Mengapa perguruan tinggi Indonesia (terkesan) susah menembus peringkat intl?

Post ini awalnya merupakan kumpulan twit saya saat merespon twit di bawah ini dari Bapak Nadirsyah Hosen.

Perhitungan JIF (Credit: University of Denver)

Apa (salah satu) penyebabnya?

Beberapa penyebabnya adalah:

  1. yang malas menulis, memilih lebih banyak bicara;
  2. yang rajin menulis, bingung akan menulis dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris;
  3. yang rajin menulis dalam Bahasa Inggris bingung akan mengirimkannya ke jurnal dengan Impact Factor dan atau yang terindeks Scopus atau tidak;
  4. yang tidak masuk golongan ke-1 s/d 4 di atas, menetapkan aturan-aturan yang menyebabkan golongan ke-1 s/d 4 jadi  mengurungkan niat untuk menulis. Semoga ini tidak terjadi.

Prinsip inclusion dalam sains

Let’s face it, we communicate our ideas way better using our native language. Bukan hanya kita yang non-native English speaker saja. Coba tanya hal ini pada penulis native English speaker, “bahasa apa yang  mereka pilih untuk menyatakan ide?” Pasti jawab mereka, “ya Bahasa Inggris lah” :). Beruntung bagi mereka, saat ini bahasa itu jadi  lingua franca sains.

Namun perkembangan selanjutnya, prinsip inclusion sudah masuk ke pemikiran para penggiat . Bahwa bahasa sains bukan hanya Bahasa Inggris. :). Orang Indonesia harus dibangun kepercayaan dirinya untuk menulis tanpa ada tembok-tembok virtual berupa aturan-aturan yang mematikan semangat. :).

Kebetulan saya masuk tim ber-31 dengan penulis-penulis dari  berbagai negara mengenai future form of peer review. Linknya ada di sini: Read-Only Overleaf. Dalam tim itu disepakati bahwa proses peer review adalah proses yang harus memperhatikan language bias. Bahwa originalitas suatu makalah dapat saja kabur bila si penulis menyampaikannya dalam Bahasa Inggris yang kurang baik. Standar baku yang dilakukan adalah mengembalikan naskah untuk mendapatkan sentuhan ahli Bahasa Inggris. Langkah ini seringkali menjadi penurun semangat yang sangat efektif bagi pada penulis dari negara-negara bukan penutur Bahasa Inggris.

About the author

My current focus is how to provide the hydrostratigraphy of volcanic aquifers in Bandung area. The research is based on environmental isotope measurement in groundwater and morphometry. My work consists of hydrochemical measurements. I am using multivariate statistical methods to provides more quantitative foundation for the analysis and more insight into the groundwater behavior, especially its interaction with surface water. I use open source apps like R and Python to do the job. In my spare time, I also have a side project to promote open science in Indonesia's research workflow. One of my current focus is promoting INARxiv, as the first preprint server of Indonesia (osf.io/preprints/inarxiv) and serving as ORCID and OSF (osf.io) ambassador. Research interest: Hydrochemistry, multivariate analysis, and R programming. Blog: dasaptaerwin.net, derwinirawan.wordpress.com. (https://orcid.org/0000-0002-1526-0863)