Nasional vs internasional

Saya ajak anda semua mikir lagi, tentang kategori jurnal nasional dan internasional. Sebagai ilustrasi, saya pakai kegiatan Seri Webinar PSLH ini (Pengelolaan Air Tanah berbasis Cekungan Air Tanah, Rabu 13 Mei 2020). Materinya dapat dilihat di bagian bawah. Jadi gulung terus sampai ke bawah. 🙂

Rekaman webinar

Nasional vs internasional

Saat ini banyak pengumuman webinar. Tautan untuk bergabung ke acara-acara tersebut tertayang jelas di pengumumannya. Contohnya seperti poster acara di atas. Kalau melihat poster di atas, menurut anda acara di bawah ini berskala lokal atau nasional atau internasional? Mari kita lihat sama-sama.

  1. Tentang info lokasi acara/tanggal/hari: Untuk acara daring, lokasi digantikan oleh tautan ruangan webinar. Kalau melihat bahwa tautan sudah ditulis dalam poster, maka logikanya semua orang yang membacanya dan ingin untuk hadir, maka ia bisa hadir. Jadi jelas bukan acara lokal, misal acara khusus fakultas atau prodi di kampus saya. Kalaupun ada orang asing ingin hadir, maka ia juga akan bisa hadir. Tidak ada pemilahan kewarganegaraan di sini.
  2. Tentang lingkup pembahasan: Kalau kita lihat judulnya, “Pengelolaan air tanah berbasis cekungan air tanah”, masih terbuka lingkupnya. Saya bisa membahas kondisi di Indonesia saja, tapi saya juga bisa membahas kondisi di beberapa negara di dunia.
  3. Tentang bahasa:
    1. Andaikan saya menyampaikannya dalam Bahasa Indonesia, maka bisa jadi yang mengerti hanya hadirin yang berasal dari Indonesia. Atau, kalau si orang asing itu mengerti Bahasa Indonesia, maka iapun akan ngerti. Apa sih susahnya Bahasa Indonesia? Tidak ada past tense, present, future tense, tidak ada kata benda feminin – maskulin.
    2. Kemudian, karena saya tahu ada orang asing akan hadir, maka slide saya tulis dalam Bahasa Inggris, tapi tetap akan saya presentasikan dalam Bahasa Indonesia. Apakah si orang asing ini akan mengerti? Mungkin ia akan langsung mengerti (apa sulitnya Bahasa Indonesia), atau ia mungkin akan mengklarifikasi beberapa hal di sesi tanya jawab.
    3. Kalau pada akhirnya ada lebih dari satu orang asing yang ikut? Misal 500 orang. Apakah fakta itu cukup untuk membuat acara ini menjadi berskala internasional? Padahal dilaksanakan dari meja saya di Padalarang.

Sekarang kita bicara tentang pemilahan jurnal ilmiah, antara jurnal nasional dan jurnal internasional.

Kita tahu beberapa fakta ini:

  • bahwa saat ini adalah era digital terkoneksi. Bukan hanya digital, tapi juga terkoneksi. Artinya tidak ada satupun di dunia ini yang tidak bisa dibaca mesin dan tidak terhubung atau dihubungkan satu sama lain.
  • hampir semua jurnal Indonesia (lihat saya sudah tidak lagi menggunakan istilah “nasional”) sudah memiliki website, artinya semua orang di belahan dunia manapun akan bisa mengunjunginya asal dia tahu alamatnya. Kalaupun mereka tidak tahu alamatnya, mereka tetap bisa menggooglenya.
  • bahwa bila sebuah jurnal muncul dalam hasil pencarian, maka artinya jurnal tersebut sudah terindeks oleh mesin pencari. Artinya, secara teori, semua artikel yang telah terbit juga dapat ditemukan oleh mesin pencari, asal kata kuncinya tepat.
  • bahwa mesin pencari yang dapat menemukannya adalah semua mesin pencari, buatan siapapun (orang asing atau orang Indonesia).
  • bahwa semua jurnal tersebut sudah merujuk kepada standar tata kelola jurnal ilmiah, misal COPE.
  • bahwa masing-masing jurnal tersebut memiliki visi, misi, dan lingkup yang berbeda-beda. Namanya jurnal terbit di Indonesia, wajarlah kalau ia ingin berkontribusi untuk menyelesaikan masalah Indonesia. Oleh sebab itu, wajar juga kalau mereka menerima makalah dalam Bahasa Indonesia. Akan tidak wajar (baca: luar biasa anehnya) kalau jurnal dibuat oleh orang Indonesia, terbit di Indonesia, tapi bercita-cita untuk menyelesaikan masalah yang terjadi di Kota London). Bukan tidak boleh, tapi tetap saja aneh luar biasa.

Sampai titik di atas, satu-satunya komponen yang terkait kualitas hanya komponen tata kelola, yakni sejauh mana jurnal tersebut mengikuti standar rujukan (misal COPE).

Kemudian kita lihat definisi jurnal internasional menurut regulasi di Indonesia. Sebuah jurnal ilmiah bisa disebut internasional, hanya bila memenuhi seluruh syarat ini. Mungkin yang saya sebut di bawah ini ada yang kurang presisi (misal angka keliru), tapi jelas tidak ada yang salah. Jadi tolong dikoreksi:

  1. panduan dan makalah yang terbit di dalamnya ditulis dalam Bahasa Inggris. Pengelolaannya pun dalam Bahasa Inggris, artinya semua surel atau komunikasi lainnya antara pengelola jurnal dan penulis harus dilakukan dalam Bahasa Inggris.
  2. makalah yang terbit di dalamnya (untuk setiap terbitan) ditulis oleh penulis yang berasal dari berbagai negara (kalau tidak salah minimum empat negara).
  3. tim peninjau jurnal berasal dari berbagai negara (kalau tidak salah juga minimum empat negara).

Sekarang kita bandingkan antara dua bentuk media publikasi di atas, antara webinar (atau seminar daring) dengan jurnal ilmiah.

Menurut anda, mana yang ketinggalan zaman dengan menggunakan tiga kriteria di bawah ini:

  1. mana yang menetapkan syarat-syarat yang lebih banyak berarti membuat banyak “dinding”? Padahal internet dibuat untuk menghilangkan banyak dinding.
  2. mana yang menetapkan syarat-syarat tidak menggunakan prinsip digital terkoneksi? Padahal kalau setiap orang bisa menemukan dan bisa membaca, maka pada akhirnya mereka juga bisa memberikan komentar atau masukan atau peninjauan.
  3. mana yang menetapkan syarat-syarat yang masih menganggap bahasa sebagai kendala? Padahal di zaman ini, apa ada bahasa yang tidak bisa diterjemahkan Google Translate ke Bahasa Inggris?

dst.

Oh saya jadi ingat tujuan awal saya pagi ini, yaitu untuk menyebarkan materi webinar PSLH di atas. Slide versi pra-acara dapat dilihat di bawah ini. Berkas pendukung lainnya (versi ppt dll) telah tersedia di Repositori Github. Rekaman video nantinya akan diunggah ke kanal Youtube dan versi suaranya di Podcast Spotify.

Sekian. Selamat pagi. Selamat beribadah saum ramadan. Saya mau lari dulu.

About the author

My current focus is how to provide the hydrostratigraphy of volcanic aquifers in Bandung area. The research is based on environmental isotope measurement in groundwater and morphometry. My work consists of hydrochemical measurements. I am using multivariate statistical methods to provides more quantitative foundation for the analysis and more insight into the groundwater behavior, especially its interaction with surface water. I use open source apps like R and Python to do the job. In my spare time, I also have a side project to promote open science in Indonesia's research workflow. One of my current focus is promoting INARxiv, as the first preprint server of Indonesia (osf.io/preprints/inarxiv) and serving as ORCID and OSF (osf.io) ambassador. Research interest: Hydrochemistry, multivariate analysis, and R programming. Blog: dasaptaerwin.net, derwinirawan.wordpress.com. (https://orcid.org/0000-0002-1526-0863)