Category Archives: Peugeot

Peugeot: Facts and Fictions (old post, high hits)

Iseng buka stats blog saya derwinirawan.wordpress.com.

Ada post saya yang lumayan tinggi pageviews nya: Peugeot Facts and Fictions,

Ditulis 24 September 2007. Isinya berbagai comment tentang plus minusnya (banyak plusnya sepertinya) miara Peugeot (yg tahun tua khususnya). Komentar dikumpulkan dari miling list peugeot di yahoogroups.

Membaca post saya sendiri, jadi ingin “miara” Peugeot lagi, kali ini tahun yang lebih muda. Hehe. Nunggu Menteri Keuangan (baca: istri saya) acc.

Foto kenang-kenangan dari salah satu Peugeot saya

1973 World Rally Championship for Manufacturers

Intermittent Wipers not Working/Parking on 505 GTi Series II

As quoted from http://grapevine.net.au/~nixhouse/images/advert2.jpg&imgrefurl=http://grapevine.net.au/~nixhouse/content/adverts.htm&h=226&w=301&sz=11&hl=id&start=9&tbnid=8Q2bwB1uwIy0LM:&tbnh=87&tbnw=116&prev=/images%3Fq%3D%2522Peugeot%2Blover%2522%26gbv%3D2%26svnum%3D10%26hl%3Did%26sa%3DG
Technical Article – Intermittent Wipers not Working/Parking on 505 GTi Series II

When I first purchased my 1988 505 GTi Wagon it had a couple of annoying problems with the windscreen wipers as follows:

  1. the intermittent setting (first position) did not work – the wipers did not move and adjusting the speed slider on the stalk made no difference; and
  2. while the low speed (second position) and high speed (third position) wiper settings both worked, the wipers would not return to the horizontal position automatically when the wipers were switched off.
After spending a lot of time trying to locate the wiper control relay (both physically and on the wiring diagram!) I gave up and posted a request for help to the Yahoo Peugeot list. I received two replies the next day – one from “Jason” and another from “George”.  Using the information they provided I was finally able to fix the problem (thanks guys).
The procedure was as follows:

  1. Undo the screws that hold the plastic “knee protector” up under the steering column and lower it down to the floor.
  2. Locate the wiper control relay.  On my 1988 wagon it has a blue plastic cover and is located under the dash board to the right of the steering column (refer to photo).
  3. With the ignition switch in the accessories position (car not running) you should be able to hear the control relay click as you move the wiper stalk from off to each position. If you don’t hear a “click” in the intermittent wipe position, then possible suspects are the contacts on the stalk slider control or possibly the wiper control relay itself.

To clean the wiper control relay and wiper switch contacts:

Wiper Control Relay
The red arrow in the top right of this photo points to the wiper control relay (light blue housing). Note that the long black plastic box (paging unit for the car alarm) and a lot of the other untidy green wiring near this is not standard.
  1. Unplug the wiper switch from its wiring loom connector.
  2. Squirt some spray switch cleaner such as CRC Switch Cleaner Lubricant (available from Dick Smith Electronics) onto the wiper switch connectors and wipe off the residue with a cotton wool bud.
  3. Squirt some cleaner into the socket for the wiper switch, and also into the speed slider on the stalk.  Move the speed slider on the wiper control stalk up and down a couple of times so that the cleaner can penetrate.
  4. Unplug the blue wiper control relay from its socket.
  5. Using the switch cleaner, clean the lugs on the wiper control relay and also squirt some into its socket.
  6. Wait 15 minutes for any contact cleaner residue to evaporate then plug the wiper control relay back in.
To test if the cleaning worked, ensure that you have waited for at least 15 minutes for any contact cleaner residue to evaporate, then turn the ignition to the accessories position and switch the wipers on to the first (intermittent) position.  Adjust the speed slider on the stalk until it is on the fastest setting (furthest away from the steering wheel). Hopefully, the wipers will commence working as expected (and park correctly when switched off).

Simon Nix
20 April 2002

Peugeot: Facts and Fictions

fact or fiction

[image from: www.teleread.com]

[first posted 24 Sept 2007, last updated 14 April 2014]

[last updated 14 Februari 2015]

Tulisan ini bukti lain bahwa tulisan lebih abadi dibanding lisan. Dibuat tahun 2007 dan sampai hari ini masih dibaca. Silahkan simak tags “WTF” dan “Writing is Totally Fun” untuk post yang lebih “serius”.


As quoted from selected threads at Peugeot 505 comm miling list. Moral of the story-nya, kalau sudah naksir sama satu brand ya tempuh saja, beli mobilnya. Tentunya dengan certain degree of testing ya. Jangan beli “kucing dalam karung”. Buka banyak pilihan, tes satu-satu. Bawa ke bengkel spesialis Peugeot (banyak link di internet). Seperti saya, begitu nekat beli pug 505 (tahun 2002), jadi ketagihan. Nambah 504 baru-baru ini (tapi ini terjadi sebelum saya merantau ke Sydney ya).

Tanya:

Saya tertarik lihat tongkrongan peugeot, karena kelihatan elegant Tapi temen2 ngomong ada anggapan mengenai peugeot yaitu :

  1. Mesin gampang panas
  2. Sparepart mahal
  3. Boros.

Saya jadi ragu2 pengin beli peugeot ini. Mungkin teman2 punya tanggapan tentang keadaan yg sebenarnya?

[code lang=text]
<br />xxx

Respons:

Kalo nanya ke sini cari racun Oom…

<span style="font-size: 10pt; font-family: 'Georgia', 'serif';"> Kan di sini para penggemar/pemerhati Peugeot.
Jawabannya pasti:
– Mesin nggak cepat panas kalo kondisi standar (nggak bekas dioprek-oprek)
– Spare parts So So…. ada yang murah ada yang mahal
– Boros?? Tergantung beratnya kaki dan setelannya sehat atau tidak?</span>

Kalo pegang dari baru… nggak ada masalah,
kecuali harga jual kembalinya yang terjun bebas.

Kalo mau pegang yang bekas….
Pastikan yang pegang sebelumnya care dan apik.
Kalo nggak, mitos-mitos yang ada benar adanya.

Kalo ragu-ragu mendingan jangan….
Daripada jadi "irrasional" seperti orang-orang di sini.
Termasuk saya 🙂

Salam,
ADP
<!– [if !supportLineBreakNewLine]–>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>
<span style="font-size: 10pt; font-family: 'Georgia', 'serif';">namanya uda brani jadi pug lover, yg penting siap mental aja, waktu
pertama pegang 307 ini, keluarga/temen gaul juga nanya, kagak salah
nih ? yg dukung cuma anak ke-1, dia hobi banget liat 307sw…
paling enak emang miara pug dari baru, krn tau sejarah dan seluk
beluknya,
tp kalo belon waktunya, ya, kita rawat lebih telaten aja, pasti ok
dan lancar koq. Sedikit lebih teliti, yes, spare part mahal ? tidak
juga lah. byk Oom/tante di sini yang hopeng banget ama Bengkel Resmi
dan kalo ada sedikit error di mobil, sering juga tidak perlu bayar
kalo cuma setel dikit2…
kalo cari yg seken, ada Oom2 disini yg bisa bantu kasih free sarans…</span>

salam,
ho
<!– [if !supportLineBreakNewLine]–>

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

<span style="font-size: 10pt; font-family: 'Georgia', 'serif';">Om xxx.
Kalau pake 306 sih emang males ngerem….beberapa kali pulang magelang…brenti karena cuma kebelet….dan pastinya serasa jalan sendiririan (*ngga ono sing nyusul)
DC
<!– [if !supportLineBreakNewLine]–></span>

<span style="font-size: 10pt; font-family: 'Georgia', 'serif';">1. Mesin gampang panas itu adalah paradigma masyarakat Indonesia
terhadap image Peugeot, biasanya yang ngomong itu nggak pernah punya
Peugeot.
2. Spareparts mahal… harus ada bandingannya… Kalau compared to
kendaraan niaga… maka "Yesss, parts Peugeot mostly lebih mahal".
3. Boros…. tergantung typenya apa….Saya pake pake 806 ke Jakarta –
Jogja pp 3 malam/4 hari nggak perlu refueling…. Ke Purwokerto 3 malam
pp pake 307 SW juga nggak perlu refueling…. Nah pake 306… Jakarta –
Jogja nggak perlu refuel di jalan… driving stylenya… yah nggak ada
yang nyusul deh :-)</span>

xxxx

<span style="font-size: 10pt; font-family: 'Georgia', 'serif';">Gampang panas itu maksudnya apa? Overheat? kalau itu maksudnya, semua
mobil akan alami kalau pemiliknya tidak care.</span>

Mungkin yang dibilang orang2 yg belum pernah pake peugeot itu adalah
penunjuk temperaturnya yang berbeda dgn mobil2 jepang, di peugeot
menggunakan angka2, pada temperatur normal jarum akan berada di tengah
dan menunjukkan angka 90C. Kalau di mobil2 jepang tidak ada angka2nya yg
ada hanya jarum berada di tengah2 kalau suhunya normal.

Spare part mahal? Kayaknya sama aja dengan mobil2 lainnya. Malah ada
part yg murah, pengalaman saya, untuk shock ori atoyot absolut sebijinya
1 juta (itu dulu), kalau di 405 atau 406, 1 juta itu dapet sepasang
shock ori.

Boros, tergantung serinya, kalau 406 atau 405 yg 2000cc sama aja
borosnya dengan Atoyot Absolut yg 2000cc kalau di jalan macet tapi kalau
keluar kota bisa dapet 1:11 atau 1:12, kalau 306 atau 206 yg di bawah
2000cc pastinya jauh lebih irit.

Yang pasti beli peugeot itu enak karena harganya murah2 ngga sebanding
dengan kenyaman yg didapatkan, tapi giliran mau jual kembali sudah pasti
harga jauuhh lebih rendah dibandingkan pas belinya heheheh. Dan biasanya
kalau dah punya pug suka ngga mau lagi pake merk lain……nyaman banget
gitu lo

Salam
zxx

<span style="font-size: 10pt; font-family: 'Georgia', 'serif';">Merc boros? ah mitos tuh 😀 tiger 280 betul boros, tapi merc yg anyar2 mah
irit tante. Gak usah kuatir beli peugeot lah tante, kelemahannya cuma
beberapa komponen suka pake 'cheap material' terutama plastik, tapi itu no
big deal. tidak lebih menyeramkan daripada miara sebuah Audi 😀 Pastiin aja
AC nya bekerja dgn baik, kalo gak, bisa bikin muak sampe pengen jual itu
mobil deh :-D</span>

[/code]

Baca juga proyek buku saya (Scientific) Writing is Totally Fun (WTF).

Peugeot 505: Sharing central lock problem

As quoted from Peugeot 505 Comm miling list

Dear 505’ers,
Saya Ingin berbagi pengalaman ttng Central Lock Blue Heaven yang sudah ngadat selama 4 bulan. Seperti kata pepatah “Hidup g’ mau dan matipun segan” . Banyak analisa mekanik yang menetapkan tersangka adalah Main Switch Door Lock dan Actuator Central Lock, cuma keingetan harga motor actuator C/L sekarang mendekati kepala 5 jadi mikir-mikir panjang sebelum menebusnya. Pernah dicoba di test motor actuator C/L ini dengan jalan di-jumper langsung dengan stroom & semua berfungsi baik dan setahu saya Actuator C/L 505 terkenal bandel.

Setelah dipasang dibalik door triming, kadangkala berfungsi mau mengunci tapi g’ bisa dibuka (lebih banyak g’ bisa dibukanya semua pintu), solusinya setiap pergi kemana mana waktu parkir ditempat umum g’ pernah dikunci sama sekali termasuk bagasi…pasrah saja dan syukur alhamdulillah g’ ada yang mau jahil sama Blue Heaven.

Karena penasaran (bukan arwah lho) …baru hari sabtu kemarin coba baca buku primbon Hayness Chapter 12 Electrical System, buka bagian bawah coulum steer dan disisi kiri terdapat satu box persegi panjang warna hitam yang belum pernah di utak-atik, namanya Central Locking System Electronic Control Unit (CLS-ECU) , pada wiring diagram Hayness digambarkan seluruh jalur actuator 4 pintu, gasoline Flap dan bagasi mengarah ke box ini semua. Berarti ini “otak” yang memberi perintah dari kepada semua pintu. Waktu box dibuka, isinya berupa PCB (Printed Circuit Board) yang terdiri dari komponen electronic seperti 2 Spool, transistors, condensators, diode dll. Waktu diamati ada satu komponen (look like Condensor i thought – see pictures) yang lepas solderannya. Merasa yakin bagian ini terlepas akhirnya disolder ulang…….

Voiiillaaaaaaaaaa…….central lock running well! ….jgrek..jgrek…jgrek…(suara nyaring ciri khas Actuator C/L 505 when working). Alhamdulillah akhirnya g’ jadi menebus Actuator Central Lock baru walau harus direpotkan selama 4 bulan tanpa mengunci pintu.

Kesimpulannya, perlu kesabaran dalam menganalisa suatu problems dan rajin membaca buku primbon Hayness sesuai dengan introductionnya …this manual is to help you get the best value from your 505, it can do so in several ways and help you decide what work must be done and giving logical course of action and diagnosis when random faults occur….”

Salam seneng banget…
Blue Heaven. (Heru Penstyobudi)
b505gr/ gr’83