PERANAN GEODESI SATELIT DALAM MEMAHAMI DINAMIKA BUMI DI WILAYAH INDONESIA

Pidato Ilmiah Prof. Hasanuddin Zainal Abidin – 9 Februari 2008

PERANAN GEODESI SATELIT DALAM MEMAHAMI DINAMIKA BUMI DI WILAYAH INDONESIA

 

Profesor Hasanuddin Z. Abidin

 

Sinopsis

          Menurut IAG (International Association of Geodesy) Geodesi adalah disiplin ilmu yang mempelajari tentang pengukuran dan perepresentasian dari Bumi dan benda-benda langit lainnya, termasuk medan gaya beratnya masing-masing, dalam ruang tiga dimensi yang berubah dengan waktu. Sedangkan Geodesi Satelit adalah sub-bidang ilmu Geodesi yang menggunakan bantuan satelit (alam ataupun buatan manusia) untuk menyelesaikan tugas dan permasalahan geodesi, yang secara mendasar terkait dengan penentuan posisi, penentuan medan gaya berat, serta penentuan variasi temporal dari posisi dan medan gaya berat.

          Pada saat ini aplikasi sistem-sistem Geodesi Satelit, seperti SLR (Satellite Laser Ranging), LLR (Lunar Laser Ranging), VLBI (Very Long Baseline Interferometry), Satelit Altimetri, Satelit Navigasi (e.g. GPS dan Glonass) sangat luas dan beragam, mulai dari bidang geodesi, survei dan pemetaan, navigasi, kelautan, kebumian maupun kedirgantaraan.

          Dalam orasi ini, penulis secara umum akan terlebih dahulu menjelaskan peranan yang dapat diberikan metode-metode geodesi satelit dalam memahami dinamika Bumi di wilayah Indonesia, yang secara geografis, geologis maupun geofisis mempunya dinamika yang relatif cukup tinggi. Selanjutnya pembahasan akan dikonsentrasikan pada pemanfaatan dari metode Satelit Navigasi, dalam hal ini GPS (Global Positioning System), yang telah dilakukan untuk lebih memahami dinamika Bumi di wilayah Indonesia.

          Hasil-hasil penelitian yang terkait dengan studi deformasi gunung api, penurunan tanah (land subsidence), pergerakan tanah (landslides), serta aktivitas tektonik pada beberapa lokasi di wilayah Indonesia akan diberikan dan dijelaskan.

          Orasi ini akan ditutp dengan beberapa saran dan rekomendasi untuk mengoptimalkan peranan geodesi satelit dalam proses pembangunan di Indonesia secara umum dan meningkatkan pemahaman dinamika Bumi wilayah Indonesia secara khusus.

 

Pasted from <http://www.mgb.itb.ac.id/index.php?option=com_content&task=view&id=40&Itemid=47>

 

Guest Lecture Prof. Katsuaki Koike

Lecture invitation from Dean of FTTM

 

Day/Date: Monday, 11 Februari 2008

Time       : 10.30 – 12.00

Place      : Seminar Room, 2nd fl, Mining Engineering Program, FTTM-ITB

Presenter: Prof. Katsuaki Koike from Kumamoto University

 

Title:

Spatio-Temporal Modeling of Water Quality, Level, and Flow: Geostatistical, Remote Sensing, and Geophysical Approaches to Water Environmental Problems

Seminar “A Measure of Data Concentration” (Prof.Maman A. Djauhari)

Quoted from  http://www.fitb.itb.ac.id/kk-geologi_terapan

Monday Feb 4th 2008 (09.00-11.00) at Study Hall of Matematics, a seminar on multivariate analysis has been help. The speaker was Prof. Maman A. Djauhari, one of well established ITB statiscian. He presented his paper, A Measure of Data Concentration, which had been published in The Journal of Applied Probability and Statistics Vol. 2 No. 2, 2007. Below is the abstract of the paper.

A Measure of Multivariate Data Concentration
Maman A. Djauhari
Journal of Applied Probability and Statistics Vo. 2, No. 2 pp 139-155.

Volume ellipsoid and covariance determinant have been successfully used as multivariate data concentration measures. However, their computations are quite cumbersome especially when the data sets are of high dimension. In this paper we present an analytical approach of vector variance as an alternative measure which can eliminate this obstacle and, in order to be able to use it in practical applications, we derive its asymptotic distributional properties. Its sensitivity to the change of covariance structure will be discussed.

I attended the seminar, as I have very much the same interest regarding multivariate analysis of hydrochemistry data on volcanic areas.

Review of one of my favorite album

U2

War

[Island]

Artist: U2

Released: 28 February 1983

Review

by Sid Smith

04 May 2007

In 1982, back before world leaders were being brow-beaten by Bono, U2 were teaming up once again with Steve Lillywhite (who’d produced their debut, Boy, and October) for a crack at their third album. Whilst there’s no denying the youthful energy and industrial quantities of testosterone on display, it’s something of a mixed rattlebag that highlights the pros and cons of the band. After a while all that breathless beseeching, fiery indignation and BIG guitar heroics grows a tad wearisome; a bit like being shouted at by someone who means well but doesn’t know when to turn the volume down.

The palette broadens on “Red Light” with backing vocals from Kid Creole’s Coconuts no less, and some equally superfluous trumpet – the latter making a tokenistic jazz noise atop the impervious surface of the band’s default setting, that only loosens up enough to work effectively by the time the track is fading-out.

Similarly the hurtling ardour of singer and guitarist going at it full-tilt on “Like A Song”, becomes interesting only when it threatens to spill over into the thunderous rumble of Larry Mullen’s drumming. By then though, the faders are sliding into zero. More effective contributions arise from Steve Wickham’s soaring violin as it weaves around chiming harmonics and multi-tracked acoustic guitars of “Drowning Man.” – something the Eno-produced James would emulate the following decade. His stirring violin also heats up the anthemic “Sunday Bloody Sunday”, a rough-hewn stomp that falteringly navigates its way between posture and politics.

For all the evident unevenness, you can’t knock the sure-footed pure power-pop of “Two Hearts Beat As One” and “New Years Day”. Though Adam Clayton’s bass line had an unlikely genesis (he was trying to play the Visage hit, “Fade To Grey”), it’s reverberations set off a chain reaction of exultant flag-waving around the world. Though War explores some of the glassy sonics which The Edge would later perfect, it falls short of the musical maturity they were to find with their 1984 studio follow-up, The Unforgettable Fire.

 

Pasted from <http://www.bbc.co.uk/music/release/3b8c/>

 

Kecelakaan Tragis, Volvo Didenda 200 Ribu Euro

As quoted from Kompas News

 

Kecelakaan Tragis, Volvo Didenda 200 Ribu Euro

Getty Images/ Mark Renders

Volvo

 

Artikel Terkait:

Kamis, 31 Januari 2008 | 19:45 WIB

 

SAVERNE, PERANCIS, KAMIS – Perusahaan otomotif kelas dunia asal Swedia, Volvo, dinyatakan bersalah, dan harus membayar denda sebesar 200.000 Euro (296.000 dollar AS), dalam persidangan kasus kecelakaan yang merengut nyawa dua orang anak di Timur Perancis, tahun 1999 silam. Pengadilan yang digelar, Kamis (31/1) menarik kesimpulan produk Volvo jenis 850 TDI memiliki cacat produksi pada sistem pengereman, dan menjadi penyebab sekunder dari kecelakaan tersebut.

 

Sebelumnya, sopir mobil naas tersebut Catherine Kohtz telah dinyatakan bersalah, karena terbukti terbukti lalai dalam mengendalikan kendaraannya. Kohtz menjalani hukuman penjara selama enam bulan, serta denda 300 euro. Selain itu surat ijin mengemudi (SIM)-nya pun ditarik untuk sementara waktu. “Saya seperti mati rasa, tapi yang terpenting Volvo telah dinyatakan bersalah,” kata wanita berusia 57 tahun itu.

 

“Seluruh upaya yang kami lakukan selama tujuh tahun belakangan ini berakhir dengan sukses. Semua fakta yang kami ungkapkan di pengadilan telah diterima, dan terbukti bahwa sistem pengereman Volvo tersebut memang cacat,” ungkap pengacara Kohtz, Thierry Kahn.

 

Sementara itu, jurubicara Volvo, Olle Axelson di Swedia menyatakan, pihaknya masih mempelajari detail dari putusan pengadilan tersebut. “Sesunguhnya ini murni kecelakaan, dan setiap orang bisa mengalaminya. Kami yakin tak ada yang salah dengan sistem pengereman mobil tersebut,” kilahnya.

 

Kecelakaan tragis ini terjadi pada 17 Juni 1999 di kota Wassellone, sebelah timur Perancis dan merenggut nyawa dua orang bocah yang berusia 9 tahun dan 10 tahun, sementara satu lainnya mengalami cedera serius. Saat kecelakaan ketiganya tengah berjalan ke sekolah, dan seorang guru sempat berlari untuk menyelamatkan ketiganya.

 

Selama persidangan, Kohtz berkeras bahwa ia telah berupaya untuk menghentikan laju kendaraan agar tak menabrak bocah-bocah itu. Sayangnya, sistem pengereman di mobil volvonya itu tak berfungsi, dan kecepatan pun tak berkurang. Sementara, pihak volvo melalui pengacaranya menyangkal adanya kerusakan pada sistem rem. Mereka berdalih, besar kemungkinan si pengemudi panik dan tak kemudian tak bisa membedakan pedal gas dan pedal rem. Namun, pengadilan menyatakan Volvo bersalah, karena terbukti bahwa sistem pengereman Volvo 850 TDI kurang sempurna pasca-dilakukan sejumlah modifikasi minor terhadap varian tersebut oleh pihak pabrikan. (AFP/GLO)

 

Keyword: Volvo 850 TDI