Bahasa dan OA

Baru saja mendapatkan motivasi untuk misuh sangat besar. Untung saya batalkan. Ada peneliti dari Benua Afrika yang bilang kalau dokumen saya belum OA kalau tidak ditulis dalam Bahasa Inggris, karena artinya saya hanya menulis eksklusif untuk publik di Indonesia.
 

Setelah membatalkan untuk misuhi dia, karena percuma juga, dia pasti tidak paham Bahasa Suroboyoan.
 
Ini respon saya kalau di Indonesiakan:
 
  1. Mas, saya bukan orang enggres, tidak tinggal di enggres, tidak pula menulis untuk orang enggres,
  2. Kalau ingin ngertinya hanya bahasa enggres, maka gabunglah di GWA yg isinya orang enggres, jangan gabung ke GWA yg isinya banyak orang afrika dan satu dua orang dari Indonesia.
  3. Situ belum tahu ada barang namanya Google Translate. tinggal copas linknya atau copas paragrafnya muncul basa enggresnya kok. Kalaupun translasinya tidak bagus, tinggal dikira-kira atau klarifikasi langsung ke saya.
Tapi jangan menghubungkan OA dengan bahasa.
 
Kesimpulan saya
Pantas saja ya Benua Asia (baca Asia Tenggara) dan mungkin Benua Afrika tertinggal, karena mereka sering (tanpa sadar) mendiskreditkan bangsanya dan bahasanya sendiri.
Oya. Hasil berikut cuplikan hasil alih bahasa oleh Google.