Kami tidak perlu Scopus 2

Artikel ini merupakan bagian kedua (hopefully the last part) dari serial “Kami tidak perlu Scopus”.  Dalam artikel tersebut, saya mengkopikan cuitan saya dari akun @openscience_ID.

Kalau memang tujuan dari mendaftarkan seminar/konferensi adalah agar makalah lebih mudah dicari, maka apakah tidak ada layanan lain yang lebih ekonomis? Dan bila memang itu tujuannya, mengapa tulisan “indexed by Scopus” lebih sering dipertanyakan dibandingkan substansi seminarnya?

Indonesia OpenCon idea

Low cost conference diagram (flickr/d_erwin_irawan, CC-BY)

Jadi latar belakang dari kegiatan ini (Indonesian Open Con 2017) adalah:

  1. bahwa konferensi sekarang telah menjadi ladang mencari uang. Ini bukan hanya dari sisi Scopusnya saja, tapi juga dari EO. Banyak sekali pengeluaran-pengeluaran yang tidak perlu. Pengadaan acara di hotel-hotel lux, paket-paket wisata dan yang sejenisnya.
  2. hal-hal no 1 yang tidak esensi membuat biaya konferensi membengkak, biasanya merangkak naik dari Rp. 2 jt sampai Rp. 5 jt. Angka Rp. 1.5 jt saya ambil sebagai angka psikologis seseorang untuk dapat mengeluarkan biaya konferensi dengan mudah dari uang pribadi sekalipun,
  3. esensi dari konferensi adalah a) penyebaran ilmu seluas-luasnya, b) berinteraksi dengan sesama peneliti, c) saling memberikan feedback. Kalau ketiganya bisa dilakukan dengan cara lain, kenapa kita harus menggunakan satu cara saja. 🙂
  4. Jadi buat apa membuang dana untuk hal-hal yang tidak perlu. Lebih baik uangnya dipakai untuk kegiatan riset yang lebih bermanfaat.
  5. Lagipula untuk bila ingin mempublikasikan riset secara gratis tapi tetap openaccess, maka banyak jurnal-jurnal terbitan Indonesia yang melakukan hal itu. Tetap open access (gratis untuk pembaca) tapi tidak menarik APC atau menarik APC dengan nominal murah bahkan sangat murah.

Jadi opencon ini (open conference) ini mencoba memberikan layanan itu. Dari kita, untuk kita, oleh kita. Kata-kata “con” sendiri sudah menjadi singkatan generik untuk “conference”. Kalau anda punya twitter pasti tidak asing, karena tiap konferensi biasanya memiliki akun twitter khusus dan menggunakan tagar khusus (hashtags).

Mengenai biaya konferensi, konferensi di ITB dan beberapa konferensi lain menurut saya bisa ditiru, terindeks scopus tapi biaya rendah, Rp. 1.5 jt sampai Rp. 2 jt. Saya melihat scopus bukan seperti orang lain ya. Dia hanya sebagai outlet saja, sama seperti Google Scholar.

Kembali ke biaya konferensi di ITB, biaya tersebut masih bisa diturunkan, bila kita mengurangi atau menghilangkan biaya makan siang dll. Bagi anda yang pernah hadir di konferensi di Eropa atau Amerika, makan siang, adalah barang mahal dan hampir tidak pernah disediakan secara gratis. Yang gratis biasanya “coffee break” atau “beer break”, atau “champagne break”.

Nah konsep #ID_opencon ini adalah menyelenggarakan seminar dengan biaya rendah, publikasi intensif, dengan menggunakan berbagai layanan saintifik yang terintegrasi secara gratis, serta kreatifitasi penulis di bidang multimedia. Icon-icon yang saya gambarkan dalam skema di atas adalah layanan gratis yang tersedia saat ini dan banyak dipakai oleh para akademia.

Dalam teknis penyelenggaraannya, konferensi ini bisa dual mode:

  1. mode konvensional dengan tatap muka, atau
  2. mode virtual (seperti yang saya sampaikan dalam diagram).

Dengan mode konvensional, masih diperlukan ada biaya akomodasi plus biaya coffee break saja, karena biaya ruangan bisa ditekan, di kampus saja. Bila perlu coffee break dihapus biayanya, karena bisa break dengan membawa kopi sendiri kan.

Perbedaan yang lain adalah penyampaian makalahnya. Pada mode konvensional tentunya presentasi masih dilakukan secara langsung (plus direkam untuk kemudian diunggah ke Youtube), sedangkan pada mode virtual, seluruh presentasi direkam dan diunggah di Youtube. Bedanya kedua mode itu hanya ada di situ. Di komponen yang lain, platform untuk publikasi makalahnya, indexingnya akan sama. Platform publikasi menggunakan OSF preprint dan indexing oleh Google Scholar.

Kenapa saya menekankan model sains openscience ini, karena sebagai saintis, saya melihat sering melupakan masalah diseminasi dan promosi. Inginnya setelah menulis makalah kemudian dibaca orang disitasi. Kita semua harus ingat bahwa sitasi tidak turun dari langit. Itu semua perlu promosi.

Bila anda punya akun twitter, maka akan sangat jamak anda menemukan akun seorang profesor atau assoc profesor yang aktif menyebarkan berbagai ilmu yang telah dia tulis, atau telah ditulis oleh rekan-rekannya yang lain. Tidak percaya? Mulailah “twitteran”. Fungsi medsos untuk sains sangat nampak di twitter yang tidak bisa dilawan oleh medsos lainnya. Di instagram, saya sering juga melihat akun peneliti yang memajang risetnya, eksperimennya, bukan hanya foto-fotonya sendiri.

Komponen penyimpanan makalah akan ditangani oleh OSF preprint (OSF=Open Science Framework). Ini organisasi not for profit yang menyediakan hosting daring makalah ilmiah secara gratis. Seluruh makalah yang masuk ke dalam sistem mereka sudah pasti diindeks oleh Google Scholar. Ini menjadi cerminan juga, bahwa di luar negeri saja, OSF bermarkas di Virginia USA, para peneliti ingin barang yang “gratisan”. Sementara kita yang masih memiliki dana terbatas kok ingin lux dengan berbagai servis berbayar (termasuk Scopus).

Mengenai Scopus, saya perlu memberikan penjelasan. Scopus adalah perusahaan komersial (anak perusahaan grup raksasa Elsevier). Fungsinya adalah mendata makalah yang didaftarkan, memasukkannya ke dalam dbase mereka, dan memastikan makalah itu muncul dalam pencarian daring (online). Fungsi-fungsi yang persis sama, diberikan oleh Google Scholar dan Microsoft Academic tanpa dipungut biaya. Lantas mengapa kita mengeluarkan biaya lebih untuk itu? Mengenai asal-usul kita mengadopsi pola Scopus dll tidak perlu dipertanyakan. Yang penting sekarang bagaimana kita, kelompok peneliti pemula (dalam Bahasa Inggris biaya disebut sebagai early career researcher), dapat memperjuangkan kontrol kita terhadap hasil riset serta menekan biaya publikasi, serta meningkatkan dampak riset.

Tidak bisa instan memang tapi kalau kita tidak berjuang, siapa lagi? Ikuti konferensi terindeks Scopus atau kirim makalah ke jurnal terindeks Scopus, tapi lakukan itu secukupnya saja. Satu atau dua makalah per tahun saya pikir cukup. Cari lokasi konferensi yang dekat dengan lokasi riset agar tidak perlu bayar akomodasi dll.

Demikian ide saya. Setelah mendengar ini, saya maklum kalau tidak berminat melanjutkan ini.

Post ini akan saya perkaya dengan tautan-tautan terkait.