Konteks
- Kebanyakan presenter tahu konten mereka tetapi kesulitan mengkomunikasikannya dengan jelas. Dosen pun sama. Mereka punya pengetahuan dan pengalaman panjang, tapi masih sulit dalam menyampaikan hasil risetnya kepada orang lain.
- Sains bukanlah hanya milik dosen/peneliti, tetapi juga milik masyarakat.
- Salindia terlalu banyak, terlalu teknis, dan terlalu kecil. Bagaimana caranya agar pemirsa nyaman.
Tip 1: Berikan Insight/Makna dan Konteks
- Hindari terlalu menampilkan PROSES kerja—audien hanya peduli HASIL, dan yang lebih penting adalah insight/MAKNA (kenapa hasil ini penting bagi mereka).
- Hal ini memang tidak bisa diaplikasikan untuk segala jenis presentasi. Presentasi ilmiah biasanya memang butuh sedikit lebih rinci di PROSES.
- Jangan lupa untuk selalu memberikan KONTEKS. Mulailah dengan mengapa topik ini penting sekarang dan kaitannya dengan tujuan besar.
Tip 2: Sederhanakan Segalanya
- Gunakan bahasa sederhana dan analogi kehidupan sehari-hari, hindari jargon teknis.
- Visual seperti grafik sederhana atau gambar konsep membantu memperjelas pesan. Anggaplah pemirsa sebagai orang awam dengan bidang Anda. Jadi di awal jangan langsung ke hal-hal teknis. Terjemahkan salindia anda sesuai kebutuhan orang awam terlebih dahulu, baru mengarah ke hal-hal rinci setelahnya.
- Pangkas konten salindia. Presentasi biasanya terlalu banyak informasi. Anda sedang menjelaskan hasil kegiatan Anda, bukan fokus kepada menjelaskan rujukan.
Tip 3: Mulai dari Ide Besar Lalu Rinciannya
- Strukturkan presentasi dimulai dari inti utama “IDE BESARNYA DULU, RINCIANNYA KEMUDIAN”.
- Judul salindia harus deskriptif dan menyampaikan pesan utama. Tabel atau grafik harus relevan dan mendukung.
- Gunakan huruf tebal, warna, dan penekanan visual untuk menarik perhatian ke poin utama dan menjauhkan dari hal yang kurang penting (seperti catatan kaki dengan warna abu-abu/font kecil). Guy Kawasaki selalu mempromosikan PRINSIP 10/20/30 yang berarti 10 Salindia, 20 Menit, dan 30pt ukuran font (huruf) minimum.