Tag Archives: menulis itu menyenangkan

Writing vs editing: Menulis vs menyunting mana lebih susah

(Oleh: Dasapta Erwin Irawan dan Cut Novianti Rachmi; Ilustrasi: Fusi)

Menurut buku Peat et al. (2002) tahapan menulis adalah: pre-writing, drafting, revising, editing, dan publishing. Menurut saya yang sulit di bagian “pre-writing” dan “editing”. Yang paling membahagiakan adalah bagian “publishing”. Di saat anda menekan tombol “Publish” ada perasaan senang tiada tara.

Pre-writing (persiapan):

Di sini anda harus punya imajinasi tingkat tinggi. Pertanyaan yang paling sering muncul adalah, mau menulis apa dan harus mulai dari mana. Di sini saya bisa sarankan, bahwa jawabannya terserah anda. Di tahap ini anda boleh berpikir sistematis ataupun memilih untuk berpikir acak. Yang kedua biasanya yang saya pilih.

Lho mengapa? Bukankah akan lebih lama lagi untuk menstrukturkan ide.

Betul, tapi biasanya akan lebih lama lagi kalau anda sudah berpikir bab di tahap ini. Jadi “going random” adalah pilihan yang paling cocok, karena anda hanya perlu menetapkan kata kunci (keyword).

Mulai dari mana?

Jawabannya akan sama. Anda boleh mulai dari mana saja. Kalau anda mengikuti sekuel “Star Wars”, bukankah film ini dimulai dari bagian akhir. Bagian awal justru diciptakan lebih akhir. Sama halnya dengan memulai menulis. Anda boleh mulai dari kata kunci yang mana saja.

Jadi awalnya harus menentukan kata kunci?

Betul. Tidak boleh tidak. Tidak mungkin anda tidak punya. Yang betul adalah anda punya tapi tidak terlatih untuk menuliskannya. Karena itu, cara saya adalah ambil kertas dan mulai tuliskan kata kuncinya. Jangan banyak-banyak, satu atau dua kata saja. Misal bila kita akan menulis tentang “air”, maka kata kunci yang mungkin muncul:

  • asal
  • jenis
  • aliran
  • fungsi
  • manfaat
  • kebersihan
  • jumlah
  • warna
  • bau
  • dst anda bisa menulis belasan, puluhan, bahkan ratusan bukan

Fasenya mungkin akan terlihat seperti ini:

Berawal dari mind mapping acak seperti ini (dipinjam dari http://fartsmartwebdesign.com)

pre-writing-example-fartsmartwebdesign-com

Kemudian mulai distrukturkan menjadi seperti ini (dipinjam dari http://gallaudet.edu),

joltlist1_enlarge-gallaudet-edu

Kemudian diformat menjadi seperti ini

mapping1_enlarge-gallaudet-edu

atau seperti ini

treediagram1_enlarge-gallaudet-edu

Kemudian disusun outlinenya dan berakhir seperti ini

outline1_enlarge-gallaudet.edu

Saya akan lanjutkan bagian-bagian ini lain waktu ya.

Drafting (membuat draft)

Revising (merevisi)

Editing (menyunting)

Publishing (mempublikasikan)

Writing means making history: Menulis = membuat sejarah

(Oleh: Dasapta Erwin Irawan dan Cut Novianti Rachmi; Ilustrasi: Fusi)Melihat definisi di atas tidak berlebihan kiranya bahwa menulis sama dengan membuat sejarah. Kalau dari sisi ilmiah, mungkin agak berat ya. Tapi menurut Peat et al. (2002) ilmuwan perlu menulis karena:

bigstock_story_2226743-sueysbooks-blogspot

(dipinjam dari: http://sueysbooks.blogspot.com/)

  • tidak etis kalau kita mengerjakan riset tapi tidak melaporkan hasilnya
  • hasilnya akan selalu berharga bagi yang belum tahu: mungkin bagi anda yang tiap hari mengambil data, menganalisis, membuat grafik dll, sudah sangat biasa, tapi pasti hasilnya akan sangat berharga buat orang lain, terutama yang tidak tahu dan ingin belajar.
  • hasilnya akan bermanfaat bagi orang lain dan masyarakat luas: Bukankah berbagi ilmu adalah hal yang mulia dan tidak putus pahalanya? Mungkin dari riset anda, akan ada orang lain yang akan meneruskan bahkan membuat solusi yang belum pernah terpikirkan oleh anda.
  • akan menambah daftar rekam jejak anda: CV anda akan tambah panjang. Bukan hanya itu, tulisan juga akan mendukung dua hal di bawah ini, kredibilitas dan reputasi. Timeline anda tidak hanya akan terisi “tempat/tanggal lahir” dan “riwayat sekolah sejak TK” saja.
  • tulisan merepresentasikan kredibilitas (kepakaran) anda
  • kredibilitas akan mendukung reputasi (keilmuan) anda
  • dapat mendukung karir (meneliti) anda: ya karir seorang ilmuwan ditentukan dari tulisan. Percaya atau tidak, ini juga berlaku bahkan saat anda bekerja di swasta.
  • dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas, bukan sekedar anggota tim: “outreach”. Jadi yang mengetahui anda melakukan riset bukan hanya rekan seangkatan, dosen pembimbing, tapi juga khalayak ramai. Saya sering menyampaikan kepada para mahasiswa (mungkin juga anda) bahwa skripsi/tesis/disertasi anda hanya akan tercatat di sistem akademik, bukunya hanya akan ada di Perpustakaan Prodi atau Perpustakaan Pusat, dan sekarang di Digital Library. Kalau seseorang tidak dengan sengaja masuk ke ruangan atau situs itu, maka ia tidak akan tahu bahwa anda telah melakukan riset.
  • menambah peluang anda untuk mendapatkan dana riset: kalau anda seorang ilmuwan (mahasiswa juga tergolong ilmuwan lho), maka anda akan selalu diminta mengisi kolom publikasi yang telah dihasilkan. Kalau anda pernah menulis, maka mudah sekali mengisinya. Bagaimana kalau tidak? Maka panitia seleksi akan sulit sekali mengukur kredibilitas dan reputasi anda. Dengan kata lain mereka akan berpikir, “bagaimana kami bisa yakin kalau riset ini akan dijalankan dengan baik”.

WTF: How to make an introduction

introduction

Gambar dari Peat et.al (2002)

1 Pengantar

Tulisan ini mungkin yang pertama dari serial WTF (Writing is Totally Fun). Saya mungkin akan acak dalam menulis tapi nantinya akan saya kategorikan sesuai isinya. Jadi sabar ya. Kan baru dua post dalam serial ini.

2 Apakah perlu ada bab pendahuluan?

Coba kalau anda datang ke satu pertemuan dan langsung bicara panjang lebar tentang bagaimana fosil bisa membatu. Apakah ada orang yang akan mendengarkan? Apalagi kalau acaranya arisan ibu-ibu. Pasti tidak akan ada yang mendengarkan bukan. Sama halnya dengan tulisan. Bila diawali langsung dengan Bab Metode, maka pembaca akan kehilangan “arah”, karena mereka tidak tahu kenapa anda menulis apa yang mereka baca. Jadi Bab pendahuluan memang harus ada dan bukan saja sebuah formalitas tetapi juga menjadi tarikan nafas awal dari tulisan anda.

3 Jadi apa saja yang harus ada di dalamnya?

Bab Pendahuluan sebenarnya sederhana. Itu kata yang sudah ahli menulis. Intinya ada tiga yang harus ada. Tiga butir di bawah ini menurut Peat et.al (2002):

  • Apa yang orang lain sudah ketahui.
  • Apa yang tidak ketahui.
  • Mengapa kita melakukan penelitian atau menulis makalah ini dan tujuannya.

Menurut website ANU Research Skills (ANU-RS) bab ini adalah awal dari validitas paper atau penelitian (PnP) anda. Terlihat seram memang, tapi intinya sederhana, validitas itu dapat ditunjukkan dengan:

  • sejauh mana kita memahami penelitian sebelumnya
  • sejauh mana kita paham ada gap antara butir pertama dengan sesuatu yang kita ingin ketahui
  • gap yang ada pada butir dua itulah yang kemudian akan kita isi dengan PnP kita

Bab Pendahuluan juga dapat ditambah dengan mengenalkan secara lebih detil PnP kita, misalnya dengan menceritakan susunan bab dan sub bab dan alur penjelasan kita.

introduction2

Gambar dari situs ANU-RS

4 Penutup

Jadi sudah jelas ya kalau Bab Pendahuluan itu sangat penting posisinya. Jadi jangan asal-asalan saat membuatnya. Saya tahu anda pasti sudah sangat ingin menjelaskan kehebatan PnP anda langsung ke kesimpulan. Tapi percayalah Kesimpulan tidak akan berarti apa-apa tanpa Bab Pendahuluan.

5 Sumber inspirasi

Berikut ini adalah yang menginspirasi tulisan ini:

  1. Website Australian National University Research Training Skills dan akun twitternya [@ANU_RSAT](https://twitter.com/ANU_RSAT)
  2. Website Prof. Pat Thomson, seorang Guru Besar bidang pendidikan dari School of Education, The University of Nottingham, dan akun twitternya [@ThomsonPat](https://twitter.com/thomsonpat).
  3. Buku Scientific Writing is Easy: When You Know How, karangan: Jennifer Peat, Elizabeth Elliott, Louise Baur, Victoria Keena, terbitan BMW tahun 2002. Penulis yang no tiga itu adalah supervisor istri saya. You do know the silver-lining now.

Tulisan ini dibuat dengan OS Ubuntu 14.04, R Markdown dan R Studio

WTF: Writing (is) Totally Fun

funwriting
(Writing is Totally Fun, Gambar dipinjam dari http://www.danscartoons.com)

Kalau anda membaca tulisan WTF apa yang muncul di pikiran anda? WTF di sini adalah singkatan dari Writing is Totally Fun. Jadi jangan apriori dulu, scroll sedikit lagi ke bawah untuk membaca selanjutnya.

Mengapa kok menyenangkan?

Iya buat saya, setidaknya, sangat menyenangkan kalau bisa membuat orang lain memahami sesuatu yang sebelumnya belum diketahui. Belum lagi, kalau anda muslim, Insya Allah ada ganjaran pahala kalau anda menyebarkan ilmu kepada orang lain. Bagian mana yang tidak menyenangkan.

Apakah menulis karya ilmiah termasuk yang menyenangkan?

Satu kata. Iya. Dan anda jangan secara sempit mengartikan karya ilmiah sebagai buku atau makalah ilmiah yang tebal dan penuh dengan rumus. Coba anda lihat buku iptek jaman sekarang, sebagai contoh serial “XXX for Dummies” yang dimiliki oleh Penerbit John Wiley and Sons. Jauh dari kesan buku iptek yang dulu anda dan termasuk saya kenal kan. Semua disajikan dengan relaks, penuh ilustrasi dengan kalimat sederhana. Covernya yang menyolok kombinasi warna hitam dan kuning pasti akan menarik perhatian kita kalau masuk ke toko buku. Yang menarik lagi, Penerbit John Wiley mengemas buku For Dummies ini agak beda dengan yang lain, karena mereka juga menyiapkan website For Dummiesyang khusus dibuat untuk memuat cuplikan tips-tips yang ada dalam bukunya.

Mengenalkan Serial WTF

Bercermin dari contoh di atas, perkenankan saya untuk mengenalkan serial blogpost WTF ini. Pola post akan acak tanpa mengikuti kaidah tertentu, apa muncul di hari itu akan saya sampaikan. Kalau post sudah banyak, nanti akan ada halaman khusus yang isinya outline dari berbagai tulisan tersebut. Mudah-mudahan diberi waktu dan tenaga.

Dari post-post di blog ini, mungkin nantinya saya bisa mengembangkannya menjadi buku atau pelatihan-pelatihan singkat. Kita lihat saja nanti.

Oiya, hari ini 14 Februari 2015 bertepatan dengan ultah ayah saya. Mudah-mudahan beliau selalu sehat dan dilimpahi karunia nikmat iman dan Islam yang tak ada hentinya dari Allah SWT. Aamiin YRA.

Simak post berikutnya “How to make an Introduction”

Tulisan ini dibuat dengan: OS Ubuntu 14.04, R Markdown dan R Studio

WTF: Tiga kesalahan umum saat menulis

Outline:

Ada tiga kesalahan umum saat menulis. Kenapa tiga? Rule of thumb katanya bilangan ganjil mudah diingat. Jadi kalau tidak 1, 3, atau sekalian 5.

Kesalahan pertama: Kurang motivasi

Dari yang saya amati, motivasi minim karena tugas dikerjakan sebagai tugas agar lulus kuliah. Seperti halnya menulis karya ilmiah, maka disusun agar gugur kewajiban saja. Anda tidak akan pernah tahu ke mana tulisan itu akan membawa anda dikemudian hari. Kalau anda muslim, maka dirikan sholat bukan sekedar kerjakan sholat bukan.

Saat anda mengerjakan makalah apapun dan untuk kegiatan apapun, coba bayangkan karya anda itu akan dibaca oleh lebih banyak orang. Bukan oleh dosen anda, atau kawan-kawan anda di kelas. Kalau anda berpikir demikian, maka dijamin anda akan bekerja jauh lebih intens, termasuk di dalamnya memeriksa kesalahan ketik (typo), daftar pustaka, dll. Baca juga: Cek dan ricek.

Kesalahan ketiga: Judul tidak “nyambung”

Judul selalu yang anda pikirkan pertama kali. Mestinya topik dan idelah yang anda pikirkan. Judul akan muncul dengan sendirinya pada saat anda menulis ataupun di saat-saat terakhir anda akan mengakhiri tulisan anda. Bahkan ekstrimnya, judul masih bisa anda ubah sesaat sebelum anda mengirimkannya ke redaksi.

Bila anda melakukan cara ini, maka pada akhirya anda akan sering merasa bahwa makalah anda salah judul. Judul yang pertama kali anda tuliskan seringkali harus anda ubah. Memang begitulah seharusnya. Kecuali bila anda pemenang hadiah Pulitzer yang bisa menulis bahkan dalam keadaan tidur.

Bandingkan alur penulisan dengan judul. Apakah sesuai. Judul juga harus menggambarkan metode, analisis, dan kesimpulan sekaligus. Misalnya, bisa makalah anda hanya memuat satu grafik regresi, maka jangan menggunakan judul dengan kata-kata “Analisis Statistik”, karena jelas pembahasannya akan sangat kurang. Baca juga: Essential guide writing a good abstract.