Bad wifi day

Kemarin adalah hari wifi buruk (bad wifi day) di prodi lantai 2. “Hotspot ITB” yang biasa berjalan normal, kemarin seperti sedang jalan jongkok, sementara ada beberapa referensi yang perlu dicari dan diunduh. Saya coba ganti moda ke koneksi via kabel (ethernet cable). Koneksi yang sudah agak lama tidak saya pedulikan. Kabel itu hanya menjuntai berdebu di lantai bawah meja saya. Kebetulan yang aktif adalah Macbook saya dengan OS Mac OSX Yosemite. Colok converter USB-ethernet, sambung kabel. Tunggu sekian lama sambil siap-siap mengisi data IP address. Nasib jelek, hingga saat nomor IP dimasukkan, koneksi tidak juga kunjung didapat.Ganti OS, jadi keputusan berikutnya. Siapa tahu sambungan internet hari ini lebih bersahabat dengan Windows. Saya nyalakan laptop yang lain, pilih OS Windows. Setelah mengulangi prosedur di atas, coba-coba oprek sana-sini. Nasib tetap sama. Sedikit malas sudah menyerang. Mau makan masih terlalu pagi. Akhirnya saya coba peruntungan dengan mengganti OS ke Ubuntu-Linux. Laptop saya memang sudah selalu terinstalasi dengan Linux sejak 15 tahun lalu. Masih berdampingan dengan OS “jendela” karena sulit juga bekerja sama dengan kolega lain yang masih fanatik dengan OS “empat kotak” itu. Bahkan partisi hard drive sudah tidak imbang, partisi Windows 1/3 ukuran partisi Linux. Walaupun untuk partisi data, sengaja saya masih menggunakan jenis WINFAT-32 yang konvensional agar dapat dibaca sekaligus oleh tiga jenis OS.    Restart laptop, kali ini saya pilih opsi Ubuntu di boot manager. Tunggu sebentar hingga masuk ke lingkungan Unity Desktop Manager. — Sedikit selingan, waktu booting Ubuntu, secara kasat mata lebih cepat dibanding Windows 8. Mungkin masih beda tipis dengan Windows 7, tapi jelas lebih cepat dibanding Windows generasi berikutnya. — Kembali ke masalah awal, setelah booting selesai, saya klik menu “disable wifi” di bagian atas menu bar, kemudian pilih “cable ethernet”, isi data proxy  server, seperti yang biasa saya lakukan di Mac OS dan Windows. Dan voila …. tanpa memasukkan data IP address, lupa lebih tepatnya, ternyata koneksi jaringan langsung berjalan. Jelas tanpa banyak setting ini-itu, OS Ubuntu mampu mengenali lingkungan jaringan dan mencoba melakukan koneksi. Saya lupa telah melakukan apa sebelumnya, tapi jelas waktu koneksi jadi lebih singkat tanpa banyak mengisi setting yang tidak perlu. Ingat saya bukan programmer :-).Jadi apa yang anda tunggu? Coba pindah ke Linux yang gratis, tidak pasaran, dan anda pastinya akan terlihat lebih keren, dibanding lapak sebelah. Baca juga:

  1. Reasons to choose and not to choose Linux
  2. Why Linux is better?

Salam,@dasaptaerwin

(image dipinjam dari: www.itsfoss.com)