Mengenai bahasa dan indexing

Di bawah ini adalah dua post di FB yang mendapatkan perhatian menarik dari rekan-rekan saya. Berikut rangkumannya.

American Pixabay CC-0

Apakah benar menulis ilmiah harus dalam Bahasa Inggris?

Tidak masalah bila kita ingin belajar dengan banyak membaca artikel yang relevan dengan riset kita dalam Bahasa Inggris (karena mungkin tekniknya atau hasilnya sudah sangat maju). Sebaliknya kita juga harus mulai menumbuhkan kepercayaan diri, bahwa orang “non-Indonesia” pun akan berpikir hal yang sama kalau memerlukan artikel yang relevan dengan riset mereka. Artinya dalam bahasa apapun, akan dikejar, termasuk Bahasa Indonesia.

Pak Agah Garnadi dari IPB menanggapi bahwa ia teringat salah seorang matematikawan senior sewaktu di ANU. Matematikawan itu memerlukan hasil penelitian sekelompok peneliti di China. Merasa tidak cukup dengan hanya membaca abstraknya saja, dengan bantuan dosen bahasa China, dia mengumpulkan terminologi khusus di bidang ilmu dia agar dia bisa membaca artikelnya langsung. Bagi ilmuwan sains, gambar, grafik dan formula sudah merupakan informasi, sehingga banyak membantu.

Kemudian Surya Darma, yang selalu muncul dengan informasi menarik, menampilkan pranala tentang How did English become the language of science?

Yang tidak kalah menarik adalah komentar dari Pak Suharto. Beliau menyatakan bahwa Scopus tidak pernah menyatakan keharusan artikel dalam Bahasa Inggris sebagai syarat registrasi indeksasi.

Bernarkah hanya makalah/jurnal dalam Bahasa Inggris yang diindeks oleh Scopus?

Sepertinya tidak. Bila disimak pesan saya di bawah ini, makalah yang ada dalam jurnal-jurnal tersebut ditulis dalam Bahasa Melayu dengan tambahan judul dan abstrak dalam Bahasa Inggris.

Format tersebut mengingatkan saya kepada format artikel kami yang dimuat di Jurnal GEA UPI ini. Lihat juga artikel lainnya dalam terbitan terbarunya. Mirip bukan?

Selanjutnya komentar dari Pak Agah Garnadi malah memunculkan fakta ada jurnal di IPB yang telah diindeks Scopus dengan makalahnya ditulis dalam Bahasa Inggris tapi menyisipkan abstrak dalam Bahasa Indonesia, Jurnal Media Peternakan.

Rekan yang lain, Surya Darma, menyampaikan cita-cita Sutan Takdir Alisjahbana (STA) yang bercita-cita menjadikan Bahasa Indonesia sebagai bahasa pengatar Asia Tenggara. Yang tidak tercapai hingga akhir hayatnya.

Ardian Muhammad menyampaikan pertanyaan, apakah jurnal-jurnal DN (Dalam Negeri) yang diindeks Scopus sengaja menggunakan Bahasa Inggris untuk menarik penulis dari luar Indonesia? Saya jawab mungkin saja, karena jurnal-jurnal tersebut menayangkan  artikel dari penulis asing di setiap terbitannya.

Ia berharap juga bahwa semoga pengelola jurnal kita berani memilih nomor dua jika penentu kebijakan masih memosisikan S sbg pengindeks utama karena dosen (terlepas dari idealisme mereka terhadap publikasi) seperti pion yang hanya bisa mengikuti aturan saja ketika kebijakan sudah dibuat.

Harapan di atas ditimpali oleh Surya Darma, bahwa memang kebijakan setelah dibuat harus dipatuhi. Jadi tantangannya adalah merevisi kebijakan atau memberikan tawaran kebijakan baru lewat inisiatif-inisiatif seperti ini. Mungkin kita dapat merumuskan draf naskah kebijakan yang dapat ditawarkan ke publik, terutama para pemangku kepentingan terkait seperti dosen dan birokrat agar menjadi dorongan revisi kebijakan yang ada atau kebijakan yang baru sama sekali.

<< akan berlanjut >>

Prosiding dan jurnal mengapa harus dibedakan?

Terima kasih Mas Robbi Zhuge Rahim telah memulai diskusi tentang publikasi di prosiding dan jurnal.

Strom trooper Pixabay/Aitoff CC-0

Abstrak panjang vs makalah lengkap

Betul publikasi di jurnal dan prosiding memang beda. Kebanyakan orang menilai bahwa seleksi dan peer review untuk seminar yang berujung ke prosiding biasanya lebih “ringan” dibanding ke proses yang sama oleh pengelola jurnal.

Sebenarnya ada alasannya. Kebiasaan di LN, seminar adalah untuk menyebarluaskan hasil riset melalui tatap muka, baik via presentasi di ruangan (biasa kita sebut oral presentation, atau poster). Karena itu, yang diminta hanya selembar abstrak atau poster. Jadi tidak masalah andaikan Mas Robbi punya makalah di jurnal yang kemudian dipresentasikan ulang di suatu seminar. Nah di Indonesia memang ada kebiasaan yang agak berbeda. Publikasi di prosiding juga ditulis sebagai abstrak panjang, akibatnya dihitung sebagai publikasi terpisah. Karena berformat abstrak panjang (2500 kata rata-rata), maka bisa diindeks oleh Scopus.

Di sisi lain, makalah yang dikirimkan ke jurnal dipersyaratkan memiliki format makalah lengkap (full paper) dengan jumlah kata yang lebih panjang. Tujuannya untuk mendokumentasikan hasil riset atau buah pemikiran dari penulis.

Beberapa pertanyaan

Karena kebiasaan berbeda itulah, saya juga paham, kalau ada individu yang agak perlu penjelasan. Walaupun sebenarnya kalau ditanya pendapat saya. Tapi lupakan pengindeksan Scopus dulu.

Coba kita pikirkan sebuah seminar nasional “A” yang rutin diadakan sejak tahun 1980 an. Kita bandingkan dengan sebuah jurnal “B” yang juga terbit rutin sejak lama. Keduanya merupakan instrumen publikasi sebuah asosiasi profesi. Kita bayangkan juga bahwa tim inti editor dan peer reviewer keduanya adalah orang-orang yang hebat dibidangnya.

  1. apa yang menghalangi para panitia seminar untuk tidak bekerja seketat pengelola jurnal? apakah karena jumlah makalah yang dikirimkan ke seminar cukup banyak? Dan ini menyebabkan proses peer review perlu dilakukan lebih cepat?
  2. apa yang menghalanginya untuk tidak menerbitkan makalah sebagai spesial issu jurnal tersebut? Saya tahu beberapa jurnal telah bekerjasama dengan pengelola seminar untuk melakukan hal ini. Tapi jauh lebih banyak yang tidak.
  3. apakah satu-satunya alasan adalah sistem skor untuk PAK?

Kalau jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut kebanyakan adalah “tidak ada”, lantas apa yang menyebabkan keduanya dibedakan?

Jadi mestinya publikasi di seminar juga bisa saja dipersepsikan memiliki kualitas sama dengan paper yang diterbitkan jurnal, karena diseleksi dengan cara yang sama. Mohon pendapat dan dikoreksi bila ada salah.