Tag Archives: peer review

Prosiding dan jurnal mengapa harus dibedakan?

Terima kasih Mas Robbi Zhuge Rahim telah memulai diskusi tentang publikasi di prosiding dan jurnal.

Strom trooper Pixabay/Aitoff CC-0

Abstrak panjang vs makalah lengkap

Betul publikasi di jurnal dan prosiding memang beda. Kebanyakan orang menilai bahwa seleksi dan peer review untuk seminar yang berujung ke prosiding biasanya lebih “ringan” dibanding ke proses yang sama oleh pengelola jurnal.

Sebenarnya ada alasannya. Kebiasaan di LN, seminar adalah untuk menyebarluaskan hasil riset melalui tatap muka, baik via presentasi di ruangan (biasa kita sebut oral presentation, atau poster). Karena itu, yang diminta hanya selembar abstrak atau poster. Jadi tidak masalah andaikan Mas Robbi punya makalah di jurnal yang kemudian dipresentasikan ulang di suatu seminar. Nah di Indonesia memang ada kebiasaan yang agak berbeda. Publikasi di prosiding juga ditulis sebagai abstrak panjang, akibatnya dihitung sebagai publikasi terpisah. Karena berformat abstrak panjang (2500 kata rata-rata), maka bisa diindeks oleh Scopus.

Di sisi lain, makalah yang dikirimkan ke jurnal dipersyaratkan memiliki format makalah lengkap (full paper) dengan jumlah kata yang lebih panjang. Tujuannya untuk mendokumentasikan hasil riset atau buah pemikiran dari penulis.

Beberapa pertanyaan

Karena kebiasaan berbeda itulah, saya juga paham, kalau ada individu yang agak perlu penjelasan. Walaupun sebenarnya kalau ditanya pendapat saya. Tapi lupakan pengindeksan Scopus dulu.

Coba kita pikirkan sebuah seminar nasional “A” yang rutin diadakan sejak tahun 1980 an. Kita bandingkan dengan sebuah jurnal “B” yang juga terbit rutin sejak lama. Keduanya merupakan instrumen publikasi sebuah asosiasi profesi. Kita bayangkan juga bahwa tim inti editor dan peer reviewer keduanya adalah orang-orang yang hebat dibidangnya.

  1. apa yang menghalangi para panitia seminar untuk tidak bekerja seketat pengelola jurnal? apakah karena jumlah makalah yang dikirimkan ke seminar cukup banyak? Dan ini menyebabkan proses peer review perlu dilakukan lebih cepat?
  2. apa yang menghalanginya untuk tidak menerbitkan makalah sebagai spesial issu jurnal tersebut? Saya tahu beberapa jurnal telah bekerjasama dengan pengelola seminar untuk melakukan hal ini. Tapi jauh lebih banyak yang tidak.
  3. apakah satu-satunya alasan adalah sistem skor untuk PAK?

Kalau jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut kebanyakan adalah “tidak ada”, lantas apa yang menyebabkan keduanya dibedakan?

Jadi mestinya publikasi di seminar juga bisa saja dipersepsikan memiliki kualitas sama dengan paper yang diterbitkan jurnal, karena diseleksi dengan cara yang sama. Mohon pendapat dan dikoreksi bila ada salah.

Tentang peer-review: sebuah makalah di F1000Research

Setelah berinteraksi b eberapa waktu di medsos Twitter, kami ber 30 dari berbagai belahan dunia menulis makalah review literatur tentang peer review. Dikoordinir oleh Dr. Jon Tennant yang bekerja di ScienceOpen, makalah ini dimuat di jurnal inovatif dengan sistem open peer review F1000research.

Secara tidak sengaja belakangan saya baru tahu kalau jurnal ini terindeks karib kita Scopus dan masuk kategori Q1-Q2 (bergantung bidangnya). Untuk diketahui kategori QQ dapat berbeda kalau jurnalnya masuk ke dalam lebih dari satu kategori.

Sebuah kontribusi untuk Indonesia yang kebetulan.

Jurnal-jurnal openscience ini punya strategi masuk ke mainstream indexing agar pola peer-review terbuka, open data, kolaborasi jadi makin kuat.

Kawan-kawan saya yang 29 lainnya memang kebanyakan dari Eropa atau sedang belajar di Eropa. Mereka sendiri menyadari trend penilaian kinerja sains saat ini sangat tidak inklusif terutama bagi negara berkembang. Mereka juga sepakat untuk tidak mendukung sistem penilaian reputasi dari “barat”  ini.

Mereka juga sadar menulis dalam bahasa selain “bahasa ibu” akan sangat berat. Jadi mereka menyarankan agar akademia di negara berkembang berpartner dengan akademia barat yang berpikiran terbuka. Memang jarang, tapi kalau anda maksimumkan media sosial, maka akan ketemu satu dua orang baik yang akan membantu anda. Tapi kalau anda beruntung seperti saya, maka akan ketemu ekaligus dengan 29 orang.

So if you can’t fight them, join them.

Saatnya melakukan review terhadap peer review

Karena peer review adalah juga obyek untuk direview.

Beberapa tahun lalu, saya mengikuti ceramah umum dari Prof. Djoko T. Iskandar, yang salah satunya menceritakan makalah beliau yang ditulis oleh lebih dari 40 orang. Tahun ini saya mengalaminya juga :).

Continue reading Saatnya melakukan review terhadap peer review

Pengelolaan jurnal ilmiah: konvensional vs open access bagian 1

Bahwa mengelola jurnal ilmiah adalah sebuah bisnis.

Tulisan ini dilatarbelakangi masih banyaknya pertanyaan dari akademia tentang jurnal open access (OA). Sebenarnya apa jurnal OA itu dan bagaimana model bisnisnya, mengapa kita dianjurkan untuk OA, dst. Selain itu dengan terbitnya Permenristekdikti No. 20 Tahun 2017 tentang Pemberian Tunjangan Profesi Dosen dan Tunjangan Kehormatan Profesor terjadi gelombang “keresahan” yang mestinya sudah diantisipasi oleh Si Pembuat Kebijakan. Keresahan ini yang kemudian diharapkan bertransformasi menjadi energi positif untuk menghasilkan karya, yang tidak hanya sebatas kepada artikel di jurnal internasional.

Berikut sedikit yang bisa saya sampaikan. Tentunya pendek-pendek dan bersambung ya.

Continue reading Pengelolaan jurnal ilmiah: konvensional vs open access bagian 1