Tag Archives: SCOPUS

Jurnal Scopus apa yang cepat terbitnya?

Kalau anda baca judul blog post ini, mungkin agak bingung. Walaupun itu bahkan bukan merupakan sebuah kalimat, tapi adalah cara tercepat untuk menyampaikan pertanyaan berikut:

Jurnal internasional terindeks Scopus apa yang cepat dalam mereview dan menerbitkan makalah yang kita kirimkan

Kalau anda mendengar pertanyaan itu dari mahasiswa, bahkan mungkin kolega dosen, kira-kira apa jawaban anda?

Blog post saya ini sebenarnya merupakan berkas Google Docs yang saya bagikan sebelumnya (tadi subuh, sudah dilihat oleh 200 an orang), tapi sekarang sudah jauh lebih lengkap. Isinya merupakan simulasi saya saat membandingkan beberapa jurnal terindeks Scopus, dan memilih jurnal mana yang kira-kira akan menerbitkan makalah lebih cepat dibandingkan jurnal yang lain.

Jadi Scopus sebenarnya selain digunakan untuk mencari informasi, mencari makalah, serta untuk unjuk karya dengan H indeks dan jumlah sitasi (ini diperlukan saat membuat proposal untuk dikirim ke Similitabmas Dikti), juga dapat digunakan untuk mengevaluasi jurnal. Hasilnya adalah jurnal yang tepat dan memiliki peluang untuk menerbitkan makalah anda relatif lebih cepat.

Yang menarik adalah, pencarian orang Indonesia (dan India) mengenai “scopus index” terekam dengan baik di Google Trend. Kedua negara ini terekam sebagai negara dengan pencarian tertinggi menggunakan kata kunci “scopus index”. Menarik bukan.

Grafik pencariannya secara time series dapat dilihat pada gambar ini.

 

 

Simulasi saya ini mungkin akan ada yang menyalahkan, tapi setidaknya usaha sedikit lebih keras dari beberapa orang. 🙂

Silahkan dibaca ya. Mohon masukannya. Kalau ada yang tidak disetujui, bisa menuliskan pendapatnya ke kolom komentar di bawah, atau lebih bagus lagi, membuat blog post baru.

Kami tidak perlu Scopus 3

Diskusi terus berkembang setiap hari tentang ini.

Kalau memang tujuan dari mendaftarkan seminar/konferensi adalah agar makalah lebih mudah dicari, maka apakah tidak ada layanan lain yang lebih ekonomis? Dan bila memang itu tujuannya, mengapa tulisan “indexed by Scopus” lebih sering dipertanyakan dibandingkan substansi seminarnya?

Continue reading Kami tidak perlu Scopus 3

Kami tidak perlu Scopus 1

Saya tahu judul memang provokatif. Tapi saya berusaha untuk tidak vulgar. Di Indonesia, Scopus dan WoS telah diposisikan melebihi porsi layanan yang mereka berikan. Kalau memang tujuan dari mendaftarkan seminar/konferensi adalah agar makalah lebih mudah dicari, maka apakah tidak ada layanan lain yang lebih ekonomis? Dan bila memang itu tujuannya, mengapa tulisan “indexed by Scopus” lebih sering dipertanyakan dibandingkan substansi seminarnya?

Karena itu saya menulis blog post ini yang merupakan bagian pertama dari serial “Kami tidak perlu Scopus”. Blog post ini berawal dari tweet saya dari akun @openscience_ID. :). Akun pribadi saya sendiri @dasaptaerwin.

Saya paham juga kalau buah pikiran manusia tidak akan sempurna. Karena itu, mohon masukan dari ibu dan bapak sekalian. Kalau setuju beri tahu kawan, kalau tidak setuju, silahkan anda membuat blog post tandingan atau tuliskan pendapat anda di kolom komentar. Mari kita budayakan saling me-review untuk bidang sains, bukan hanya bidang sospol saja.

Continue reading Kami tidak perlu Scopus 1

Masih tentang Scopus

Assalamu’alaikum wrwb

Post ini diawali kemarin pagi dengan diskusi mengenai tingginya biaya berlangganan jurnal dan juga layanan Scopus dengan pimpinan saya.

Scopus mestinya diutamakan untuk mencari rujukan bukan sebagai indikator utama untuk menentukan kualitas jurnal, apalagi kualitas makalah, apalagi kualitas kepakaran seseorang. Posisikan perusahaan-perusahaan pengindeks ini sesuai kapasitasnya.

Kenapa saya berpendapat seperti itu?

Karena memang Scopus itu adalah sebuah database saintifik yang sangat besar. Makalah-makalah yang mungkin berasal  dari tahun 60’an (atau bahkan lebih tua lagi) hingga terbaru ada di sana. Ini adalah sumberdaya yang sangat potensial dan bermanfaat buat para peneliti bila tahu cara menggunakannya. Tautan ini berisi tutorial Scopus dari Univ Aberdeen yang cukup mudah diikuti. Semoga ITB sudah punya ya.

Scopus juga punya tools analyze results yang dapat mengolah data paper-paper yang kita cari berdasarkan asal negara, afiliasi penulis, dll. Ini sangat penting untuk para mahasiswa juga (S1, S2, dan khususnya S3) untuk dapat memposisikan risetnya dengan riset-riset sebelumnya.

Scopus sebenarnya adalah sebuah etalase besar dari para penerbit/publisher.

Kenapa saya bilang begitu?

Karena memang Scopus mengindeks jurnal-jurnal yang diterbitkan oleh berbagai lembaga dan juga even konferensi yang diselenggarakan oleh berbagai lembaga. Mereka mendaftarkan media yang mereka kelola ke Scopus yang dimiliki oleh Elsevier. Jadi Scopus itu dibuat untuk memudahkan mencari makalah yang terserak di berbagai jurnal, ke dalam satu portal. Tidak lebih.

Anda mungkin bertanya, “lho kalau Scopus itu milik Elsevier, kenapa kok mereka memasukkan jurnal-jurnal dari penerbit lainnya ke dalam database mereka?”

Itulah pintarnya Elsevier, ia ingin menguasai alur publikasi saintifik dari hulu — Elsevier sebagai penerbit berhubungan langsung dengan penulis — hingga ke hilir — berhubungan dengan para pembaca/pengguna/pencari informasi.

Pertanyaan berikutnya mungkin, “Bila suatu institusi berlangganan layanan Scopus, apakah artinya juga berlangganan jurnal-jurnal di dalamnya?”

Jawabnya pasti tidak. Mungkin “iya” untuk jurnal-jurnal terbitan Grup Elsevier, tapi jelas “tidak” untuk jurnal terbitan penerbitan lain. Mereka pasti sudah menghitung untung ruginya.

Oleh karenanya, institusi pendidikan sangat berat bebannya. Ini bukan hanya keluhan universitas di Indonesia (termasuk ITB), juga universitas di LN. Mereka ini jelas membelanjakan banyak uang untuk urusan ini. Dan mohon diingat, anggaran ini harus keluar tiap tahun.

Dan setelah beberapa saat ada beberapa komentar yang menarik, sehingga saya tulis bagian yang ini.

… tapi banyak universitas yang masih memandang bahwa jurnal yang terindeks lembaga ini lebih terhormat dibanding yang tidak terindeks…, bahkan LPDP membuat standar sitasi oleh Scopus sebagai salah satu kriteria seleksi pemberian insentif makalah intl….

Nah di sinilah mulai kondisi menjadi tidak sehat, dan mungkin juga dimanfaatkan oleh Scopus. Ia diposisikan sebagai lembaga yang menjaga  kualitas jurnal dan menentukan mana kualitas jurnal yang baik dan mana yang jelek. Kalau ditilik-tilik, sebenarnya kriteria Scopus tidak ada yang spesial. Semua pengelola jurnal juga sudah paham tentang kriteria ini, dengan atau tanpa Scopus.

Roda Scopus pun terus bergulir

Institusi mulai mensyaratkan bahwa artikel yang berbobot perlu/harus/sebaiknya dimuat di media terindeks Scopus. Berikutnya, bahkan lembaga yang akan memberikan insentif (secara terseleksi tentunya) juga mensyaratkan bahwa makalah yang diajukan harus disitasi oleh lebih dari sekian paper. Jumlah sitasinya juga harus menurut Scopus.

Untuk hal yang terakhir ini, saya berandai-andai, apakah pengelola lembaga pemberi insentif itu tahu bahwa yang dimaksud “data sitasi Scopus” adalah hitungan sitasi artikel yang dimuat dalam sesama jurnal yang masuk database Scopus. Artinya sangat sempit bukan. Sementara hitungan sitasi lainnya, seperti oleh Google Scholar (yang seringkali lebih banyak dibanding Scopus), tidak digunakan, bahkan diabaikan.

Wawasan saya memang belum luas, tapi pastinya ada banyak jurnal di luar sana yang berkualitas dan bereputasi baik, tapi karena suatu hal (biasanya dana) mereka tidak mendaftarkan diri ke Scopus.

Selanjutnya impact factor (IF) juga mengalami mis-persepsi yang sama.

..to some extent scoring IF juga disalah-persepsikan sama dengan terindeks Scopus. Bahwa jurnal yang tidak ber-IF dinilai lebih rendah kualitasnya dari yang punya IF. Sekarang ada indikator baru yang lebih egaliter “Altmetrics”.

Apakah Altmetric itu? Silahkan lihat di sini.

Masih mengenai Altmetric, perkenankan saya mencuplik bagian kesimpulan dari paper ini. Makalah ini kalau dibaca lengkap kira-kira menceritakan bagaimana Altmetric bekerjasama dengan berbagai institusi untuk melacak dampak publikasi para stafnya. ITB kapan?

Altmetrics providers are keen to work with scholarly publishing and institutional repository communities to develop the quality and breadth of persistent identifiers and standard metadata fields. During Altmetric’s work to develop automated item tracking processes, version disambiguation techniques and integrating with a range of publication systems, we identified a number of benefits and potential improvements to the existing practices as described above. However, an overwhelming finding is by connecting Altmetric to existing institutional publication systems, builders of altmetric tools are able to offer low barrier entry to altmetrics at the institutional level to enable deeper impact analysis and uncover conversations about research across broader society.

Bereksperimen dengan jurnal open access dan low APC (article processing cost).

Karena kawan-kawan twitter saya aktif mengenalkan berbagai media open access generasi baru, seperti PeerJ, PLOS, F1000Research, RioJournal (Research Ideas and Outcome) dan ScienceOpen, maka saya pun mencobanya.

Dua artikel saya yang terakhir di Scienceopen dan RioJournal — kedua media ini tidak menganut aliran IF (dan tidak mendaftarkan ke Scopus) — memiliki kenaikan hitungan jumlah pembaca (readers count) yang lumayan. Dalam seminggu sudah ada hampir 800 pembaca yang terukur di Altmetrics.

Saya tidak bilang bahwa artikel saya bagus, tapi bukankah ini merupakan salah satu contoh bahwa ada indikator lain yang lebih obyektif dibanding yang sering kita pakai sekarang.

Saya memang sedang bereksperimen di jurnal-jurnal open access (apa ini? silahkan baca F1000Research) ini. Saya utamakan yang mereka memberikan diskon atau bahkan waivery kepada penulis dari negara-negara berkembang. Dua yang sudah terbit. Berikut adalah tautannya: ScienceOpen (doi: 10.14293/S2199-1006.1.SOR-LIFE.AH9PUY.v1) dan RioJournal (doi: 10.3897/rio.2.e9841).

Kedua media di atas walaupun tidak terindeks Scopus dan tidak punya IF, tapi mereka terdaftar di DOAJ dan Sherpa Romeo, sekaligus juga tidak masuk ke daftar hitam (yang bersifat subyektif) Beall’s list.

Setelah ini ada dua lagi yang sedang antri, yakni di Earth System Science Data (terbitan Copernicus) dan Facets Journal (terbitan Canadian Science Publishing).

Yang terakhir saya lanjutkan dengan post ini…
Ibu dan Bapak, saya tidak anti Scopus dan IF. Saya juga masih ada makalah yang antri di jurnal jalur itu. Hanya saja saya juga sendang bereksperimen saintifik di jalur selain itu, yang lebih rasional dan tidak berbiaya tinggi.
Saya persilahkan juga untuk membaca beberapa rujukan sebagai berikut:
  • slide saya tentang Science Communication: beyond Impact Factor dan Scopus IndexF1000Research.
  • Towards an open science publishing platform — F1000Research.
  • Single Figure Publications: Towards a novel alternative format for scholarly communication — F1000Research.

WTF: Bagaimana Indonesia "ditemukan"? SEO for Academics

Dasapta Erwin Irawan,

Institut Teknologi Bandung

loupe

Gambar 1 Loupe dari flickr/alainbachellier

Tulisan pendek ini adalah lanjutan dari tulisan saya berjudul Mengangkat nama Indonesia dari tulisan. Bila ingin format pdf-nya, bisa mampir ke [sini]{http://goo.gl/9PJpWD). Kali ini saya akan bercerita tentang bagaimana Indonesia ditemukan. Karena saya bukan ahli sejarah, maka kata-kata tersebut mohon tidak diartikan secara harfiah.

1 Pendahuluan

Memang bagian ini tidak wajib. Tapi saya suka dan harus membuat pendahuluan.

1.1 Search Engines

Apakah search engine itu?

Search engine adalah Google. Itu untuk mudahnya. Ini sebenarnya adalah aplikasi yang bertugas mencari dan menganalis apa saja yang dimasukkan penggunakan di kolom pencari (search column).

Apakah ada selain Google?

Ada:

  • Microsoft punya Bing
  • Buat yang lahir tahun 70-80an pasti kenal Yahoo, Altavista (sudah hilang), dan Lycos. Sepertinya masih ada.

1.2 Scientific databases

Apa lagi ini?

Kalau anda ingin mencari secara spesifik material sainfitik, anda bisa menggunakan scientific databases. Dua diantaranya adalah:

1.3 Bagaimana aplikasi itu bekerja?

Kalau bertanya secara teknisnya, saya tidak bisa menjawab, karena bukan lulusan IT atau computer science. Yang jelas aplikasi-aplikasi tersebut akan mencari kata kunci yang telah dimasukkan oleh pengguna.

Mereka akan membuka database dan mencocokkan dokumen mana yang mengandung kata kunci itu.

1.4 Di bagian mana mencarinya?

Pertanyaan bagus. Di sinilah mulai saya bahas “bagaimana Indonesia ditemukan”

Let’s do a role playing.

2 Menemukan Indonesia?

Ready?…

Let’s do a role playing.

Sebut saja anda adalah mahasiswa S3 di salah satu perguruan tinggi (PT) di luar negeri (LN). Anda ingin meneliti tentang air tanah di Bandung, maka ia akan mencoba membuat literature review. Apa ini? Baca di sini, di sini, dan di sini.

Untuk itu ia mulai membuka beberapa database saintifik, sebut saja Google Scholar dan Scopus. Kalau ingin tahu lebih banyak, tentang Scopus bisa baca dan unduh slide saya di SlideShare.

Ia mulai mengetik beberapa kata kunci:

  • “air tanah Indonesia”
  • “air tanah Bandung Indonesia”
  • “air tanah Bandung”
  • dst

Apa yang sama dari ketiga kata kunci di atas? Lokasi bukan. Ia mungkin akan mencari informasi dalam skala Indonesia, kemudian turun ke skala Kota Bandung.

Apa yang ia harapkan muncul? Makalah ilmiah yang judulnya mengandung kata-kata Bandung dan atau Indonesia bukan.

Jadi begitu besar pengaruh menyebut lokasi dalam judul. Kalau anda menulis apa saja, yakinkan bahwa anda sudah menyebut lokasi dalam judul.

Di mana lagi kata-kata Indonesia ditemukan oleh mesin pencari?

Mungkin akan ditemukan di bagian abstrak. Jadi saat menulis yakinkan ada lokasi dalam abstrak anda.

Di mana lagi?

Di bagian kata kunci (keywords) yang biasanya di bawah abstrak.

Ada lagi?

Ya, di bagian afiliasi penulis. Kalau anda lihat makalah ilmiah, maka afiliasi penulis biasanya tertulis setelah nama penulis atau kadang di bagian bawah kiri halaman (lihat gambar berikut).

Paper

Gambar 2 Anatomi paper. Diambil dari akun ResearchGate saya

3 Bagaimana kondisi saat ini?

3.1 Jumlah publikasi ilmiah

Bagaimana kondisi saat ini? Berapa banyak paper atau makalah yang ditulis oleh orang Indonesia atau orang-orang yang berafiliasi Indonesia?

Saya sampaikan saja hasil kompilasi dari database Scopus oleh Prof. Hendra Gunawan (Guru Besar Matematika ITB) dalam tweetnya berikut ini.

tweet

Gambar 3 Daftar peringkat perguruan tinggi produktif dalam membuat paper (menurut database Scopus)

Mohon tidak melihat institusi, namun lihatlah Indonesia secara keseluruhan. Masih kalah jauh bukan dengan tetangga sendiri, Malaysia.

Oya, hasil tersebut sangat mungkin akan berbeda bila kita menggunakan database Google Scholar (GS) atau Microsoft Academics (MA).

Kenapa?

Karena Scopus utamanya mencari informasi berjenis peer-reviewed paper atau prosiding seminar yang didaftarkan ke Scopus, sementara pencarian GS dan MA tidak hanya pada dua jenis paper tersebut.

3.2 Jumlah mahasiswa Indonesia di luar negeri

Berapa jumlahnya? Mari kita lihat informasi berikut.

 Program ini merupakan program panjang yang berkelanjutan oleh LPDP, dimana setiap tahunnya mereka memberangkatkan 3.000 putra putri terbaik bangsa.

"Tahun 2015 nanti diperkirakan jumlah lulusan yang pulang mencapai 900 orang, dan target yang diharapkan pada tahun 2030, LPDP melahirkan 60.000 pemimpin bangsa," ujar Direktur LPDP, Eko Prasetyo.

Dikutip dari laman Facebook LPDP

Jumlah di atas hanya dari Beasiswa LPDP. Masih ada banyak beasiswa lainnya, dari

  • Dikti,
  • Biro Kerjasama Luar Negeri Dikbud (maaf masih menggunakan nama kementerian yang lama karena sering gonta-ganti),
  • dll.

Sekarang apa hubungannya jumlah mahasiswa di luar negeri?

Akan saya jelaskan. Sabar.

3.3 Jumlah mahasiswa di LN vs jumlah publikasi?

Bukankah bagus banyak anak muda Indonesia menuntut ilmu di luar negeri.

Apa hubungannya dengan jumlah publikasi yang rendah?

Saya tidak menyangsikan dampaknya kepada Indonesia. Saya hanya akan menyoroti satu elemen saja kegiatan ilmiah mahasiswa kita di LN.

Kegiatan apa itu?

Menulis makalah ilmiah.

Apa pula masalahnya?

Ingat gambar anatomi paper (Gambar 2) dan ingat pula bagaimana mesin pencari menemukan Indonesia. Salah satunya adalah di afiliasi penulis. Mari kita lihat beberapa kemungkinan berikut:

  • Kasus no 1: Sang penulis adalah mahasiswa di PT dalam negeri (DN) dengan lokasi penelitian di LN.

Tidak perlu dibahas, karena jarang sekali terjadi.

  • Kasus no 2: Sang penulis adalah mahasiswa di PT dalam negeri (DN) dengan lokasi penelitian di Indonesia.

Maka mestinya ia akan menuliskan kata-kata Indonesia pada bagian judul, abstrak, dan kata kunci makalah.

Maka Paper ini akan muncul dalam pencarian dengan kata kunci seperti di atas.

  • Kasus no 3: Sang penulis adalah mahasiswa di PT LN dengan lokasi penelitian di Indonesia

Maka ia akan menuliskan kata-kata Indonesia pada bagian judul, abstrak, dan kata kunci makalah.

Maka Paper ini akan muncul dalam pencarian dengan kata kunci seperti di atas, tapi tidak akan menambah jumlah paper berdasarkan institusi dalam daftar di Gambar 3.

Lho kenapa? akan saya jelaskan.

  • Kasus no 4: Sang penulis adalah mahasiswa di PT LN dengan lokasi penelitian di LN

Ini sangat sering terjadi.

Maka ia tidak akan menuliskan kata-kata Indonesia di bagian manapun dalam papernya.

Maka paper tersebut tidak akan muncul dalam pencarian dengan kata kunci seperti di atas.

4 Libatkan penulis yang berafilisasi lembaga di Indonesia

Kita akan fokus ke kasus no 3 dan 4. Pada kasus no 3, paper akan muncul dalam pencarian dengan kata kunci Indonesia tapi tidak akan menambah daftar pada Gambar 3, karena afiliasi yang tertulis dalam paper pasti afiliasi PT LN.

Untuk kasus no 4, paper hanya akan muncul bila penulis mencantumkan afiliasi lembaga Indonesia.

Bagaimana caranya?

Saat yang terpikir hanyalah melibatkan penulis dengan afiliasi lembaga di Indonesia. Idealnya si penulis tambahan ini harus bekerja di lembaga yang milik pemerintah Indonesia yang berlokasi di Indonesia. Ajak mantan pembimbing anda atau rekan anda yang sedang menuntut ilmu di Indonesia.

Tidak ada salahnya bukan.

Apakah supervisor anda di LN setuju?

Asal anda menyampaikan dengan baik, tidak ada alasan buat profesor itu untuk menolak. Selama urutan penulisnya betul.

** Kenapa?** baca tulisan saya tentang [Authorship}(http://goo.gl/yQZ9Tr) di sini dan di sini.

Jadi letakkan nama mitra penulis tambahan ini sesuai perannya, yang mestinya (most likely) akan jatuh di paling belakang. Tidak masalah bukan.

Dengan cara ini mesin pencari akan menemukan paper anda, one way or another.

5 Penutup

Begitulah cerita pendek ini. Cerita tentang Menemukan Indonesia. Mohon maaf bila masih banyak kesalahan (typos) dan kekurangan di sana-sini. Maaf juga gambar berukuran jumbo masih belum di-resize.

“Maklum masih draft 1”, kata mahasiswa saya yang sedang tugas akhir.

Salam, Erwin Institut Teknologi Bandung Find me on twitter (@dasaptaerwin)

Naskah ini dibuat dengan R-markdown.

WTF: Example of filtering result from Scopus

Dear friends,

Before we start to write or conduct a research, in this case PhD research, one should write a literature review.

Before we do the actual writing, first we search for any previous researches or papers. To do this we must choose the database that we are going to use. You can use Google Scholar or in this case we use Scopus. The main tools for us is keyword filtering.

In this case we use:

  • tools: filter
  • field: title and abstract
  • results: number of publication

This pic shows results of keyword or string filtering in Scopus (as off 23 Oct 2014). I will elaborate more on this.

MultivariateAnalysis

MultivariateAnalysis-copy pdf format

[Part 1] One more thing we need to know about Bibliography

bibliometrics

[image from: http://blogs.bournemouth.ac.uk]

Author:

* Dasapta Erwin Irawan
* Andriyanti
* Iwan Setiawan
* Rizal Debrian

Affiliation: Department of Geology, Faculty of Earth Sciences and Technology, Institut Teknologi Bandung

How to cite this page:

Irawan, D., Andriyanti, Setiawan, I. and Debrian, R. (2014). Bibliography Part 1: The first search is always overwhelming. [online] My little online books. Available at: http://onlinewaterbook.wordpress.com/2014/06/29/part-1-one-more-thing-we-need-to-know-about-bibliography/ [Accessed 26 Jun. 2014].

My co-authors, found the fact that there were over 1000 abstracts using the words West Java in the database of Annual Indonesia Association of Geologist Proceeding. This organization is the biggest geologist organization in Indonesia. We are planning to filter the list with the following keywords:

  1. We use IN(TITLE) option in every search
  2. We use the following keywords combinations:
Stage English Indonesia
Stage one West Java Jawa Barat
Stage one geothermal geotermal
panasbumi
panas bumi
hotspring mataair panas
hot spring mata air panas
volcanogenic volkanogenik
vulcanogenic vulkanogenik

So the result is we need to know the number of papers that correspond to the following complete keywords in the title.

Keyword 1 (AND) keyword 2 Number of publ Publ type: Keyword 1 (AND) keyword 2 Number of publ Publ type:
geotermal Jawa Barat ??? geothermal West Java ???
panasbumi Jawa Barat ??? ???
panas bumi Jawa Barat ??? ???
vulkanogenik Jawa Barat ??? vulcanogenic West Java ???
volkanogenik Jawa Barat ??? volcanogenic West Java ???
mataair panas Jawa Barat ??? hotspring West Java ???
mata air panas Jawa Barat ??? hot spring West Java ???

3.We will also list all the publications time-wise, so we can me a time series chart to see the trend of papers with each keyword combination as show in the previous table.

We are going to use:
1. general search using Google Scholar dan Scopus, without pre-screening the source.
2. pre-screened search. We are going to focus on several Indonesia-scale large academic event: Annual Meeting of Indonesia Association of Geologist, Indonesia Association of Geophysics, and Indonesia Petroleum Association.

Why do we plan to do the “pre-screened” search? Because we believe there will be abundant papers that presented in those events but not going online.

Anyway, these two entries were the earliest result of this work. Buckle Up Guys:

  • Sriwana, T., van Bergen, M.J., Sumarti, S, de Hoog, J.C., van Os, B.J., Wahyuningsih, R., Dam, M.C. (1988), “Volcanogenic pollution by acid water discharges along Ciwidey River, west Java,” Jour. Geochem. Exploration, 62, p. 161-182. (Pencemaran hulu sungai Ciwidey akibat asupan polutan volkanogenik dari kawah putih, dan atenuasi polutan akibat pengenceran oleh air“bersih” )
  • Layman, E.B, Soemarinda, S. (2003), “The Patuha Vapor Dominated Resource, West Java, Indonesia.” Proc.28th Workshop. Geoth. Res. Engginering, Stanf ord Univ. SGP-TR-173 (Sistem Geothermal gunung Patuha serta manifestasi permukaan, sejarah dan perkembangan proyek Geotermal gunung Patuha)

Simple #bibliometric with Microsoft Academic using #R

#R: Simple #bibliometric comparation

**Using: Google Scholar (GS), Microsoft Academic (MSA), Scopus (SCP), and Web of Science (WOS)

Table of Contents

 

Introduction

All kinds of research, researcher must have a strong understanding of preceeding research on the same or similar subject. Master and PhD student, as a kind of researcher, must compose a literature review before they hold permit to start their research. Usually we use the term literature review as a form of formal written document that summarises all previous related researches.

The general steps are:

  • searching articles with certain criteria.
  • published article on reputable journals.
  • presented abstract on reputable conferences.
  • extract the results from each article, what data is used in it, and how the author analyse it.
  • summarise and compile the result to mark a baseline for your research.

However if we dig deeper, we can find that there are at least two kinds of literature review:

  • Annotated bibliography: What is an annotated bibliography? These are several good definitions on the term:

An annotated bibliography provides a brief account of the available research on a given topic. It is a list of research sources that includes concise descriptions and evaluations of each source.UNSW

Another definition even gives an average sum of words:

An annotated bibliography is a list of citations to books, articles, and documents. Each citation is followed by a brief (usually about 150 words) descriptive and evaluative paragraph, the annotation. The purpose of the annotation is to inform the reader of the relevance, accuracy, and quality of the sources cited. Cornell Univ.

  • Systematic review: [I will add this later on]

Hands on

Now we get to the real part, searching for references. There are so many ways to get related readings and references. The old-fashioned way is to go to your university library. Tempting huh 🙂 I would suggest this as the best way. Not only you will get the one document that you have been looking for, but also you will feel the atmosphere in there. Although there are more online documents nowadays, but still I would sit still nlibrary (if I have time). You might by any chance get the oldest record on whatever you are looking for. Then there is always be internet as the backbone of researcher around the globe. The problem is, where to find it.

  • Search Engine: Google, the most obvious man???s best friend. Off course there are others, like: Bing, Microsoft Academic and our old mate Yahoo. You might want to visit list of search engine. But be careful with using Google, because it crawls on any documents that matched with our keyword. So it could be a real scientific paper on a scientific journal, or a newsletter or simply an email in a miling list. But starting from November 2004, Google has make improvement on the matter by launching Google Scholar. Now you can get more refined result with this tools. Five years later, in December 2009, Microsoft launched Microsoft Academic. Citation database or scientific database: we???re already familiar with Scopus, Science direct, Proquest, or Web of Science. You can start with both links, since different company would likely have different database and searching algorithm. If you are working or affiliating to a university that has subscription to any of the database, then you have eliminated half of your problem :-).
  • Citation database or scientific database: we are already familiar with Scopus, Science direct, Proquest, or Web of Science. You can start with both links, since different company would likely have different database and searching algorithm. If you are working or affiliating to a university that has subscription to any of the database, then you have eliminated half of your problem :-).
  • Or your university has a cross-referencing system that access multiple databases in the internet. You are the lucky one :-). Just type in the keyword in it then you get more results from multiple resources. I???ll continue later on with my own case of reference searching.

Google Scholar

add the result later

Microsoft Academics

Following my previous post on simple bibliometric with GS Google Scholar, this time I try to do the same steps with MSA Microsoft Academic. The pros in using MSA is that it offers categorization of scientific entries. This is not available with GS. In this post I tabulated and compared each category with several keywords. Here I used the following keywords:

  1. West Java
  2. Bandung
  3. Citarum
  4. Cikapundung
  5. Groundwater Bandung
  6. Groundwater Citarum
  7. Groundwater Cikapundung
  8. Health Bandung

The following list contains the categories that automatically built by MSA:

  1. Agriculture Science (agsci)
  2. Arts & Humanities (arthum)
  3. Biology (bio)
  4. Chemistry (chem)
  5. Computer Science (comsci)
  6. Economics & Business (ecobus)
  7. Engineering (eng)
  8. Environmental Sciences (envsci)
  9. Geosciences (geosci)
  10. Mathematics (math)
  11. Material Science (matsci)
  12. Medicine (med)
  13. Multidisciplinary (muldis)
  14. Physics (phy)
  15. Social Science (socsci)

I worked around this with the following codes.

# load library
library("lattice")
library("gridExtra")

I use LibreOffice to prepare the data. Basically every keyword consists of 15 observations (see the result from head(bib)).

# load data
bib = read.csv("20140523b-summary references.csv", header = T)
head(bib)
##   no               fields2 fields     key dbase sum
## 1  1  Agriculture Science   agsci Bandung msacd  16
## 2  2    Arts & Humanities  arthum Bandung msacd  44
## 3  3              Biology     bio Bandung msacd 129
## 4  4            Chemistry    chem Bandung msacd 153
## 5  5     Computer Science  comsci Bandung msacd 406
## 6  6 Economics & Business  ecobus Bandung msacd  44

I did the subsetting for each keyword.

# subsetting data
bib.wj = subset(bib, bib$key == "West Java")
bib.bdg = subset(bib, bib$key == "Bandung")
bib.ctr = subset(bib, bib$key == "Citarum")
bib.ckp = subset(bib, bib$key == "Cikapundung")
bib.gwbdg = subset(bib, bib$key == "Groundwater Bandung")
bib.gwctr = subset(bib, bib$key == "Groundwater Citarum")
bib.gwckp = subset(bib, bib$key == "Groundwater Cikapundung")
bib.healthbdg = subset(bib, bib$key == "Health Bandung")

I used lattice and gridExtra package for plotting. You may use another package, but you have to change the codes.

# plotting
plot1 = xyplot(bib.wj$fields ~ bib.wj$sum, pch = 21, fill = "red", xlim = c(0,
    8000), main = "key: West Java")
plot2 = xyplot(bib.bdg$fields ~ bib.bdg$sum, pch = 21, fill = "red", xlim = c(0,
    8000), main = "key: Bandung")
plot3 = xyplot(bib.ctr$fields ~ bib.ctr$sum, pch = 21, fill = "red", xlim = c(0,
    8000), main = "key: Citarum")
grid.arrange(plot1, plot2, plot3, ncol = 3)

plot1


plot4 = xyplot(bib.gwbdg$fields ~ bib.gwbdg$sum, pch = 21, fill = "red", xlim = c(0,
    50), main = "key: Groundwater Bandung")
plot5 = xyplot(bib.gwctr$fields ~ bib.gwctr$sum, pch = 21, fill = "red", xlim = c(0,
    50), main = "key: Groundwater Citarum")
plot6 = xyplot(bib.healthbdg$fields ~ bib.healthbdg$sum, pch = 21, fill = "red",
    xlim = c(0, 50), main = "key: Health Bandung")
grid.arrange(plot4, plot5, plot6, ncol = 3)

plot2


plot7 = xyplot(bib.ckp$fields ~ bib.ckp$sum, pch = 21, fill = "red", xlim = c(0,
    10), main = "key: Cikapundung")
plot8 = xyplot(bib.gwckp$fields ~ bib.gwckp$sum, pch = 21, fill = "red", xlim = c(0,
    10), main = "key: Groundwater Cikapundung")
grid.arrange(plot7, plot8, ncol = 3)

plot3

Scopus

add the result later

Web of Science

add the result later

Note:

  • OS : Ubuntu 13.10
  • R studio Version : 0.98.507
  • R base Version : 3.1.0 (2014-04-10)