Tanggapan untuk artikel Ali-Wallace

Kemarin secara masal dibagikan artikel berjudul Ilmuwan Indonesia akankah selamanya menjadi Ali oleh Dyna Rochmyaningsih

Dalam artikel tersebut diceritakan mengenail ilmuwan Indonesia yang sering tidak terekspos perannya dalam suatu riset. Terutama bila riset dilakukan bersama pakar dari luar negeri (LN). Terima kasih untuk Mbak Dyna yang telah mengutip peran serta INArxiv dalam menyemangati ilmuwan Indonesia.

Berikut ini adalah tanggapan saya.

Dana Riset Dikti dll kalau dipakai ekspedisi ke gua-gua purbakala atau ke lokasi gunung meletus atau memetakan spesies, kemudian hasilnya segera dilaporkan, dalam Bahasa Indonesia saja agar cepat jadi, simpan direpositori, kemudian undang Mbak Dyna dkk jurnalis, sebarkan di medsos, maka mestinya ilmuwan Indonesia akan tetap memimpin dgn data dari Indonesia sendiri. Mungkin seperti itu mestinya. Kalau menunggu terbit di jurnal ber IF, dalam Bahasa Inggris, ekspedisi minim liputan, dll, maka ya susah. Keduluan selalu oleh orang lain. Padahal mungkin dana mereka tidak besar-besar amat. Bahkan mungkin ahli-ahli LN ke sini sambil plesir. 🙂.

Saya kenal dengan salah satu dosen Australia, salah satu ahli gunung lumpur. Dia rutin berburu berita gunung lumpur, mencoba mencarinya di Google Earth, lantas mencoba menganalisis (sebisanya) dengan berbagai rujukan dan data sekunder. Kok bisa jadi makalah. Dalam kasus ybs pastinya dalam bahasa Inggris. Baru-baru ini ia menerbitkan makalah yang ke sekian tentang LUSI, ditulis diunggah ke preprint server, intinya menyanggah makalah milik orang lain. Dua bulan berikutnya, makalahnya terbit. Orang yang sama, memotret letusan Gunung Agung karena kebetulan sambil liburan bersama keluarganya. Dia ukur tinggi dan lebar letupan abu dari lokasi hotelnya untuk diperirakan tinggi dan lebar sesungguhnya. Foto ia sebarkan di Twitter dan mendapat banyak tanggapan dari kawan-kawannya, para geologiwan. Diskusi rame di Twitter. Entah akan jadi tulisan apa sekian bulan lagi. Kalah lagi kita.

Semua dilakukan dengan spontan (karena sudah ahli) dan segera ditulis. Ditulis dalam Bahasa apapun kalau originalitas tinggi mestinya suatu saat akan dibaca orang.