Mitos itu karena kita sendiri

MITOS terbesar kaum akademik adalah “mau mengumumkan hasil riset saja kok nunggu makalah terbit di jurnal”.

Tapi memang hanya itu cara agar diakui dari sisi administratif.

Jadi … menerbitkan makalah di jurnal untuk siapa?

Mungkin jawabnya untuk keperluan administrasi.

Baru mungkin …

Batok kelapa berisi getah pada pohon karet di Sadang, Karangsambung (lisensi CC-0). Bebas dipakai ulang dan dimodifikasi.

Urusan admin OK. Tapi secara substansial mestinya justru bisa lebih bebas.

Mitos di atas itu levelnya sudah seperti mitos zaman dulu, bahwa punya rumah tusuk sate membuat rejeki jadi plas plos.

Pernah ada kawan yang bilang, urusannya nanti ke arah curi-mencuri ide. Wah kalau itu sampai terjadi, mungkin sudah waktunya dia dan anda yang mengalaminya pindah bidang atau pensiun dini, karena jelas situasinya sudah tidak sehat. Daripada memakan kesehatan sendiri, lebih baik keluar. Untung situasi itu tidak terjadi di bidang saya.

Di sisi lain, para pengelola jurnal juga mohon tidak dengan mudah bilang telah terjadi duplikasi atau self-plagiarism untuk barang yang jelas belum jadi milik jurnal. Masalah utamanya bukan itu, melainkan kepemilikan. Saat makalah belum terbit di manapun (termasuk jurnal anda), kepemilikannya sepenuhnya ada pada penulis. Jadi anda sebagai pengelola jurnal tidak bisa melarang-larang penulis.

Sekarang ini zaman sudah berubah, jurnal lebih bergantung pada penulis, bukan sebaliknya. Terkesan sebaliknya hanya karena administrasi mensyaratkan makalah harus terbit di jurnal sebelum bisa dihitung dalam proses kenaikan pangkat, misalnya. Pada prakteknya sebenarnya teknologi penulisan, hosting online dll sudah ada di tangan penulis sepenuhnya. Ia tidak perlu bergantung sepenuhnya ke jurnal.

Bagaimana dengan peninjauan sejawat (peer review)? ok mungkin secara administratif masih bergantung pada jurnal, tapi bukankah peninjauan bisa dilakukan oleh semua orang dan atas permintaan penulis? Ini yang menurut beberapa (tidak banyak) orang kebablasan.

Pendapat saya di atas bukan untuk menyatakan bahwa jurnal atau peninjauan sejawat tidak penting, tetapi lebih kepada agar pengelola jurnal tidak berperilaku seolah kita masih di abad ke-17 atau 18 saat jumlah jurnal mungkin baru ada berapa gelintir. Perlu memaklumi juga bahwa peran mereka sebenarnya sebagian besar sudah bisa dilakukan sendiri oleh penulis.

Jadi kembali ke pesan awal, mitos itu ada, seperti mitos yang lain, ia ada karena kita sendiri yang membuatnya.

Salam TerbukaAtauTertinggal

 

About the author

My current focus is how to provide the hydrostratigraphy of volcanic aquifers in Bandung area. The research is based on environmental isotope measurement in groundwater and morphometry. My work consists of hydrochemical measurements. I am using multivariate statistical methods to provides more quantitative foundation for the analysis and more insight into the groundwater behavior, especially its interaction with surface water. I use open source apps like R and Python to do the job. In my spare time, I also have a side project to promote open science in Indonesia's research workflow. One of my current focus is promoting INARxiv, as the first preprint server of Indonesia (osf.io/preprints/inarxiv) and serving as ORCID and OSF (osf.io) ambassador. Research interest: Hydrochemistry, multivariate analysis, and R programming. Blog: dasaptaerwin.net, derwinirawan.wordpress.com. (https://orcid.org/0000-0002-1526-0863)