Pentingnya Konten Akses Terbuka Menuju Pendidikan yang Berkualitas

Author:

Dari open access menuju open educational resources di acara Konferensi Open Indonesia 2026.

Pagi ini di ruang pertemuan di Gedung Widya Graha BRIN dipenuhi peserta Konferensi Open Indonesia 2026 yang datang dengan antusiasme khas gerakan keterbukaan. Namun di tengah semangat memperluas akses materi pendidikan, satu pertanyaan mengemuka sebagai benang merah diskusi. Keterbukaan seperti apa yang benar-benar menghadirkan dampak, bukan sekadar membuat berkas yang hanya indah dilihat dan mudah diunduh.

Dalam forum ini, pembahasan konten terbuka dilihat dari beberapa sisi. Saya mendapat tugas memaparkan bagaimana konten terbuka dapat menghadirkan dan meningkatkan pendidikan yang berkualitas. Dalam hal ini saya akan menggunakan tagar Open Educational Resources atau OER.

OER bukan hanya kumpulan slide

Menurut saya OER tidak hanya berbentuk sebagai kumpulan slide, modul, dan handout gratis. OER digambarkan sebagai sebuah ekosistem yang perlu ditata agar berkelanjutan. Di balik satu berkas materi ajar, terdapat rantai yang panjang dan saling bergantung, mulai dari pembuat materi, institusi yang menaungi, repositori penyimpanan, standar metadata, mekanisme kurasi, hingga komunitas pengguna.

Ekosistem ini dinilai bekerja ketika kebutuhan pendidikan nyata bertemu dengan ketersediaan sumber belajar yang mudah diakses, dan ketika ada kepastian legal yang memungkinkan materi dipakai ulang serta dikembangkan. Tanpa kepastian legal, akses hanya mendorong konsumsi pasif.

Di titik inilah lisensi diposisikan sebagai pengungkit. Materi yang benar-benar terbuka bukan hanya yang dapat dilihat, tetapi yang secara sah dapat digunakan ulang dan dikembangkan. Kerangka yang kerap dipakai untuk menjelaskan derajat keterbukaan OER adalah lima R, yaitu reuse, retain, revise, remix, dan redistribute.

Reuse merujuk pada penggunaan materi apa adanya dalam kelas, sistem pembelajaran daring, atau publikasi ulang di kanal institusi.

Retain menekankan hak untuk menyimpan salinan dan memastikan akses jangka panjang tanpa bergantung pada tautan yang bisa hilang.

Revise memberi ruang adaptasi, penerjemahan, pemutakhiran, dan penyuntingan agar sesuai konteks lokal.

Remix memungkinkan penggabungan dengan materi lain untuk membentuk sumber belajar baru.

Redistribute berarti versi asli maupun versi yang telah direvisi dan di-remix dapat dibagikan kembali. Lima R ini mengubah logika dari sekadar mengakses menjadi kolaborasi dan pemakaian ulang yang memperkuat pembelajaran.

Keterbukaan, menurut pembahasan yang berkembang, juga menuntut tanggung jawab. Tidak semua materi patut dibuka. Contoh yang sering disebut meliputi informasi personal yang dapat mengidentifikasi mahasiswa atau peserta, materi milik institusi atau pihak ketiga yang terikat perjanjian kerahasiaan, dokumen internal yang terkait keamanan dan tata kelola, serta materi berhak cipta pihak ketiga seperti gambar, tabel, dan kutipan panjang dari buku atau jurnal berbayar.

Prinsip praktis yang ditekankan adalah membedakan konten yang dimiliki haknya dan konten yang dipinjam. Konten pinjaman harus memiliki izin yang jelas atau diganti dengan sumber yang kompatibel secara lisensi. Dalam konteks Indonesia, perhatian pada rujukan regulasi juga menjadi bagian dari praktik yang bertanggung jawab.

As open as possible, as closed as necessary.

Pentingnya lisensi

Setelah batas-batas tersebut dipetakan, diskusi kembali pada fondasi yang membuat OER dapat bekerja secara legal. Lisensi dipahami sebagai instrumen yang memberi kepastian agar pemanfaatan lima R dapat terjadi tanpa keraguan. Tanpa lisensi yang jelas, banyak pihak cenderung memilih aman, tidak menyalin, tidak mengadaptasi, dan tidak membagikan. Akibatnya, materi berhenti sebagai bacaan semata, padahal nilai terbesar OER justru terletak pada pengembangan bersama dan adaptasi lokal.

Salah satu miskonsepsi yang sering muncul adalah menyamakan open access dengan open license. Open access berarti konten gratis untuk dilihat atau diunduh sehingga hambatan finansial berkurang, tetapi hak pemakaian ulang belum tentu ada. Open license berarti ada hak legal untuk memakai ulang, termasuk implementasi lima R, dengan syarat tertentu. Karena itu, sebuah materi dapat saja dapat diunduh bebas tetapi tetap tidak boleh diubah atau disebarkan kembali. Pesan yang berulang dalam diskusi adalah pentingnya membiasakan diri membaca ketentuan lisensi.

Creative Commons

Dalam praktik OER, Creative Commons kerap menjadi rujukan karena menyediakan spektrum lisensi yang lengkap. Di satu sisi ada lisensi yang sangat terbuka seperti CC0 yang melepas hak sejauh dimungkinkan. Di sisi lain terdapat lisensi yang lebih ketat, misalnya yang membatasi penggunaan komersial atau melarang pembuatan turunan. Penekanannya bukan pada memilih lisensi yang paling terbuka untuk semua situasi, melainkan memilih lisensi yang selaras dengan tujuan pembelajaran dan strategi diseminasi. Untuk tujuan adopsi luas dan adaptasi lokal, lisensi yang mengizinkan pembuatan turunan dinilai lebih fungsional.

Pertanyaan yang kerap muncul berikutnya adalah bagaimana bersikap ketika materi yang ingin digunakan berasal dari penerbit komersial atau materi berhak cipta yang tidak kompatibel dengan lisensi terbuka. Dalam banyak kasus, menyebut sumber saja tidak cukup, dan dibutuhkan izin eksplisit. Proses perizinan ditempatkan sebagai bagian dari kepatuhan akademik dan integritas, bukan formalitas administratif. Alternatif yang sering dianggap paling efektif adalah mengganti gambar dan materi dengan versi berlisensi terbuka, membuat ulang visualisasi dari data yang boleh digunakan, serta mengandalkan repositori yang menampilkan informasi lisensi secara jelas.

Pengukuran kinerja perguruan tinggi

Agar isu lisensi tidak berhenti sebagai teknis, OER juga dibingkai sebagai bagian dari kinerja perguruan tinggi. OER dipandang dapat menekan biaya pengembangan materi, mempercepat penyebaran materi ajar lintas kelas dan lintas program studi, dan memungkinkan pemutakhiran cepat agar relevan dengan kebutuhan pengguna. OER dinilai membuka ruang pembelajaran mandiri, memperkuat kolaborasi dengan mitra melalui pembangunan modul bersama, serta menyediakan wadah kontribusi nyata yang dapat digunakan lintas institusi. Walaupun OER bukan publikasi ilmiah, keberadaan OER dapat memperkuat ekosistem open scholarship dan visibilitas keilmuan yang pada akhirnya menopang produktivitas dan dampak.

Menjelang penutupan, simpulan yang ditarik terdengar sederhana namun tegas. OER bukan hanya soal akses. OER adalah strategi ekosistem. Lima R menjadi penanda keterbukaan yang bermakna, dan semuanya membutuhkan lisensi yang jelas. Pada saat yang sama, keterbukaan perlu disertai tanggung jawab, terutama ketika berhadapan dengan materi sensitif dan materi dari/milik pihak ketiga.