Data lama bukan penghalang selama berkualitas dan diolah dengan cara yang tepat

Data lama bukan penghalang selama berkualitas dan diolah dengan cara yang tepat

Oleh: Dasapta Erwin Irawan (berdasarkan komunikasi via WA dengan Prof. Sri Widiyantoro)

Ibu dan Bapak Dosen FITB yang saya hormati,

Kemarin pagi, saya menerima unggahan sebuah makalah. Makalah tersebut ditulis oleh mahasiswa S2 Prodi Teknik Geofisika bersama Prof. Sri Widiyantoro dan beberapa kolega dari luar negeri. Walaupun makalah tersebut bukan bidang saya, tetapi saya tertarik dengan paragraf pertama dalam sub bab Data sebagai berikut.

  • “Ambient noise tomography (ANT) of the MMT volcanic chain was conducted using data from the DOMERAPI project (Metaxian et al., 2018), recorded between September 2013 and April 2015 with station duration of 5–18 months. “

Apakah artinya paper tsb menganalisis data sekunder yang dirilis lebih dari 10 tahun lalu?

Saya tanyakan langsung ke Prof. Ilik, yang langsung dijawab dan seizin beliau juga jawabannya saya tulis ulang menjadi artikel ini.


Begini penjelasan beliau yang dapat saya tangkap.

Melalui makalah terbaru dari tim Bapak Sri Widiyantoro (biasa dipanggil Pak Ilik), kita belajar bahwa usia data bukanlah persoalan utama dalam publikasi ilmiah. Tim beliau baru saja menerbitkan artikel menggunakan data DOMERAPI yang direkam pada periode 2013–2015. Artinya, mereka menulis artikel pada tahun 2026 dengan data mentah yang usianya sudah lebih dari sepuluh tahun.

Lebih dari itu, dari himpunan data yang sama, tim tersebut telah menghasilkan enam artikel ilmiah. Saat ini Pak Ilik dan tim sedang menyiapkan tiga artikel lagi, dan satu manuskrip baru sudah dikirimkan ke JGR. Semua itu berasal dari data yang “sama”, tetapi diolah dengan metode yang berbeda-beda.

Menurut beliau data DOMERAPI itu telah tersedia daring secara lengkap (ber-DOI), sehingga siapapun dapat memanfaatkannya. Salah satunya adalah mengolahnya dan menerbitkannya menjadi makalah ilmiah.

Pesan yang muncul cukup jelas.

Pertama, data yang baik tidak serta-merta kedaluwarsa hanya karena usianya. Dalam banyak kasus, justru metode, sudut pandang, dan pertanyaan penelitian yang tertinggal dalam memanfaatkan potensi data.

Kedua, nilai utama terletak pada kreativitas dan ketekunan kita dalam merumuskan pertanyaan baru, mencoba pendekatan baru, dan berani mengkaji ulang sesuatu yang tampak sudah tuntas.

Ketiga, data mentah seismografi dari DOMERAPI, MERAMEX, dan beberapa proyek lain kini telah diunggah di IRIS Global Seismograph Network dan dapat diunduh secara bebas oleh peneliti di seluruh dunia. Dalam konteks ini, keterbatasan akses data bukan lagi alasan utama. Tantangan kita bergeser dari “tidak punya data” menjadi “apa yang dapat kita lakukan dengan data yang sudah tersedia”.

Saya membagikan kisah singkat ini untuk menguatkan semangat kita semua (termasuk saya) di FITB. Jika selama ini ada yang merasa terhambat karena menganggap hanya memiliki “data lama”, mungkin sudah saatnya kita mengubah cara pandang. Bukan datanya yang terlalu tua, melainkan pertanyaan dan metodenya yang perlu kita segarkan. Dari sana, jalan menuju publikasi berikutnya akan lebih terbuka.


Posted

in

by