Category: scientific communication

  • Mengapa perguruan tinggi Indonesia (terkesan) susah menembus peringkat intl?

    Post ini awalnya merupakan kumpulan twit saya saat merespon twit di bawah ini dari Bapak Nadirsyah Hosen. Kenapa universitas Islam di Timur Tengah ataupun di Asia tidak bisa masuk ranking 100 top universitas di dunia? Ada apa dg kita? pic.twitter.com/5CJChWnmvi — Nadirsyah Hosen (@na_dirs) June 21, 2017

  • Panduan memilih jurnal terpercaya

    Pendahuluan: Beberapa pertanyaan yang sering saya terima Setiap minggu, saya mendapat beberapa pertanyaan dari kolega dan mahasiswa tentang bagaimana memilih jurnal yang terpercaya. Pertanyaan yang paling sering sampai ke saya adalah: apakah jurnal X predatory? apakah jurnal X open access? apakah mengirimkan makalah ke jurnal X bisa cepat terbit? saya membayar USD 500 ke jurnal…

  • Publish or Perish app

    Good morning readers After doing some research using Scopus and WoS, now it’s my turn to show you some world of wonder using free indexing services like Google Scholar (GS) and Microsoft Academic (MSA). We know both index long a go, but perhaps some of us still asking the same question, “is there an client app to extract…

  • Kita terlalu sering menghindar …

    Masih tentang #Permenristekdikti2017 Banyak yg pesimis, tidak sedikit yang optimis. Menurut saya, kita lebih banyak menghindar daripada berusaha. Berikut sedikit analoginya, seandainya hiruk pikuk #Permenristekdikti2017 diilustrasikan sebagai percakapan antara ayah dan anak.

  • Hiruk pikuk #permenristekdikti2017

    Post ini pertama kali dipublikasikan sebagai “FB notes” tanggal 12 Februari 2017. Menarik banyak komentar, pro dan kontra. Selebihnya saya sangat senang bisa mengenal rekan-rekan baru dengan pandangan yang berbeda.

  • Hati-hati memberi label “abal-abal” dan “asal riset”

    Terbangun malam hari untuk membaca pernyataan “seseorang” tentang “jurnal abal-abal” dan “asal riset”. Konteksnya pasti Permenristekdikti itu. Ini pendapat saya. Maaf suntingan masih kurang rapih. (sudah saya rapihkan)

  • Pengelolaan jurnal ilmiah: konvensional vs open access bagian 3

    Jadi bagaimana sikap kita as a living breathing and proud Indonesian scientists? FYI, justru bagian ini yang jadi lebih dulu dalam artikel ini. Jadi bagaimana sikap kita? Asumsi yang saya gunakan: Istilah “kita” adalah dosen atau peneliti Indonesia yang tinggal dan berkarir di Indonesia yang hanya mendapatkan dukungan dana dari Pemerintah Republik Indonesia. Dengan pertimbangan…

  • Pengelolaan jurnal ilmiah: konvensional vs open access bagian 2

    Article Processing Cost (APC) Sebelum saya membahas hal ini secara ringkas, saya akan copy paste kan beberapa cuitan (tweet) dari kawan Twitter saya Prof. Erin Mckiernan yang berkerja di National Autonomous University of Mexico. Cuitannya tentang keprihatinan seorang peneliti dari negara maju yang sedang bekerja di institusi pendidikan di Mexico, sebuah negara yang menurutnya memiliki…

  • Pengelolaan jurnal ilmiah: konvensional vs open access bagian 1

    Bahwa mengelola jurnal ilmiah adalah sebuah bisnis. Tulisan ini dilatarbelakangi masih banyaknya pertanyaan dari akademia tentang jurnal open access (OA). Sebenarnya apa jurnal OA itu dan bagaimana model bisnisnya, mengapa kita dianjurkan untuk OA, dst. Selain itu dengan terbitnya Permenristekdikti No. 20 Tahun 2017 tentang Pemberian Tunjangan Profesi Dosen dan Tunjangan Kehormatan Profesor terjadi gelombang…

  • Membaca dan membaca

    Bagian ini adalah potongan Bab Memulai Riset dalam Buku STPDN (Sukses sTudi Pascasarjana di Dalam Negeri). Ilustrasi akan kami tambahkan untuk memperjelas bagaimana kita merumuskan orisinalitas atau novelty dari riset. Saat anda membuat proposal, maka pada intinya anda akan menulis sesuatu. Bila anda merasa sulit memulai tulisan, maka mungkin anda tidak akan percaya jawabannya. Banyaklah…