Kepala panas… Maka menggambarlah… Bagi yang sensitif, pasti paham kalau tulisan ini bukan tentang kopi…
Siang ini saya menggambar beberapa cara menyeduh kopi. Untuk diketahui saya minum kopi di rumah, sampai saat ini, dengan cara yang paling tua. Yaitu memanaskan air lalu menyiramkannya ke 2 sendok teh kopi di dalam mug. Saya sudah sering ditawari akan dibelikan mesin pembuat kopi oleh istri saya. Tapi saya selalu menolak. Karena saya terlalu malas untuk belajar lagi mengoperasikan mesin. Belum lagi suaranya yang berisik (menurut saya).
Jadi saya tetap dengan cara lama saya dalam menyeduh kopi. Setiap pagi.

Menurut sebuah iklan, konon ada mesin espresso yang seharga sepeda motor impor. Ada V60 yang membutuhkan ketel leher angsa dan timbangan dengan ketelitian 0,1 gram—tidak menerima bentuk “leher hewan yang lain”. Ada moka pot yang tidak boleh gosong. Ada pula mesin kopi rumahan yang lebih sering menganggur karena rusak daripada menghasilkan secangkir kopi.
Alatnya berbeda. Ritualnya berbeda. Namun hasil akhirnya sama. Kita minum kopi.

Konon, pada abad kesembilan, seorang penggembala di Afrika memperhatikan kambing-kambingnya menjadi lebih aktif setelah mengunyah biji kopi. Dari pengalaman sederhana itu, perjalanan kopi berkembang menjadi rangkaian alat, teknik, istilah, dan ritual yang sangat rumit.
Kita rela mengantre, belajar, membeli alat, dan bangun sepuluh menit lebih awal demi satu teguk yang katanya lebih nikmat. Bahkan para peminum kopi premium di Starbucks sebenarnya menikmati minuman yang sama dengan para peminum kopi di kedai biasa. Yang membedakan bukan hanya biji atau alat, melainkan kerumitan tambahan yang mengelilinginya.

Kita menyebutnya kenikmatan. Padahal, sering kali yang kita nikmati adalah ritual, identitas, dan sensasi sesaat. Senang saat membeli alat baru. Senang ketika berhasil membuat latte art. Senang saat memotret lalu mengunggahnya. Lima belas menit kemudian, cangkir kosong. Besoknya kita mencari cara baru yang dianggap lebih nikmat.
Kalau mau jujur, esensinya tetap sederhana. Kopi itu pahit, hangat, dan membuat kita terjaga. Diseduh dengan mesin mahal atau alat sederhana, tujuan dasarnya tidak banyak berubah.
Masalah muncul ketika kerumitan berubah menjadi tujuan. Kita tidak lagi menikmati kopi, tetapi panik memikirkan kopinya. Kita tidak lagi menggunakan alat, tetapi sibuk memelihara citra yang melekat pada alat itu.
Kebiasaan yang sama mudah menjalar ke pekerjaan. Kita menambah rapat, dasbor, aplikasi, prosedur, dan laporan. Padahal esensinya adalah menyelesaikan masalah. Dalam kehidupan, kita menambah target, validasi, dan pencapaian sebagai bentuk kenikmatan. Padahal yang sebenarnya kita cari mungkin hanya ketenangan bekerja, ketenangan hidup.
Karena itu, pertanyaan pentingnya bukan alat mana yang paling baik atau cara menyeduh mana yang paling benar. Pertanyaannya adalah, sebenarnya saya membutuhkan apa?
Kalau hanya butuh terjaga, kopi sachet mungkin cukup. Kalau yang dibutuhkan adalah ketenangan, duduk lima menit tanpa telepon genggam mungkin lebih berguna daripada menambah satu target baru.
Hari ini saya memilih V60. Bukan karena paling enak, tetapi karena saya membutuhkan empat menit untuk menuang air perlahan dan menenangkan pikiran. Besok mungkin saya memilih drip bag karena sedang terburu-buru.
Hanya beda alat. Hanya beda ritual. Hasilnya tetap sama.
Minum kopi.
Dan itu sudah cukup.