Depsy: software “impact factor”

Saat ini jam 2 pagi, pertama kali saya melihat tweet tentang Depsy di time line (lini masa, kalau di Indonesiakan). Tidak tahan saya untuk meluangkan waktu 15 menit untuk menulis tentang platform open source tersebut. Berikut beberapa pointers penting mengenai Depsy:

  • Sebagian besar riset akan memerlukan piranti lunak (software) khusus yang berkaitan langsung dengan risetnya, misal: SPSS atau Stata (statistik), ArcGIS (geosains), R (untuk berbagai keperluan). Namun tidak banyak (sebagian besar) lupa untuk merujuknya dalam berbagai produk saintifiknya, misal:
    • makalah ilmiah, berapa banyak geologiwan yang menyebut piranti lunak ArcGIS dalam Daftar Pustakanya?
    • piranti lunak turunan, beberapa piranti lunak diturunkan dan dikembangkan kemampuannya menjadi piranti lunak lain, misal R packages (saya belum bisa menyebut contoh yang lain). Kalau yang ini sudah dijembatani dengan platform Github
    • dll.
  • Pendek kata pengembang piranti lunak merasa produknya "low impact" atau kalaupun piranti lunak hasil kerjanya memiliki dampak tinggi (high impact), tetap saja tidak ada perangkat (tool) yang mengukurnya.
  • Depsy hadir sebagai solusinya. Ia seperti Google Scholar atau Crossref nya untuk urusan piranti lunak. Beberapa impact indicators yang diukurnya meliputi (baca juga Depsy measurement methods):
    • citations: sebanyak apa piranti lunak tersebut dirujuk di dalam makalah ilmiah. Biasanya yang ditulis dalam Daftar Pustaka adalah tutorial atau manual book nya. 
    • downloads: sesering apa piranti lunak tersebut diunduh dari repository resminya, misal untuk R packages menggunakan hitungan dari server CRAN
    • dependency pagerank: kekerapan website resmi piranti lunak disebutkan dalam berbagai karya ilmiah atau situs lain.
    • usage by other projects: seberapa banyak proyek piranti lunak lain yang menggunakan sebagai kecil, sebagian besar, atau seluruhnya sebagai dasar pembangunannya.

Berikut ini adalah contoh hasil perhitungan Depsy untuk Forecast R package yang ditulis oleh Prof. Rob J. Hyndman dari Monash University (on twitter).