[stpdn] Beberapa kebiasaan yang disarankan

Beberapa kegiatan yang disarankan

Materi ini dan beberapa materi lainnya akan saya masukkan ke Buku STPDN (Sukses sTudi Pascasarjana di Dalam Negeri) yang akan saya terbitkan dengan pola hybrid. Edisi digital akan terbit di platform Leanpub.com dengan sistem “donasi” dan edisi tercetak akan diterbitkan oleh Penerbit ITB.

:)

Konon kabarnya, para mahasiswa pasca sarjana yang bersekolah di LN dipaksa atau terpaksa untuk memiliki beberapa kelebihan berikut ini, diantaranya adalah: keteraturan tingkat tinggi, dokumentasi yang teliti, kemampuan untuk mengkomunikasikan hasil risetnya, kepercayaan diri untuk memperluas pergaulan, dan tentunya kesungguhan dalam berdoa yang utama.

Keteraturan tingkat tinggi

Keteraturan tingkat tinggi, konon adalah salah satu kelebihan mahasiswa pasca sarjana di LN. Tapi kami tidak akan memperpanjang masalah keteraturan itu. Dalam bab ini kami akan mencoba membandingkan sudut pandang. Dari sudut pandang kita di DN, mahasiswa pasca sarjana LN selalu dipersepsikan seperti ini:

 

Tanda aturan parkir di Sydney. Walaupun terlihat membingungkan, tapi melatih sekaligus menegakkan kedisiplinan (Koleksi pribadi: CC-BY)
  • Uang biaya hidup cukup dari beasiswa, bahkan dengan tunjangan keluarga.
  • Uang penelitian dan publikasi selalu tersedia.
  • Pembimbing yang perhatian.
  • Fasilitas laboratorium yang sangat lengkap, hingga tinggal kedip saja langsung bisa digunakan.
  • Urusan asuransi kesehatan dan sebagainya sudah lengkap.

Dengan berbagai fasilitas di atas, maka sudah sepantasnyalah bila mereka dapat bekerja dan meneliti dengan baik, serta lulus tepat waktu, dengan menghasilkan publikasi kelas dunia.

Pandangan di atas tidak sepenuhnya salah, tapi tidak semuanya benar juga. Yang akan kami sampaikan di sini adalah berbagai testimoni dari mahasiswa pasca sarjana LN tentang mahasiswa DN:

  • Biaya hidup murah, biaya akomodasi masih bisa mengandalkan saudara, jadi uang beasiswa masih bisa diatur-atur. Lha di LN, mana ada yang murah. Semua harus jelas dibayar oleh siapa, berapa, dan kapan bayarnya, tidak bisa dinanti-nanti.
  • Penelitian bisa mengambil topik yang unik dan hanya ada di Indonesia, daerah surveynyapun bisa memilih yang dekat jadi biaya lebih ringan. Apalagi masih memungkinkan untuk mengajukan dan penelitian dari Dikti. Untuk publikasi, jurnal-jurnal di Indonesia kan biaya penerbitannya (APC/Article Processing Charge) murah, bahkan banyak yang cuma-cuma. Jadi biaya publikasi bisa diarahkan untuk membayar biaya konferensi, biaya menginap, dll. Kalau di sini, jurnal OA bisa dikisaran USD 1000 an minimal. Kalau mau mengejar yang IF (Impact Factor) tinggi bisa sampai USD 2000 an, kadang kami masih harus dibantu oleh dana pribadi pembimbing.
  • Ya betul pembimbing kami memang sangat perhatian, tapi perhatiannya sangat formal dalam kaitan riset. Kami di sini harus ngantor seperti orang kerja kantoran. Jadi mana sempat mengerjakan yang lain. Semuanya harus dihemat. Kalau bawa keluarga lebih berat lagi mengaturnya. Sementara kalau sekolah di DN kan masih bisa “nyambi-nyambi”. Walaupun dampaknya bisa molor masa studinya, tapi asal kita bisa atur waktu, mestinya bisa.
  • Fasilitas laboratorium memang lengkap, tapi juga bukan berarti bisa sembarangan pakai. Ada proses administrasi yang ketat yang harus dipenuhi, kalau analisis kita lancar, maka tidak masalah. Tapi kalau ada kendala dan harus diulang, wah repot sekali juga mengurusnya. Intinya semua harus dilakukan sendiri di sini. Kalau di DN, beberapa bidang ilmu, kan masih bisa membayar analisis kepada petugas laboratorium dan biarlah mereka yang melakukan pengujian. Kita tinggal terima hasilnya untuk kemudian diinterpretasi. Jadi masih bisa waktunya digunakan untuk yang lain.
  • Asuransi ok memang bagus di LN. Tapi mahalnya minta ampun, kalau bawa keluarga, biasanya asuransinya tidak ditanggung oleh pemberi beasiswa. Akibatnya bisa sampai harus menjual mobil pribadi. Fasilitas kesehatan memang bagus, tapi untuk keperluan tertentu bisa sulit lho. Misal, kalau di Australia membawa istri hamil, tidak bisa sembarangan tiap kontrol di USG. Kalau di Indonesia, kan bisa saja minta USG sewaktu-waktu. Kalau terjadi kontraksi bisa langsung minta dicek dll. Kalau di LN, belum tentu bisa. Jadi jangan dikira masalah kesehatan bisa dibandingkan kepraktisannya dengan di Indonesia.

Beberapa hal di atas saya kumpulkan dari pengalaman pribadi, rekan-rekan sejawat, dan rekan-rekan di media sosial.

Apakah benar adanya? Mari kita renungkan bersama.

About the author

My current focus is how to provide the hydrostratigraphy of volcanic aquifers in Bandung area. The research is based on environmental isotope measurement in groundwater and morphometry. My work consists of hydrochemical measurements. I am using multivariate statistical methods to provides more quantitative foundation for the analysis and more insight into the groundwater behavior, especially its interaction with surface water. I use open source apps like R and Python to do the job. In my spare time, I also have a side project to promote open science in Indonesia's research workflow. One of my current focus is promoting INARxiv, as the first preprint server of Indonesia (osf.io/preprints/inarxiv) and serving as ORCID and OSF (osf.io) ambassador. Research interest: Hydrochemistry, multivariate analysis, and R programming. Blog: dasaptaerwin.net, derwinirawan.wordpress.com. (https://orcid.org/0000-0002-1526-0863)