Science Communication Universitas Padjadjaran

Terimakasih atas antusiasme Ibu dan Bapak dari Dept. Magister Management dan Business, Faculty of Economics and Business, Universitas Padjadjaran, pada hari Kamis tanggal 30 Juni 2016.

Slide versi final 2.0 dapat diunduh di Slideshare (di bawah ini), Zenodo, dan source LaTeX nya di Overleaf.

Science communication: beyond impact factor and citation index

This talk will be given today for the staffs of Magister Management Universitas Padjadjaran. The original slides were written in English, but the following abstract was in Indonesian (the ppt slides are on Slideshare, some of the references are on zenodo, and for you who wish to edit the slides, I wrote them using Overleaf).

science is about:

  • honesty in researching
  • bravery in publishing the results
  • big heart in getting feedback

Abstract

Menulis saat ini bukannya menjadi salah satu bentuk akuntabilitas riset. Tetapi juga menjadi indikator kinerja seorang akademia (periset/dosen/mahasiswa dll). Namun demikian saat ini pemikiran kita hanya selalu berisi beberapa pertanyaan berikut: terindeks Scopus atau tidak?, berapa impact factor nya?, atau kalau saya menulis topik ini apakah akan meningkatkan indeks sitasi saya atau tidak ya? Hal ini diperburuk dengan pola pikir bahwa tugas kita menulis hasil riset kemudian mempublikasikannya di jurnal. Terserah akan diapakan oleh penerbit jurnal tersebut. Kini menjadi lebih mengemuka lagi saat pemikiran tersebut menjadi persyaratan administrasi pangkat dan jabatan atau insentif.

Saya tidak mengatakan bahwa indikator tersebut salah, tapi menurut kemudian kita menjadi lupa dengan esensi menjadi seorang akademia, yaitu: melakukan riset untuk membantu masyarakat (atau bangsa dalam skala luas), melaporkannya, dan menyebarluaskannya untuk diketahui khalayak. Menulis seolah menjadi beban berat. Sepertinya, belum apa-apa sudah memikirkan Scopus, indeks sitasi, dll. Pada akhirnya tidak jadi menulis. Malah salah bukan.

Dalam paparan ini saya menyampaikan bahwa saat ini telah terjadi perkembangan yang luar biasa, bernama Open Science. Aliran ini bertumpu kepada prinsip bahwa ilmu itu terbuka dan milik semua orang. Dengan demikian maka indikator kinerja seorang akademiapun harus ditambah dengan instrumen-instrumen yang lebih terbuka. Bahwa Scopus index, impact factor, dan indeks sitasi adalah pekerjaan panjang yang tidak berhenti saat kita menerima email “accepted”. Partisipasi redaksi jurnal dan penerbit juga berperan dalam mencapainya. Untuk itu diperlukan komunikasi saintifik (science communication) yang handal.

Karena itu saya mengusulkan masyarakat akademia untuk:

  • terus menulis: dalam media formal maupun non formal,
  • menggunakan indikator impact factor, Scopus indexing dengan tidak berlebihan, serta memahami bahwa citation index adalah sebuah indikator outcome, bukan indikator proses,
  • mengutamakan media open access bilamana memungkinkan (khususnya dari sisi dana) dan sajikan data mentah secara terbuka,
  • mencoba menghasilkan artikel dalam Bahasa Inggris, dan
  • memanfaatkan social media.

DOI untuk semua: menyematkan data DOI pada makalah

Assalaumu’alaikum wrwb. Selamat pagi rekan-rekan.

Dalam blogpost ini saya akan menjelaskan sedikit tentang DOI. Kebetulan saya baru menambahkan data DOI untuk daftar publikasi saya pada tautan berikut (paper by type). Ada satu dua yang belum ada, tapi akan saya segera lengkapi. Kalau anda ingin membaca makalah yang adalah dalam daftar tersebut, silahkan klik tautan yang berwarna biru.

Beberapa pertanyaan yang sering saya dengar (Frequently asked questions) tentang DOI:

  1. Bagaimana anda bisa mendapatkan DOI? Jawab: DOI adalah digital object identifier, suatu kode angka yang bersifat tetap (persistent) dan melekat kepada suatu dokumen online. Definisi selengkapnya dapat dibaca di Wikipedia. Doi disediakan oleh provider tempat anda mengirimkan naskah. Provider tersebug dapat berupa lembaga/institusi redaksi jurnal atau acara seminar/konferensi yang bekerjasama dengan lembaga DOI.
  2. Bagaimana bila makalah saya tidak mendapatkan DOI? Jawab: anda bisa mendapatkan doi secara mandiri dengan beberapa cara: dengan mengunggah naskah ke ResearchGate (contoh profil saya),  dengan mengunggahnya ke repositori data yang bekerjasama dengan DOI misal: Figshare (contoh profil saya). Situs jejaring Academia, yang banyak diikuti oleh masyarakat Indonesia, sayangnya tidak menyediakan doi.
  3. Bagaimana cara menyematkan kode DOI ke dalam daftar paper? Jawab: anda cukup mengkopi dan paste kode tersebut ke dalam daftar paper, misal CV. Bila anda akan memasukkannya ke dalam situs, maka copy-paste kode DOI, sematkan tautan dengan alamat http://dx.doi.org/<<kode DOI>>.
  4. Apa saja yang bisa ditempeli DOI? Jawab: yang sudah pasti adalah makalah lengkap atau full paper yang dimuat di jurnal. Jenis kedua adalah makalah yang disampaikan dalam suatu konferensi. Jenis ketiga agak aneh, data. Ya data riset anda sudah bisa dipublikasikan lengkap dengan kode DOI melekat (lihat no 5).
  5. Bagaimana caranya? Jawab: Cara yang paling jelas adalah mengirimkannya ke jurnal data set, bagi penggemar Elsevier, mereka sudah punya jurnal yang khusus memuat data, misal: Data in Brief untuk bidang ilmu umum atau Genomics Data untuk bidang ilmu yang lebih khusus.  Untuk penggiat open access, anda bisa mengunggah data ke Figshare, Zenodo (contoh profil saya), atau OSF (contoh profil saya). Bila data set tersebut dirujuk, maka salah satu formatnya adalah sebagaimana contoh berikut:

    Irawan, Dasapta E. 2016. “TSS Sea Sediment.” Open Science Framework. June 21. osf.io/nxb9h.

Menarik bukan. Selamat mencoba.

Terekspos sejak awal/immediate exposure

Bahwa riset adalah proses yang dapat berjalan maju atau mundur tapi jelas tak kan pernah berhenti.

Research is a process. It can go forward or backward, without any point to stop.

Salah satu proyek menulis saya yang masih direview di RioJournal (Research ideas and outcome), telah saya unggah di repository Figshare sekitar sebulan yang lalu dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Malam ini saya lihat telah dilihat oleh 150 pengunjung dan diunduh oleh sekitar 50 pengunjung (total untuk versi Bahasa Indonesia dan Inggris).

Ini salah satu upaya untuk mengekspos riset sejak awal.

One of my writing project that is still under editorial review on RioJournal (Research ideas and outcome), has been uploaded to Figshare repository about a month a go, in Indonesian and English language. As for to night both uploads have been viewed by 150 visitors and downloaded by around 50.

It’s my effort to get my immediate exposed for my projects.


 

 

 

Dealing with negative results

Negative results are also worth publishing

Screen Shot 2016-06-08 at 5.23.43 AMJust few weeks a go a PhD student came to me and complaining about his negative result. His supervisors only commented to redo the experiment and change the parameters. The student have re-done the experiments but still he couldn’t get anything that support his prior working hypothesis.

And my answer was, what’s wrong with negative results, and why we couldn’t publish it. Our long discussions ended up with the following post, Why science needs to publish negative results by Emma Granqvist (the above pic was borrowed from the mentioned site).