Peugeot: Facts and Fictions

fact or fiction

[image from: www.teleread.com]

[first posted 24 Sept 2007, last updated 14 April 2014]

[last updated 14 Februari 2015]

Tulisan ini bukti lain bahwa tulisan lebih abadi dibanding lisan. Dibuat tahun 2007 dan sampai hari ini masih dibaca. Silahkan simak tags “WTF” dan “Writing is Totally Fun” untuk post yang lebih “serius”.


As quoted from selected threads at Peugeot 505 comm miling list. Moral of the story-nya, kalau sudah naksir sama satu brand ya tempuh saja, beli mobilnya. Tentunya dengan certain degree of testing ya. Jangan beli “kucing dalam karung”. Buka banyak pilihan, tes satu-satu. Bawa ke bengkel spesialis Peugeot (banyak link di internet). Seperti saya, begitu nekat beli pug 505 (tahun 2002), jadi ketagihan. Nambah 504 baru-baru ini (tapi ini terjadi sebelum saya merantau ke Sydney ya).

Tanya:

Saya tertarik lihat tongkrongan peugeot, karena kelihatan elegant Tapi temen2 ngomong ada anggapan mengenai peugeot yaitu :

  1. Mesin gampang panas
  2. Sparepart mahal
  3. Boros.

Saya jadi ragu2 pengin beli peugeot ini. Mungkin teman2 punya tanggapan tentang keadaan yg sebenarnya?

[code lang=text]
<br />xxx

Respons:

Kalo nanya ke sini cari racun Oom…

<span style="font-size: 10pt; font-family: 'Georgia', 'serif';"> Kan di sini para penggemar/pemerhati Peugeot.
Jawabannya pasti:
– Mesin nggak cepat panas kalo kondisi standar (nggak bekas dioprek-oprek)
– Spare parts So So…. ada yang murah ada yang mahal
– Boros?? Tergantung beratnya kaki dan setelannya sehat atau tidak?</span>

Kalo pegang dari baru… nggak ada masalah,
kecuali harga jual kembalinya yang terjun bebas.

Kalo mau pegang yang bekas….
Pastikan yang pegang sebelumnya care dan apik.
Kalo nggak, mitos-mitos yang ada benar adanya.

Kalo ragu-ragu mendingan jangan….
Daripada jadi "irrasional" seperti orang-orang di sini.
Termasuk saya 🙂

Salam,
ADP
<!– [if !supportLineBreakNewLine]–>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>
<span style="font-size: 10pt; font-family: 'Georgia', 'serif';">namanya uda brani jadi pug lover, yg penting siap mental aja, waktu
pertama pegang 307 ini, keluarga/temen gaul juga nanya, kagak salah
nih ? yg dukung cuma anak ke-1, dia hobi banget liat 307sw…
paling enak emang miara pug dari baru, krn tau sejarah dan seluk
beluknya,
tp kalo belon waktunya, ya, kita rawat lebih telaten aja, pasti ok
dan lancar koq. Sedikit lebih teliti, yes, spare part mahal ? tidak
juga lah. byk Oom/tante di sini yang hopeng banget ama Bengkel Resmi
dan kalo ada sedikit error di mobil, sering juga tidak perlu bayar
kalo cuma setel dikit2…
kalo cari yg seken, ada Oom2 disini yg bisa bantu kasih free sarans…</span>

salam,
ho
<!– [if !supportLineBreakNewLine]–>

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

<span style="font-size: 10pt; font-family: 'Georgia', 'serif';">Om xxx.
Kalau pake 306 sih emang males ngerem….beberapa kali pulang magelang…brenti karena cuma kebelet….dan pastinya serasa jalan sendiririan (*ngga ono sing nyusul)
DC
<!– [if !supportLineBreakNewLine]–></span>

<span style="font-size: 10pt; font-family: 'Georgia', 'serif';">1. Mesin gampang panas itu adalah paradigma masyarakat Indonesia
terhadap image Peugeot, biasanya yang ngomong itu nggak pernah punya
Peugeot.
2. Spareparts mahal… harus ada bandingannya… Kalau compared to
kendaraan niaga… maka "Yesss, parts Peugeot mostly lebih mahal".
3. Boros…. tergantung typenya apa….Saya pake pake 806 ke Jakarta –
Jogja pp 3 malam/4 hari nggak perlu refueling…. Ke Purwokerto 3 malam
pp pake 307 SW juga nggak perlu refueling…. Nah pake 306… Jakarta –
Jogja nggak perlu refuel di jalan… driving stylenya… yah nggak ada
yang nyusul deh :-)</span>

xxxx

<span style="font-size: 10pt; font-family: 'Georgia', 'serif';">Gampang panas itu maksudnya apa? Overheat? kalau itu maksudnya, semua
mobil akan alami kalau pemiliknya tidak care.</span>

Mungkin yang dibilang orang2 yg belum pernah pake peugeot itu adalah
penunjuk temperaturnya yang berbeda dgn mobil2 jepang, di peugeot
menggunakan angka2, pada temperatur normal jarum akan berada di tengah
dan menunjukkan angka 90C. Kalau di mobil2 jepang tidak ada angka2nya yg
ada hanya jarum berada di tengah2 kalau suhunya normal.

Spare part mahal? Kayaknya sama aja dengan mobil2 lainnya. Malah ada
part yg murah, pengalaman saya, untuk shock ori atoyot absolut sebijinya
1 juta (itu dulu), kalau di 405 atau 406, 1 juta itu dapet sepasang
shock ori.

Boros, tergantung serinya, kalau 406 atau 405 yg 2000cc sama aja
borosnya dengan Atoyot Absolut yg 2000cc kalau di jalan macet tapi kalau
keluar kota bisa dapet 1:11 atau 1:12, kalau 306 atau 206 yg di bawah
2000cc pastinya jauh lebih irit.

Yang pasti beli peugeot itu enak karena harganya murah2 ngga sebanding
dengan kenyaman yg didapatkan, tapi giliran mau jual kembali sudah pasti
harga jauuhh lebih rendah dibandingkan pas belinya heheheh. Dan biasanya
kalau dah punya pug suka ngga mau lagi pake merk lain……nyaman banget
gitu lo

Salam
zxx

<span style="font-size: 10pt; font-family: 'Georgia', 'serif';">Merc boros? ah mitos tuh 😀 tiger 280 betul boros, tapi merc yg anyar2 mah
irit tante. Gak usah kuatir beli peugeot lah tante, kelemahannya cuma
beberapa komponen suka pake 'cheap material' terutama plastik, tapi itu no
big deal. tidak lebih menyeramkan daripada miara sebuah Audi 😀 Pastiin aja
AC nya bekerja dgn baik, kalo gak, bisa bikin muak sampe pengen jual itu
mobil deh :-D</span>

[/code]

Baca juga proyek buku saya (Scientific) Writing is Totally Fun (WTF).

About the author

My current focus is how to provide the hydrostratigraphy of volcanic aquifers in Bandung area. The research is based on environmental isotope measurement in groundwater and morphometry. My work consists of hydrochemical measurements. I am using multivariate statistical methods to provides more quantitative foundation for the analysis and more insight into the groundwater behavior, especially its interaction with surface water. I use open source apps like R and Python to do the job. In my spare time, I also have a side project to promote open science in Indonesia's research workflow. One of my current focus is promoting INARxiv, as the first preprint server of Indonesia (osf.io/preprints/inarxiv) and serving as ORCID and OSF (osf.io) ambassador. Research interest: Hydrochemistry, multivariate analysis, and R programming. Blog: dasaptaerwin.net, derwinirawan.wordpress.com. (https://orcid.org/0000-0002-1526-0863)