Satu aksi aktif lebih baik dari setumpuk imaginasi

Dosen sering sering dikelilingi oleh banyak rencana, saya pun sama saja. Topik riset yang ingin dikembangkan, proposal yang ingin diajukan, kolaborasi yang ingin dibangun, dan ide publikasi yang terus bertambah. Tapi saya pun sering tersadar sendiri bahwa kemajuan tidak lahir dari panjangnya daftar rencana, melainkan dari tindakan nyata yang dilakukan hari ini. Tulisan ini tentang itu.

Setiap penelitian dimulai dari langkah kecil: membaca referensi pertama, mengumpulkan data awal, menulis paragraf pertama, atau mengirimkan naskah yang sudah lama tertunda. Dalam dunia akademik, satu langkah konkret sering kali lebih berharga daripada seribu rencana yang belum dijalankan. Mahasiswa, saya pun sering merasa masih harus “baca-baca” Ketika ditanya sudah sampai mana tugas akhirnya. Tapi sejujurnya sebenarnya tidak ada yang tersisa dari apa yang dibaca.

Saat berencana menulis, saya pun sama. Selalu merasa belum cukup paham dan selalu ingin “baca-baca dulu”. Dan siklusnya berulang lagi, buka-buka, baca-baca, highlight sana sini, lalu berakhir dengan tidak ada yang tersisa untuk ditulis.

Itu karena kita jarang mewujudkan apa yang sudah di angan-angan menjadi kenyataan. Semua hanya berakhir menjadi setumpuk rencana. Padahal kalua dimulai dengan satu kalimat pertama, maka sangat mungkin akan berkembang menjadi satu paragraph. Dimulai dari apa yang saya, Anda, kita baca.

Kalau mulai menulis atau mengetik masih sering dianggap sulit, ya menggambar. Berikan waktu dan tempat untuk tangan menarik garis, menulis, mencorat-coret, sejalan kita membaca, atau ketika akan menulis. Coretan itu bisa jadi titik awal untuk menulis satu halaman.

Seperti halnya tulisan ini, yang berawal dari sketsa diagram, yang lalu dikembangkan menjadi kartun yang lebih ilustratif.

Namun perlu disadari kalau aksi/tindakan selalu memerlukan energi, dan energi tidak selalu berada pada tingkat yang sama. Karena itu, yang terpenting bukan hanya memulai, tetapi menjaga keberlanjutan aksi tersebut. Energi perlu dirawat melalui keseimbangan antara berpikir, bekerja, berpikir ketika bekerja, dan beristirahat, menjaga kesehatan, membina hubungan yang saling menguatkan di manapun, serta terus mengingat makna dari pekerjaan yang dilakukan. Makna ini yang juga masih saya pelajari. Jadi dosen bukan hanya karena punya NIP di sebuah kampus, lalu tertayang di layer Pangkalan Data Dikti (PDDIKTI).

Kita memang tidak perlu menunggu rencana yang sempurna sebelum menjalankan aksi, tetapi juga tidak perlu memaksakan diri hingga kehabisan tenaga. Cukup melangkah sedikit demi sedikit, secara konsisten. Ini mudah sekali diucapkan, tapi sulit dilaksanakan.


Thanks for reading Buletin Akademia Terbalik! This post is public so feel free to share it.