Meet Tushar

Melanjutkan analogi menjual rumah dan perlu atau tidaknya agen properti. Ini contoh iklan agen properti di Sydney. Namanya Tushar, dia menawarkan properti untuk disewakan atau dijual, atas nama pemilik properti, kepada orang yang mencari. Sebagai agen, dia pasti ingin punya pelanggan (orang yang mempercayakan propertinya untuk ditawarkan) dan para pembeli yang luas.

Saat Tushar baru punya klien satu dua rumah, maka ia tidak bisa memilih. Tapi saat ia sudah punya puluhan atau ratusan properti untuk ditawarkan di dalam database nya, maka ia mulai membuat
sistem pengindeksan. Dari situ ia bisa menganalisis pelanggannya dan ke arah mana ia bisa memperluas pasar dst dst. Dan yang penting, ia bisa menyeleksi rumah mana yang bisa ia terima untuk ditawarkan, dan rumah yang mana yang ia bisa tolak. Apa sebabnya? Bisa saja rumahnya jelek, mau roboh, rumah tua dll. Kenapa ia melakukan itu? Jelas, karena kliennya sudah banyak, maka ia mulai berpikir keuntungan. Seberapa cepat ia bisa menjual satu unit rumah dengan harga yang paling tinggi. Selain itu, foto rumah yang mau roboh akan membuat galerinya ikut jadi kumuh.

Apakah perlu Tushar saat menjual rumah? Perlu. Apakah wajib? Tidak. Kita bisa menawarkan sendiri kan.

Sekarang ganti “Tushar” dengan “Scopus” dan “pelanggan” dengan “pengelola jurnal” dan atau “penulis makalah”. Walaupun tidak persis sama sebenarnya. Scopus tidak menarik fee dari pengelola jurnal. Tapi ia menarik fee dari orang yang akan membuka databasenya. Tushar beda. Ia menarik fee dari setiap penjualan tapi ia membuka data rumah-rumah yang dia tawarkan. Orang bisa dengan mudah lihat di etalase tokonya, rumah mana saja yang sedang ditawarkan.

Mungkin Anda bertanya, nah berarti tidak ada salahnya menggunakan Scopus? Anda benar, tidak salah. Saya tidak pernah bilang salah.

Yang salah adalah saat Pemerintah Australia mewajibkan para penjual rumah untuk mendaftarkan rumahnya ke Tushar. Kemudian menetapkan bahwa rumah-rumah yang ada dalam daftar penawaran Thushar sebagai rumah yang paling berkualitas.

Nah sekarang posisi Anda bagaimana? Sebagai pengelola jurnal, apakah Anda senang kalau data jurnal Anda diindeks dan indeksnya dijual berlipat-lipat ke para universitas di seluruh dunia? Mungkin ada yang merasa tidak masalah. Tapi ingat, Andalah yang berkeringat, Anda yang capek, penulis makalah juga yang pusing melakukan analisis, mencari data, dst. Tapi Anda, sayangnya, tidak akan bisa sekaya perusahaan indexing itu. Selain itu siapa yang bisa membuka database Scopus? Pasti sebagian kecil saja masyarakat akademik di Indonesia, sebagian besar yang lain, pastinya kaum akademik di negara-negara “kaya”. Sementara negara di Afrika (lihat posting saya sebelumnya) tidak akan punya kesempatan.

Tapi jangan khawatir, pahala Anda tidak akan salah masuk “rekening”. Semua jerih payah Anda sebagai Pengelola Jurnal, penulis, peneliti dll, semua akan diperhitungkan. Bukankah itu tujuan akhir kita?