Strategi “bertahan hidup” saat s3

Strategies to survive your PhD

link to my google drive: https://drive.google.com/open?id=1Iv1PSu63eNd-KX8195e8pRUOqmhMfTeN

Saya menerima pranala ini dari salah satu grupWA yang saya ikuti. Terima kasih Prof. Hasanuddin Z. Abidin yang telah membagikannya. Judulnya “Simple strategies to survive your PhD”. Barangkali ada yg tertarik. Disusun oleh penulis lain Julio Peironcely pendiri blog Next Scientist.

Suasana malam Natal (foto ada di flickr/dasaptaerwin)

Saya tertarik dengan hal 13, 21 dan 32. Kenapa?
Karena saya melakukannya saya studi S3 tahun 2005-2009. Saya S3 di ITB, lulusan dalam negeri. Rutinitas saya itu sempat berhenti sesaat, saat ada salah satu dosen senior di Sekolah Pasca di kampus saya yg menyampaikan bahwa kalau materi sudah ditulis sebagai blog akan menjadi duplikasi dan “self plagiarism” saat ditulis menjadi disertasi.

Sempat bingung saya. Kenapa tidak boleh? Bukankah ini pekerjaan saya. Saya yang menulis. Saya yang capek. Pandangan saya lainnya adalah bahwa kegiatan ini ada dalam rangkaian penyusunan proyek disertasi. Kemudian kala itu saya bertanya ke berbagai sumber, seperti Forum Academic Stack Exchange, blog akademik Thesis Whisperer dan beberapa blog akademik lainnya. Dari sumber-sumber itu saya diyakinkan bahwa blogging, adalah salah bentuk self-archiving. Kemudian kebiasaan itu saya lanjutkan lagi.

Sampai sekarang saat saya mengerjakan riset, cara itu saya gunakan. Mulai mengambil data seawal mungkin, mulai menulis seawal mungkin dan menuangkannya sebagai naskah blog terlebih dahulu.

Prinsip yang sama juga melandasi saya dan beberapa kolega membuat INArxiv preprint server.

Semua ini untuk alasan yang sama seperti yang tertera di halaman:
– 13 -> hasilkan sesuatu seawal mungkin
– 21 -> mulai menulis seawal mungkin
– 32 -> tuliskan dalam bentuk blog sebagai media

Silahkan dibaca. ;-). Tampaknya promotor Anda juga perlu membacanya.

Salam,

@dasaptaerwin