Konferensi berbiaya rendah. Mungkinkah?

1. Mayoritas konferensi membutuhkan biaya besar

Konferensi sekarang telah menjadi salah satu kegiatan yang memerlukan biaya besar. Ini bukan hanya dari komponen pengindeksan Scopusnya saja, yang memang perlu biaya, tapi juga dari komponen penyelenggaraannya. Banyak sekali pengeluaran-pengeluaran yang tidak perlu. Pengadaan acara di hotel-hotel mewah disertai paket-paket wisata dan yang sejenisnya. Menurut tabel data konferensi terindeks Scopus/WoS ini, maka sejak tengah tahun sampai akhir tahun 2017, setiap minggu ada satu kegiatan konferensi.

Ide Indonesia Open Con (flickr/d_erwin_irawan)

Banyak hal-hal yang tidak esensial, tapi membuat biaya konferensi membengkak. Biasanya merangkak naik dari Rp. 2 jt sampai Rp. 5 jt, bahkan lebih. Angka Rp. 1 jt sampai maksimal 1.5 jt saya ambil sebagai angka psikologis seseorang untuk dapat mengeluarkan biaya konferensi dengan mudah dari uang pribadi. Tentunya pengeluaran itu sepadan bila kemudian makalahnya dapat diajukan dalam dokumen usulan kenaikan pangkat.

Konferensi di beberapa perguruan tinggi, sebenarnya sudah cukup baik dari sisi pembiayaan. Acara-acara itu terindeks scopus tetapi dengan biaya relatif rendah, Rp. 1,5 jt sampai Rp. 2 jt. Biaya tersebut masih bisa diturunkan, bila kita mengurangi atau menghilangkan biaya makan siang dll. Bagi anda yang pernah hadir di konferensi di Eropa atau Amerika, makan siang, adalah barang mahal dan hampir tidak pernah disediakan secara gratis. Yang gratis biasanya coffee break atau beer break.

Padahal kalau dipikirkan kembali, tujuan esensial dari konferensi adalah penyebaran ilmu seluas-luasnya, berinteraksi dengan sesama peneliti, dan saling memberikan umpan balik (feedback). Jadi buat apa membuang dana untuk hal-hal yang tidak perlu. Lebih baik uangnya dipakai untuk kegiatan riset yang lebih bermanfaat.

Lagipula untuk bila ingin mempublikasikan riset secara gratis tapi tetap open access, banyak jurnal-jurnal terbitan Indonesia yang melakukan hal itu. Tetap open access (gratis untuk pembaca) tetapi tidak menarik APC atau menarik APC dengan nominal murah bahkan sangat murah. Bahkan ada pandangan lebih ekstrim, yaitu publikasi riset melalui sarana halaman blog.

2. Model Indonesia Open Con

Jadi dengan opencon ini (open conference) ini mencoba memberikan konsep layanan itu. Dari kita, untuk kita, oleh kita. Kata-kata “con” sendiri sudah menjadi singkatan generik untuk conference. Kalau anda punya twitter pasti tidak asing, karena tiap konferensi biasanya memiliki akun twitter khusus dan menggunakan tagar khusus (hashtags), seperti #opencon2016.

Yes we’re open (Pixabay CC-0)

Nah konsep #ID_opencon ini adalah menyelenggarakan seminar dengan biaya rendah, diseminasi intensif, dengan menggunakan berbagai layanan saintifik yang terintegrasi secara gratis. Icon-icon yang saya gambarkan dalam skema saya di atas adalah layanan gratis yang tersedia saat ini dan banyak dipakai.

2.1 Pola interaksi

Dalam teknis penyelenggaraannya, konferensi ini bisa dual mode:

  • mode konvensional dengan tatap muka, atau
  • mode virtual (seperti yang saya sampaikan dalam diagram).

Dengan mode konvensional, masih diperlukan ada biaya akomodasi plus biaya coffee break saja, karena biaya ruangan bisa ditekan, di kampus saja. Bila perlu coffee break dihapus biayanya, karena bisa break dengan membawa kopi sendiri kan.

Connected (Pixabay CC-0)

Perbedaan yang lain adalah penyampaian makalahnya. Pada mode konvensional tentunya presentasi masih dilakukan secara langsung (plus direkam untuk kemudian diunggah ke Youtube), sedangkan pada mode virtual, seluruh presentasi direkam dan diunggah di Youtube. Bedanya kedua mode itu hanya ada di situ. Di komponen yang lain, platform untuk publikasi makalahnya, indexingnya akan sama. Platform publikasi menggunakan OSF preprint dan indexing oleh Google Scholar.

2.2 Pola diseminasi

Kenapa saya menekankan model open science ini, karena sebagai saintis, saya melihat sering melupakan masalah diseminasi dan promosi. Inginnya setelah menulis makalah kemudian dibaca orang disitasi. Kita semua harus ingat bahwa sitasi tidak turun dari langit. Itu semua perlu promosi dan diseminasi. Salah satu caranya adalah dengan media sosial.

Bila anda punya akun twitter, maka akan sangat jamak anda menemukan akun seorang profesor atau associate profesor yang aktif menyebarkan berbagai ilmu yang telah dia tulis, atau telah ditulis oleh rekan-rekannya yang lain.

Tidak percaya? Mulailah “twitteran”.

Fungsi medsos untuk sains sangat nampak di Twitter yang tidak bisa dilawan oleh medsos lainnya. Di instagram, saya sering juga melihat akun peneliti yang memajang risetnya, eksperimennya, bukan hanya foto-fotonya sendiri.

2.3 Media penyimpanan

Komponen penyimpanan makalah akan ditangani oleh OSF preprint (OSF=Open Science Framework) atau lebih baik lagi, kini kita mempunyai INARxiv (the preprint server of Indonesia) yang di-hosting oleh OSF. OSF adalah organisasi not for profit, bermarkas di Virginia USA, yang menyediakan hosting daring makalah ilmiah secara gratis.

Containers/Storage (Pixabay CC-0)

Apakah itu preprint? Dan apakah kita dapat merujuknya?

Ya, Indonesia punya server preprint sekarang. Silahkan mampir ke GoodScience_ID untuk mengetahuinya lebih jauh.

Seluruh makalah yang masuk ke dalam sistem preprint mereka sudah pasti diindeks oleh Google Scholar. Ini menjadi cerminan juga, bahwa di luar negeri saja, para peneliti pada dasarnya ingin barang yang “gratisan”. Saat ini sangat banyak piranti lunak dan layanan riset yang daring dan gratis (Figshare). Semua orang ingin efisiensi dan efektivitas. Sebaliknya, kita di Indonesia, yang masih memiliki dana terbatas kok ingin semua yang bersifat mewah dengan berbagai layanan berbayar (termasuk Scopus).

Twitter poll yang pernah saya lakukan.

2.3 Format makalah

Nah ini bagian yang menarik. Seorang peneliti dari luar negeri ada yang bertanya ke saya setelah mengamati fenomena konferensi di Indonesia. Ia bertanya, “Mengapa materi yang disampaikan dalam seminar di Indonesia berformat makalah lengkap?” Saya bingung menjawabnya, karena yang saya amati memang begitu. Seminar-seminar yang diselenggarakan organisasi profesi di bidang geosains, seperti Asia Oceania Geoscience Society (AOGS), European Geoscience Union (EGU) dan American Geoscience Union (AGU) (hanya) membutuhkan abstrak.

Kemudian kawan saya itu bertanya kembali, “bukankah kalau sudah dalam format makalah lengkap, maka materi yang sama tidak dapat lagi dikirimkan ke jurnal ilmiah?

Jawaban saya berikutnya adalah, “oh mungkin karena seminar itu ingin diindeks oleh Scopus atau WoS?” Kedua lembaga pengindeks itu memang hanya akan mengindeks makalah lengkap, bukan abstrak.

3. Apa yang bisa diharapkan dari ID_OpenCon?

Anda mungkin bertanya-tanya, “apa yang bisa diharapkan bila ID_OpenCon dilaksanakan?”

Contoh rekaman video OpenCon2016: Making “open” the default – Bjorn Brembs. Dalam video ini, @brembs salah satunya menjelaskan prestis dan peringkat jurnal.

Saya tidak akan menjanjikan yang muluk-muluk. Tetapi beberapa hal berikut dapat diharapkan:

  • Karya anda akan didiseminasikan dengan intensif (High-intensity dissemination): karena menggunakan kekuatan medsos Twitter dan Youtube, karya anda dapat disebarkan dengan cara yang mudah secara cepat. Saya akan lebih senang melihat video dibandingkan slide paparan yang “mati”. Bagaimana dengan anda?
  • Karya anda akan lebih mudah ditemukan (High discoverability): karena diunggah ke repositori atau server preprint, maka makalah akan terindeks Google Scholar. Ini menyebabkan karya anda mudah ditemukan oleh orang lain.
  • Karya anda akan bersifat open access dengan gratis (open access and free): Ini yang paling menyenangkan menurut saya. Anda dapat menikmati fleksibilitas open access secara gratis.
  • Karya anda dapat direvisi setelah mendapatkan umpan balik (version control): Banyak dari kita berpikir, apakah makalah ilmiah sudah pasti bebas dari kesalahan? Apakah kita dapat memperbaiki makalah? Dengan mengunggah ke server preprint atau repositori OSF, maka makalah anda terbuka untuk direvisi. Sistem ID_OpenCon akan memiliki kendali versi (version control). Artinya setiap versi makalah akan didokumentasikan dengan rapih, tidak dihapus bila ada versi lebih baru diunggah ke sistem.
  • Karya anda akan lebih cepat tayang secara daring untuk menghindari duplikasi (avoid scooping): Sering kita berpikir, kalau karya kita diunggah daring, apakah tidak malah menyebabkan orang lain dapat meniru karya kita (scooping)? Menariknya, jawabannya adalah, “tidak”. Justru dengan menayangkan karya secara daring, maka anda akan dapat mengklaim hasil riset. Stempel waktu pengunggahan (time stamp) dapat menjadi salah satu bukti forensik yang valid. Jangan salahkan konsep open access atau open science untuk penjiplakan.

4. Scopus lagi …

Mengenai Scopus, kembali saya perlu memberikan penjelasan. Scopus adalah perusahaan komersial (anak perusahaan grup raksasa Elsevier). Fungsinya adalah mendata makalah yang didaftarkan, memasukkannya ke dalam basis data mereka, dan memastikan makalah itu muncul dalam pencarian daring (online). Fungsi-fungsi yang persis sama, diberikan oleh Google Scholar dan Microsoft Academic tanpa dipungut biaya. Artikel editorial berjudul Indexed journal: What does it mean? mungkin dapat memberikan tambahan wawasan. Karena itu, saya melihat Scopus bukan seperti orang lain. Anda pasti sudah tahu ini. Ia hanya sebagai outlet saja, sama seperti Google Scholar.

Citation needed

Kalau biaya dapat ditekan, lantas mengapa kita mengeluarkan biaya lebih untuk keperluan pengindeksan?

Mengenai asal-usul kita mengadopsi pola Scopus dll tidak perlu dipertanyakan. Yang penting sekarang bagaimana kita, kelompok peneliti pemula (dalam Bahasa Inggris biaya disebut sebagai early career researcher), dapat memperjuangkan teknik alternatif untuk mengukur keberhasilan hasil riset pada saat yang sama menekan biaya publikasi, serta meningkatkan dampaknya kepada masyarakat.

Anda mungkin juga tertarik untuk membaca artikel ini, The weakening relationship between the Impact Factor and papers’ citations in the digital age untuk menambah wawasan mengenai metrik-metrik “purba” yang terindikasi tinggi tidak lagi valid. 🙂

5. Pekerjaan rumah kita bersama

Tidak bisa instan memang tapi kalau kita tidak berjuang. Kalau bukan kita yang memulai, siapa lagi?

Tentunya saya tidak akan melarang bila anda mengikuti konferensi terindeks Scopus (saya pun masih melakukan itu) atau mengirimkan makalah dengan alasan utama bahwa jurnal tersebut terindeks Scopus, tapi lakukan itu secukupnya saja. Satu atau dua makalah per tahun saya pikir cukup. Cari lokasi konferensi yang dekat dengan lokasi riset agar tidak perlu bayar akomodasi dll.

Demikian ide saya. Setelah mendengar ini, saya maklum kalau banyak yang tidak setuju. 😉

Dan oh ada yang lupa.

Artikel blog ini berawal dari pesan saya (pada bulan Juli 2017) di salah satu Grup WA yang anggotanya dari seluruh Indonesia. Dalam pesan terakhir, saya berjanji akan membuat artikel blog dari pesan tersebut agar lebih banyak lagi orang yang tahu dan pada akhirnya (entah kapan) akan paham, termasuk para pembuat kebijakan di Indonesia. 😉

This is why I love blogging. Why don’t you? 🙂

Salam,

@dasaptaerwin

Yes we run INARxiv – The preprint server of Indonesia | osf.io/preprints/inarxiv | open 24/7