Jurnal OpenAccess: Kualitas vs prestise (2)

Posting ini saya copy paste dari pesan saya ke salah satu Telegram Group yang saya ikuti. Jadi mohon maklum kalau masih perlu banyak penyuntingan. Kalau anda melihat banyak bagian seperti diulang-ulang, maka benar memang saya ulang-ulang dalam berbagai kesempatan. Kenapa? Karena pertanyaannya memang TIDAK pernah berkembangan dan TIDAK pernah bergeser. Diulang-ulang setiap hari, setiap minggu.

See hires image at flickr/dasaptaerwin

…. (percakapan tentang penerbit SP)
Ibu bapak mengenai jurnal pemangsa dan yang baik, mohon bisa masing-masing menguatkan argumentasi dengan melakukan pengecekan dengan berbagai kriteria. Salah satu yang bisa dicoba adalah thinkchecksubmit. Salah satu kriteria yang dipakai Dikti adalah itu.
Thinkchecksubmit memang tidak mengeluarkan daftar hitam, semua penilaian diserahkan ke penilaian kita berdasarkan kriteria yang sudah disampaikan. Kenapa ini tidak populer di Indonesia? Karena orang Indonesia senang mencari mudah, dengan melihat daftar hitam. Senang kalau orang lain saja yang memutuskan šŸ™‚
Menurut saya, kalau masih banyak jurnal lain yang namanya lebih dikenal, bisa dipilih jurnal yang lain saja. Terutama untuk tujuan naik pangkat.
Kalau saya, di saat kondisi meragukan, kriteria paling kuat adalah apakah jurnal tersebut berkaitan dengan atau didirikan oleh asosiasi profesi atau universitas. Kalau itu ada, maka satu point aman sudah dikantungi. Jangan hanya bergantung kepada indexing.
Jurnal DN yang diindeks Scopus kan banyak.
Prinsipnya begini, terlepas dari apakah SP adalah jurnal yang baik atau bukan, selama masih ada yang lebih meyakinkan, kenapa tidak pakai yang lebih meyakinkan? Kalau saya tanya kepada bapak ibu yang ingin beramai-ramai kirim makalah. Apa penyebab utamanya kok sampai beramai-ramai? Karena, saya kok jarang mendengar ajakan yang sama untuk mengirimkan makalah ke jurnal X terbitan universitas Y di Indonesia.
Banyak jurnal OA yang gratis, terbit di Indonesia.
Apakah karena murah?
Kalau itu pertimbangannya, maka banyak dan buuannyak jurnal openaccess (OA) yang gratis, lebih -lebih kalau mengirimkan jurnal yg berjenis nonOA.
Apakah karena pertimbangannya reviewernya bereputasi?
Rasanya tidak baik juga ya menilai rekan kerja sendiri, baik dosen LN atau DN, kalau tidak mengenal sendiri kinerjanya. Apalagi kalau tidak mengirimkan makalah ke jurnal DN karena menganggap reviewernya (kawan sendiri) tidak berkualitas. Bukankah artinya nanti ibu bapak akan menilai kepakaran seseorang hanya dari makalahnya dengan banyak kriteria penyempit.
Apakah karena penerbitnya bermarkas di LN, maka jadi terlihat lebih bagus di profil ibu bapak?
Mestinya tidak juga. Kalau ibu bapak perhatikan, berapa banyak perusahaan “consumer goods” yang ingin beralamat di Indonesia. Mestinya banyak, karena penduduk kita banyak. Penduduk berarti pasar.
Jangan hanya bergantung kepada indexing.
Apakah karena pertimbangan agar tidak rugi dua kali?
Kalau ini alasannya, maka mari kita sama-sama pikirkan lagi mengapa kita menjadi dosen.
Bukannya tidak perlu Bahasa Inggris, tapi bahasa jangan sampai jadi kendala seseorang untuk berkarir.
Apakah karena kurang yakin dengan Bahasa Inggris?
Bisa jadi. Saya pun sampai hari ini masih harus bolak-balik membaca ulang draft, hanya untuk dikembalikan oleh editor jurnal dengan alasan “your quality of English needs to be improved”. Sama saja. Memang harus sering, kalau ingin menulis dalam Bahasa Inggris. Mungkin ibu bapak mengeluh bahwa aturan yang memaksa ibu bapak harus (bukan perlu) menulis dalam Bahasa Inggris. Ini yang harus kita coba ubah sama-sama. Bukannya tidak perlu Bahasa Inggris, tapi bahasa jangan sampai jadi kendala seseorang untuk berkarir.
Apakah karena ingin cepat terbit?
Mungkin ini, masalah kesabaran. Ini masalah bagi saya juga. Tapi bukankah makalah kita tidak hanya satu. Sambil mengunggu yang ini terbit, kita kerjakan yg lain, atau akan kita kirim di waktu lain dst. Tapi oh, saya lupa, ada alasan lain “tidak mau rugi 2 kali”. šŸ™‚ mari kita pikirkan sama-sama.
Untuk aman, pilihlah jurnal dan seminar yang diselenggarakan atau berafiliasi dengan universitas atau asosiasi profesi.
Kembali ke pertanyaan awal
Jadi kembali ke masalah utama. Untuk aman, pilihlah jurnal dan seminar yang diselenggarakan atau berafiliasi dengan universitas atau asosiasi profesi. Kenapa? Bukan saya tidak suka dengan penerbit komersial, tapi komersialisasi selalu bisa dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab.
Mungkin ibu bapak ada yang bertanya, ada di dalam indeks Scopus tapi kok masih ada yang disangka sebagai jurnal pemangsa? Ya bisa saja. Tidak ada yang sempurna, karena perusahaan pengindeks apapun itu, hanya meminta bukti administrasi. Mereka tidak melakukan sertifikasi seperti lembaga pemberi sertifikat ISO xxx. Sertifikasi dengan indeksasi sangat berbeda.
Kualitas jurnal ditentukan oleh kualitas makalahnya, bukan sebaliknya.
Buat saya, proses akreditasi jurnal oleh Arjuna, bagaimanapun kondisinya saat ini, masih lebih baik dibandingkan perusahaan pengindeks. Kenapa? kembali ke penjelasan saya sebelumnya, kalau entitas bisnis yang melakukan, pasti ada alasan keuntungan di belakangnya, sehingga cepat atau lambat akan ada banyak yang memanfaatkan itu. Siapa mereka? Mereka adalah orang-orang LN yang tahu kondisi di Indonesia (orang-orang seperti kita yang mengejar indeksasi) untuk menggali keuntungan darinya.
Menurut saya dan kriteria ThinkCheckSubmit, kalau nama jurnal belum dikenal oleh sejawat, maka itu bisa jadi salah satu bekal untuk membuat keputusan. Walaupun jurnal tersebut belum tentu predatori, tapi cukup untuk membuat kita berhati-hati.
Kualitas jurnal ditentukan oleh kualitas makalahnya, bukan sebaliknya. Semoga lebih jelas.