Category Archives: My Family

Orangtua-anak vs bos-karyawan

Sudah masuk awal semester. Belum terlambat untuk evaluasi diri.
Salah satunya pernahkah menghitung biaya kuliah anda selama setahun,Kalau belum pernah, coba hitung.

Biaya pendidikan + biaya kost + biaya makan + biaya baju + biaya pulsa + biaya hiburan (kalau ada)

Berapakah totalnya, kemudian bagi dengan 12 bulan. Berapa hasil? Sekarang coba anda bayangkan kalau uang bulanan tersebut adalah gaji bulanan yang anda terima. Mungkin 3 juta per bulan, mungkin 1,5 juta perbulan. Mungkin saat ini tidak ada yang lebih rendah dari itu. Kemudian bayangkan apa yang dibayangkan bos anda bila melihat Prestasi kerja (baca: kuliah).

20140118-174114.jpg

(Ilustrasi: http://goo.gl/S6T85g)

@Madinah al Mukaromah (2)

Perjalanan dari Bandara AMMA (Madinah) ke Hotel Al-Phyrous, nama maktab kami, kira-kira 1 jam. Jalan membelah gunung/bukit/jabbal yang tandus kami lalui. Sepintas batuan yang tersingkat di tepi jalan adalah batupasir kompak, berwarna coklat kemerahan. Ini lah yang membentuk bukit-bukit itu. Jalan terlihat rapih, walaupun terkesan gersang tidak dapat disembunyikan. Ditambah dengan debu dari proyek pembangunan di banyak blok. Saat saya bilang gersang, bukan berarti tidak ada air. Banyak pusat pertokoan dan perkantoran. Pastinya ini jadi indikasi bahwa suplai air yang bagus agar perekonomian berjalan lancar. Satu kesan sepintas lainnya adalah tidak terlihat mobil (dengan berbagai merk) atau sedikit sekali mobil yang mulus tanpa cacat. Umumnya baret, lecet sudah biasa, bahkan mobil dengan penyok berat pun, masih beredar di jalanan.

Sampai di hotel masih merupakan petualangan tersendiri. Mengurus koper hingga masuk kamar, tak selesai hingga adzan maghrib berkumandang. Koper-koper yang dilemparkan dari Zhong Thong Bus tadi masih bergeletakan di basement hotel, tanpa pemilik. Jamaan yang bernasib baik akan menemukan kopernya terkulai di lorong-lorong hotel atau di depan lift. Namun banyak lainnya yang masih sibuk mencari miliknya hingga naik-turun lift beberapa kali. KBIH saya termasuk yang konsisten metodenya dalam mengurus koper. Secara komunal kuncinya. Semua koper bertanda Yahdi (KBIH kami) dipilah dan dibawa ke atas (lantai kamar) lantai 3 dan 4. Kepala Regu (Karu) dan Kepala Rombongan (Karom), bernama Malik, sibuk mengawasi porter dalam menaikkan koper-koper. I’ll talk about this guy later on. Di sisi lain hotel, masih terlihat banyak koper yang tergolek di sudut-sudut menunggu si empunya menjemput.

Haji memang ibadah personal, but from day one, it’s a very communal activities. Bahkan untuk mencari koper saja diperlukan kerjasama tim. Bukankah ini yang diajarkan Rasullulah.

@Madinah al Munawaroh (1)

This post still has a few mistyped, it’s still a work in progress.

Kemarin tiba di AMMA Airport Madinah sekitar jam 14.00 waktu setempat. Terbayar sudah begitu mencium tanah selepas turun dari tangga terakhir Saudi Air Lines. Koper menjadi masalah tersendiri saat turun dari pesawat, antrian imigrasi, cek kesehatan, terganjal koper. Spasi yang tidak luas sudah langsung penuh dengan satu kloter saja plus bagasinya. Umumnya yang bergabung dengan KBIH akan janjian untuk mencari seluruh koper anggota KBIHnya, bukan hanya miliknya sendiri (atau milik istri dan keluarganya yang lain). Sayangnya tidak semua orang sadar tentang hal ini. Riuh rendah suara tidak terhindarkan. Masing-masing KBIH muncul dengan kreasinya masing-masing dalam menandai koper kelompoknya. Meriah memang. Koper yang sudah teridentifikasi langsung dikumpulkan untuk dibawah porter ke nomor bus yang sesuai. Di sini tombongan (terdiri dari sekitar 6-8 regu @6-8 orang) akan berada pada bus yang sama. Ini bisa berarti lebih dari 1 KBIH berada pada rombongan yang sama. Tak masalah, semua saudara, dan semua berhajat sama. Proses ini bisa menghabiskan waktu 2 jam sejak kami mendarat.

Setelah semua anggota rombongan dan kopernya sesuai, baru bus berjalan menuju maktab di Madinah. Penghitungan dan pemberangkatan ini juga punya seni sendiri. Entah apa yang terjadi, seluruh anggota rombongan sudah ada dalam bus (Kloter 24), tapi bus baru berangkat 1,5 jam kemudian. It was an old China-made bus. Zhong Thong Bus. I’ll talk about this later.

Menuju Makkah al Mukaromah

This was written 5 months a go, but just recently posted.

Pardon my pronunciation…

Semua kata tak bisa menggantikan “Bismillahirrohmanirrohim”. Mengawali semuanya karena-Nya semata. Begitu pula kami berdua. Panitia pemberangkatan mengharuskan kami tiba di Kantor Departemen Agama Kota Bandung pada pukul 06.00 di hari itu, 20 September 2013. Suatu hari yang bahkan gerimis pun seolah menghantarkan rahmat kepada siapa pun yang akan berangkat ke Makkah al Mukaromah, the promised land. Meninggalkan semuanya, harta benda, dan harta yang tak ternilai kami, Khaira Salsabila Irawan.

Selalu teringat kata-kata Sang Pembimbing, semua dari Allah, semua karena Allah, dan Allah lah yang paling berhak untuk memelihara dan mengambil… Sang Maha Memelihara, tolong kami, peliharalah buah hati kami. Tak sanggup hati kami meninggalkannya, karena-Mu lah kami melangkahkan kaki kami menuju Rumah-Mu.

It was a 16.000 km journey. Not just a journey, it’s a quest, if I may say…