R Studio 32 bit vs 64 bit

Assalamualaikum wrwb selamat pagi

Saya mau share sedikit pengalaman menggunakan R di Ubuntu. Setelah 3 tahun setia menemani (hingga ke Australi setahun penuh), Laptop kantor yang lama, Acer V5 i5 (kata siapa Acer=Agak cepat rusak), ditukar oleh staf kantor jadi Asus i7.

Laptop yang baru ini menggunakan Win 8. Seperti biasa saya buat partisi Linux, install Ubuntu 15.04, dengan sistem dual OS.

Saya mulai install berbagai aplikasi standar saya, salah satunya R base dan R Studio. Dengan cara yang sama yang selama ini saya lakukan, R base versi 3.2.2 (code name: Fire Safety) sudah terinstalasi dan berjalan baik. Berikutnya R Studio, setelah terinstalasi, ternyata tidak dapat berjalan sama sekali. Icon muncul tapi bila diklik aplikasi tidak berjalan.

Saya sudah Googling untuk cari tahu soulsinya, seminggu kemudian belum ketemu. Lantas saya coba-coba saja. Selama ini yang saya install adalah versi Deb 32 bit. Bagaimana bila yang diunduh dan diinstall adalah versi deb 64 bit.

Dan voila

Ternyata R Studio bisa jalan sekarang. 

Saya tidak tahu kenapa, dan agak malas cari tahu penyebabnya. Hehe.

Walaupun sudah lebih dari 15 tahun menggunakan Linux (Berawal dari RedHat, Mandrake, kemudian Ubuntu), saya tetap saja hanya "user"…. 😂😂😂

Foto: bukan keyboard QWERTY bukan 

Depsy: software “impact factor”

Saat ini jam 2 pagi, pertama kali saya melihat tweet tentang Depsy di time line (lini masa, kalau di Indonesiakan). Tidak tahan saya untuk meluangkan waktu 15 menit untuk menulis tentang platform open source tersebut. Berikut beberapa pointers penting mengenai Depsy:

  • Sebagian besar riset akan memerlukan piranti lunak (software) khusus yang berkaitan langsung dengan risetnya, misal: SPSS atau Stata (statistik), ArcGIS (geosains), R (untuk berbagai keperluan). Namun tidak banyak (sebagian besar) lupa untuk merujuknya dalam berbagai produk saintifiknya, misal:
    • makalah ilmiah, berapa banyak geologiwan yang menyebut piranti lunak ArcGIS dalam Daftar Pustakanya?
    • piranti lunak turunan, beberapa piranti lunak diturunkan dan dikembangkan kemampuannya menjadi piranti lunak lain, misal R packages (saya belum bisa menyebut contoh yang lain). Kalau yang ini sudah dijembatani dengan platform Github
    • dll.
  • Pendek kata pengembang piranti lunak merasa produknya "low impact" atau kalaupun piranti lunak hasil kerjanya memiliki dampak tinggi (high impact), tetap saja tidak ada perangkat (tool) yang mengukurnya.
  • Depsy hadir sebagai solusinya. Ia seperti Google Scholar atau Crossref nya untuk urusan piranti lunak. Beberapa impact indicators yang diukurnya meliputi (baca juga Depsy measurement methods):
    • citations: sebanyak apa piranti lunak tersebut dirujuk di dalam makalah ilmiah. Biasanya yang ditulis dalam Daftar Pustaka adalah tutorial atau manual book nya. 
    • downloads: sesering apa piranti lunak tersebut diunduh dari repository resminya, misal untuk R packages menggunakan hitungan dari server CRAN
    • dependency pagerank: kekerapan website resmi piranti lunak disebutkan dalam berbagai karya ilmiah atau situs lain.
    • usage by other projects: seberapa banyak proyek piranti lunak lain yang menggunakan sebagai kecil, sebagian besar, atau seluruhnya sebagai dasar pembangunannya.

Berikut ini adalah contoh hasil perhitungan Depsy untuk Forecast R package yang ditulis oleh Prof. Rob J. Hyndman dari Monash University (on twitter).

Bad wifi day

Kemarin adalah hari wifi buruk (bad wifi day) di prodi lantai 2. “Hotspot ITB” yang biasa berjalan normal, kemarin seperti sedang jalan jongkok, sementara ada beberapa referensi yang perlu dicari dan diunduh. Saya coba ganti moda ke koneksi via kabel (ethernet cable). Koneksi yang sudah agak lama tidak saya pedulikan. Kabel itu hanya menjuntai berdebu di lantai bawah meja saya. Kebetulan yang aktif adalah Macbook saya dengan OS Mac OSX Yosemite. Colok converter USB-ethernet, sambung kabel. Tunggu sekian lama sambil siap-siap mengisi data IP address. Nasib jelek, hingga saat nomor IP dimasukkan, koneksi tidak juga kunjung didapat.Ganti OS, jadi keputusan berikutnya. Siapa tahu sambungan internet hari ini lebih bersahabat dengan Windows. Saya nyalakan laptop yang lain, pilih OS Windows. Setelah mengulangi prosedur di atas, coba-coba oprek sana-sini. Nasib tetap sama. Sedikit malas sudah menyerang. Mau makan masih terlalu pagi. Akhirnya saya coba peruntungan dengan mengganti OS ke Ubuntu-Linux. Laptop saya memang sudah selalu terinstalasi dengan Linux sejak 15 tahun lalu. Masih berdampingan dengan OS “jendela” karena sulit juga bekerja sama dengan kolega lain yang masih fanatik dengan OS “empat kotak” itu. Bahkan partisi hard drive sudah tidak imbang, partisi Windows 1/3 ukuran partisi Linux. Walaupun untuk partisi data, sengaja saya masih menggunakan jenis WINFAT-32 yang konvensional agar dapat dibaca sekaligus oleh tiga jenis OS.    Restart laptop, kali ini saya pilih opsi Ubuntu di boot manager. Tunggu sebentar hingga masuk ke lingkungan Unity Desktop Manager. — Sedikit selingan, waktu booting Ubuntu, secara kasat mata lebih cepat dibanding Windows 8. Mungkin masih beda tipis dengan Windows 7, tapi jelas lebih cepat dibanding Windows generasi berikutnya. — Kembali ke masalah awal, setelah booting selesai, saya klik menu “disable wifi” di bagian atas menu bar, kemudian pilih “cable ethernet”, isi data proxy  server, seperti yang biasa saya lakukan di Mac OS dan Windows. Dan voila …. tanpa memasukkan data IP address, lupa lebih tepatnya, ternyata koneksi jaringan langsung berjalan. Jelas tanpa banyak setting ini-itu, OS Ubuntu mampu mengenali lingkungan jaringan dan mencoba melakukan koneksi. Saya lupa telah melakukan apa sebelumnya, tapi jelas waktu koneksi jadi lebih singkat tanpa banyak mengisi setting yang tidak perlu. Ingat saya bukan programmer :-).Jadi apa yang anda tunggu? Coba pindah ke Linux yang gratis, tidak pasaran, dan anda pastinya akan terlihat lebih keren, dibanding lapak sebelah. Baca juga:

  1. Reasons to choose and not to choose Linux
  2. Why Linux is better?

Salam,@dasaptaerwin

(image dipinjam dari: www.itsfoss.com)