BAB 2 MENGAPA (PERLU) MENULIS

Bahwa menulis sama dengan membuat sejarah, itu yang akan kami tekankah. Bukankah zaman pra-sejarah adalah zaman tanpa tulisan? tidak muluk-muluk bukan. Di sini kami juga akan membuat anda agar tidak mudah ditekan oleh ucapan-ucapan yang menurunkan semangat, discouraging kata lainnya. Biasanya orang akan berkomentar, yang beginian saja kok ditulis. Nah anda nanti akan bisa membalas, lho kalau ini hal yang sepele, kenapa bukan anda yang menulis lebih dulu. Atau lebih keren lagi, maaf sudah berapa makalah yang sudah anda publikasikan?. Berikut ini adalah definisi dari “sejarah” (history) menurut Kamus Online Dictionary.com.a continuous, systematic narrative of past events as relating to a particular people, country, period, person, etc., usually written as a chronological account; chronicle:

Fig2.1 Define: History (dipinjam dari http://perchontheweb.com/)

Writing means making history: Menulis = membuat sejarah

Melihat definisi di atas tidak berlebihan kiranya bahwa menulis sama dengan membuat sejarah. Kalau dari sisi ilmiah, mungkin agak berat ya. Tapi menurut Peat et al. (2002) ilmuwan perlu menulis karena:

  • tidak etis kalau kita mengerjakan riset tapi tidak melaporkan hasilnya
  • hasilnya akan selalu berharga bagi yang belum tahu: mungkin bagi anda yang tiap hari mengambil data, menganalisis, membuat grafik dll, sudah sangat biasa, tapi pasti hasilnya akan sangat berharga buat orang lain, terutama yang tidak tahu dan ingin belajar.
  • hasilnya akan bermanfaat bagi orang lain dan masyarakat luas: Bukankah berbagi ilmu adalah hal yang mulia dan tidak putus pahalanya? Mungkin dari riset anda, akan ada orang lain yang akan meneruskan bahkan membuat solusi yang belum pernah terpikirkan oleh anda.
  • akan menambah daftar rekam jejak anda: CV anda akan tambah panjang. Bukan hanya itu, tulisan juga akan mendukung dua hal di bawah ini, kredibilitas dan reputasi. Timeline anda tidak hanya akan terisi “tempat/tanggal lahir” dan “riwayat sekolah sejak TK” saja.
  • tulisan merepresentasikan kredibilitas (kepakaran) anda
  • kredibilitas akan mendukung reputasi (keilmuan) anda
  • dapat mendukung karir (meneliti) anda: ya karir seorang ilmuwan ditentukan dari tulisan. Percaya atau tidak, ini juga berlaku bahkan saat anda bekerja di swasta.
  • dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas, bukan sekedar anggota tim: “outreach”. Jadi yang mengetahui anda melakukan riset bukan hanya rekan seangkatan, dosen pembimbing, tapi juga khalayak ramai. Saya sering menyampaikan kepada para mahasiswa (mungkin juga anda) bahwa skripsi/tesis/disertasi anda hanya akan tercatat di sistem akademik, bukunya hanya akan ada di Perpustakaan Prodi atau Perpustakaan Pusat, dan sekarang di Digital Library. Kalau seseorang tidak dengan sengaja masuk ke ruangan atau situs itu, maka ia tidak akan tahu bahwa anda telah melakukan riset.
  • menambah peluang anda untuk mendapatkan dana riset: kalau anda seorang ilmuwan (mahasiswa juga tergolong ilmuwan lho), maka anda akan selalu diminta mengisi kolom publikasi yang telah dihasilkan. Kalau anda pernah menulis, maka mudah sekali mengisinya. Bagaimana kalau tidak? Maka panitia seleksi akan sulit sekali mengukur kredibilitas dan reputasi anda. Dengan kata lain mereka akan berpikir, “bagaimana kami bisa yakin kalau riset ini akan dijalankan dengan baik”.

Truth or dare: Harus berani memulai

Writing vs editing: Menulis vs menyunting mana lebih susah

Menurut buku Peat et al. (2002) tahapan menulis adalah: pre-writing, drafting, revising, editing, dan publishing. Menurut saya yang sulit di bagian “pre-writing” dan “editing”. Yang paling membahagiakan adalah bagian “publishing”. Di saat anda menekan tombol “Publish” ada perasaan senang tiada tara.

Pre-writing (persiapan):

Di sini anda harus punya imajinasi tingkat tinggi. Pertanyaan yang paling sering muncul adalah, mau menulis apa dan harus mulai dari mana. Di sini saya bisa sarankan, bahwa jawabannya terserah anda. Di tahap ini anda boleh berpikir sistematis ataupun memilih untuk berpikir acak. Yang kedua biasanya yang saya pilih.

Lho mengapa? Bukankah akan lebih lama lagi untuk menstrukturkan ide.

Betul, tapi biasanya akan lebih lama lagi kalau anda sudah berpikir bab di tahap ini. Jadi “going random” adalah pilihan yang paling cocok, karena anda hanya perlu menetapkan kata kunci (keyword).

Mulai dari mana?

Jawabannya akan sama. Anda boleh mulai dari mana saja. Kalau anda mengikuti sekuel “Star Wars”, bukankah film ini dimulai dari bagian akhir. Bagian awal justru diciptakan lebih akhir. Sama halnya dengan memulai menulis. Anda boleh mulai dari kata kunci yang mana saja.

Jadi awalnya harus menentukan kata kunci?

Betul. Tidak boleh tidak. Tidak mungkin anda tidak punya. Yang betul adalah anda punya tapi tidak terlatih untuk menuliskannya. Karena itu, cara saya adalah ambil kertas dan mulai tuliskan kata kuncinya. Jangan banyak-banyak, satu atau dua kata saja. Misal bila kita akan menulis tentang “air”, maka kata kunci yang mungkin muncul:

  • asal
  • jenis
  • aliran
  • fungsi
  • manfaat
  • kebersihan
  • jumlah
  • warna
  • bau
  • dst anda bisa menulis belasan, puluhan, bahkan ratusan bukan

Fasenya mungkin akan terlihat seperti ini.

Berawal dari mind mapping acak seperti ini (dipinjam dari http://fartsmartwebdesign.com)

caption: Random mind mapping

Kemudian mulai distrukturkan menjadi seperti ini (dipinjam dari http://gallaudet.edu).

Kemudian diformat menjadi seperti ini.

caption: Structured mind mapping

atau seperti ini.

caption: Atau menggunakan bentuk seperti pohon (tree diagram)

Kemudian disusun outlinenya dan berakhir seperti ini

caption: Outline yang diturunkan dari mind mapping di atas

Kalau melihat transformasi di atas, menarik bukan, bagaimana otak kita yang sangat acak membuat sesuatu yang terstruktur. Ini memang tidak mudah tapi percayalah, pikiran yang sama juga ada di benak Andrea Hirata saat menulis. Untuk membuat mind mapping banyak sekali tools yang dapat anda pakai, berikut ini hanya sedikit diantaranya.

Aplikasi note-taker

Anda bisa pakai Evernote.

I call it the souvenir from the 21st century, and it’s free!!! I use it in my Googling journey, make article clips, page clips of what I found interesting. I often take snapshots of my notes and my sketches (from my notepad) and make a few bits of thoughts afterwards. Almost forget, I always share my “discoveries” to my students, using Evernote. I send out my article links to them so that they know what I’m thinking, and what references to use, or just light chit chat to ease their day.

Aplikasi ini bisa dibilang versi online dari aplikasi note-taking “OneNote” milik Microsoft atau “Growly Note” versi open sourcenya. Icon Evernote menonjol diantara icon app yang hits abad ini, bergambar gajah hijau. Mengapa gajah? Katanya ada pemeo “elephants never forget”.

Anda tinggal membuat akun kemudian “walla” anda seperti punya buku catatan online, yang ikut ke manapun anda pergi. Setelah membuat akun, akan lebih baik jika menginstalasi plug in atau add on nya di browser anda. Kalau anda pakai:

Dengan menginstalasi modul tambahan ini, maka anda tinggal melakukan klik tombol kanan untuk menyimpan web site menarik yang sedang anda kunjungi. Seperti ini (dengan Browser Safari).

caption: Tampilan instalasi Evernote Web Clipper for Safari

caption: Tampilan notes dan notebook Evernote. Notes yang terbuka akan terlihat seperti dalam window kanan. Window kiri adalah daftar notes. Beberapa notes dapat disimpan sebagai notebook.

Aplikasi mind mapper atau concept mapper

](www.evernote.com): elephants never forget

Drafting

Membuat draft pertama (first draft) sangatlah berat. Oleh karenanya mulailah dengan pikiran bersih (ya melakukan apapun harus dengan pikiran bersih mas). Maksud saya, jangan membebani pikiran anda dengan ekspektasi yang tinggi. Bukan hanya anda dan saya yang sulit membuat draft pertama. Buktinya coba anda cari hashtag “#ShittyFirstDraft”, ramai bukan. Itu karena banyak penulis, peneliti, mahasiswa yang senasib.

First draft is a first draft, it could going to the trash the next day, or it could be the next best seller novel.

Ada beberapa pendekatan, ini menurut saya ya, dari pengalaman beberapa tahun ini dikejar-kejar Pembimbing.

  • Cara pertama: start randomly. Coba lihat gambar mind mapping di atas. Anda bisa mulai membuat draft dengan membuat satu, dua, atau bahkan beberapa kalimat pendek mengikuti tiap kata kunci yang ada dalam mind map. Anda juga dapat menggunakan “Evernote” untuk membuat anotasi (catatan) di tiap web site yang anda clip. Berikut contoh anotasi dari situs blog saya

caption: Contoh anotasi website dengan Evernote

  • Cara kedua: tell a story from your concept map. Pendekatan ini lebih terstruktur. Tapi anda perlu “concept map” (lihat gambar di atas). Ceritakan per item kata kunci, atau gabungan dari beberapa item. Jangan kuatir dan bingung. Seperti yang sudah saya sampaikan, tulis saja dulu, urusan struktur tulisan, nanti.

Pada tahapan berikutnya ada: merevisi dan penyuntingan. Apa bedanya? Lihat gambar berikut.

caption: Ilustrasi perbedaan merevisi dan menyunting (revising and editing) (dipinjam dari http://teachersnotebook.com)

Revising

Saat anda merevisi, maka anda akan fokus kepada:

  • keterbacaan (readability): apakah artikel anda dapat dibaca dan dipahami dengan mudah oleh pembacanya, misal:
    • apakah kalimat dan/atau paragraf tidak terlalu panjang?
    • apakah pemilihan kosa kata dan penggunaan kalimat pasif-aktif sudah tepat dan mudah dipahami?
    • jarak spasi, ukuran dan jenis huruf (font size and font type)
  • logika (logic): apakah alur pikir sudah sesuai?
    • apakah argumentasi sudah mendukung kesimpulan atau rekomendasi anda?
    • apakah semua permasalahan telah terjawab atau ada yang belum dapat anda jawab?
    • apakah telah tergambar “benang merah” sejak latar belakang, metode, analisis, hingga kesimpulan?
  • kejelasan (clarity):
    • apakah masih ada kosa kata atau kalimat yang ambigue, atau tidak bermakna sesuai maksud anda?
    • apakah masih ada kata-kata jargon yang tidak jelas maknanya?
    • apakah kalimat dan/atau paragraf masih ada yang bertele-tele yang pada akhirnya mengakibatkan miskonsepsi?

Untuk menghindari butir-butir di atas, maka dikenal konsep “ARMS” dalam menyunting:

  • Add sentences and/or words: tambahkan beberapa kata dan atau paragraf,
  • Remove un-needed sentences and/or words: hilangkan beberapa kata dan atau paragraf,
  • Move a sentence or words placement: pindahkan kata dan atau paragraf sesuai alur,
  • Subtitute words or sentences for others: ganti kata atau paragraf.

Editing

Tahapan penyuntingan adalah selanjutnya. Dalam tahapan ini anda akan mencurahkan tenaga untuk melihat kesalahan skala detil, misalnya:

  • kesalahan ketik atau kesalahan ejaan (typos or spelling errors)
  • kesalahan pemenggalan:
    • kalimat atau paragraf,
    • grafik atau tabel
  • layout gambar dan teks (image-text wrapping)
  • kesalahan definisi (word mix-up)

Dalam menyunting disarankan untuk melakukan beberapa hal ini (konsep “CUPS”):

  • Capitalization of sentences, names, places, months, titles: periksa penggunaan huruf besar (kapital) untuk kalimat, nama, tempat, hari, dll,
  • Usage of words to match nouns and verbs correctly: periksa penggunaan kata agar sesuai dengan fungsinya sebagai kata benda atau kata kerja,
  • Punctuation: periksa pemenggalan kata, kalimat, paragraf, penggunaan tanda “.”, “?”, “!”, “”.
  • Spelling: periksa ejaan, gunakan fasilitas “find and replace” untuk melakukan kegiatan ini.

Selain tulisan, penyuntingan juga melibatkan elemen grafik dan tabel. Banyak sekali panduan tentang bagaimana membuat grafik dan tabel yang baik, tapi ringkasannya akan sebagai berikut.

Untuk grafik, perlu diperiksa kesalahan yang umum terjadi berikut ini:

  • sumbu tidak diberi nama
  • background yang mengganggu atau bahkan menyulitkan untuk membaca grafik
  • pemilihan warna antara komponen dalam grafik yang tidak tepat atau mirip, sehingga susah dibedakan, khususnya bila kita ingin membandingkan dua atau lebih hal yang berbeda dalam satu grafik.
  • tidak mencantumkan satuan, misal: kg, m3, hektar.
  • ingin terlihat canggih tapi malah menyulitkan, misal:
    • menggunakan grafik 3D yang tidak tepat: pemilihan sudut pandang yang menyulitkan, kebanyakan lebih mudah dibaca dengan grafi 2D konvensional,
    • penggunaan tipe grafik yang tidak tepat:
      • menggunakan pie chart untuk menunjukkan data yang tidak melibatkan komponen porsi atau persentase
      • menggunakan bar chart untuk menunjukkan persentase
      • menggunakan bar chart untuk menunjukkan time series

Publishing

Ini tahapan yang paling mendebarkan sekaligus membahagiakan. Setidaknya akan timbul perasaaan puas bahwa anda telah berbagi sesuatu yang bermanfaat. Tapi kata-kata mempublikasikan (publishing) dapat berarti:

  • menerbitkan buku atau karya ilmiah: dengan kata lain, karya anda telah mengalami proses revisi dan penyuntingan berulang kali dari banyak pihak. Kalau ini yang anda maksud, maka tahapannya panjang:
    • sejak menulis materi (pastilah),
    • merevisi dan menyunting sendiri, mungkin juga telah pernah anda kirimkan untuk ditelaah pakar pilihan anda sendiri,
    • mengirimkan proposal buku ke penerbit,
    • menerima revisi dan penyuntingan dari penyunting yang disediakan penerbit,
    • proses proofread, baik oleh redaksi maupun oleh anda sendiri (sekali lagi, padahal pasti sudah sangat bosan), diakhiri dengan pernyataan bebas kesalahan dari anda,
    • tanda tangan kontrak penerbitan buku (ini yang paling menyenangkan, pegel linu badan seketika menguap).
  • menekan tombol “Publish” dalam blog anda: dengan proses revisi dan penyuntingan seluruhnya ada di tangan anda, atau setidaknya satu orang lain yang anda beri tugas.

caption: sebuah kartun tentang proses penerbitan atau publishing (dipinjam dari: https://papersailboatdesign.wordpress.com)

every point on earth holds a piece of originality | CC-BY


Warning: Illegal string offset 'update_browscap' in /home/dasaptae/public_html/wp/wp-content/plugins/wp-statistics/includes/classes/statistics.class.php on line 144