Tag Archives: openscience

DESCOM: Indonesian scientist to extend microscope lifetime

Video ini saya rekam sebagai Facebook Live Video hari Kamis lalu 18 Januari 2017 pada Acara Pameran Hasil Riset ITB 2017 yang diselenggarakan oleh LPPM ITB.

Dr. Andri Subandrio, seorang ahli mineralogi dari Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian dalam 10 tahun ini telah mendedikasikan waktunya untuk bereksperimen dengan kamera dan lensa. Beliau ini telah membuat sebuah konektor yang menghubungkan mikroskop refraksi analog (non-digital) dengan kamera digital. Alat ini dapat dipasang dan dimodifikasi untuk berbagai jenis mikroskop. Alat ini telah teruji untuk menampilkan citra cantik sayatan tipis batuan dari mikroskop berusia lebih dari seabad.

Piranti lunak ini diberi nama DESCOM (Digital Enhanced System Camera for Old Microscope). Simak berita ini di laman ITB.

Bagi pembaca yang belum paham mengenai sayatan tipis, mineragrafi, dan mikroskop refraksi dapat membaca artikel menarik Pengamatan Mineral Transparan dengan Mikroskop Refraksi dari seorang blogger yang doktor Andy Yahya.

Selamat untuk Jurnal berkala Ilmu Perpustakaan

Setelah IJAIN, berikut kabar gembira selanjutnya.

Selamat kepada Jurnal Berkala Ilmu Perpustakaan UGM (Jurnal BIP UGM) yang telah terakreditasi. Berikut makalah kami tentang SainsTerbuka yg telah terbit di jurnal tsb.

https://jurnal.ugm.ac.id/bip/article/view/17054

Oya. Saya tidak pernah hapal tautan setiap makalah yang pernah saya tulis. Seringkali saya harus googling tulisan saya sendiri. Seperti juga saat mencari tautan makalah ini. Toh keluar juga dengan menggunakan Google web.

Kurang apa lagi dengan jurnal DN, gratis, OpenAccess, mudah dicari dengan mesin pencari standar. Kenapa harus repot daftar-daftar indeks yang lain lagi?

Menjadi internasional tidak perlu tergantung indeksasi LN 😉. Mesin Pencari adalah sobat anda terdekat.

Jurnal OpenAccess: kualitas vs prestise

Pendahuluan

Saat ada waktu senggang, saya membuat gambar di atas. Apakah memang relevan dengan kondisi dunia publikasi ilmiah saat ini? Tidak hanya di Indonesia, di luar negeri pun, via Twitter, saya memantau hal ini. Jurnal OA (open access) selalu diasosiasikan dengan kualitas rendah (setidaknya bila dibandingkan dengan jurnal non-OA). Tidak diindeks oleh ini dan itu. Tapi kalaupun telah diindeks ini dan itu, publik tetap meminta lebih. Fenomena di Indonesia, publik tetap meminta jurnal produk LN, yang diposisikan di atas produk DN. Apakah benar?

Beberapa hal berikut ini merupakan persepsi yang paling umum saat penulis mendengar kata-kata “Open Access”. Beberapa referensi utama yang saya gunakan dalam artikel ini adalah:

  1. Thinking about prestige, quality, and open access yang ditulis oleh Peter Suber untuk SPARC Newsletter isu no 125 yang terbit pada bulan September 2008. Sudah hampir 10 tahun, tapi nampaknya masih relevan hingga sekarang. Terutama di Indonesia.
  2. Deep impact: unintended consequences of journal rank yang ditulis oleh Björn Brembs, Katherine Button, Marcus Munafò (ketiganya ahli syaraf) yang terbit di jurnal Frontiers of Neuroscience, tapi ada versi preprintnya di Arxiv.

OpenAccess: selalu salah :)

Continue reading Jurnal OpenAccess: kualitas vs prestise

Freedom to publish

Pagi (buta) ini saya menerima tiga surel, satu menanyakan komentar saya mengenai tawaran dari sebuah penerbit LN untuk menerbitkan buku. Surel kedua menanyakan mengenai INARxiv dan apakah dibolehkan mengirimkan makalah yang telah daring sebagai preprint ke sebuah jurnal. Surel ketiga mengomentari aktivitas saya sebagai blogger, bagaimana saya bisa menulis artikel — hampir setiap pagi — , dari mana idenya. Ketiganya bertema freedom to publish (kebebasan untuk publikasi) . Saya masih sulit untuk mencari padanan katanya. Untuk ketiganya, saya menulis artikel blog yang akhirnya saya pisahkan jadi tiga artikel.

Pixabay (CC-0)

Untuk menjawab pertanyaan ketiga, saya sampaikan surel balasan saya dengan menganonimkan penerimanya.

Continue reading Freedom to publish

Preprints, Arxiv and INARxiv (a view from Prof. Bryan Gaensler)

For some of you who are still skeptical or still having doubts about preprint and how it supports science, you might want to watch this video.

I found it while researching on research data management. It was posted under University of Sydney Library channel.

Some strong sentences about preprints were mentioned by this speaker, Prof. Bryan Gaensler, an astronomer now with University of Toronto.

Here are some of his strong points (some of which perhaps are applicable limited to the science of astronomy, physics and math):

  • Preprints support citation (in some field). Nobody bother to read journals anymore if they can read it on Arxiv three months earlier,
  • One step to promote your science is by putting your paper on Arxiv,
  • Posting preprints can lead to collaboration. So it’s not a paper before it went to Arxiv previously.

Here are some links on Prof. Bryan Gaensler:

You know what I like about persons like this one I’m presenting?

I like how he/she spends a lot of time to setup an outreach mechanism for his/her research. They look at impact way further than just a number listed as Impact Factor and citations.

But yeah, you don’t always agree with me. You could always go back to your Scopus indexing and IF hunts as you earn your way as famous academia.

@dasaptaerwin

And yes we run INARxiv the preprint server of Indonesia and read related articles on preprint and post print here Open Science Indonesia.

Review dokumen Pedoman Publikasi Ilmiah (Kemristekdikti, 2017)

Blog post ini awalnya adalah review terhadap Review dokumen Pedoman Publikasi Ilmiah (Kemristekdikti, 2017) yang kemudian akan kami kembangkan sebagai makalah berjenis literature review.

Dokumen ini disusun secara bersama dengan koordinator Dasapta Erwin Irawan (ITB). Review singkat ini blm dilengkapi  konteks lengkap.

Kontributor: …., …., …. (silahkan tambahkan nama anda dan afiliasinya)

Silahkan baca versi lengkapnya di tautan Authorea berikut https://www.authorea.com/189560/wtaxIsuraB7KuyE0FKzbDA. Kirimkan kontribusi anda melalui surel ke

dasaptaerwin (@) gmail (.) com.

Terimakasih.

Umum

Panduan tapi isinya dr awal sampai akhir menggunakan Elsevier. Namun demikian saya melihat ada maksud baik utk meluaskan wawasan dgn disebutnya beberapa lembaga, misal ORCID dalam dokumen ini.

Khusus

Hal 24: Kalau ada atau tidaknya DOI (digital object identifier) menjadi kriteria kejelasan sumber, maka akan muncul masalah karena akan adanya banyak makalah yang secara substansi bagus, tersedia daring, tapi belum punya DOI. Konteks: DOI saat ini penting karena menyediakan persisten link atau tautan tetap terhadap segala obyek digital, tidak hanya makalah ilmiah. Datapun yang diunggah secara daring di repositori yang bekerjasama dengan Crossref, akan dapat menerbitkan DOI.