTRASI DARI KOTA BANDUNG. Zenodo. http://doi.org/10.5281/zenodo.345418

every point on earth holds a piece of originality | CC-BY