Artikel sains populer: cara membebaskan pengetahuan

Berikut ini adalah ringkasan acara bersama FGMI-IAGI hari Minggu 14 Maret 2021 10-12 WIB.

Teaser

Konteks

Menulis sains populer Bisa jadi lebih sulit dibanding menulis sains dalam bahasa saintifik :). Kenapa? Bisa jadi karena ada harus menggunakan kata-kata yang lebih ringan. Bisa tetap menggunakan bahasa baku, tapi harus lebih “encer” agar “mengalir”.

Tujuannya tidak lain untuk menyebarkan ilmu pengetahuan menembus sekat-sekat virtual yang melingkupi kehidupan seorang ilmuwan akibat motivasi-motivasi yang keliru didorong oleh regulasi yang ada. Bila Anda menulis artikel sains populer, bisa dari riset Anda sendiri atau riset orang lain, maka Anda telah mendukung gerakan membebaskan pengetahuan terbang tinggi dan jauh agar dapat dibaca dan dipahami lebih banyak orang.

Pengungkapan

Saya adalah seorang dosen dan peneliti bidang hidrogeologi dari ITB. Saya tidak pernah mendapatkan pendidikan formal tentang ilmu jurnalisme, ilmu komunikasi, atau ilmu kehumasan. Yang saya sampaikan dan ceritakan hari ini murni berasal dari hasil belajar sendiri dengan membaca artikel ilmiah, membaca artikel-artikel terkait komunikasi sains, mengikuti pelatihan (dari The Conversation Indonesia), menonton video Youtube dari para komunikator sains ternama dan berlatih menyampaikan ilmu pengetahuan ke masyarakat melalui beberapa blog (satu, dua, tiga), repositori video Youtube, dan podcast, di berbagai kelompok masyarakat seperti para peminat sains, anak-anak dan pelari, via medsos Twitter dan Facebook.

Karakter artikel sains populer

Artikel sains populer dari sudut pandang saya sebagai peneliti:

  1. argumentatif: seluruh argumen dibangun berdasarkan data,
  2. naratif: penjelasan seperti bercerita/mendongeng sehingga menghibur,
  3. edukatif: mendidik masyarakat.

Untuk mencapai tujuan tersebut, maka artikel sains populer harus dapat ditemukan dengan mudah, dibaca dan dipahami dengan mudah pula.

Bagaimana caranya?

  1. Menulis menggunakan kamera: Cara ini saya pinjam dari Yao-Hua Law, seorang penulis artikel sains dari Malaysia.
  2. Memakai komparasi untuk memberikan wawasan dimensi kepada pembaca, misal: kecepatan proses rata-rata komputer ponsel yang dijual saat ini adalah 7 juta kali lebih cepat dibanding kecepatan proses komputer yang mengendalikan Apollo 11 sampai ke bulan.
  3. Menggunakan analogi, misal: dunia publikasi saat ini dapat dianalogikan seperti sebuah peternakan sapi. Bedanya hanya bahwa peternak sapinya (penulis) setelah bersusah payah mengeluarkan modal dan kerja keras merawat dan membersarkan sapi, ia masih harus mengeluarkan uang untuk membeli daging ternaknya sendiri.
  4. Menulis seperti anak kecil: ceritakan sains seolah Anda adalah seorang anak kecil yang sangat bersemangat mengetahui kenapa langit berwarna biru, kenapa air laut tidak habis walaupun menguap, dll. Anda mungkin ingat majalah dinding (mading) saat sekolah dulu. Ceritakan sekreatif mungkin yang dapat membuat seorang anak terperangah dan tidak akan melupakannya.
  5. Memulai cerita dengan sebuah gambar: Ini bisa jadi episode FGMI berikutnya. Silahkan mampir ke bit.ly/osdrawings.

Beberapa referensi

  1. Popular science writing (Video)
  2. A Guide for Aspiring Freelance Science Journalists (in Southeast Asia)
  3. Neil deGrasse Tyson, Science journalism has a problem (Video)
  4. New research shows explaining things to ‘normal’ people can help scientists be better at their jobs
  5. Scientists have much to gain by sharing their research with the public
  6. Here’s why academics should write for the public
  7. What Makes a Good Science Story? (Video)
  8. Penulisan artikel ilmiah populer – Ika Krismantari (Video)
  9. Coaching clinic penulisan essai – Prodita Sabarini (Video)

Video final versi tersunting

Video versi belum tersunting di Loom.com

About the author

My current focus is how to provide the hydrostratigraphy of volcanic aquifers in Bandung area. The research is based on environmental isotope measurement in groundwater and morphometry. My work consists of hydrochemical measurements. I am using multivariate statistical methods to provides more quantitative foundation for the analysis and more insight into the groundwater behavior, especially its interaction with surface water. I use open source apps like R and Python to do the job. In my spare time, I also have a side project to promote open science in Indonesia's research workflow. One of my current focus is promoting INARxiv, as the first preprint server of Indonesia (osf.io/preprints/inarxiv) and serving as ORCID and OSF (osf.io) ambassador. Research interest: Hydrochemistry, multivariate analysis, and R programming. Blog: dasaptaerwin.net, derwinirawan.wordpress.com. (https://orcid.org/0000-0002-1526-0863)