Category Archives: openscience

Open publication and Creative Commons license for academics [ITB PlanoCosmo 2018]

Selamat Hari Selasa 🙂

Hari ini saya dan Hilman Fatoni dari Creative Commons Indonesia akan mengisi acara workshop di ITB Planocosmo 2018. Acara kami akan diadakan di lt 6 Gedung SAPPK, Ruang Serba Guna. Tayangannya ada di atas.

Tayangan ini bercerita tentang masalah hak penulis (author’s rights menurut University of Illinois at Chicago) dan lisensi (OpenAire). Dua hal yang mungkin tidak banyak dosen atau peneliti yang mempelajarinya.

Di sisi lain, banyak peneliti yang merasa ragu saat akan mempublikasikan hasil kerjanya, yang meliputi data, analisis, mungkin kode. Kebanyakan takut hasil karyanya akan “dicuri”, karena belum secara formal dipublikasikan dalam bentuk artikel di jurnal peer reviewed.

Di sisi lainnya, tidak semua risetnya berakhir sebagai artikel yang terbit di jurnal peer reviewed. Kemudian pertanyaan di akhirnya adalah:

  • apakah bisa hasil riset dipublikasikan sebagaimana adanya?
  • di mana mempublikasikann dan bagaimana caranya?
  • bagaimana caranya agar data, kode, protokol atau komponen riset lainnya tidak “dicuri” orang lain?

Lisensi Creative Commons, mungkin bisa jadi jawabannya.

Video Youtube Live Streamingnya dapat dilihat di jendela di bawah ini. Terdiri dari dua bagian. Bagian dua ternyata rusak karena jaringan internet tidak stabil. Kami kan menggantinya dengan video yang  baru.

Live video (15 menit pertama)

Video pelengkap (bagian 1/4)

Video pelengkap (bagian 2/4)

Video pelengkap (bagian 3/4)

Video pelengkap (bagian 4/4)

Konferensi berbiaya rendah. Mungkinkah?

1. Mayoritas konferensi membutuhkan biaya besar

Konferensi sekarang telah menjadi salah satu kegiatan yang memerlukan biaya besar. Ini bukan hanya dari komponen pengindeksan Scopusnya saja, yang memang perlu biaya, tapi juga dari komponen penyelenggaraannya. Banyak sekali pengeluaran-pengeluaran yang tidak perlu. Pengadaan acara di hotel-hotel mewah disertai paket-paket wisata dan yang sejenisnya. Menurut tabel data konferensi terindeks Scopus/WoS ini, maka sejak tengah tahun sampai akhir tahun 2017, setiap minggu ada satu kegiatan konferensi.

Ide Indonesia Open Con (flickr/d_erwin_irawan)

Continue reading Konferensi berbiaya rendah. Mungkinkah?

HOW TO MAKE YOUR RESEARCH OA FOR FREE AND LEGALLY

Dua bulan lalu, rekan saya Jon Tennant dan Lisa Matthias dalam blog Fossilsandshit telah membuat infografik yang menggambarkan alur pikir tentang bagaimana membuat riset (hasil riset) anda open access secara gratis dan legal. Kemudian infografik yang sama diunggah ke Figshare untuk mendapatkan DOI 10.6084/m9.figshare.5285512.v2.

Continue reading HOW TO MAKE YOUR RESEARCH OA FOR FREE AND LEGALLY

Do we (Indonesian) need a new set of perspectives to measure research/academic impact?

An abstract in progress. It’s our quick views as Indonesian academia. We don’t know where it will be sent nor when will the new metrics be introduced, but we know it’s the future.

Add your contribution here: https://goo.gl/cSgTSL.

Continue reading Do we (Indonesian) need a new set of perspectives to measure research/academic impact?

OpenScience Journal: A proposal

Proposal OpenScience Journal

Oleh
Dasapta Erwin Irawan1, Surya Alam2, Hendy Irawan1, M.T. Tanzil3, Juneman Abraham4, …, … (kami mengundang editor dari berbagai bidang ilmu)

kirimkan DM atau surel ke d()erwin()irawan(@)yahoo(.)com bila anda berminat ( hilangkan semua tanda “()” )

1 Institut Teknologi Bandung
2 afiliasi
3 Umsida
4 Binus
5 afiliasi

Magazine stack

Continue reading OpenScience Journal: A proposal

Kami tidak perlu Scopus 3

Diskusi terus berkembang setiap hari tentang ini.

Kalau memang tujuan dari mendaftarkan seminar/konferensi adalah agar makalah lebih mudah dicari, maka apakah tidak ada layanan lain yang lebih ekonomis? Dan bila memang itu tujuannya, mengapa tulisan “indexed by Scopus” lebih sering dipertanyakan dibandingkan substansi seminarnya?

Continue reading Kami tidak perlu Scopus 3

Kami tidak perlu Scopus 2

Artikel ini merupakan bagian kedua (hopefully the last part) dari serial “Kami tidak perlu Scopus”.  Dalam artikel tersebut, saya mengkopikan cuitan saya dari akun @openscience_ID.

Kalau memang tujuan dari mendaftarkan seminar/konferensi adalah agar makalah lebih mudah dicari, maka apakah tidak ada layanan lain yang lebih ekonomis? Dan bila memang itu tujuannya, mengapa tulisan “indexed by Scopus” lebih sering dipertanyakan dibandingkan substansi seminarnya?

Continue reading Kami tidak perlu Scopus 2

Kami tidak perlu Scopus 1

Saya tahu judul memang provokatif. Tapi saya berusaha untuk tidak vulgar. Di Indonesia, Scopus dan WoS telah diposisikan melebihi porsi layanan yang mereka berikan. Kalau memang tujuan dari mendaftarkan seminar/konferensi adalah agar makalah lebih mudah dicari, maka apakah tidak ada layanan lain yang lebih ekonomis? Dan bila memang itu tujuannya, mengapa tulisan “indexed by Scopus” lebih sering dipertanyakan dibandingkan substansi seminarnya?

Karena itu saya menulis blog post ini yang merupakan bagian pertama dari serial “Kami tidak perlu Scopus”. Blog post ini berawal dari tweet saya dari akun @openscience_ID. :). Akun pribadi saya sendiri @dasaptaerwin.

Saya paham juga kalau buah pikiran manusia tidak akan sempurna. Karena itu, mohon masukan dari ibu dan bapak sekalian. Kalau setuju beri tahu kawan, kalau tidak setuju, silahkan anda membuat blog post tandingan atau tuliskan pendapat anda di kolom komentar. Mari kita budayakan saling me-review untuk bidang sains, bukan hanya bidang sospol saja.

Continue reading Kami tidak perlu Scopus 1