Akreditasi vs indeksasi

Melanjutkan diskusi panjang tentang jurnal di wall FB saya. Saya sambung dengan status lebih panjang lagi. Besok akan saya copas ke blog saya www.dasaptaerwin.net.

Suasana malam Natal di depan Apple Store George Street Sydney

Semua jurnal bercita-cita ingin terakreditasi dan terindeks. Dalam benak saya, setelah berulang kali membaca panduan akreditasi jurnal, kesimpulan saya adalah: akreditasi adalah untuk menjamin tata kelola yg baik (good governance), sementara indeksasi adalah untuk meningkatkan visibilitas, readership (lihat tautan di bawah, halaman 32).

Pertanyaan saya, kenapa indeksasi yg tujuannya untuk “pemasaran” dijadikan indikator kualitas? Bahwa menurut panduan hal 32, dinyatakan indeksasi yg baik akan menjaga kualitas juga, Fine by me. Tapi apakah tidak cukup dengan sekian banyak daftar isian akreditasi jurnal?

Walaupun para pengelola jurnal telah berulang kali menyatakan ke saya, bahwa semua sudah jelas di panduan, tapi tetap menurut saya perlu penjelasan lebih baik.

Bila dianalogikan dengan kegiatan menjual rumah, bukankah perlu dicari agen pemasaran yang fleksibel, murah fee nya, tidak minta macam-macam, jaringan luas dan rumah cepat terjual dengan harga setinggi-tingginya.
Kalau di dunia jurnal, yg terjadi sebaliknya. Agen yg dipilih seolah berkata, “oh Ibu/Bapak ingin titip jual rumah ke kami? Ok syaratnya fee nya agak mahal Bu, karena kami ingin menjaga kualitas rumah yang kami jual. Syarat lainnya: Rumah harus tembok, atap tidak ada yg bocor, jangan berdebu ya, pagar perlu dicat dulu, kaca jangan sampai ada yg pecah dll. Sekarang siapa yang harus mengeluarkan uang untuk memperbaiki rumah yg akan dijual? Pemilik rumah bukan.

Di sisi lain, ada agen pemasaran lain yg justru tidak mengenakan fee. Layanan yg diberikan sama. Bedanya yg ini tidak banyak syarat. Yg penting rumah masih berdiri, tidak mau roboh, surat-surat kepemilikan lengkap dan sah. Sisanya mereka yg menangani. Justru agen ini tidak dipilih, alasannya karena tidak berkualitas. Lho bukannya jualan rumah yg penting adalah kualitas rumahnya? Yg sebelumnya kita tinggali, kita perbaiki kalau rusak dll.

Kalau Anda mengikuti apa yg biasa saya sampaikan, pasti paham siapa dua agen ini?

http://risbang.ristekdikti.go.id/pengumuman/20170110-Pedoman_Akreditasi_E-Journal_2014.pdf

Tolong ada yang bisa menjelaskan bahwa analogi saya di atas adalah salah.

Salam
@dasaptaerwin