Relationship map

Pernahkah anda mencoba memvisualisasikan keterkaitan antar paper berdasarkan kata kunci yang digunakan, dalam bentuk peta konsep. Analisis seperti ini sedang trend sepertinya. Scopus dalam salah artikel di lamannya menganalisis citography dari 19.000 jurnal ilmiah yang ada dalam basis datanya untuk kemudian divisualisasikan dalam bentuk peta konsep atau relationship map. Berikut ini adalah salah satu visualisasi yang ada dalam blog post tersebut. Berikut saya kutip caption-nya,"Figure 5 – Environmental Science journals are colored red; Earth and Planetary Science, yellow; and Physics and Astronomy, blue. Where journals are assigned to two of these subject areas, the secondary colors orange, green and purple are used; where all three, the tertiary color brown."Yang saya ketahui, Microsoft Academics menyediakan fasilitas untuk menggambarkan keterkaitan antar penulis paper. Berikut contohnya untuk profil saya (lihat Gambar 1). Atau ini milik Prof. Patrick Domenico penulis buku Physical and Chemical Hydrogeology yang kondang itu (Gambar 2). Jangan dibandingkan dengan punya saya ya. Citation manager Zotero dan Docear bisa jadi contoh lain visualisasi keterkaitan antar makalah ilmiah.Sore ini saya baru tahu kalau website Springerlink (penerbit) juga membuat peta sejenis secara otomatis. Gambar di bawah ini adalah peta konsep dan keterkaitan tema paper yang menjadi rujukan makalah saya (kami) tentang Ciliwung (Gambar 3). Berdasarkan analisis Springer, makalah kami memiliki keterkaitan dengan beberapa kata kunci utama, yakni:

  • groundwater model,
  • groundwater flow model,
  • groundwater level contour,
  • groundwater flow net,
  • river water sample,
  • water polution,
  • ESM table (ini yang saya perlu cari tahu apa maknanya) 

Kemudian kata kunci berkait dengan domain makalah yang lain, yakni makalah yang membahas:

  • water quality index,
  • hyporheic zone,
  • stream type,
  • river water sample,
  • river water pH.

Domain yang terjauh adalah dengan makalah bertema:

  • raw water source,
  • water level map,
  • stream salinity. 

Dengan melihat peta ini, pembaca dapat mengetahui spektrum pembahasan suatu makalah serta bagaimana pola pikir si penulis saat menulis naskahnya, serta makalah-makalah yang dirujuk dan makalah yang merujuk kepada suatu makalah.Selamat mencoba. Mestinya layanan ini baru bisa dinikmati saat bekerja di jaringan ITB.Gambar 1Gambar 2Gambar 3

Siklus publikasi

Minggu lalu saya hadir di "Writing Workshop" yang diadakan LPPM. Salah satu pembicaranya dari Innovative Education Services (Singapura),  menyampaikan gambar sebagai berikut. Jadi intinya menulis makalah adalah tahap pertama dan fakta makalah diterima di suatu jurnal juga bukanlah akhir. Masih ada satu tahap lagi, yakni marketing.

Saya akan perpanjang posting ini lain waktu.
—Selamat pagi…Saya ingin melanjutkan posting ini sedikitnlebih panjang.

#WritingsTotallyFun

Jangan dibandingkan dengan yang lain, karena masih banyak kekurangannya. Sedikit mengungkap sisi lain sebuah kegiatan yang namanya “menulis”. Berawal dari sesuatu yang abstrak dan acak menjadi bentuk yang nyata dan sistematis. Semoga dalam waktu sebulan sudah siap naik cetak. Minggu depan akan tayang di SAPPK atas undangan dan kebaikan hati Bu Dewi Larasati (iya yang di Puslog itu).
Tata letak, kulit muka, dll masih dalam perbaikan ya. Ini baru mick up. Jadi kalau memberi komentar jangan pedas-pedas. 😄

image1

Ciliwung di mata seorang penambang

Catatan ini pertama kali ditulis oleh rekan baik/kawan lama saya, Hendri Silaen di halaman Facebook-nya, sebagai komentar atas berita tentang betonisasi Ciliwung.

Sebelum bergabung dengan PTFI sekitar (10 tahunan ada?) Om Hendri Silaen ini dulunya anggota Mitra Cai juga yang bermarkas di ruangan yang sekarang sudah diratakan dengan tanah dan telah didirikan gedung megah yang baru.

Peta yang dimuat dalam posting beliau ini adalah hasil kegiatan tahun 2006, yang kemudian berproses cukup lama sebelum akhirnya dimuat di Environmental Earth Sciences tahun 2014 (pdf).

Peta ini adalah capture hasil riset hidrogeologi di bantaran sungai Ciliwung yang kami lakukan pada tahun 2006 lalu. Peta ini menunjukkan segmen2 sungai dengan pola pengaliran air influent, effluent dan transitory yang diperoleh dengan membandingkan pengukuran muka air sungai dan muka air sumur dangkal di sekitarnya.

Di segmen di antara Ps. Minggu hingga Teluk Jakarta muka airtanah bebas umumnya mempunyai elevasi lebih rendah daripada air sungai, sehingga secara alamiah maka air sungai akan mengalir ke dalam akifer dangkal di sekitar bantaran sungai (influent). Sedangkan di segmen Bogor hingga Puncak air tanah yang berada di posisi yang lebih tinggi akan mengalir ke arah sungai (effluent). Di antara Bogor hingga Ps. Minggu kombinasi pola influent dan effluent secara setempat-setempat.

Menimbang aspek kualitas air permukaan khususnya air sungai dan ditambah dengan isu geoteknik di lereng bantaran sungai maka pekerjaan betonisasi dalam proyek normalisasi sungai Ciliwung di segmen TB Simatupang hingga Manggarai adalah pilihan yang tepat, bahkan perlu diteruskan hingga Teluk Jakarta. Setidaknya akan mengurangi volume air sungai berkualitas buruk terinfiltrasi ke dalam akifer dangkal, serta mengurangi erosi dan meningkatkan kestabilan lereng sungai.

Ciliwung-Hendri

 

.