All posts by DasaptaErwin

HOW TO MAKE YOUR RESEARCH OA FOR FREE AND LEGALLY

Dua bulan lalu, rekan saya Jon Tennant dan Lisa Matthias dalam blog Fossilsandshit telah membuat infografik yang menggambarkan alur pikir tentang bagaimana membuat riset (hasil riset) anda open access secara gratis dan legal. Kemudian infografik yang sama diunggah ke Figshare untuk mendapatkan DOI 10.6084/m9.figshare.5285512.v2.

Continue reading HOW TO MAKE YOUR RESEARCH OA FOR FREE AND LEGALLY

Terindeks Scopus bagus, tapi …

Pendahuluan

Beberapa waktu lalu saya dan Sdr Achmad Zulfikar menginisiasi tabel database berisi International Conference (IC) yang terindeks Scopus, WoS atau Thomson Reuters. Semua even dilaksanakan di Indonesia. Tabel tersebut dapat diakses dan disunting oleh siapapun. Artinya semua orang dapat menambahkan IC yang belum masuk dalam daftar.

Saat ini telah ada sebanyak 60 IC terindeks S/W/TR Periode Mar-Dec.

Continue reading Terindeks Scopus bagus, tapi …

Review dokumen Pedoman Publikasi Ilmiah (Kemristekdikti, 2017)

Blog post ini awalnya adalah review terhadap Review dokumen Pedoman Publikasi Ilmiah (Kemristekdikti, 2017) yang kemudian akan kami kembangkan sebagai makalah berjenis literature review.

Dokumen ini disusun secara bersama dengan koordinator Dasapta Erwin Irawan (ITB). Review singkat ini blm dilengkapi  konteks lengkap.

Kontributor: …., …., …. (silahkan tambahkan nama anda dan afiliasinya)

Silahkan baca versi lengkapnya di tautan Authorea berikut https://www.authorea.com/189560/wtaxIsuraB7KuyE0FKzbDA. Kirimkan kontribusi anda melalui surel ke

dasaptaerwin (@) gmail (.) com.

Terimakasih.

Umum

Panduan tapi isinya dr awal sampai akhir menggunakan Elsevier. Namun demikian saya melihat ada maksud baik utk meluaskan wawasan dgn disebutnya beberapa lembaga, misal ORCID dalam dokumen ini.

Khusus

Hal 24: Kalau ada atau tidaknya DOI (digital object identifier) menjadi kriteria kejelasan sumber, maka akan muncul masalah karena akan adanya banyak makalah yang secara substansi bagus, tersedia daring, tapi belum punya DOI. Konteks: DOI saat ini penting karena menyediakan persisten link atau tautan tetap terhadap segala obyek digital, tidak hanya makalah ilmiah. Datapun yang diunggah secara daring di repositori yang bekerjasama dengan Crossref, akan dapat menerbitkan DOI.

Tentang peer-review: sebuah makalah di F1000Research

Setelah berinteraksi b eberapa waktu di medsos Twitter, kami ber 30 dari berbagai belahan dunia menulis makalah review literatur tentang peer review. Dikoordinir oleh Dr. Jon Tennant yang bekerja di ScienceOpen, makalah ini dimuat di jurnal inovatif dengan sistem open peer review F1000research.

Secara tidak sengaja belakangan saya baru tahu kalau jurnal ini terindeks karib kita Scopus dan masuk kategori Q1-Q2 (bergantung bidangnya). Untuk diketahui kategori QQ dapat berbeda kalau jurnalnya masuk ke dalam lebih dari satu kategori.

Sebuah kontribusi untuk Indonesia yang kebetulan.

Jurnal-jurnal openscience ini punya strategi masuk ke mainstream indexing agar pola peer-review terbuka, open data, kolaborasi jadi makin kuat.

Kawan-kawan saya yang 29 lainnya memang kebanyakan dari Eropa atau sedang belajar di Eropa. Mereka sendiri menyadari trend penilaian kinerja sains saat ini sangat tidak inklusif terutama bagi negara berkembang. Mereka juga sepakat untuk tidak mendukung sistem penilaian reputasi dari “barat”  ini.

Mereka juga sadar menulis dalam bahasa selain “bahasa ibu” akan sangat berat. Jadi mereka menyarankan agar akademia di negara berkembang berpartner dengan akademia barat yang berpikiran terbuka. Memang jarang, tapi kalau anda maksimumkan media sosial, maka akan ketemu satu dua orang baik yang akan membantu anda. Tapi kalau anda beruntung seperti saya, maka akan ketemu ekaligus dengan 29 orang.

So if you can’t fight them, join them.

Do we (Indonesian) need a new set of perspectives to measure research/academic impact?

An abstract in progress. It’s our quick views as Indonesian academia. We don’t know where it will be sent nor when will the new metrics be introduced, but we know it’s the future.

Add your contribution here: https://goo.gl/cSgTSL.

Continue reading Do we (Indonesian) need a new set of perspectives to measure research/academic impact?

OpenScience Journal: A proposal

Proposal OpenScience Journal

Oleh
Dasapta Erwin Irawan1, Surya Alam2, Hendy Irawan1, M.T. Tanzil3, Juneman Abraham4, …, … (kami mengundang editor dari berbagai bidang ilmu)

kirimkan DM atau surel ke d()erwin()irawan(@)yahoo(.)com bila anda berminat ( hilangkan semua tanda “()” )

1 Institut Teknologi Bandung
2 afiliasi
3 Umsida
4 Binus
5 afiliasi

Magazine stack

Continue reading OpenScience Journal: A proposal

Jurnal Scopus apa yang cepat terbitnya?

Kalau anda baca judul blog post ini, mungkin agak bingung. Walaupun itu bahkan bukan merupakan sebuah kalimat, tapi adalah cara tercepat untuk menyampaikan pertanyaan berikut:

Jurnal internasional terindeks Scopus apa yang cepat dalam mereview dan menerbitkan makalah yang kita kirimkan

Kalau anda mendengar pertanyaan itu dari mahasiswa, bahkan mungkin kolega dosen, kira-kira apa jawaban anda?

Blog post saya ini sebenarnya merupakan berkas Google Docs yang saya bagikan sebelumnya (tadi subuh, sudah dilihat oleh 200 an orang), tapi sekarang sudah jauh lebih lengkap. Isinya merupakan simulasi saya saat membandingkan beberapa jurnal terindeks Scopus, dan memilih jurnal mana yang kira-kira akan menerbitkan makalah lebih cepat dibandingkan jurnal yang lain.

Jadi Scopus sebenarnya selain digunakan untuk mencari informasi, mencari makalah, serta untuk unjuk karya dengan H indeks dan jumlah sitasi (ini diperlukan saat membuat proposal untuk dikirim ke Similitabmas Dikti), juga dapat digunakan untuk mengevaluasi jurnal. Hasilnya adalah jurnal yang tepat dan memiliki peluang untuk menerbitkan makalah anda relatif lebih cepat.

Yang menarik adalah, pencarian orang Indonesia (dan India) mengenai “scopus index” terekam dengan baik di Google Trend. Kedua negara ini terekam sebagai negara dengan pencarian tertinggi menggunakan kata kunci “scopus index”. Menarik bukan.

Grafik pencariannya secara time series dapat dilihat pada gambar ini.

 

 

Simulasi saya ini mungkin akan ada yang menyalahkan, tapi setidaknya usaha sedikit lebih keras dari beberapa orang. 🙂

Silahkan dibaca ya. Mohon masukannya. Kalau ada yang tidak disetujui, bisa menuliskan pendapatnya ke kolom komentar di bawah, atau lebih bagus lagi, membuat blog post baru.

Kami tidak perlu Scopus 3

Diskusi terus berkembang setiap hari tentang ini.

Kalau memang tujuan dari mendaftarkan seminar/konferensi adalah agar makalah lebih mudah dicari, maka apakah tidak ada layanan lain yang lebih ekonomis? Dan bila memang itu tujuannya, mengapa tulisan “indexed by Scopus” lebih sering dipertanyakan dibandingkan substansi seminarnya?

Continue reading Kami tidak perlu Scopus 3