Category Archives: WTF (Writings Totally Fun)

WTF: writing a skill to die for

I had a discussion with a student this morning. He was very confuse about what’s to write and what’s not write. He is working on Cikapundung watershed, in West Java Province. His focus is evaluating the interaction between the groundwater with river water.

After hearing his problem, I said “write everything”. Even if your analysis went wrong, you can always write about your failure and what’s to avoid, etc etc. Teaching everyone else to identify a lack in a method is also a science.

Don’t worry about your sentences at this stage. Just write and sleep on it.

At the end of the conversation I said ->

writing skill is not something you born with,

it’s something you would die for

writingskill

WTF: Book vs thesis

unknown book

[image from: diythemes.com]

This is how a book is defferent that a thesis (combined from various sources)

  • A book doesn’t actually need an original theory. It needs an original view point. So you can freely bring your own perspective.
  • A book has a broader (general) readers, so you have to provoke and engage them to read your book.
  • General book-readers are simply want to know what you’ve found out and what you think about it. Offcourse you need to include your references as a basis, but your readers will focus on what you’re saying.

So several sources recommend to do the following tasks:

  • remove all academic “scaffolding” and focus on your own opinion. Reduce scholarly aparatus.
  • reorganize to make it more interesting to read; refocus your story.
  • rewrite with more direct and personal voice: use first person story telling (I or We) and use active voice.

WTF: Dari Disertasi menjadi Buku

book binding

[image from: phdbookbinding.com]

Salah satu impian saya adalah me-reformat disertasi saya menjadi sebuah buku. Dan you know what, waktu yang selalu jadi kendala. And this page will be my first try out.

Berikut adalah referensi yang akan saya pakai untuk proyek ini:

  1. Turning Your Thesis Into A Book: Melbourne Univ Press
  2. Checklist for Revising Dissertations for Book Publication: Univ of Texas
  3. It’s a dissertation, not a book: Chronicle of Higher Edu
  4. Turning Your Dissertation into a Book: Univ of Washington
  5. Thesis vs Book: NIAS Press
  6. From Dissertation to Book: Univ of Chicago

WTF: Menulis artikel ilmiah lebih mudah dibanding menulis cerpen

Hasil belajar minggu ini setelah menelan bbeberapa makalah dan satu buku tentang menulis, ternyata menulis artikel ilmiah (mestinya) akan lebih mudah dibanding cerpen:

Singkat tapi deskriptif

Ya. Menulis ilmiah memang harus singkat, walaupun memang belum ada yang menetapkan batas maksimum halaman dalam suatu karya ilmiah. Singkat dalam arti, cerita yang terkandung di dalamnya tidak perlu bertele-tele tidak banyak pengulangan dan jelas. Ini jelas bukan kaidah dalam cerpenkan. Cerpen memang singkat, tapi alur ceritanya boleh agak melingkar, berurutan secara kronologis, atau boleh saja kilas balik (flash back) dengan tokoh yang banyak dan saling bersilang urusannya. Sementara dalam karya ilmiah, tokohnya hanya satu, anda dan ceritanya harus berurutan secara kronologis. Lebih mudah bukan.

Sistematis dan mengalir

Berhubungan dengan bagian di atas, anda boleh lo memperlakukan karya ilmiah seperti membuat cerpen. Anda boleh membuatnya seperti dongeng yang mengalir dan enak dibaca. ; Cerita boleh dibuat tidak kaku tanpa harus menggunakan kalimat berbunga dan puitis. Tidak banyak orang yang bisa seperti itu. Saya juga masih belajar. Syaratnya hanya satu, harus sistematis dan tidak melompat-lompat. Ini jelas bukan ciri cerpen. Ceritanya tidak perlu sistematis, tapi pembaca harus tahu alurnya maju atau mundur.

Menarik dan selalu berdasar fakta

Seperti halnya cerpen, makalah ilmiah juga harus menarik, sejak dari judul, abstrak, hingga kesimpulan. Semuanya harus berdasarkan fakta. Kira-kira akan sama dengan jenis cerpen fiksi-ilmiahlah. Setiap kalimat harus didukung bukti-bukti yang obyektif. Kalau cerpen anda bisa mengarang fakta, misal bahwa Jakarta terletak di satu pulau terpencil di Kepulauan Samoa. Sah-sah saja.

Merendah dan orisinal

Tata bahasa yang digunakan dalam karya ilmiah sudah sepantasnya merendah. Lho kenapa? Karena dalam dunia ilmiah setiap kesimpulan bisa dipatahkan oleh kesimpulan lain yang didukung data lebih banyak atau lebih lengkap. Jadi tidak perlu sombong apalagi meremehkan hasil peneliti lainnya. Kalau cerpen, tokoh utama bisa anda bawa “setinggi langit”. Tidak akan ada orang yang protes, selama cerpen anda memang bagus ceritanya.

Percaya diri tapi tidak ngotot

Berhubungan dengan butir di atas. Sebagai ilmuwan anda boleh yakin dan percaya diri, tapi jangan “ngotot”. Ini karena setiap kesimpulan anda hanya akan diterima sampai ada orang lain yang muncul dengan kesimpulan yang lebih baik. Tapi tidak “ngotot” bukan berarti tanpa argumentasi. Silahkan berargumentasi, tapi bila ada argumen lain yang lebih baik dengan bukti lebih kuat, anda harus mengakuinya.

Boleh rumit tapi harus dapat dengan mudah dipahami

Mungkin ini satu-satunya ciri yang sama dengan cerpen. Karya ilmiah boleh menjelaskan sesuatu yang rumit, “Lubang Hitam” misalnya, tapi dalam penjelasannya harus dapat diikuti dan dipahami dengan mudah. Tentunya dengan asumsi segmen pembacanya memang kalangan tertentu yang sering berkutat dengan Lubang Hitam.

WTF: Tiga kesalahan umum saat menulis

Outline:

Ada tiga kesalahan umum saat menulis. Kenapa tiga? Rule of thumb katanya bilangan ganjil mudah diingat. Jadi kalau tidak 1, 3, atau sekalian 5.

Kesalahan pertama: Kurang motivasi

Dari yang saya amati, motivasi minim karena tugas dikerjakan sebagai tugas agar lulus kuliah. Seperti halnya menulis karya ilmiah, maka disusun agar gugur kewajiban saja. Anda tidak akan pernah tahu ke mana tulisan itu akan membawa anda dikemudian hari. Kalau anda muslim, maka dirikan sholat bukan sekedar kerjakan sholat bukan.

Saat anda mengerjakan makalah apapun dan untuk kegiatan apapun, coba bayangkan karya anda itu akan dibaca oleh lebih banyak orang. Bukan oleh dosen anda, atau kawan-kawan anda di kelas. Kalau anda berpikir demikian, maka dijamin anda akan bekerja jauh lebih intens, termasuk di dalamnya memeriksa kesalahan ketik (typo), daftar pustaka, dll. Baca juga: Cek dan ricek.

Kesalahan ketiga: Judul tidak “nyambung”

Judul selalu yang anda pikirkan pertama kali. Mestinya topik dan idelah yang anda pikirkan. Judul akan muncul dengan sendirinya pada saat anda menulis ataupun di saat-saat terakhir anda akan mengakhiri tulisan anda. Bahkan ekstrimnya, judul masih bisa anda ubah sesaat sebelum anda mengirimkannya ke redaksi.

Bila anda melakukan cara ini, maka pada akhirya anda akan sering merasa bahwa makalah anda salah judul. Judul yang pertama kali anda tuliskan seringkali harus anda ubah. Memang begitulah seharusnya. Kecuali bila anda pemenang hadiah Pulitzer yang bisa menulis bahkan dalam keadaan tidur.

Bandingkan alur penulisan dengan judul. Apakah sesuai. Judul juga harus menggambarkan metode, analisis, dan kesimpulan sekaligus. Misalnya, bisa makalah anda hanya memuat satu grafik regresi, maka jangan menggunakan judul dengan kata-kata “Analisis Statistik”, karena jelas pembahasannya akan sangat kurang. Baca juga: Essential guide writing a good abstract.