Memvisualisasikan sitasi

How to cite this post

Irawan, D. and Priyambodho, A. (2016). Memvisualkan rujukan: Analisis bibliometrik riset air tanah Jakarta, Figshare repository, doi: 10.6084/m9.figshare.3275953.

This post will be formally published as open access papers in Indonesian Journal of Geosciences

Irawan, D. and Priyambodho, A. (2016). Visualising Groundwater Research in Jakarta: a bibliometric of 1987-2016 scholarly documents. Indonesian Journal of Geosciences.

Daftar pustaka cenderung membosankan

Daftar pustaka adalah satu-satunya bagian dari suatu dokumen ilmiah yang mungkin mendapat perhatian yang paling rendah. Dibuatnya selalu yang paling akhir, betul begitu? Akibatnya sering terjadi kesalahan dalam rujukan dalam teks maupun saat membuat daftar rujukannya.

Semestinya tidak demikian. Justru daftar pustaka adalah bagian paling awal dibuat saat kita membuat karya ilmiah. Mengapa bisa begitu? Jelas harus begitu, karena pada tiap tahapan kita pasti akan mencari referensi. Kegiatan mencari rujukan atau referensi inilah pada dasarnya kita sedang membuat Daftar Pustaka.

Telaah bibliometric

Istilah bibliometric study mungkin masih jadi hal baru di Indonesia. Saya belum pernah menemukan judul makalah yang mengandung kata-kata tersebut. Oleh karenanya akan menarik bila saya mengaplikasikan teknik ini untuk bidang ilmu saya, hidrogeologi.

Berikut ini adalah definisi bibliometric study atau sering disetarakan dengan istilah scientometric. Berikut adalah definisinya menurut Wikipedia bibliometric dan scientometric:

Bibliometrics is statistical analysis of written publications, such as books or articles.

Scientometrics is the study of measuring and analysing science, technology and innovation. Major research issues include the measurement of impact, reference sets of articles to investigate the impact of journals and institutes, understanding of scientific citations, mapping scientific fields and the production of indicators for use in policy and management contexts.

Beberapa hari ini saya sedang intensif mengevaluasi referensi tentang air tanah Jakarta, berkaitan dengan joint authorship dengan seorang rekan yang sedang menuntut ilmu di Delft University Belanda. Visualisasi referensi/sitasi sangat penting untuk dapat mengevaluasi jumlah dokumen, intensitas penulis, serta keterkaitan antar penulis. Salah satu hasil visualisasinya dengan http://www.vosviewer.com/ (Van Eck and Waltman, 2010) adalah sebagai berikut. Terlihat bahwa justru penulis luar negeri lebih banyak dibanding penulis dalam negeri untuk makalah hasil pencarian dengan kata kunci “Groundwater Jakarta”. Literature review bisa jadi menarik.

Bagaimana kami melakukannya

Bagian ini akan ditambahkan. Pada dasarnya kami menggunakan piranti sebagai berikut:

  • database saintifik: Google Scholar, Crossref, dan Scopus (hanya dapat digunakan di dalam jaringan ITB)
  • aplikasi reference manager: Zotero yang dilengkapi plug in Paper Machine.
  • aplikasi berbasis Java Vosviewer dari www.vosviewer.com. Sebuah perkakas yang dibuat oleh tim dari University of Leiden.

Kami menggunakan kata kunci “groundwater Jakarta” pada masing-masing database saintifik. Kata kunci tersebut berada di judul, abstrak, dan kata kunci. Data publikasi yang didapatkan diunduh citation info-nya dengan memasukkan data paper dan referensinya. Metadata paper kemudian disimpan sebagai RIS file. File RIS tersebut kemudian diimpor ke dalam aplikasi Vosviewer.

Beberapa makalah yang menginspirasi blog post ini adalah sebagai berikut:

  • Leeds University Library (2014) dan Thomson Reuters (2016) telah menerbitkan buku tentang panduan bibliometrik.
  • Ziegler, B. (2016) menyampaikan contoh analisis bibliometrik untuk bidang energi terbarukan.
  • Fang, Y. (2004) dan Scwartz dan Ibaraki (2001) menulis tentang contoh analisis bibliometrik di bidang hidrogeologi, serta Zhai et al. (2015) menulis tentang kemajuan pendidikan sains air tanah di Cina melalui analisis bibliometrik
  • Van Eck and Waltman (2009, 2011, 20113, 2014) sebagai pembuat aplikasi Vosviewer menyampaikan manual book dan pemanfaatannya untuk keperluan mengekstraksi jejaring saintifik, pemetaan topik riset, serta visualisasi rujukan.

 

Inilah beberapa hasilnya

Gambar peta densitas di bawah ini adalah hasil analisis yang memperhitungkan seluruh paper, baik yang berhubungan (kaitan sitasi), maupun yang tidak berhubungan (tidak berkaitan sitasi). Makin merah makin rapat, dan makin hijau makin jarang. Dalam gambar tersebut akan ada 47 cluster paper bila disortasi berdasarkan kata kuncinya. Terlalu ruwet bukan. Tapi beginilah kondisi makalah ilmiah, di dalam negeri (lihat nama-nama penulis dari Indonesia) dan di luar negeri sekalipun (lihat nama-nama penulis dari Jepang dll). Berikut bila ditampilkan dengan cara lain, yaitu dengan menampilkan nodes nama penulis.

Screen Shot 2016-04-30 at 5.31.38 AM

Screen Shot 2016-04-30 at 5.37.13 AM

Gambar 1 Visualisasi density map dan nodes para penulis skenario 1

Selanjutnya bila kita saring dengan kriteria paper yang memiliki hubungan sitasi, maka jumlah cluster berubah drastis menjadi hanya lima seperti pada dua gambar di bawah ini. Cluster paper berdasarkan topik (kata kunci) yang terdeteksi terdiri dari (lihat gambar paling bawah):

  1. fenomena termal air tanah (urban heat island)
  2. kualitas air di daerah urban (urban water quality)
  3. interaksi air sungai dan air tanah di daerah aluvial (groundwater-river water interaction)
  4. pemompaan air tanah (groundwater pumping)
  5. penurunan muka tanah (land subsidence)

Screen Shot 2016-04-30 at 5.41.26 AM

Screen Shot 2016-04-21 at 10.51.26 AM

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 2 Visualisasi density map dan nodes para penulis skenario 2

FullSizeRender

 

 

 

 

 

Gambar 3 Skema tematik penulis

exwordcloud1

Gambar 4 Contoh word cloud hasil analisis Zotero-PaperMachines. Kata-kata dengan ukuran besar berarti memiliki frekuensi tertinggi.

keterkaitanKata

Gambar 5 Contoh keterkaitan kata kunci hasil analisis Zotero-PaperMachines. Anak panah yang tebal menunjukkan frekuensi keterkaitan hubungan kata yang lebih besar dari yang lain.

Daftar pustaka

  1. Van Eck, N.J. and Waltman, L. (2010). Software survey: VOSviewer, a computer program for bibliometric mapping. Scientometrics, 84(2), 523-538, [online] Available at: http://link.springer.com/article/10.1007%2Fs11192-009-0146-3 [Accessed 1 May 2016].
  2. Van Eck, N.J. and Waltman, L. (2010).Text mining and visualization using VOSviewer, ArXiv preprint:1109.2058, [online] Available at: http://arxiv.org/abs/1109.2058v1.
  3. Van Eck, N.J. and Waltman, L. (2013). VOSviewer manual book, [online] Available at: http://www.vosviewer.com/documentation/Manual_VOSviewer_1.6.1.pdf.
  4. Zahedi, Z. and Van Eck, N.J. (2014). Visualizing readership activity of Mendeley users using VOSviewer, Figshare reposity, [online] Available at:Visualizing readership activity of Mendeley users using VOSviewer. In altmetrics14: Expanding impacts and metrics, Workshop at Web Science Conference.
  5. Eck, N. J. P. and Waltman, L. (2009). VOSviewer: A computer program for bibliometric mapping (No. ERS-2009-005-LIS). ERIM Report Series Research in Management.
  6. Leeds University Library (2014), Bibliometrics: an overview, [online] Available at: https://library.leeds.ac.uk/downloads/file/265/bibliometrics_an_overview, [Accessed: 1 May 2016].
  7. Ziegler, B. (2016). Methods for Bibliometric Analysis of Research: Renewable Energy Case Study. [online] MIT library. Available at: http://web.mit.edu/smadnick/www/wp/2009-10.pdf [Accessed 4 May 2016].
  8. Thomson Reuters: publications. (2016). WHITEPAPER USING BIBLIOMETRICS: A guide to evaluating research performance with citation data. [online] Available at: http://ip-science.thomsonreuters.com/m/pdfs/325133_thomson.pdf [Accessed 4 May 2016].
  9. Fang, Y. (2004). Scientific research impact and data mining applications in hydrogeology. The Ohio State University. [online] Available at: http://dl.acm.org/citation.cfm?id=1048351 [Accessed 4 May 2016].
  10. Schwartz, F. and Ibaraki, M. (2001). Hydrogeological Research: Beginning of the End or End of the Beginning?. Ground Water, 39(4), pp.492-498.
  11. ZHAI Yuan-zheng, JIANG Shi-jie, TENG Yan-guo, WANG Jin-sheng, GU Hong-biao, XIE Liang, YIN Zhi-hua (2015). Thirty years (1984-2014) of groundwater science teaching and research in China: A dissertation-based bibliometric survey. (2016). Journal of Groundwater Science and Engineering, [online] 3(3), pp.222-237. Available at: http://gwse.iheg.org.cn/EN/abstract/abstract190.shtml [Accessed 4 May 2016].
  12. Zotero Team (2014). Zotero: a Citation Manager [Computer software]. Available at: http://zotero.org.
  13. Guldi, J. and Roberson, C.J. (2011), Paper Machines: Plugin to Zotero [Computer software]. Available at: http://papermachines.org/.

 

 

How to start your Mendeley profile?

In my post yesterday I summed an update on my Mendeley account. It has been valued as one of strong scientific community. And here’s how to start one.

  1. First sign up then complete your profile.
  2. If you already have a google scholar (GS) account then you’re half way there. Just go to your GS account, check little box beside “Title”. Click icon “three lines”, then choose menu “Export”, then choose “Bibtex”.

GS will store all your papers in “*.bib” that you can import later from Mendeley Desktop using “File > Import” menu. Then sync your local library with your cloud library.

Done. Easy isn’t it. Good luck.

researcher-id [dot] com: pentingnya punya KTP periset

Kali ini saya akan menjelaskan Researcher-ID.

Situs ini merupakan bagian dari Raksasa Elsevier. Mereka menyediakan situs ini sebagai bagian dari research stream yang lengkap sejak:

  • mempublikasikan makalah: Elsevier memiliki banyak sekali jurnal dalam berbagai bidang.
  • mengindeks makalah: mereka punya Scopus,
  • dan menyediakan identitas periset (researcher’s id): sebagai perangkat untuk mempromosikan hasil riset dan profil riset kita.

Pendekatannya jelas berbeda dengan ORCID, perangkat sejenis yang dipromosikan oleh komunitas Open Science yang berseberangan dengan Elsevier. Sementara ini piranti trackingnya belum selengkap ReseacherID. ORCID bekerjasama dengan piranti hasil upaya komunitas Open Science lainnya, seperti: Impact Story dan Altmetrics.

Segera saja buat akunnya, lengkapi profilnya dengan makalah kita, serta coba berbagai fasilitas analisis (analytics). Dengan memiliki akun ResearcherID atau ORCID maka identitas kita tidak akan tertukar.

Gambar-gambar berikut ini merupakan hasil snapshot citation tracking analysis dari makalah-makalah saya.

Negara asal makalah-makalah yang mensitasi makalah saya.

Screen Shot 2016-04-18 at 2.51.47 PM

 

 

 

 

 

 

Nama-nama lembaga afiliasi penulis yang mensitasi makalah saya.

Screen Shot 2016-04-18 at 2.57.08 PM

 

 

 

 

 

 

Visualisasi peta kewarganegaraan penulis atau lokasi penerbitan makalah yang mensitasi makalah saya.

Screen Shot 2016-04-18 at 2.57.38 PM

 

 

 

 

 

Bidang-bidang makalah yang mensitasi makalah saya.

Screen Shot 2016-04-18 at 2.58.46 PM

 

 

 

 

 

 

Selamat mencoba.

 

 

makalah juga perlu marketing

— updated blogpost —

Isu internasionalisasi vs dampak kepada masyarakat

Banyak pihak bilang bahwa “buat apa mengejar publikasi internasional, kalau tidak berdampak kepada masyarakat”. Dari satu sisi, pendapat ini sangat benar. Saya sangat mengerti bahwa pendekatan kemasyarakatan akan lebih penting dari pendekatan ke-scopus-an. Dari sisi yang lain, saya takut pendapat ini akan dianggap sebagai penghindaran.

Penghindaran apa? ya macam-macam:

  • penghindaran untuk menulis dalam bahasa (selain) Bahasa Indonesia. PS: Sengaja saya tidak menyebut Bahasa Inggris karena ada juga yang berkomentar, “mengapa harus Bahasa Inggris?”;
  • penghindaran untuk melakukan benchmarking terhadap standar pendidikan tinggi internasional;
  • penghindaran untuk bersaing.

Dari beberapa pengalaman pribadi dan setelah mengikuti beberapa materi, baik secara online maupun offline (ITB kebetulan rutin mendatangkan nara sumber dari LN untuk menyampaikan materi “komunikasi ilmiah”), saya menarik benang merah, yaitu komunikasi. Dengan mengkomunikasikan, bahasa salesnya adalah “marketing”, maka kita sekaligus dapat menjangkau (reach out) kepada kalangan yang lebih luas, termasuk masyarakat awam. Tentunya sejauh mana jangkauan ini akan sangat ditentukan oleh bidang ilmu atau fokus riset kita. Ilmu kriya misalnya pastinya akan menjangkau masyarakat lebih luas dibanding astronomi misalnya. Di bawah ini adalah beberapa catatan yang saya dapatkan minggu lalu.

Mengkomunikasikan (marketing) makalah

Minggu ini saya belajar banyak mengenai hal di atas:

  1. Dari workshop LPPM ternyata banyak tool gratis utk mensosialisasikan makalah ilmiah. Salah satunya yg sdh saya coba adalah Growkudos dan ID peneliti ORCID (sdh lbh dari setahun sy punya kalau ini). Growkudos ini sangat lengkap piranti tracking dan analytic pengunjungnya. You wouldn’t believe how diverse the reader of your scholarly doc came from. Anda bisa mengetahui siapa saja dan dari negara mana saja yang pernah mengunjungi tautan abstrak atau full paper anda, sekaligus bagaimana publikasi anda disebarkan via media sosial (FB, Twitter, Linkedin). Di sini juga, Growkudos mengenalkan indikator popularitas baru selain citation index, yakni Altmetrics (silahkan klik tautan untuk penjelasan lebih jauh).
  2. Dari kawan-kawan Twitter saya, ternyata ada platform riset open source yg menyediakan media utk menulis progress, mengunggah data , mengundang kontributor, yaitu Open Science Framework Platform. Saya mulai mendorong para mahasiswa di sekitar saya (khusunya dari Teknik Air Tanah) untuk menggunakan platform ini dalam riset tugas akhirnya  sejak tahap disain, hingga nantinya implementasi dan ujian sidang. Dengan platform ini (beserta platform open science lainnya, seperti repositori online Figshare atau Zenodo Sangat mungkin karya kita disitasi sejak awal, tanpa perlu menunggu hingga dipublikasikan. Platform ini jg menyediakan sub aplikasi khusus utk mengorganisir konferensi.

Berikut ini adalah beberapa snapshotnya. Selamat mencoba.

Orcid

ID peneliti dibutuhkan agar identitas kita tidak tertukar dengan peneliti lain yang namanya mirip bahkan sama. Semacam CV berjalan. Berikut tampilannya.

Screen Shot 2016-04-15 at 2.58.05 AM Screen Shot 2016-04-15 at 2.58.25 AM

Growkudos

Dengan platform ini anda dapat menceritakan makalah anda dalam bahasa yang lebih sederhana dan mudah dipahami. Anda juga dapat menambahkan tautan pelengkap untuk menjelaskan makalah anda, misal: tautan data, slide ppt, dll. Tool ini ibaratnya kata pengantar dari makalah anda. Bila pembaca mudah memahami dokumen anda, maka peluang untuk disitasi akan lebih besar. Berikut beberapa tayangan dari akun Growkudos saya.

Screen Shot 2016-04-15 at 2.55.12 AM

Screen Shot 2016-04-15 at 2.55.58 AM Screen Shot 2016-04-15 at 2.56.08 AM

Altmetrics

Altmetrics adalah perangkat yang dikembangkan untuk mengukur popularitas suatu dokumen ilmiah di media sosial. Makin tinggi skor altmetrics menunjukkan bahwa dokumen kita banyak dibagikan di media sosial, tautan paper telah dikunjungi, abstrak telah dibaca dll. Saya akan ceritakan lebih dalam kapan-kapan.

Altmetrics Youtube Channel

 

 

About that citation series: pentingkah menulis dalam Bahasa Inggris? bagian 2

Posting ini merupakan sambungan dari posting yang sama kemarin. Kalau kemarin saya membahas seberapa penting menulis dalam Bahasa Inggris dari sisi penulis, sekarang saya coba menyampaikannya dari sudut pandang pencari informasi.

Dari sudut pandang pembaca atau pencari informasi

Seandainya ada seorang peneliti dari LN yang ingin mempelajari suatu subyek di Indonesia, umpamakan katakan S. Ciliwung. Maka ia akan mencoba menggunakan database ilmiah macam Scopus atau Web of Science untuk mencari informasi tentang subyek tersebut. Ia akan menggunakan kata “Sungai Ciliwung”, sebagai salah satu kata kuncinya. Hasil pencariannya menunjukkan masih sedikit makalah dalam Bahasa Inggris yang membahas S. Ciliwung.

Kenapa paper dengan Bahasa Inggris yang ditemukan? Jelas, karena lembaga pengindeks besar akan mengutamakan bahasa internasional.

Sang peneliti mulai tersenyum karena menurutnya ada indikasi riset yang akan dilakukan memiliki nilai originalitas yang cukup tinggi.

Namun Mr. X masih belum puas. Kira-kira apa yang akan ia lakukan? Mungkin ia akan menggunakan alat pencari lain, misal Google Scholar. Dan apa yang ditemukannya. Ternyata telah banyak sekali publikasi yang menelaah situasi Sungai Ciliwung, namun mayoritas ditulis dalam Bahasa Indonesia.

Kira-kira apa yang ia lakukan?

Besar kemungkinan Mr. X akan membuka salah satu makalah berbahasa Indonesia, mencari abstrak dalam Bahasa Inggrisnya. Bila ada maka lumayan, ia tahu lebih banyak tentang isi makalah. Selanjutnya ia bisa saja scrolling down ke bawah mencari gambar dan tabel. Kenapa? karena walaupun tidak berbahasa Inggris, gambar dan tabel lebih mudah dipahami.

Bila ia berminat, maka ia akan menyimpan makalah tersebut. Lebih jauh lagi ia mungkin akan mencari informasi kontak penulis, alamat email misalnya. Dan ia akan menghubunginya. Atau ia akan menghabiskan waktu sedikit lagi di depan komputer untuk mencari bahan material lain terkait paper tersebut yang mungkin dibuat oleh si penulis dalam Bahasa Inggris, misal slide berbahasa Inggris yang diunggah di Slideshare, Academia, atau Research Gate.

Berikut ini ada beberapa ilustrasi, menarik berdasarkan contoh statistik dokumen-dokumen yang saya unggah secara online. Daripada membicarakan orang lain, lebih baik menyampaikan pengalaman pribadi. Kali ini saya mengambil beberapa contoh slide dari repository Slideshare.

 

Contoh statistik dokumen slide berbahasa Indonesia yang hanya diakses oleh pengunjung dari Indonesia (klik “slide” untuk mengakses slide)

Screen Shot 2016-04-12 at 4.36.04 AM

 

 

 

<<slide>>

 

 

Contoh statistik dokumen slide berbahasa Indonesia  diakses oleh pengunjung dari berbagai negara termasuk Indonesia (klik “slide” untuk mengakses slide)

Screen Shot 2016-04-12 at 4.38.46 AM

 

 

 

<<slide>>

 

 

 

Contoh statistik dokumen slide berbahasa Inggris (klik “slide” untuk mengakses slide) yang hanya diakses oleh pengunjung dari LN. Padahal studi kasusnya ada di Indonesia.

Screen Shot 2016-04-12 at 4.42.34 AM

 

 

 

<<slide>>

 

Screen Shot 2016-04-12 at 4.44.10 AM

 

 

 

<<slide>>

 

 

Contoh statistik dokumen slide berbahasa Inggris (klik “slide” untuk mengakses slide) yang diakses oleh pengunjung dari berbagai negara termasuk Indonesia.

Screen Shot 2016-04-12 at 4.45.12 AM

 

 

 

 

<<slide>>

 

 

Kunjungi juga blog saya (tautan) satu lagi yang insya Allah berisi hal-hal yang lebih teknis tentang fokus riset saya, hidrogeologi.

About that citation series: pentingkah menulis dalam Bahasa Inggris?

Title in English: is it that important to write in English?

I wrote this piece to share my views on our biggest problem as a
researcher/lecturer from a non-English speaking country.

index

 

gambar dipinjam dari Wikipedia

 

 

Pertanyaan ini mungkin sering dilontarkan oleh para dosen. Alasan yang sering saya dengan untuk menghindar adalah:

Bukankah kalau dirulis dalam Bahasa Indonesia akan lebih banyak masyarakat yang membaca dan memahami apa yang kita kerjakan…

Bukankah penduduk Indonesia lebih banyak, jadi pasti lebih banyak yang akan membaca…

Menulis dalam Bahasa Indonesia adalah cerminan nasionalisme…

Sebelum menjawab perlu saya sampaikan bahwa dengan menulis artikel ini bukan lantas berarti saya ahli bahasa atau ahli komunikasi masyarakat. Saya hanya dosen geologi yang kebetulan hobi mengamati proses publikasi dan berbagai trennya di dunia maya melalui akun Twitter saya “@dasaptaerwin“.

Nah sekarang izinkan saya mulai menjawab. Jawabannya singkat “iya penting”.

Bukan saya tidak nasionalis dengan jawaban saya di atas. Latar belakang saya sederhana yang bisa saya ringkas menjadi beberapa jawaban dari dua sudut pandang, yakni dari sudut pandang penulis dan dari sudut pandang pembaca

Dari sudut pandang “penulis”

Bukankah kalau ditulis dalam Bahasa Indonesia akan lebih banyak masyarakat yang membaca dan memahami apa yang kita kerjakan.

Ya memang, bila artikel ditulis dalam Bahasa Indonesia akan banyak orang membaca dan memahami. Tapi seberapa banyak orang Indonesia yang akan membaca? Mestinya ini berkaitan dengan budaya membaca. Kalaupun ada yang membaca, seberapa banyak yang mau membaca sampai akhir, atau mampu menarik kesimpulan berbagai hal penting yang ada di dalam artikel kita. Mahasiswa yang saya tanya umumnya menjawab bahwa mereka umumnya hanya membaca judul dan abstraknya saja.

Sekarang bandingkan dengan potensi pembaca dari luar negeri. Dengan dana riset yang besar, mereka dapat dengan leluasa melebarkan saya studi kasus ke belahan dunia yang lain, Asia Tenggara adalah salah satunya. Indonesia sebagai bagian dari Asia Tenggara menyimpan keunikan tersendiri dari segala sisi, terlebih dari sisi saya, ilmu kebumian. Sebelum memulai riset, mereka pasti akan mencari berbagai referensi yang tersedia mengenai lokasi di Indonesia yang menjadi incarannya. Proses ini akan lebih terbantu bila ada atau bahkan banyak makalah yang memaparkan keunikan Indonesia, yang ditulis oleh orang Indonesia dalam Bahasa Inggris.

Ditinjau dari sisi ini, tentu saja selain langkah di atas juga sangat penting untuk memacu minat menulis di kalangan mahasiswa DN serta pastinya dosen-dosennya, baik dalam Bahasa Inggris maupun dalam Bahasa Indonesia.

Ulasan dari sisi “pencari informasi” akan ditulis dalam kesempatan berikutnya. Kunjungi juga blog saya (tautan) satu lagi yang insya Allah berisi hal-hal yang lebih teknis tentang fokus riset saya, hidrogeologi.

<<Bersambung>>

Anatomy of a research article

Good morning,

This morning I was searching for references on “is it that important to write in English?”. It will look awkward for non-Indonesian viewer, but that’s how it is in our country. Unstoppable debate occurs on this subject. Well my search stumbled upon this paper posted on ITC library discussing some rules of thumb in writing a scientific paper. The unique side is the authors manage to put the paper as a direct example completed with relevant annotations. I will write more on this. Link to the mentioned article.

Screen Shot 2016-04-11 at 6.34.46 AM

open science framework

Bapak Ibu yang sedang melaksanakan on going riset isa menggunakan platform Open Science Framework  utk dokumentasi riset, analisis, serta menyimpan laporannya. Platform ini open source, shareable dan citeable utk menggalang partisipasi banyak pihak dalam riset kita. Selamat mencoba. Saya baru selesai mensetup project utk riset ITB dan riset Dikti tahun ini.

Kiat sekolah 1: stress management

Sekolah di semua level tidak hanya butuh pinter. Bahkan pinter mungkin no 23, yang pasti bukan no 1. Yang pertama justru stress management. Jangan mudah pundung, mutung, terintimidasi yang akhirnya jadi stress.

Kalau “how to handle stress” jadi yang pertama, lantas NIAT no berapa? Saya masih yakin niat itu adalah ke-0. Jadi tidak perlu dinomori, tapi menentukan sejauh mana anda mengatasi stress. It’s embedded in your body and soul.

Believe me my friend, anda (termasuk saya) belum pernah tahu kerasnya hidup yang sebenarnya. Masih banyak orang yang lebih berkekurangan fisik dan mental. Jadi buat apa stress hanya krn urusan sekolah. So keep your feet on the ground. Berdoa jangan lupa.

*disampaikan saat penerimaan mhsw baru FITB thn 2012*

Tentang merekayasa sitasi (1): Skripsi yang hanya muncul di buku wisuda

Dalam salah satu slide dalam paparan saya (yang berlisensi CC-BY) kemarin di depan dosen-dosen FE Unisba adalah paper karma. Yaitu karma yang dialami makalah ilmiah, yang begitu sulit untuk ditulis, yang pada akhir hanya sedikit diantaranya terbaca dan jauh lebih sedikit lagi akan tersitasi. Pertanyaan berikutnya adalah “dapatkah sitasi di rekayasa?” Kalau saya sebut rekayasa tolong diartikan sebagai hal positif, yakni memperbanyak rujukan yang relevan dari kawan-kawan se-universitas sendiri, sebelum mencari ke luar, bahkan via Scopus. Renungan saat melihat sekian ratus wisudawan ITB akan pulang ke rumah dengan skripsi yang mungkin hanya akan kita baca judulnya di buku wisuda.