Pengelolaan Sumber Daya Air perlu Perhitungan Neraca Air

Author:

Blogpost ini bercerita tentang riset Anda sebagai sebuah foto (snapshot) yang memiliki sistem input-proses-output. Ketika Anda geser-geser view finder-nya, maka fokus akan bergeser, maka sistem input-proses-output-nya akan berubah pula. Ilustrasi yang digambarkan dalam blogpost ini adalah tentang pengelolaan sumber daya air dan pentingnya perhitungan neraca air.

https://photos.app.goo.gl/itvVkYEMx7zJjPjz5 (Rekaman: akan disusulkan)

Tentang viewfinder (dari berbagai sumber)

Pada Kamera, Viewfinder dan Fokus Viewfinder, jendela kecil yang tembus pandang pada kamera, membantu Anda merangkai foto dan menentukan fokus pada subjek. Viewfinder memfasilitasi fokus pada subjek tanpa gangguan dan pelacakan subjek bergerak dengan mudah. Ada dua jenis viewfinder dalam kamera digital: viewfinder optik (OVF) dan viewfinder elektronik (EVF).

  • Viewfinder Optik (OVF): Umumnya terdapat pada kamera DSLR. Cahaya yang melewati lensa dipantulkan oleh cermin ke viewfinder, memungkinkan Anda melihat gambar asli saat membidik.
  • Viewfinder Elektronik (EVF): Biasanya ada pada kamera mirrorless. Kamera jenis ini menampilkan gambar dari sensor gambar ke panel LCD kecil secara elektronik.

Pemilihan Fokus Objek Fokus dapat ditentukan dengan dua cara: menggunakan sistem autofocus (AF) kamera atau melakukan penyesuaian manual.

  • Autofocus (AF): Kamera secara otomatis menentukan fokus terbaik saat memotret. AF sangat ideal saat memotret objek bergerak cepat atau dalam kondisi yang terus berubah.
  • Manual Focus (MF): Fotografer melakukan penyesuaian fokus secara manual. MF memberikan kontrol penuh dalam penyesuaian fokus kamera.

Memotret objek riset dan perubahan fokus

Memotret objek riset sama seperti menggunakan viewfinder pada kamera. Kita harus menentukan fokus kita, apakah itu akan secara otomatis (seperti menggunakan sistem autofocus pada kamera) atau kita menyesuaikannya secara manual. Dengan demikian, kita dapat merangkai ‘foto’ dari riset kita dengan jelas dan tepat.

Tidak hanya mahasiswa, pembimbing—khususnya promotor S3—juga perlu memahami bahwa fokus riset dapat berubah. Perubahan fokus ini tidak hanya mempengaruhi arah dan tujuan penelitian, tetapi juga memiliki konsekuensi yang signifikan terhadap kebutuhan data dan analisis. Dengan demikian, penting bagi semua pihak yang terlibat dalam proses riset untuk selalu beradaptasi dan bersiap menghadapi perubahan yang mungkin terjadi.

Dalam konteks perubahan fokus ini, penting bagi semua pihak yang terlibat – termasuk mahasiswa, promotor, pengelola program studi, dan lain-lain – untuk memahami dan menginternalisasi bahwa target utama yang harus dicapai adalah penyelesaian program S3. Ini bukan berarti menyepelekan pentingnya menyelesaikan masalah riset yang dihadapi, tetapi lebih pada pengertian bahwa solusi untuk masalah riset tersebut mungkin tidak akan sepenuhnya tercapai atau bahkan mungkin tidak akan pernah tercapai, dalam durasi pendidikan yang telah ditentukan.

Dalam hal ini, harus ditekankan bahwa mahasiswa harus tetap lulus S3, karena tingkat kelulusan adalah salah satu indikator keberhasilan pendidikan, misalnya dalam proses akreditasi. Ini adalah realitas yang harus dihadapi oleh semua pihak yang terlibat. Tentu saja, dalam setiap situasi ada beberapa syarat dan ketentuan yang berlaku, dan ini tidak terkecuali. Oleh karena itu, penting bagi semua pihak untuk memahami dan menerima kondisi ini sebagai bagian dari proses pendidikan tinggi.