Ranking Universitas India: Ketika Angka Berbicara Lebih Keras dari Kualitas

Author:

Ranking Universitas India: Ketika Angka Berbicara Lebih Keras dari Kualitas

Oleh: Dasapta Erwin Irawan (Institut Teknologi Bandung)

Apa yang saya tulis di bawah ini sebenarnya adalah protes usang yang sudah berulang kali dilakukan oleh berbagai penulis terdahulu. Tapi toh sistem pemeringkatan universitas dunia masih dianggap sebagai standar utama penilaian tentang kualitas pendidikan tinggi.

Namun, keberatan yang disampaikan secara konsisten akan tetap berharga dan bermakna. Kalau terkait iklim akademik dunia terus-menerus disuarakan oleh berbagai pihak, apalagi kalau “hanya” peraturan lokal di suatu kampus.

Saya kembali membahas tulisan yang muncul di media daring Financial Express yang temanya tentang dugaan manipulasi (hacking) metrik publikasi di India.


Dunia akademik India sedang dihebohkan oleh lonjakan dramatis peringkat beberapa universitas swasta dalam Times Higher Education (THE) World University Rankings 2026. Sejumlah institusi yang relatif baru—termasuk Saveetha Institute of Medical and Technical Sciences, Jamia Millia Islamia, Shoolini University, Graphic Era University, Chitkara University, dan Lovely Professional University—tiba-tiba menunjukkan skor “Research Quality” yang menyaingi raksasa akademik seperti Oxford, Cambridge, dan Yale.

Yang lebih mengejutkan, skor mereka bahkan melampaui institusi prestisius India seperti IISc dan berbagai IIT. Namun, apakah ini pencapaian nyata atau sekadar permainan angka?

Anomali yang Mencurigakan

Masalah pertama yang mencolok adalah kesenjangan luar biasa antara skor “Research Quality” dan “Research Environment”. Ambil contoh Saveetha Institute: institusi ini memiliki skor Research Environment hanya 18.4, namun Research Quality-nya mencapai 93.4—selisih 75 poin yang hampir tidak masuk akal.

Bandingkan dengan Oxford, di mana Research Environment (100) dan Research Quality (97.7) berjalan selaras. Para akademisi menilai kesenjangan ekstrem ini sebagai tanda adanya masalah integritas data.

Manipulasi Metrik, Bukan Mutu Riset

Seorang mantan profesor IIT mengatakan bahwa lonjakan peringkat ini lebih mencerminkan manipulasi metrik daripada peningkatan kualitas riset yang sebenarnya. Kritik ini semakin kuat mengingat sejak 2020, beberapa IIT besar telah menarik diri dari THE Ranking karena metodologinya dianggap tidak transparan.

Gambar “Sky of Knowledge” ini saya gambar tahun 2020 dan masih relevan sampai saat ini.

Paradoks Sitasi dan Praktik Meragukan

Profesor V. Ramgopal Rao, mantan Direktur IIT Delhi, pernah mengungkap beberapa kelemahan sistem ranking:

  • Persepsi dan reputasi dalam ranking adalah kotak hitam yang tidak jelas
  • Self-citation institusional terjadi secara masif
  • Jaringan dosen atau afiliasi saling mengutip dalam skala besar
  • Makalah dengan lebih dari 200 penulis tetap dihitung penuh, meski kualitas kontribusi individual dipertanyakan
  • Retraction (penarikan artikel) tidak diberi bobot negatif yang memadai

Lebih jauh lagi, beberapa institusi bahkan mewajibkan mahasiswa menerbitkan artikel Scopus sebagai syarat kelulusan. Praktik ini mendorong sitasi internal buatan yang meningkatkan angka tanpa mencerminkan kualitas riset yang sesungguhnya.

Apa Artinya bagi

Pimpinan Universitas

Fenomena yang terjadi pada universitas-universitas di India ini memberikan pelajaran berharga bagi para pimpinan perguruan tinggi di Indonesia. Meskipun pemeringkatan universitas dapat menjadi alat untuk meningkatkan visibilitas dan daya saing institusi, kehati-hatian ekstra diperlukan dalam mengadopsi dan mempromosikan sistem pemeringkatan.

Pada akhirnya, kualitas pendidikan dan riset yang sesungguhnya—yang tercermin dalam kontribusi nyata terhadap ilmu pengetahuan, masyarakat, dan pembangunan bangsa—akan lebih bermakna daripada posisi dalam ranking manapun. Skeptisisme yang sehat terhadap sistem pemeringkatan adalah sikap bijak untuk melindungi integritas institusi kita.

Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan:

  • Jangan jadikan ranking sebagai tujuan utama: Fokus pada peningkatan kualitas riset, pengajaran, dan layanan yang sesungguhnya, bukan sekadar mengejar angka. Manipulasi metrik hanya akan merusak reputasi jangka panjang institusi.
  • Pahami metodologi dengan kritis: Sebelum berpartisipasi dalam sistem pemeringkatan tertentu, pahami betul bagaimana metrik dihitung, transparansi prosesnya, dan potensi celah yang bisa disalahgunakan.
  • Hindari praktik yang meragukan: Jangan mendorong self-citation berlebihan, jaringan sitasi buatan, atau mewajibkan publikasi semata-mata untuk mengejar angka tanpa memperhatikan kualitas kontribusi ilmiah.
  • Prioritaskan integritas akademik: Kejujuran dan integritas akademik harus menjadi fondasi utama dalam setiap keputusan strategis. Reputasi yang dibangun dengan cara yang tidak etis akan mudah runtuh.
  • Komunikasikan secara transparan: Jika memutuskan untuk tidak mengikuti pemeringkatan tertentu karena alasan metodologi atau integritas, komunikasikan keputusan ini dengan jelas kepada pemangku kepentingan.

Masyarakat (Calon Mahasiswa dan Orang Tua Mahasiswa)

Lonjakan peringkat yang menyesatkan ini bisa berbahaya bagi calon mahasiswa dan orang tua. Skor “Research Quality” yang tinggi memang meningkatkan ranking, tetapi belum tentu mencerminkan reputasi nyata, fasilitas memadai, atau ekosistem riset yang sehat.

Pemangku kepentingan—termasuk mahasiswa dan orang tua—perlu lebih kritis dalam mengevaluasi:

  • Kualitas riset yang sebenarnya
  • Fasilitas dan infrastruktur kampus
  • Kejujuran dan integritas akademik
  • Reputasi jangka panjang institusi

Ranking universitas memang penting, tetapi angka tidak pernah menceritakan keseluruhan cerita. Ketika sistem bisa “di-hack,” skeptisisme yang sehat menjadi alat terbaik untuk membuat keputusan pendidikan yang bijak.