So many ways to define originality? [Part 2]

Mengenai originality, saya menemukan satu artikel menarik yang ditulis oleh sekelompok peneliti (Michèle Lamont, Marcel Fournier, Joshua GuetzkowGrégoire
Mallard and Roxane Bernier), berjudul “Evaluating creative minds: the assessment of originality in peer review”, pada tahun 2007. Makalah tersebut dapat diunduh dari tautan http://www.gregoiremallard.com/site/Articlesfiles/Arnaud-10.pdf.

3125522033_ed64720326_q

(ilustrasi dipinjam dari: https://www.flickr.com/photos/lastyearsgirl_)

Dari yang telah saya baca sekilas, paper ini dibangun dari data interview secara personal kepada para reviewer grant funding di AS. Sebanyak 10 funding panel diinterview mengenai proses reviewing mereka. Seluruh funding panel berasal dari bidang ilmu sosial. Sebanyak 78 interview telah dilakukan, namun hanya 42 yang digunakan dalam analisis akhir.

Tentunya hasil yang akan disampaikan hanya akan relevan untuk ilmu sosial, belum tentu sama dengan bidang ilmu pasti atau engineering. Dari paper ini dapat dilihat bahwa para juri ini menentukan aspek originalitas dari kombinasi sisi subyektif dan sisi obyektif. Sisi subyektifnya lebih banyak ditentukan oleh keyakinan pengusul terhadap materi proposalnya. Reaksi psikologis yang menunjukkan ketidakyakinan terhadap originalitas, akan secara drastis menurunkan penilaian. Dari sisi kuantitatif, tim juri mencoba menilainya berdasarkan pemahaman umum tentang suatu bidang ilmu dan turunannya. Hal ini mereka baca di bagian tinjauan pustaka.

Sedikit mendetilkan sisi kuantitatifnya, saya beberapa kali juga mencoba menguji originalitas dari beberapa tugas akhir mahasiswa, baik S1, S2, maupun S3 (kalau untuk level S3 sebenarnya masih kurang PD). Sering sekali komponen ini memang agak terlupakan khususnya untuk mahasiswa S1 dan S2. Padahal ada kebiasaan baik di prodi saya, Teknik Geologi, untuk membuat Peta Indeks Penelitian Terdahulu. Isinya peta skematik yang menjelaskan siapa saja yang telah meneliti suatu daerah, mana batasnya, dan kapan itu dilakukan. Contohnya akan saya carikan ya, sabar. Atau ada yang mau menyumbangkan petanya?

Peta tersebut sangat baik untuk menjelaskan seberapa jauh dan seberapa luas, peneliti sebelumnya telah bekerja. Biasanya selain peta indeks tersebut, untuk level S2, juga diminta membuat struktur kata kunci topik yang digunakan dalam penelitian-penelitian terdahulu tersebut. Dari pohon topik (topic modeling tree) tersebut dapat dipahami seberapa dalam materi yang diobservasi, dianalisis, dan disimpulkan oleh periset terdahulu. Tentunya hal ini perlu dibahas lebih dalam di S2 dibanding di level S1. Contohnya juga akan saya carikan. Sabar.

Berkaitan dengan pengujian originalitas, hal yang biasa kita lakukan adalah sebagai berikut. Langkah-langkah ini merupakan hasil magang cukup lama pada peneliti senior, baik di lingkungan ITB (para pembimbing S1,S2,S3), Dikti, LPDP, dan yang terakhir saat mengikuti program posdok di University of Sydney. Untuk menguji originalitas, saya biasanya membaginya ke dalam dua arah. Arah pengujian vertikal, yakni berkaitan dengan waktu dan lingkup substansi (pohon topik riset atau disebut juga topic modeling), serta arah pengujian horizontal, berkaitan dengan penelitian-penelitian sejenis di daerah lain.

Secara vertikal saya biasanya mengurutkan lingkup topik menjadi demikian, misalnya (format pohonnya menyusul ya):

  1. Hidrogeologi
    • kawasan gunung api
      • tua atau muda
      • strato atau non strato
      • soliter atau kompleks gunung api
    • kelompok topik 1:
      • hidrokimia
      • hidrogeofisika
      • kontaminan
    • kelompok topik 2:
      • identifikasi kawasan imbuhan
      • identifikasi sistem akuifer

Kemudian saya pilih, topik yang paling terkait dengan skripsi yang sedang saya baca. Demikian contohnya kira-kira. Saya yakin, bapak dan ibu dapat mencari contoh yang sejenis.

Selanjutnya saya melihat variasinya secara horisontal, dengan kata lain, melihat topik sejenis yang diaplikasikan di daerah lain. Besar kemungkinan juga dalam bentuk skripsi. Dari sini saya mencoba menarik beberapa kemungkinan originalitas dari skripsi tersebut.

Dan percayalah. Sangat original.

Simak juga post selanjutnya Formatting (undergrad) thesis to publication. Sebagian materinya sudah diterbitkan sebagai seri tweet dari akun twitter www.twitter.com/belajargeologi.

Every point on this earth holds a piece of originality

Date: 2015-08-13, Thu

Author: Dasapta Erwin Irawan

Org version 7.9.3f with Emacs version 24

Validate XHTML 1.0

Lisensi Creative Commons: BY, NC, SA

Semua artikel dalam blog ini umumnya saya buat berdasarkan prinsip lisensi Creative Commons, lihat logo di bawah ini.

cc

Beberapa singkatan yang ada dalam logo di atas adalah ketentuan yang harus dipatuhi oleh pembaca yang ingin mengutip atau membagikan via media sosial:

  1. CC: Creative Commons -> dapat dibaca lebih jelas pada tautan berikut Creative Commons Org.
  2. BY: Attribution -> dokumen ini dapat dikutip dengan menyebutkan sumbernya (alamat tautan post ini)
  3. NC: Non Commercial -> dokumen ini dapat digunakan dalam karya atau kegiatan yang sifatnya Non Commercial.
  4. SAShare Alike -> dokumen dikutip tanpa ada penyuntingan, kecuali ada kesalahan ketik pada dokumen post aslinya.

Mangga langsung saja tekan tombol “share” di FB, “reshared” di Google +, “RT” di Twitter.

Salam @dasaptaerwin

Many ways to get originality

conceptoriginality

(Phillips and Pugh, 1984, How to get a PhD, Open University Press, Buckingham – Philadelphia)

Menurut para reviewer jurnal berpengalaman, yang pernah saya survei di
jejaring www.researchgate.net, originalitas dapat dibagi menjadi dua
golongan besar:

  1. Yang pertama, dan yang mudah dicapai, biasanya adalah karya yang menampilkan hasil yang baru. Hasil yang disampaikan tidak mengikuti hasil-hasil yang sebelumnya pernah dibahas atau ditulis oleh peneliti atau penulis sebelumnya. Dalam ilmu kebumian bisa diambil contoh mudah. Ada satu lokasi yang mengandung satu sesar
    besar. Selama ini sesar tersebut selalu disebut sebagai sesar geser yang homogen di sepanjang bagiannya. Nah, anda sebagai peneliti kesekian, mendapatkan beberapa bukti yang menyatakan bahwa ada segmen tertentu yang lebih cocok disebut sebagai sesar normal. Atau contoh lain, anda datang di satu wilayah perkotaan di tepi pantai yang telah mengalami intrusi air laut dalam bentuk zona. Data anda yang lebih rapat, membuktikan bahwa intrusi air laut tersebut mengikuti jalur-jalur unik menjari. Dari data geofisika, anda dapati bahwa jalur-jalur air asin tersebut mengikuti alur-alur sungai purba yang menjorok ke laut. Pastinya ada banyak contoh lain yang bisa anda cari.
  2. Golongan kedua adalah karya ilmiah yang menggunakan pendekatan, teknik, atau metode baru, yang sekaligus mampu menyampaikan hasil-hasil yang unik. Pendekatan itu dapat membantu pengembangan ilmu secara signifikan. Bisakah anda cari contoh yang seperti ini. Tidah harus rocket science atau Nobel prize research ya.

Pendapat lain dari Phillips and Pugh dalam bukunya yang berjudul Hot to get a PhD terbitan Open University Press pada tahun 1984 (masih dicari bukunya), menyatakan bahwa ada 12 cara macam originalitas, walaupun terus terang saya perlu waktu untuk mencari contohnya, yaitu:

  1. Menjadi yang pertama kali menyampaikan informasi
    baru,
  2. Mengembangkan atau berkolaborasi dalam kegiatan riset yang
    sedang berjalan, untuk menghasilkan hal-hal baru,
  3. Mengerjakan ulang (mereproduksi) hasil karya orang lain, yang ternyata
    menghasilkan informasi baru,
  4. Menciptakan produk (barang) baru,
    atau mengembangkan yang telah ada sebelumnya untuk menambahkan
    nilai atau fungsi yang baru,
  5. Mereinterpertasi teori yang sudah
    ada, dalam konteks yang berbeda,
  6. Mendemonstrasikan originalitas
    dengan menguji ide milik orang lain,
  7. Mengerjakan riset empiris
    yang belum pernah dikerjakan sebelumnya, misal membuat kuesioner
    tentang suatu hal yang belum pernah diuji
    sebelumnya,
  8. Menggunakan pendekatan metode yang berbeda untuk
    menjawab masalah,
  9. Membuat sintesis informasi dengan cara yang
    berbeda,
  10. Menyusun interpretasi baru dari data atau informasi
    yang telah ada. Sepertinya ini biasa terjadi di bidang /geosains/.
  11. Mereproduksi suatu riset pada konteks yang
    berbeda, untuk bidang geosains, misalnya mencoba suatu metode yang
    pernah dilakukan di luar negeri ke suatu lokasi di Indonesia yang
    mirip kondisi geologinya,
  12. Mengaplikasi ide yang sudah ada di
    lokasi yang baru. Ini juga kerap kita lihat di bidang geosains,
  13. Mengembangkan perangkat atau teknik multi disiplin
    untuk memecahkan suatu masalah,
  14. Mengembangkan portofolio riset,
    berisi kerangka historis, plus dan minus, sejenis literature review, yang dapat memberikan kontribusi kepada khasanah ilmu
    pengetahuan,
  15. Mengadakan kajian yang belum pernah diriset
    sebelumnya,
  16. Membuat analisis kritis terhadap hasil riset yang
    belum pernah diuji keabsahannya,

Date: 2015-08-11

Author: Dasapta Erwin Irawan

Org version 7.9.3f with Emacs version 24

Validate XHTML 1.0

cc

Artikel ini dibuat dengan lisensi Creative Commons yang dapat disebarkan secara langsung dengan ketentuan:

  1. “BY”: atribution -> dengan menyebut sumbernya (alamat tautan blog ini)
  2. “NC”: non commercial -> untuk kegiatan atau dokumen turunan yang sifatnya non-komersial
  3. SA: share alike -> mengutip hendaknya secara langsung tanpa disunting, kecuali bila ada kesalahan ketik dalam dokumen blog post ini.

Every point on this earth holds a piece of originality?

Judul tulisan pendek (yang tidak penting) ini ada maksudnya, baca sampai bawah ya.

1 Apakah SK ini masih berlaku?

SK apakah itu? Masih ingat di bulan Januari tahun 2012 pernah ada keresahan (kalau tidak boleh dibilang kehebohan). Saat SE-DirjenDikti-152-E-T-2012 diterbitkan.

screen

Hah? apa iya?

Hehe, apakah anda belum lahir tahun 2012…

Coba anda unduh saja tautan di atas.

Jadi dalam SE tersebut tercantum bahwa terhitung mulai kelulusan setelah Agustus 2012 diberlakukan ketentuan sebagai berikut:

  1. Untuk lulus program Sarjana harus menghasilkan makalah yang terbit pada jurnal ilmiah.
  2. Untuk lulus program Magister harus telah menghasilkan makalah yang terbit ada jurnal ilmiah nasional diutamakan yang terakreditasi Dikti.
  3. Untuk lulus program Doktor harus telah menghasilkan makalah yang diterima untuk terbit pada jurnal internasional.

Untuk yang nomor 2 dan 3, jangan ditanya ya, mungkin akan saya tulis di kesempatan lain. Tapi yang nomor 1?

Really?

Is your (so called) undergrad thesis worth publishing?

Untung saya sudah lulus lama sebelum tahun 2012. Tapi mungkin anda tidak percaya, dua pembimbing saya dulu pun (Yth Prof. Deny Juanda dan Dr. Suyatno Yuwono) sudah menyampaikan hal yang sama. Dan saya dan mitra tugas akhir saya (Yth Toddy Achmad Syaifullah, ST. MT, saat ini berkerja dan bermukim di Australia) memang pernah mempublikasikan skripsi saya menjadi makalah ilmiah. Dua tahun setelah saya lulus. Saat itu saya sendiri juga tidak percaya bahwa skripsi saya yang tidak sampai 100 halaman, bisa jadi makalah sebanyak 15 halaman.

Masih ada filenya?

Saya yakin ada.

Mana?

Itu masalah lain.

Mungkin Redaksi Buletin Geologi masih menyimpan?

Pastinya, tapi untuk mempermudahnya, saya carikan file pdfnya ya. Sabar.

2 Apakah benar skripsi anda layak untuk dipublikasikan?

Anda mungkin tidak percaya, tapi jawabannya adalah IYA. Apalagi bagi anda yang kuliah di prodi-prodi sains kebumian (geologi, salah satunya). Karena setiap titik di bumi ini mengandung sekeping originalitas.

Every points on this earth holds a piece of originality

Bukan hasil “copas” dari motivator terkenal itu ya. Kalau saya google, sepertinya belum pernah ada yang bilang seperti itu.

Menurut Professor Michael Talbot dari University of Liverpool yang disitir dalam situs ini menjelaskan beberapa kombinasi yang paling mungkina dalam originalitas:

  1. Fakta baru + ide baru (derajatnya paling tinggi)
  2. Fakta baru + ide lama
  3. Fakta lama + ide baru
  4. Fakta lama + ide lama + cara penyampaian yang baru (derajatnya paling rendah)

Nah menurut saya, skripsi bidang geologi dapat masuk ke no 2 atau no 3. Bisakah anda menyebutkan contohnya?

(bersambung). Connect with my scientific network on twitter account @dasaptaerwin

Blogging using Org version 7.9.3f with Emacs version 24.

WTF: Apakah csl itu?

Table of Contents

Naskah ini merupakan draft awal yang menjadi bagian dari buku Menulis (ilmiah) itu menyenangkan yang ditulis oleh saya dan istri saya. Ilustrasi oleh: Fusi. Tulisan ini diilhami diskusi yang kami ikuti berkaitan dengan template tugas akhir. Seperti biasa, naskah ditulis dalam format text file menggunakan Emacs org-mode. Semoga bermanfaat.

1 Gaya sitasi

Anda pasti pernah melihat Daftar Pustaka. Isinya adalah identitas lengkap rujukan yang telah anda gunakan dalam teks. Mungkin isinya akan seperti ini:
`

Irawan, DE., Silaen, H., Sumintadireja, P., Lubis, RF., 
Brahmantyo, B., and Puradimaja, DJ. (2014). 
Groundwater-surface water interactions of Ciliwung River streams, 
segment Bogor-Jakarta, Indonesia, Environmental Earth Sciences, 
73(7). doi:10.1016/j.obhdp.2007.08.002

Kalau anda bandingkan antara dua jurnal yang berbeda, seringkali gaya penulisan pustakanya berbeda. Ini karena di dunia setidaknya dikenal ada empat gaya sitasi:

  • APA
  • MLA
  • Harvard
  • Vancouver

Masing-masing memiliki format tersendiri untuk penulisan rujukan maupun teknik menulis rujukan dalam teks. Bila rujukan yang anda gunakan, hanya lima atau 10, mungkin tidak masalah kita ketik manual. Tapi kalau jumlah rujukannya sudah 50 bahkan lebih, maka anda akan memerlukan aplikasi yang mendukung citation management.

Seperti yang telah sering saya jelaskan, bahwa komponen dari citation manager terdiri dari:

  1. aplikasi citation manager, misal: Zotero, Mendeley, EndNote,
  2. konektor ke perambah (/browse/r): anda bisa menggunakan Google Chrome, Mozilla Firefox, atau Safari,
  3. konektor ke pengolah kata: anda bisa menggunakan LibreOffice, TexStudio (LaTex), atau Microsoft Office.
  4. citation style language (csl) file: file ini ada yang sudah terinstalasi di dalam aplikasi citation manager, tapi anda akan perlu menginstalasi file csl tambahan untuk sesuai dengan permintaan jurnal tujuan anda menulis.

2 File CSL

CSL adalah singkatan dari Citation Style Language. Ini adalah file text (ASCII) yang dapat anda buka dengan aplikasi “Notepad” biasa. Sesuai namanya file ini menyimpan gaya sitasi. Biasanya nama filenya adalah nama akan sesuai dengan gaya sitasi, misal: hydrogeology-journal.csl.

Isinya kurang lebih adalah sebagai berikut:

<style xmlns="http://purl.org/net/xbiblio/csl" version="1.0" default-locale="en-US">
<!--
 Generated with https://github.com/citation-style-language/utilities/tree/master/generate_dependent_styles/data/springer 
-->
<info>
<title>Hydrogeology Journal</title>
<title-short>Hydrogeol J</title-short>
<id>http://www.zotero.org/styles/hydrogeology-journal</id>
<link href="http://www.zotero.org/styles/hydrogeology-journal" 
rel="self"/>
<link href="http://www.zotero.org/styles/springer-
xbasic-author-date" 
rel="independent-parent"/>
<link href=
"http://www.springer.com/cda/content/document/cda_downloaddocument/
Key_Style_Points_1.0.pdf" 
rel="documentation"/>
<link href="http://www.springer.com/cda/content/document/
cda_downloaddocument/manuscript-guidelines-1.0.pdf" rel="documentation"/>
<category citation-format="author-date"/>
<category field="science"/>
<issn>1431-2174</issn>
<eissn>1435-0157</eissn>
<updated>2014-05-18T01:40:32+00:00</updated>
<rights license="http://creativecommons.org/licenses/by-sa/3.0/">
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License
</rights>
</info>
</style>

Mumet bukan?

Dengan demikian nama csl harus diketahui sebelum anda mengunduhnya
dari repositori csl, dalam hal ini kita akan menggunakan citation
manager
Zotero yang repositorinya ada di tautan:
http://www.zotero.org/styles. Jadi daripada harus belajar programming
csl file, lebih baik, cari namanya kemudian unduh filenya.

3 Aliran kerja citation management

Secara sederhana, pengelolaan sitasi atau citation management dapat dijelaskan dalam diagram alir sebagai berikut. Komponen utamanya adalah:

  • aplikasi citation management,
  • connector to browser dan connector to word-processor.

Aliran kerja diawali dengan anda mencari rujukan yang anda perlukan melalui perambah/browser (anda dapat menggunakan Chrome, Firefox, atauapun Safari). Umumnya para pengguna akan mengunjungi situs database ilmiah sebagai berikut:

  • Google Scholar
  • Scopus
  • Sciencedirect
  • Proquest
  • dll

citmanage.png

Figure 1: Aliran kerja citation management

Saat anda menemuka makalah yang anda perlukan, selain mengundung pdf filenya, yakinkan anda mengunduh citation info (cari tombol “Export” atau “Export” citation), pilih format citation info yang sesuai dengan citation manager yang anda gunakan. Bila anda memilih format “BibTex” atau “text file”, maka umumnya semua aplikasi citation manager akan mengenalnya. Citation info adalah metadata dari setiap rujukan yang anda unduh. Nantinya, citation info akan di-import ke dalam aplikasi citation manager anda, hingga menghasilkan item sitasi yang siap untuk dirujuk dalam teks. Anda dapat pula menempelkan pdf file ke item sitasi yang bersangkutan.

Cara lainnya, adalah, bila anda menggunakan Zotero dan telah menginstalasi browser connector, anda dapat langsung meng-klik tombol bergambar “huruf Z” atau “folder warna biru”. Hasilnya akan muncul form pilihan sitasi mana yang diperlukan, atau klik saja “Select all”. Kemudian secara otomatis, browser connector akan mengunduh citation info dan pdf file (bila memang tersedia) dan memasukkannya ke dalam library di aplikasi Zotero. Akan lebih baik anda buka terlebih dahulu Zotero, pilih library atau koleksi target penyimpanan atau buat baru, sebelum anda melakukan langkah tersebut di atas.

Hasilnya dapat langsung anda lihat di koleksi Zotero anda. Semua citation info dan pdf file akan tersimpan di dalamnya. Mudah dan cepat bukan.

4 Contoh

Bila ada kasus seperti ini:

Dalam template tesis/disertasi ada format sitasi yang dibakukan. Pertanyaan: apa nama gaya sitasinya? Misal APA, MLA, Harvard? Atau merujuk ke jurnal-jurnal tertentu.

Bila anda menghadapi hal ini, setidaknya anda harus mengetahui bidang ilmunya, misal: apakah ilmu kebumian (earth sciences) atau ilmu alam (natural sciences). Bila ada sudah tahu, maka anda dapat mengunjungi repositori csl dari citation manager yang anda gunakan. Bila anda menggunakan Zotero, maka anda harus ke http://www.zotero.org/styles. Masukkan kata kunci bidang ilmunya, bila anda sorot tautan hasil pencarian, maka akan muncul preview dari gaya sitasi yang bersangkutan. Kemudian anda cocokkan saja dengan contoh yang diberikan.

Namun bila anda sudah melakukan hal di atas dan ternyata tidak ditemukan gaya sitasi yang mirip, maka mungkin bidang ilmunya keliru. Coba kata kunci yang lain. Cara lain bila sudah buntu, ya harus belajar bagaimana membuat csl sendiri. Pilih saja gaya sitasi yang paling mirip, kemudian anda edit. Saya belum dapat memberikan tutorial karena memang saya juga masih belajar.

Sebenarnya karena csl file adalah text file dan punya format baku, maka anda dapat bebas mengikuti tutorial yang banyak tersedia di dunia maya. Tapi kalau anda menggunakan Zotero, saya sarankan anda kunjungi tautan berikut: https://www.zotero.org/support/dev/citation_styles/style_editing_step-by-step.

WTF: APAKAH CSL ITU?

What is csl?

Table of Contents

Naskah ini merupakan draft awal, bagian dari buku “Menulis (ilmiah) itu menyenangkan”. Artikel pendek ini diilhami diskusi yang kami ikuti beberapa hari lalu mengenai citation style language dalam format penulisan tugas akhir. Seperti biasa, dokumen ini ditulis dalam text mode menggunakan Emacs org-mode, tanpa Ms Word. Semoga bermanfaat.

1 Gaya sitasi

Anda pasti pernah melihat Daftar Pustaka. Isinya adalah identitas lengkap rujukan yang telah anda gunakan dalam teks. Mungkin isinya akan seperti ini:
`

Irawan, DE., Silaen, H., Sumintadireja, P., Lubis, RF., 
Brahmantyo, B., and Puradimaja, DJ. (2014). 
Groundwater-surface water interactions of Ciliwung River streams, 
segment Bogor-Jakarta, Indonesia, Environmental Earth Sciences, 
73(7). doi:10.1016/j.obhdp.2007.08.002

Kalau anda bandingkan antara dua jurnal yang berbeda, seringkali gaya penulisan pustakanya berbeda. Ini karena di dunia setidaknya dikenal ada empat gaya sitasi:

  • APA
  • MLA
  • Harvard
  • Vancouver

Masing-masing memiliki format tersendiri untuk penulisan rujukan maupun teknik menulis rujukan dalam teks. Bila rujukan yang anda gunakan, hanya lima atau 10, mungkin tidak masalah kita ketik manual. Tapi kalau jumlah rujukannya sudah 50 bahkan lebih, maka anda akan memerlukan aplikasi yang mendukung citation management.

Seperti yang telah sering saya jelaskan, bahwa komponen dari citation manager terdiri dari:

  1. aplikasi citation manager, misal: Zotero, Mendeley, EndNote,
  2. konektor ke perambah (/browse/r): anda bisa menggunakan Google Chrome, Mozilla Firefox, atau Safari,
  3. konektor ke pengolah kata: anda bisa menggunakan LibreOffice, TexStudio (LaTex), atau Microsoft Office.
  4. citation style language (csl) file: file ini ada yang sudah terinstalasi di dalam aplikasi citation manager, tapi anda akan perlu menginstalasi file csl tambahan untuk sesuai dengan permintaan jurnal tujuan anda menulis.

2 File CSL

CSL adalah singkatan dari Citation Style Language. Ini adalah file text (ASCII) yang dapat anda buka dengan aplikasi “Notepad” biasa. Sesuai namanya file ini menyimpan gaya sitasi. Biasanya nama filenya adalah nama akan sesuai dengan gaya sitasi, misal: hydrogeology-journal.csl.

Isinya kurang lebih adalah sebagai berikut:

<style xmlns="http://purl.org/net/xbiblio/csl" version="1.0" default-locale="en-US">
<!--
 Generated with https://github.com/citation-style-language/utilities/tree/master/generate_dependent_styles/data/springer 
-->
<info>
<title>Hydrogeology Journal</title>
<title-short>Hydrogeol J</title-short>
<id>http://www.zotero.org/styles/hydrogeology-journal</id>
<link href="http://www.zotero.org/styles/hydrogeology-journal" 
rel="self"/>
<link href="http://www.zotero.org/styles/springer-
xbasic-author-date" 
rel="independent-parent"/>
<link href=
"http://www.springer.com/cda/content/document/cda_downloaddocument/
Key_Style_Points_1.0.pdf" 
rel="documentation"/>
<link href="http://www.springer.com/cda/content/document/
cda_downloaddocument/manuscript-guidelines-1.0.pdf" rel="documentation"/>
<category citation-format="author-date"/>
<category field="science"/>
<issn>1431-2174</issn>
<eissn>1435-0157</eissn>
<updated>2014-05-18T01:40:32+00:00</updated>
<rights license="http://creativecommons.org/licenses/by-sa/3.0/">
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License
</rights>
</info>
</style>

Mumet bukan?

Dengan demikian nama csl harus diketahui sebelum anda mengunduhnya
dari repositori csl, dalam hal ini kita akan menggunakan citation
manager
Zotero yang repositorinya ada di tautan:
http://www.zotero.org/styles. Jadi daripada harus belajar programming
csl file, lebih baik, cari namanya kemudian unduh filenya.

zoterorepo

Figure 1: Tampilan repositori csl Zotero

3 Aliran kerja citation management

Secara sederhana, pengelolaan sitasi atau citation management dapat dijelaskan dalam diagram alir sebagai berikut. Komponen utamanya adalah:

  • aplikasi citation management,
  • connector to browser dan connector to word-processor.

Aliran kerja diawali dengan anda mencari rujukan yang anda perlukan melalui perambah/browser (anda dapat menggunakan Chrome, Firefox, atauapun Safari). Umumnya para pengguna akan mengunjungi situs database ilmiah sebagai berikut:

  • Google Scholar
  • Scopus
  • Sciencedirect
  • Proquest
  • dll

citmanage

Figure 2: Aliran kerja citation management

Saat anda menemuka makalah yang anda perlukan, selain mengundung pdf filenya, yakinkan anda mengunduh citation info (cari tombol “Export” atau “Export” citation), pilih format citation info yang sesuai dengan citation manager yang anda gunakan. Bila anda memilih format “BibTex” atau “text file”, maka umumnya semua aplikasi citation manager akan mengenalnya. Citation info adalah metadata dari setiap rujukan yang anda unduh. Nantinya, citation info akan di-import ke dalam aplikasi citation manager anda, hingga menghasilkan item sitasi yang siap untuk dirujuk dalam teks. Anda dapat pula menempelkan pdf file ke item sitasi yang bersangkutan.

Cara lainnya, adalah, bila anda menggunakan Zotero dan telah menginstalasi browser connector, anda dapat langsung meng-klik tombol bergambar “huruf Z” atau “folder warna biru”. Hasilnya akan muncul form pilihan sitasi mana yang diperlukan, atau klik saja “Select all”. Kemudian secara otomatis, browser connector akan mengunduh citation info dan pdf file (bila memang tersedia) dan memasukkannya ke dalam library di aplikasi Zotero. Akan lebih baik anda buka terlebih dahulu Zotero, pilih library atau koleksi target penyimpanan atau buat baru, sebelum anda melakukan langkah tersebut di atas.

Hasilnya dapat langsung anda lihat di koleksi Zotero anda. Semua citation info dan pdf file akan tersimpan di dalamnya. Mudah dan cepat bukan.

4 Contoh

Bila ada kasus seperti ini:

Dalam template tesis/disertasi ada format sitasi yang dibakukan. Pertanyaan: apa nama gaya sitasinya? Misal APA, MLA, Harvard? Atau merujuk ke jurnal-jurnal tertentu.

Bila anda menghadapi hal ini, setidaknya anda harus mengetahui bidang ilmunya, misal: apakah ilmu kebumian (earth sciences) atau ilmu alam (natural sciences). Bila ada sudah tahu, maka anda dapat mengunjungi repositori csl dari citation manager yang anda gunakan. Bila anda menggunakan Zotero, maka anda harus ke http://www.zotero.org/styles. Masukkan kata kunci bidang ilmunya, bila anda sorot tautan hasil pencarian, maka akan muncul preview dari gaya sitasi yang bersangkutan. Kemudian anda cocokkan saja dengan contoh yang diberikan.

Namun bila anda sudah melakukan hal di atas dan ternyata tidak ditemukan gaya sitasi yang mirip, maka mungkin bidang ilmunya keliru. Coba kata kunci yang lain. Cara lain bila sudah buntu, ya harus belajar bagaimana membuat csl sendiri. Pilih saja gaya sitasi yang paling mirip, kemudian anda edit. Saya belum dapat memberikan tutorial karena memang saya juga masih belajar.

Sebenarnya karena csl file adalah text file dan punya format baku, maka anda dapat bebas mengikuti tutorial yang banyak tersedia di dunia maya. Tapi kalau anda menggunakan Zotero, saya sarankan anda kunjungi tautan berikut: https://www.zotero.org/support/dev/citation_styles/style_editing_step-by-step.

WTF: Menguji benang merah dalam naskah

Table of Contents

Blog post ini adalah bagian dari Buku “Menulis (ilmiah) itu menyenangkan”, yang ditulis berdua oleh saya dan istri saya. Ilustrasi oleh: Fusi. Naskah ini ditulis dengan Emacs org-mode dalam format text dan sama sekali tidak menggunakan word processor, apa lagi Ms Word.

1 Tulisan harus mengalir

Kalau di Indonesia benangnya berwarna merah, kalau di negeri seberang dinamai silver lining. Terlepas dari warnanya, di sini kami ingin menyampaikan bahwa menulis itu tidak bisa sekali jadi. Harus diulang-ulang agar jadi lebih baik, terutama di bagian alur penulisan. Harus diyakini alur tulisan terhubung dari awal hingga akhir, dan bermuara ke judul. Sebagaimana air, tulisan harus mengalir, dari awal (bab pendahuluan) hingga akhir (bab kesimpulan). Cara mudahnya adalah anda tinggal memberikan draft makalah anda kepada seseorang yang belum pernah membacanya. Mudah memang, tapi malu juga kan kalau kondisinya masih penuh carut-marut. Oleh karenanya anda perlu memeriksanya terlebih dahulu, setidaknya tiga kali.

Draft ke-1 - baca - edit - Draft ke-2 - baca - edit - Draft ke-3.

2 Writing is iterative: Menulis tidak sekali jadi

Menulis itu adalah proses iteratif, berulang terus-menerus. Kalau anda menulis hari ini, mungkin anda akan tertawa terbahak-bahak saat membacanya kembali lima tahun kemudian. Jadi jangan mudah “ngambek” kalau tulisan anda ditolak oleh suatu jurnal, sudah biasa itu. Di sisi lain, jangan mudah menyerah bila merasa “mentok” dan tidak ada sepatah katapun yang mengalir. Mungkin anda perlu berhenti sejenak, memikirkan hal lain. Atau, cara saya ini, coba tinggalkan PC atau laptop anda, ambil kertas dan pena, mulailah menulis dengan itu. Menulis (jotting) atau menggambar skema, kerangka penulisan, atau apapun, kuras pikiran anda. Esok hari coba lihat lagi di depan PC atau laptop. Kemungkinan besar, anda bisa mulai menghasilkan satu dua paragraf, bahkan mungkin lima halaman setelahnya. Coba lihat peta konsep (concept map) yang mengisahkan proses iteratif dalam menulis berikut ini, dari UWC Writing Centre. writingprocess Figure 1: Proses menulis yang iteratif Menurut gambar tersebut, menulis diawali dengan ide, mungkin ide kasar. Kemudian mulailah ada kerangka penulisan, selanjutnya berkembang menjadi kalimat. Kumpulan kalimat membentuk sub bab. Kumpulan sub bab pada akhirnya membuat bab. Tidak berhenti di situ. Saat menguji benang merah anda perlu juga meninjau ulang keterkaitan:

  • antar kata dalam satu paragraf,
  • antar paragraf dalam satu sub bab,
  • antar sub bab yang satu dengan yang lain dalam bab yang sama,
  • antar bab sejak Bab Pendahuluan hingga Bab Kesimpulan.
benangmerah Figure 2: Menguji benang merah

Anda dapat membuat suatu skema sebagai berikut bila diperlukan. Cara saya ini mungkin memudahkan anda untuk memeriksa kembali alur substantif sejak pertanyaan riset, hipotesis, analisis, hingga pada akhirnya disimpulkan. Menulis itu perlu latihan. Bila anda baru memulai, memang seolah-olah prosesnya terlalu panjang. Tapi percayalah, makin sering anda menulis, maka pola kerja anda akan semakin otomatis dan spontan. Tiba-tiba anda sadar, dapat menulis berlembar-lembar dalam waktu singkat. Menulis juga penuh dengan kritik dan masukan, karenanya anda tidak boleh mudah “pundung”. Dengarkan kritik, catat, dan lupakan sementara waktu. Sleep on it. Lihat lagi bermacam kritik tersebut esok hari saat sudah tenang. Percayalah, lebih baik anda menerima banyak kritik yang pada akhirnya akan membuat tulisan anda lebih baik. Daripada anda merasa karya sudah lengkap dan sempurna, kemudian dijatuhkan oleh para pakar saat anda menyampaikan dalam forum ilmiah atau sidang sarjana/tesis/doktor.

3 Storyboard test: Menguji alur tulisan

Masihkah anda mengingat tentang storyboard dan storytelling yang telah saya sampaikan pada bab-bab awal. Ada baiknya anda membuat skema penulisan secara substantif, sejak latar belakang hingga kesimpulan, contohnya seperti dalam skema berikut ini.

alurpikir Figure 3: Menguji alur pikir