Category Archives: Writing

Panduan memilih jurnal terpercaya

Pendahuluan: Beberapa pertanyaan yang sering saya terima

Setiap minggu, saya mendapat beberapa pertanyaan dari kolega dan mahasiswa tentang bagaimana memilih jurnal yang terpercaya. Pertanyaan yang paling sering sampai ke saya adalah:

  1. apakah jurnal X predatory?
  2. apakah jurnal X open access?
  3. apakah mengirimkan makalah ke jurnal X bisa cepat terbit?
  4. saya membayar USD 500 ke jurnal X, apakah jurnal itu bagus?
  5. jurnal X terindeks Scopus, tapi kok masuk daftar Beall’s list of predatory journal?

Continue reading Panduan memilih jurnal terpercaya

Mengorek jumlah makalah berbahasa Indonesia dalam basis data DOAJ dan Bank Dunia

Berawal dari “Negara penghasil ilmu pengetahuan”

Saya sangat tertarik dengan blog post Prof. Hendra Gunawan tentang “Negara penghasil ilmu pengetahuan”. Di dalamnya mentor saya ini menyampaikan data yang diambil dari basis data ScimagoJR.

Continue reading Mengorek jumlah makalah berbahasa Indonesia dalam basis data DOAJ dan Bank Dunia

Kita terlalu sering menghindar …

Masih tentang #Permenristekdikti2017

Banyak yg pesimis, tidak sedikit yang optimis.
Menurut saya, kita lebih banyak menghindar daripada berusaha. Berikut sedikit analoginya, seandainya hiruk pikuk #Permenristekdikti2017 diilustrasikan sebagai percakapan antara ayah dan anak.

Continue reading Kita terlalu sering menghindar …

Pengelolaan jurnal ilmiah: konvensional vs open access bagian 3

Jadi bagaimana sikap kita as a living breathing and proud Indonesian scientists?

FYI, justru bagian ini yang jadi lebih dulu dalam artikel ini. Jadi bagaimana sikap kita?

Asumsi yang saya gunakan:

Istilah “kita” adalah dosen atau peneliti Indonesia yang tinggal dan berkarir di Indonesia yang hanya mendapatkan dukungan dana dari Pemerintah Republik Indonesia.

Dengan pertimbangan bahwa:

  1. Hasil riset harus segera dipublikasikan dan sebanyak mungkin masyarakat dapat membacanya tanpa dibatas akses paywall yang mahal. Karena alasan itu, media OA akan lebih baik dibanding media non-OA. Ditambah lagi fakta bahwa mayoritas jurnal di Indonesia (point ke-2) mayoritas adalah OA yang dibiayai dengan anggaran lembaga.
  2. Mayoritas jurnal tersebut (point ke-2) telah terbit juga secara online, maka aksesnya bisa dilakukan oleh siapapun (tanpa memandang ras, kewarganegaraan, dan batas negara).
  3. Karena telah tersedia secara online, maka makalah yang diterbitkannya dapat dengan mudah ditemukan dengan mesin pencari yang telah banyak digunakan saat ini, misal: Google, Google Scholar, Microsoft Academic.
  4. Mayoritas makalah dalam jurnal tersebut telah dilengkapi dengan kode doi (digital object identifier), sehingga identitas makalah dan tautannya bersifat pasti (persistent ID).
  5. Saat ini telah banyak saluran-saluran terbuka dan gratis untuk memaksimalkan diseminasi hasil riset. Jurnal dalam makalah peer-review hanyalah bagian kecil saja.

maka saya mengusulkan agar (saya susun dari tingkatan paling rendah, yakni diri sendiri sebagai dosen):

    1. Dosen dan peneliti Indonesia harus memanfaatkan semaksimal mungkin jurnal yang terbit dan dikelola di dalam negeri.
    2. Dosen dan peneliti Indonesia harus memaksimalkan penggunaan Bahasa Inggris dalam penulisan makalah tersebut (point ke-1).
    3. Dosen dan peneliti Indonesia harus memaksimalkan jejaring dengan peneliti luar negeri untuk memaksimalkan penyebaran informasi hasil riset, diantaranya dengan menggunakan media sosial (saya merekomendasikan Twitter, catatan: saya bukan pegawai Twitter).
    4. Penyelenggara seminar atau konferensi tidak perlu mendaftarkan kegiatannya untuk terindeks lembaga bisnis (anda tahu sendirilah contohnya), karena kunci dari diseminasi hasil seminar bersumber pada aktivitas diseminasi yang kita lakukan.
    5. Pengelola jurnal harus memastikan kualitas jurnal yang baik dengan standar dunia internasional yang terbuka, bukan standar internasional yang dibuat oleh entitas komersial seperti Scopus dan Web of Science (sengaja saya tidak sisipkan tautannya, cari sendiri ya).
    6. Pengelola jurnal harus memastikan agar waktu proses makalah cepat (maksimal 6 bulan — ada usulan?) atau makalah ditolak pada kesempatan pertama dengan berbagai catatan dari editor bila dirasa terlalu banyak perbaikan yang diperlukan.
    7. Pengelola jurnal dapat menggunakan mekanisme open peer-review dan post publication peer-review serta format layout makalah yang paling mudah agar target penerbitan makalah kurang dari enam bulan tercapai.
    8. Pengelola jurnal harus membantu diseminasi makalah terbitannya melalui penggunaan media sosial untuk menjamin penyebaran informasi seluas mungkin untuk masyarakat akademia di Indonesia dan di luar negeri (karena makalah telah ber-Bahasa Inggris).
    9. Pemerintah melalui kementerian terkait harus menghapus standar-standar internasional terbitan entitas bisnis (seperti Scopus dan Web of Science — tautannya cari sendiri) dan sebagai gantinya menggunakan standar internasional yang terbuka (seperti DOAJ, Sherpa Romeo, dan COPE, kalau yang ini saya sisipkan tautannya).
    10. Pemerintah melalui Kementerian terkait harus menghapus persepsi bahwa kualitas kepakaran dan kualitas makalah ditentukan oleh standar-standar internasional terbitan entitas bisnis (tahu sendirilah anda).

Limitasi:

Walaupun saya serius menyampaikan hal ini, tapi saya sadar bahwa saya hanyalah seorang dosen berpangkat “Lektor” yang gemar “nge-blog”. Jadi siapalah saya ini.

Tapi bila pendapat di atas dirasa benar dan akan bermanfaat jangka panjang, saya mendonasikan pendapat saya tersebut di atas untuk digunakan oleh pihak lain tanpa menyebut nama saya. Dengan kata lain, saya memasang lisensi public domain atau CC-zero untuk artikel saya ini.

Karena begitulah seharusnya “kita” bersikap.

“Kita” = all living, breathing and proud Indonesian scientists

Baca juga:

Pengelolaan jurnal ilmiah: konvensional vs open access bagian 2

Article Processing Cost (APC)

Sebelum saya membahas hal ini secara ringkas, saya akan copy paste kan beberapa cuitan (tweet) dari kawan Twitter saya Prof. Erin Mckiernan yang berkerja di National Autonomous University of Mexico. Cuitannya tentang keprihatinan seorang peneliti dari negara maju yang sedang bekerja di institusi pendidikan di Mexico, sebuah negara yang menurutnya memiliki akses terbatas terhadap material ilmiah.

Continue reading Pengelolaan jurnal ilmiah: konvensional vs open access bagian 2

Pengelolaan jurnal ilmiah: konvensional vs open access bagian 1

Bahwa mengelola jurnal ilmiah adalah sebuah bisnis.

Tulisan ini dilatarbelakangi masih banyaknya pertanyaan dari akademia tentang jurnal open access (OA). Sebenarnya apa jurnal OA itu dan bagaimana model bisnisnya, mengapa kita dianjurkan untuk OA, dst. Selain itu dengan terbitnya Permenristekdikti No. 20 Tahun 2017 tentang Pemberian Tunjangan Profesi Dosen dan Tunjangan Kehormatan Profesor terjadi gelombang “keresahan” yang mestinya sudah diantisipasi oleh Si Pembuat Kebijakan. Keresahan ini yang kemudian diharapkan bertransformasi menjadi energi positif untuk menghasilkan karya, yang tidak hanya sebatas kepada artikel di jurnal internasional.

Berikut sedikit yang bisa saya sampaikan. Tentunya pendek-pendek dan bersambung ya.

Continue reading Pengelolaan jurnal ilmiah: konvensional vs open access bagian 1

Dissertation vs journal article

Pertanyaan yang sering diajukan (FAQ), termasuk saat sesi “Science communication for graduate students” kemarin, dan jawaban dari penerbit favorit banyak orang (Elsevier):

Dalam hal, seseorang menulis makalah ilmiah yang bersumber dari kegiatan penelitian S3 setelah tesis/disertasi disampaikan (submitted) ke universitas. Apakah tesis/disertasi dianggap sebagai publikasi (prior publication)?

Continue reading Dissertation vs journal article

Berbagai indikator riset saat ini

Berikut ini adalah bagian dari makalah bersama kami “Penerapan open science di Indonesia agar riset lebih terbuka, mudah diakses, dan meningkatkan dampak saintifik“, yang sementara ini ditulis oleh: Dasapta Erwin Irawan, Hendy Irawan, Cut Novianti Rachmi, Juneman Abraham, Kustiati Kusno, Mochammad Tanzil Multazam, KeuKeu Kaniawati Rosada, Septriono Hari Nugroho, Galih Kusumah, Defny Holidin, Nurhazman Abdul Aziz… (daftar masih berlanjut, silahkan berkontribusi di tautan ini)

Berikut ini adalah beberapa indikator hasil riset yang selama ini kita kenal, seperti laporan, dataset, makalah, poster, dll:

Continue reading Berbagai indikator riset saat ini