Google Scholar Metric 2021

Pendahuluan

  • Google Scholar telah merilis Google Scholar Metric (GSM) 2021:
    • tujuannya sesuai yang tercantum di websitenya adalah untuk memberikan cara yang mudah bagi penulis untuk mengukur visibilitas dan pengaruh artikel-artikel ilmiah terbaru.
    • basis perhitungan jelas masih berbasis jumlah sitasi.
    • apa bedanya dengan metrik lain? seperti
      • Journal Impact Factor
      • Cite score
      • Scimago Rank

Metode

Analisis

Seluruh jurnal pada berbagai bidang ilmu

  • GSM membuat peringkat 100 teratas sesuai bahasa.
  • Ada 11 bahasa yang dibuat pemeringkatannya.
  • Saya menggabungkan daftar peringkat jurnal seluruh bahasa. Jadi ada 11 bahasa x 100 jurnal atau 1100 jurnal.
  • Saya membuat kolom baru yang memisahkan jurnal dalam Bahasa Inggris dan jurnal dalam Bahasa Non Inggris.
  • Kemudian saya membuat plot antara h5-median terhadap h5-index untuk seluruh (1100 jurnal) tersebut.
  • Hasilnya adalah sebagai berikut. Posisi peringkat 100 jurnal EN berada di atas 1000 jurnal non-EN berdasarkan h5-median dan h5-index.
Total jurnal: plot h5-median terhadap h5-index. Ada 100 jurnal EN berada di atas 1000 jurnal non-EN.

Jurnal dipilah berdasarkan kategori ilmu

  • Sayangnya fitur pemilahan ini hanya dilakukan oleh Tim GSM untul peringkat jurnal dalam Bahasa Inggris.
  • Mereka memilah peringkat jurnal berdasarkan delapan kategori ilmu (klasifikasi Google Scholar Metric):
    • BEM: Business, Economics, and Management
    • CMS: Chemistry and Material Sciences
    • ECS: Engineering and Computer Science
    • HLA: Humanities, Literature, and Arts
    • HMS: Health and Medical Sciences
    • LES: Life and Earth Sciences
    • PM: Physics and Math
    • SS: Social Science (belum diplot)
  • Pada masing-masing kategori ilmu ada 20 jurnal.
  • Di bawah ini adalah grafiknya.
  • Di bagian atas, ada Nature, Lancet, Science, New England Journal of Medicine, dan IEEE Conference). Kelima jurnal tersebut masing-masing masuk ke dalam kategori:
    • Health and Medical Science (HMS/warna kuning): Jurnal The New England Journal of Medicine dan Lancet
    • Life and Earth Science (LSE/warna merah muda): Jurnal Nature dan Science
    • Engineering and Computer Science (ECS/warna hijau): IEEE Conference on Computer Vision and Pattern
  • Dapat disampaikan di sini bahwa jurnal bidang kesehatan, kedokteran, ilmu hayati, dan ilmu kebumian berada di peringkat atas berdasarkan jumlah sitasi.
Grafik yang sama dengan label nama jurnal teratas. #scicomm #responsiblemetric (ada Nature, Lancet, Science, New England jo Medicine, IEEE Conference)

Fokus ke kategori jurnal bidang ilmu hayati dan kebumian (life and earth science)

  • Lebih rinci lagi, mari kita isolasi jurnal kategori life-earthsci dan membagikanya menjadi sub kategori sesuai klasifikasi GSM.
  • Ada banyak sub kategori di dalam bidang life-earthsci, tetapi hanya sembilan sub kategori menurut yang menurut saya masuk ke dalam kategori earthsci (ilmu kebumian) yang biasa kita gunakan di Indonesia (rujukan: Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian, ITB).
  • Kita dapat melihat bahwa Jurnal Nature, Science, Nature Communications, dan PNAS ada di kelompok atas. Keempat jurnal tersebut masuk ke dalam sub kategori Life and Earth Science in General (lseg/warna merah muda).
  • Bisa ditarik kesimpulan di sini, bahwa selain terbit di jurnal-jurnal asosiasi atau jurnal monodisiplin, artikel-artikel ilmu kebumian banyak yang terbit di jurnal multidisiplin, seperti keempat jurnal yang disebut di atas (Nature, Nature Communications, Science, dan PNAS).
Sekarang mari kita pisahkan kategori LES (Life-EarthSci) menjadi sub kategori. #scicomm #responsiblemetric. Empat jurnal teratas: Nature, Science, Nature Comms, dan PNAS. Seluruhnya masuk sub kategori merah muda (lesg/life-earthsci general) #scicomm #responsiblemetric

Multidisiplin, ilmu hayati, atau ilmu kebumian

  • Kemudian, masih dalam sub kategori yang sama, yaitu life-earthsci (les), saya membuat sub kategori tambahan, yaitu:
    • jurnal multidisiplin (merah),
    • jurnal monodisiplin bidang ilmu hayati/lifesci (biru), dan
    • jurnal monodisiplin bidang ilmu kebumian/earthsci.
  • Dapat dilihat bahwa ada enam jurnal yang masuk peringkat atas:
    • diantaranya hanya ada dua jurnal monodisiplin ilmu hayati (biru) yang masuk dalam peringkat atas, yaitu Journal of Nucleic Acids Research dan Cell.
    • tidak ada jurnal monodisiplin bidang ilmu kebumian.
    • ada empat jurnal multidisiplin (Nature, Science, Nature Communications dan PNAS) yang dapat menerbitkan artikel pada berbagai disiplin ilmu. Diantaranya bisa jadi ada banyak makalah bidang ilmu kebumian.
Pemilahan jurnal bidang ilmu hayati dan kebumian ke dalam sub kategori baru: multidisiplin (merah), life science (biru), dan earth science (tidak ada).

Mengapa jurnal multidisiplin selalu teratas

  • Sebelum kita bicara lebih jauh berkaitan dengan pentingnya pendekatan “multidisiplin”, mari kita lihat dulu jurnalnya.
  • Jurnal-jurnal seperti Nature, Science, Nature Communications, dan PNAS pada dasarnya adalah “mega journal” atau jurnal luas, yaitu jurnal yang menerima segala jenis artikel pada segala jenis bidang ilmu.
  • Karena sebab itu, jelas jurnal-jurnal berjenis seperti itu akan lebih banyak pembacanya dibanding jurnal spesifik atau jurnal monodisiplin.
  • Ada beberapa bukti terkait yang akan saya susulkan bahwa belum tentu artikel ilmu kebumian yang terbit di jurnal luas adalah artikel yang disusun oleh penulis dari berbagai latar belakang ilmu (multidisiplin).

Daftar pustaka

About the author

My current focus is how to provide the hydrostratigraphy of volcanic aquifers in Bandung area. The research is based on environmental isotope measurement in groundwater and morphometry. My work consists of hydrochemical measurements. I am using multivariate statistical methods to provides more quantitative foundation for the analysis and more insight into the groundwater behavior, especially its interaction with surface water. I use open source apps like R and Python to do the job. In my spare time, I also have a side project to promote open science in Indonesia's research workflow. One of my current focus is promoting INARxiv, as the first preprint server of Indonesia (osf.io/preprints/inarxiv) and serving as ORCID and OSF (osf.io) ambassador. Research interest: Hydrochemistry, multivariate analysis, and R programming. Blog: dasaptaerwin.net, derwinirawan.wordpress.com. (https://orcid.org/0000-0002-1526-0863)