Mempelajari cara Metode Socrates dalam berdiskusi
Oleh: Dasapta Erwin Irawan
Kemarin saya menonton sebuah video yang membahas Metode Socrates dan bagaimana Benjamin Franklin menggunakannya dalam percakapan. Isinya membuat saya merenungkan kembali cara kita berdiskusi sehari-hari.
Sebagai dosen, saya terbiasa dengan rapat, seminar, sidang, dan berbagai forum diskusi. Intinya adalah diskusi bukan mengajari. Setelah menonton video itu, saya jadi sadar kalau tidak semua diskusi benar-benar bertujuan mencari pemahaman yang lebih baik. Kadang, kita (termasuk saya) terpeleset lebih fokus mempertahankan pendapat daripada memeriksa apakah akar masalah telah terjawab. Dari video tersebut saya baru tahu ada Metode Socrates yang menceritakan cara filsuf itu berdialog dengan orang di sekitarnya.

Socrates dan Seni Bertanya
Metode Socrates berasal dari filsuf Yunani kuno, Socrates. Pendekatannya tidak berpusat pada memberi jawaban, melainkan mengajukan pertanyaan. Terus diulang mengajukan pertanyaan. Jadi dialognya sebenarnya hanya muter di tanya jawab. Kalau tidak bisa jawab, bilang “tidak bisa”. Kalau pas bisa jawab, ya jawab. Kalau hanya tanya-jawab, kenapa jadi panjang saling membantah.
Socrates biasanya memulai dengan pertanyaan yang sederhana. Dari jawaban yang muncul, ia mengajukan pertanyaan berikutnya, lalu berikutnya lagi. Proses ini membantu mengungkap asumsi-asumsi yang tersembunyi di balik sebuah pendapat dan menguji apakah logika yang digunakan benar-benar kuat. Nah tahapan menguji logika atau alur pikir ini penting. Jadi sebenarnya tanya-jawabnya menyamarkan pengujian logika ini. Jadi buat apa jadi panjang berbantah-bantah.
Dari yang saya baca dan dengarkan, tujuan utama yang perlu diulang-ulang adalah bukan untuk membuktikan bahwa orang lain salah. Justru sebaliknya: mencari pemahaman yang lebih baik secara bersama-sama, yang diawali dengan satu pertanyaan, diikuti dengan pertanyaan berikutnya, dan pertanyaan berikutnya, dst.
Dalam pandangan Socrates, percakapan bukanlah pertandingan. Percakapan adalah proses belajar.
Bagi saya, gagasan tersebut mengandung pelajaran penting tentang intellectual humility atau kerendahan hati intelektual. Kita memulai diskusi dengan kesadaran bahwa mungkin saja ada bagian yang belum kita pahami, atau bahkan ada hal yang perlu kita koreksi dari pemikiran kita sendiri.
Lalu bagaimana dengan Benjamin Franklin
Video tersebut juga menceritakan bagaimana Benjamin Franklin (salah satu pendiri AS) mengadopsi pendekatan serupa.
Konon saat muda, Franklin dikenal gemar berdebat. Namun seiring waktu ia menyadari bahwa memenangkan perdebatan belum tentu membuat orang menerima gagasannya. Orang yang merasa diserang cenderung bertahan pada posisinya, bahkan ketika argumen yang disampaikan kuat.
Karena itu ia mulai mengurangi kontradiksi yang keras dan menggantinya dengan apa yang disebut gentle queries atau pertanyaan-pertanyaan yang halus. Daripada mengatakan, “Anda salah,” Ben lebih memilih bertanya, “Apa yang membuat Anda sampai pada kesimpulan tersebut?” atau “Apakah mungkin ada penjelasan lain?”
Perbedaannya tampak kecil, tetapi sebenarnya cukup mendasar. Pertanyaan yang diajukan dengan tulus mengundang orang untuk berpikir. Sebaliknya, sanggahan yang agresif sering kali hanya menimbulkan keinginan untuk membela diri.
Mengapa Bertanya Sering Lebih Efektif?
Semakin saya pikirkan, semakin masuk akal pendekatan ini.
Ketika seseorang langsung dibantah, fokus percakapan sering bergeser dari isu yang sedang dibahas menjadi upaya mempertahankan harga diri. Akibatnya, diskusi berubah menjadi adu posisi.
Sebaliknya, dengan mengajukan pertanyaan, maka sepertinya ruang refleksi bisa lebih terbuka.
Lebih dari itu, pertanyaan membantu kita memahami cara berpikir lawan bicara. Kita tidak hanya mengetahui apa yang mereka yakini, tetapi juga memahami mengapa mereka mempercayainya. Ujungnya bisa saja bersepakat untuk tidak sepakat atau tidak sejalan.
Menurut saya, inilah salah satu kekuatan terbesar Metode Socrates. Ia membantu kita melihat asumsi-asumsi dasar yang sering tidak terlihat. Dan sering kali, akar perbedaan pendapat memang berada di sana.
Relevansinya di Era Media Sosial
Saya merasa pelajaran ini menjadi semakin penting di era media sosial.
Hari ini kita hidup dalam lingkungan yang mendorong respons cepat. Sering kali kita merasa harus segera membalas, mengoreksi, atau menunjukkan kesalahan orang lain. Akibatnya, percakapan mudah berubah menjadi polarisasi opini.
Padahal mungkin ada pendekatan lain.
Bagaimana jika sebelum membantah kita bertanya terlebih dahulu? Atau lebih baik lagi, tidak perlu membantah dan hanya ajukan pertanyaan.
Bagaimana jika tujuan utama kita bukan memenangkan argumen, melainkan memahami cara berpikir orang lain?
Tentu tidak semua perbedaan akan berakhir dengan kesepakatan. Namun setidaknya kita memiliki peluang lebih besar untuk memahami persoalan secara lebih utuh.
Beberapa Pelajaran yang Saya Catat
Dari Socrates dan Franklin, saya mencatat beberapa hal sederhana yang ingin saya praktikkan sendiri.
Masuklah ke dalam diskusi dengan rasa ingin tahu. Tidak semua percakapan harus menghasilkan pemenang. Targetnya hanya mengurangi rasa ingin tahu.
Lebih banyak bertanya daripada menyatakan. Pertanyaan yang baik sering kali membuka diskusi yang lebih dalam daripada sanggahan yang tajam. Jadi perbanyak pertanyaan dan kurangi pernyataan.
Cobalah memahami asumsi di balik pendapat. Kita mungkin berbeda bukan karena fakta atau pengetahuan, tetapi karena titik awal berpikir yang berbeda.
Sisakan ruang untuk kemungkinan bahwa kita keliru. Ini tidak mudah, tetapi mungkin merupakan bagian terpenting dari kerendahan hati intelektual. Nah ini penting. Tentu bukan berarti saya menyarankan agar kita tidak berpendapat, tetapi ketika berpendapat camkan selalu bahwa kita mungkin salah.
Pahami orangnya, bukan hanya argumennya. Mengetahui bagaimana seseorang berpikir sering kali lebih berharga daripada mengetahui kesimpulan yang ia sampaikan. Walaupun kita juga sering dicecoki kalimat, jangan lihat yang bicara, tapi lihat apa yang dibicarakan, tetapi memahami siapa yang bicara sepertinya juga menjadi penting.
Penutup
Setelah menonton video tersebut, saya tidak merasa menemukan teknik debat yang baru. Justru saya merasa diingatkan kembali pada sesuatu yang sederhana: tujuan terbaik dari percakapan bukanlah kemenangan, melainkan pemahaman.
Socrates mengajarkan pentingnya bertanya. Benjamin Franklin menunjukkan bahwa pertanyaan yang diajukan dengan lembut sering kali lebih efektif daripada bantahan yang keras.
Di tengah dunia yang semakin bising oleh opini dan reaksi cepat, mungkin keterampilan yang paling kita butuhkan bukan kemampuan berargumen lebih tajam, melainkan kemampuan bertanya dengan lebih baik. Hindari memberikan komentar instan di media sosial (medsos). Apalagi kalau medsos yang dipilih adalah yang membatasi jumlah kata atau karakter. Atau lebih baik lagi pilih medsos yang memungkinkan kita menuliskan argumen panjang, misal Substack.
Pada akhirnya, yang paling berharga dari sebuah diskusi bukanlah siapa yang berhasil menang, melainkan apakah semua yang terlibat bisa pulang dengan dengan hati yang penuh dan pemahaman yang sedikit lebih baik daripada sebelumnya.
