Sea of Academia: Kartun yang menceritakan subjek yang ternyata menjadi objek

Sea of Academia: Kartun yang menceritakan subjek yang ternyata menjadi objek

Kartun “Sea of Academia” menyajikan sebuah gambaran yang patut direnungkan oleh komunitas akademik. Para penerbit besar berdiri haluan kapal masing-masing — Frontiers, MDPI, Wiley, Taylor and Francis, Springer, dan Elsevier — masing-masing menurunkan jangkar ke laut yang sama. Di tengah laut itu, dosen atau peneliti mendayung perahu kecil, sementara berbagai hewan buas juga mengintai di bawah laut. Pesannya tegas: situasi ini menuntut sensible rules of conduct atau regulasi yang masuk akal.

Kartun ini menuntut kerendahan hati dan kejujuran intelektual dari akademia. Selama proses riset berlangsung, peneliti adalah subjek sepenuhnya: menentukan pertanyaan, metode, dan kesimpulan. Namun begitu naskah memasuki gerbang publikasi, posisi itu berbalik. Peneliti menjadi objek — sumber konten tanpa bayaran, penilai sejawat tanpa honor, dan pada akhirnya konsumen yang membeli kembali hasil kerjanya sendiri. Mengakui kenyataan ini bukanlah kekalahan, melainkan titik awal untuk bersikap lebih bijak.

Kartun menggambarkan orang-orang bersulang di haluan kapal. Mereka adalah subjek yang sebenarnya. Sebagai entitas bisnis, motivasi mereka tunggal: meningkatkan laba. Bahwa satu penerbit tampak lebih agresif dibandingkan yang lain lebih mencerminkan perbedaan strategi pemasaran, bukan perbedaan niat. Penerbit yang tampak santun pun menjalankan agresivitasnya sendiri — melalui langganan bundel, kendali atas metrik sitasi, atau akuisisi infrastruktur penilaian akademik — yang mungkin tidak kita ketahui. Karena itu, menilai penerbit berdasarkan label semata adalah sikap yang tidak cukup jujur.

Kesadaran ini membawa konsekuensi bagi berbagai peran dalam perguruan tinggi. Lima tindak lanjut berikut merupakan sikap yang paling masuk akal.

  1. Sebagai dosen/peneliti, meniti karier dengan memanfaatkan sistem publikasi secara sadar, tanpa menginternalisasi logikanya. Metrik, kuartil, dan indeksasi adalah alat bantu, bukan tujuan. Energi dan integritas tetap diarahkan pada mutu riset, bukan pada motif komersial penerbit. Namun demikian mereka juga perlu sadar bahwa karier mereka bergantung kepada para penerbit bergengsi ini, jadi menggunakan jalur penerbitan komersial adalah jalan yang tidak bisa ditolak. Tapi lakukan secara terbatas, jangan jor-joran. Sekiranya sudah cukup untuk memenuhi syarat minimum promosi, maka berhentilah.
  2. Sebagai pimpinan perguruan tinggi, menyusun insentif dan penghargaan kinerja yang tidak menjadikan nama penerbit atau indeksasi sebagai satu-satunya tolok ukur keberhasilan. Kebijakan yang baik mendorong publikasi bermutu tanpa memaksa warga kampus menjadi sumber laba penerbit secara membabi buta. Tidak ada salahnya juga pimpinan perguruan tinggi menyatakan bahwa mereka menyadari situasi yang tidak adil ini. Ini penting agar warga memahami bahwa pimpinannya peka terhadap situasi riil.
  3. Sebagai panitia penilai promosi jabatan akademik, menilai karya ilmiah berdasarkan kualitas dan integritasnya, bukan label penerbitnya. Penilaian sebaiknya tidak naif dalam dua arah sekaligus: tidak menganggap seluruh penerbit bebas konflik kepentingan, dan tidak menganggap hanya satu penerbit tertentu yang keluar dari integritas akademik, padahal penerbit lain melakukan hal serupa pada level yang berbeda. Jadi larangan-larangan yang tidak perlu bisa dihapuskan saja.
  4. Sebagai senat akademik, menghela integritas akademik dengan merumuskan sensible rules of conduct: pedoman perilaku publikasi yang melindungi dosen dari praktik ekstraktif para penerbit ini, mengatur kehati-hatian terhadap konflik kepentingan, dan menegaskan bahwa integritas dinilai dari karya, bukan dari merek penerbit.
  5. Secara kelembagaan, membangun literasi kritis di kalangan warga kampus tentang model bisnis penerbitan ilmiah, sekaligus menguatkan kanal publikasi mandiri dan akses terbuka yang tidak menjadikan peneliti sebagai objek semata. Dengan pemahaman ini, akademia dapat tetap meniti karier tanpa tenggelam dalam motif-motif profit-taking yang dihembuskan penerbit komersial.